Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 47


__ADS_3

Senyum tak pernah lepas dari bibir Ane, ketika melihat hasil USG calon anaknya. Saking senangnya, Ane memotret hasil USG lalu mengirimkan pada Bhanu. Selepas dari dokter, Ane mengajak dua kurcil ke supermarket belanja kebutuhan rumah yang sudah habis. Yah, Ane membawa Caca dan Satya, padahal Lingga sudah mengajak salah satu anaknya ikut bersama wanita itu ke acara akikah teman kuliah tetapi Caca maupun Satya enggan dan memilih bersama Ane.


Ane tidak masalah dan tidak merasa repot sama sekali, ia justru senang karena ada yang menemaninya berbelanja mengusir rasa sepi dan jenuh. Sepanjang pemeriksaan baik Caca dan Satya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing terutama Caca yang masih memikirkan apakah benar di dalam perut Ane ada adik bayi atau tidak serta bagaimana cara adik bayi itu masuk ke perut Ane. Berbeda halnya dengan Satya diam-diam ia tersenyum menghayal jika anak Ane lahir dan ia pun akan memiliki adik baru, sungguh tak sabar sekali.


Ane menggandeng tangan Caca di sebelah kanan dan di sebelah kirinya ada Satya. Ia mengambil troli menaikkan tubuh Caca ke atas troli sedangkan Satya memilih untuk berjalan saja. Kedua bocah itu sama-sama memerhatikan sekeliling berharap menemukan rak makanan atau minuman tetapi Ane lebih dulu menuju bagian sabun. Ane mengambil sabun mandi cair, sabun cuci tangan, shampoo, odol, sikat gigi lalu beralih ke rak sabun pencuci pakaian dan pewangi. Caca dan Satya sabar menunggu Ane memilih berbagai macam sabun hingga mereka telah berada di bagian yang menyediakan berbagai macam produk makanan dan juga minuman termasuk susu.


Ane mengambil beberapa biskuit, cemilan kerupuk untuk di taruh ke toples serta tak lupa mengambil susu ibu hamil beberapa dus dengan dua macam rasa. Ane mempersilahkan Caca dan Satya mengambil apa yang mereka inginkan. Satya mengambil Oreo, jelly dan susu kotak berukuran sedang, sedangkan Caca mengambil biskuit dengan taburan cokelat di atasnya serta permen yupi dan susu kotak sama seperti Satya.


“Terima kasih Tante,”


“Maaciw ante,”


Kedua bocah itu kompak mengucapkan terima kasih pada Ane yang dibalas anggukan dan senyuman dari wanita itu. Cukup lama Ane habiskan waktu di supermarket sejam lamanya apalagi harus mengantri di kasir.


“Ante, Caca lapal, nih pelut Caca udah empes,” Caca mencolek lengan Ane dan menunjukkan perutnya.


“Eh,iya maaf yah sayang, yaudah Caca sama mas Satya mau makan apa?”


“Mau mam ayam kispi,”


“Mas Satya?”


“Sama kayak Caca aja Tante,”


Untung saja di supermarket itu ada food court yang menjual berbagai macam makanan siap santap termasuk ayam krispi yang telah tersedia di dalam warmer, itu lah menjadi objek pengamatan Caca sejak tadi. Dalam bayangan bocah itu, ayam krispi seakan melambai-lambai padanya. Ane membawa kedua bocah tersebut ke food court. Sesuai permintaan, Ane memesan dua porsi nasi+ayam krispi sedangkan dia memesan soto ayam.


“Uh, pelutna Caca sabal yah bental lagi kita mam,” Caca mengelus perutnya sembari bergumam membuat Ane tak bisa menahan tawa wanita itu mengulurkan tangannya mengusap kening dan mencubit gemas pipi Caca.

__ADS_1


Satya diam menikmati es teh tanpa niat meladeni Caca. Ane mengecek ponsel, senyum terbit di bibir wanita itu ketika pesannya telah centang dua biru itu artinya Bhanu telah membaca walau tidak ada balasan dari pria itu, tidak masalah yang jelas Bhanu telah melihat dan membaca.


“Dek, papa udah lihat kamu nih, besok-besok papa bakal peluk adek dan cium langsung di perut mama,” aktivitas baru yang dilakukan Ane yaitu mengajak calon anaknya di dalam perut walau masih sangat kecil, tapi hal yang menyenangkan bagi Ane ada rasa hangat dan senang menembus hatinya ketika melakukan interaksi seperti itu pada sang calon anak.


Caca menangkap apa yang dilakukan oleh Ane, gadis kecil itu mengernyitkan dahi heran namun begitu terkikik geli sebab Ane seakan mengikutinya berbicara pada perut.


“Hihi, ante ikutan Caca, tapi kok pandil adek kan itu pelut bukan adek,”


“Kan di perut Tante ada adik bayi,”


“Tapi kalau ada adik bayi kok pelut ante gak besal, masih tecil gitu lebih besal pelutna Caca nih,” kesekian kali Caca memamerkan perutnya.


