
Di ruang makan, ada Citra dan Ratna lebih dulu mengisi kursi. Di meja sudah tersaji makanan lezat, walau sederhana tapi menggunggah selera. Ada sayur bayam, tahu tempe bacem, ayam goreng lengkuas serta sambel tumis, menu rumahan yang tak kalah jauh dari masakan restoran. Ane baru saja turun dari kamar setelah berhasil menidurkan sang anak dan menyempatkan waktu memerah ASI.
Ane berkata maaf pada Citra karena membuat Citra menunggu lama namun Citra paham. Sesi makan siang dimulai, Ratna mengambil piring, menuangkan nasi dan lauk pauk ke dalamnya kemudian memberikannya pada Ane yang pada awalnya menolak bisa menyiapkan sendiri, Ratna kemudian mengambilkan untuk Citra tentu wanita itu merasa tidak enak hati.
“Makasih Tante,”
“Sama-sama nak, maaf yah masakan ibu sederhananya, semoga kamu suka ibu jamin pasti enak,”
“Iya gak malasah kok Tante, ini aja udah cukup,” balas Citra. Ia mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, satu suapan pertama Citra terdiam sesaat, menggerakan mulutnya mengunyah makanan dalam mulutnya. Rasa nikmat memanjakan lidah, makanan ini dapat mengobat rindunya pada sosok neneknya dulu ketika masih hidup dan tinggal bersama, masakan seperti itu selalu tersaji di meja dan menjadi santapan lezatnya. Tak sadar setetes air mata menetes tanpa diminta, secepat kilat Citra menyekanya berharap tidak ada yang melihat.
Ratna yang sedari tadi memerhatikan gerak-gerik Citra dalam diam, menangkap jika ada kesedihan yang dirasakan oleh Citra, ia juga melihat jika wanita itu menitihkan air mata. Terjadi keheningan ketika sesi makan siang berlangsung, masing-masing menikmati makanannya dalam diam.
Cukup lama ketiganya berada di ruang makan hingga usai menghabiskan makanan, Ane mengajak Citra ke ruang tengah setelah membantu sang ibu membersihkan piring kotor sebab bi Popon masih mengerjakan tugas lainnya.
“Baik mbak, sebelumnya aku ucapkan terimakasih sudah datang. Semalam, aku sudah ngobrol sama mas Bhanu mengenai rencana kita, mbak bisa memberikan kontak pria itu? Kita akan coba dengan menghubungi dia kembali dan meminta secara baik-baik siapa tahu dia udah sadar sekarang, kalaupun tidak mas Banyu bersedia membantu mencari bukti jika apa yang dituduhkan pada mbak adalah suatu kebohongan setelah mendapatkan itu kita bisa membalik keadaan dan menekan dia agar bertanggung jawab,” tutur Ane menjelaskan rencana yang akan mereka lakukan dalam misi kali ini. Yah, anggaplah mereka sedang menjalankan misi. Ane juga sengaja mengubah panggilan lebih santai dengan sebutan aku—kamu agar lebih akrab lagi.
Terdengar mudah tapi sulit jika sudah dijalani, tidak segampang yang Ane katakan, Andrew bukan lah tipe orang yang akan diam saja ketika seseorang mulai mengusik. Citra sendiri sampai saat ini masih ragu, tapi ia hanya menanamkan rasa percaya dan yakin bahwa Ane bisa membantunya serta semua berjalan sesuai rencana.
“Oke, hm, tapi siapa Ba—nyu?” dahi Citra nampak mengernyit, ia seakan mendadak lupa ingatan pada sosok Banyu—pria yang ia temui dua kali, serta orang yang memergokinya ketika datang ke rumah Bhanu.
“Mas aku mbak, hm, mas Banyu yang mbak temui waktu pertama kali ke sini dan mas Banyu juga yang kasih tahu ke aku kalau ada seorang wanita mencari suami aku dan ternyata yah mbak,” jelas Ane dan Citra pun sudah mengingatnya.
Pria itu, pria yang berbeda dari sosok kakak pertama dari Ane. Mungkin dari segi fisik mereka hampir sama tapi dari pengamatan Citra pembawaan mereka berbeda, Rangga yang terkesan diam dan tenang sedangkan Banyu mempunyai rasa penasaran yang tinggi serta lebih cerewet.
__ADS_1
“Maaf yah, aku melibatkan banyak orang,” ujar Ane sesal, walau bagaimanapun pun memang Ane tidak bisa berjalan sendiri ia harus meminta bantuan pada orang lain dan tentu Bhanu pun mengizinkan, Banyu juga dengan senang hati membantu demi keutuhan rumah tangga sang adik.
“Tidak masalah, a—ku mengerti, seharusnya aku yang meminta maaf karena merepotkan kalian,” balas Citra sama tak enaknya dengan Ane.
“Mbak, udah check up dedek bayi?” Ane mendekat menggeser posisi duduknya berdekatan dengan Citra dan tangannya merambat turun menyentuh perut buncit milik Citra.
“Besok, aku akan check up besok,” senyum yang Ane berikan tertular pada Citra. Ia bisa merasakan sebuah ketulusan dari Ane, ia seperti mendapat teman baru dan mungkin saja hubungan mereka kedepannya akan semakin akrab.
“Kabarin Ane, kalau mbak butuh teman buat check up InsyaAllah Ane bisa menemani mbak. Bentar mbak, aku coba hubungi pria itu dulu, siapa tahu di angkat nanti kita coba ngomong baik-baik,” Ane mengetik nomor ponsel milik Andrew yang diberikan oleh Citra.
Tanpa menunggu waktu lama, Ane menelepon nomor tersebut, sekali panggilan tidak diangkat, Ane mencoba lagi dan sama saja, pria itu tidak mengangkat, Ane tidak putus asa ia kembali menelepon tepat percobaan ketiga panggilannya diangkat oleh Andrew.
“Siapa?” suara pria itu terdengar sangat jutek dan ketus.
“Ini siapa? Tahu nomer saya dari mana?”
Pria yang tidak ramah dan tak punya sopan santun pikir Ane menilai Andrew.
“Oh baiklah, sepertinya memang anda ini tidak suka berbasa-basi, oke, saya adalah kerabat dari seseorang yang mengandung darah daging anda, tapi dengan teganya anda mencampakkannya dan tidak mengakui darah daging anda sendiri bahkan dengan teganya menyuruh menggugurkan kandungannya—”
“Jangan mengada-ngada. Saya tidak kenal dengan anda apalagi kerabat anda itu! Cih, anda mau memeras saya kan? Mengatakan berita bohong lalu ujungnya mengancam, sungguh lawas!” tebak Andrew sok tahu dan seperti biasa mengelak seakan dia tidak melakukan kesalahan apapun.
Ane tertawa