“Haha, Caca bisa aja ih. Kan adik bayi emang masih kecil nanti kalau udah gede perut Tante juga makin besar, terus kalau udah waktunya lahir nanti bisa ketemu deh sama mbak Caca dan mas Satya,”


“Ebak Caca?”


“Iya kan, Caca bentar lagi mau punya adik jadi panggilnya mbak atau mau dipanggil kakak aja sama adik?”


“Permisi ini pesanannya,”


Suara pelayan menginterupsi mereka dan beralih pada makanan masing-masing.


****


Sebuah pesan masuk hingga ponsel Bhanu mengeluarkan bunyi dering notifikasi. Bhanu melihat pesan tersebut yang ternyata berisi sebuah gambar USG anaknya. Rasa hangat dan bahagia menjalar ke relung hati Bhanu, menyingkirkan segala perasaan yang beberapa hari ini menguasai.


Assalamualaikum papa, ini adek di dalam perut mama. Kata dokter adek sehat loh papa, adek gak sabar nih dipeluk sama dicium papa. Mama juga rindu sama papa nih, adek juga, papa cepat pulang yah nanti kita kumpul bersama. Adek juga mau tiap malam papa elus-elus perut mama, adek juga mau dengar suara papa nih. Semangat kerjanya yah papa, jangan lupa sholat, makan dan istirahat. Mama dan adek cinta papa, we miss you papa! ♥️

__ADS_1


Kalimat itu semakin membuat hati Bhanu membuncah senang. Sangat, bahkan tak sabar pulang ke rumah. Yah, Bhanu telah menerima dengan lapang apa yang terjadi dan memaafkan kesalahan Ane dengan harapan itu tidak akan terulang. Setelah melakukan sholat malam dan bercerita kepada Allah SWT, Bhanu merasakan ketenangan luar biasa serta petunjuk apa yang akan ia lakukan, tentu dengan menerima dan memaafkan sang istri, Allah SWT saja maha pemaaf lalu mengapa Bhanu tidak bisa?


Raut bahagia terpancar jelas menambah kesan tampan dari Bhanu. Orang-orang yang melihatnya pun seakan bisa merasakan kebahagiaan itu walau mereka sendiri tidak tahu menahu penyebab kebahagiaan Bhanu. Supir yang mengantarkan Bhanu kemana pun tak segan menanyakan senyum merekah selalu ditampilkan Bhanu berbeda dengan hari kemarin, Bhanu pun bercerita bahwa ia senang karena mendapatkan foto USG anaknya. Tentu Bhanu mendapatkan doa baik dari supir itu agar anaknya sehat selalu hingga lahir ke dunia dalam keadaan sehat, lengkap tanpa kekurangan satu pun.


“Mas Bhanu!”


Bhanu menoleh ke sumber suara yang memanggilnya, sosok gadis cantik yang baru saja menginjak usia 20 tahun. Gadis itu berlari senang menghampiri Bhanu.


“YaAllah rindu banget sama mas!” gadis itu memeluk tubuh Bhanu erat membuat sang empu tertawa kecil ikut membalas pelukan gadis itu.


“Makin cantik aja,” puji Bhanu. Mereka melepaskan pelukan dan kini beradu tatapan.


“Kok mas gak bilang sih kalau ada di Bandung, kan kita bisa ketemu,” gadis itu mengecutkan bibir.


Bhanu mengacak gemas rambut gadis di depannya, “yah maaf mas lupa. Oh iya ngapain kamu ke sini? Bukannya ini bukan kampus kamu?”


Saat ini Bhanu sedang berada di sebuah kampus, kebetulan ada seminar umum yang membahas seputar dunia kedokteran.


“Tadi habis ketemuan sama teman SMA. Mas foto yuk, aku mau story ah pamer kalau habis ketemu sama cowok ganteng,”


Gadis itu mengeluarkan ponsel berlogo apel di gigit miliknya di dalam tas. Bhanu pasrah saja tak bisa menolak sebab gadis itu bisa saja ngambek. Keduanya berpose di depan kamera berbagai gaya.


“Ih lucu banget ini, aku upload yang ini ah, kasih grid empat aja deh,” ujar gadis itu lalu memilih foto yang bagus untuk di jadikan story Instagram.


“Nanti mas repost yah, aku udah tag akun mas nih,”


Bhanu melirik ponsel gadis itu lalu menyalakan ponselnya juga dan membuka aplikasi Instagram.

__ADS_1


AdeliaSftri menyebut anda dalam ceritanya.


Bhanu me-repost story milik gadis bernama Adelia itu. Apa yang dilakukan Bhanu tak mungkin jika Ane tidak melihatnya dan mungkin saja akan menimbulkan percik kecemburuan dari sang istri. Bhanu tidak memikirkan hal itu.


__ADS_2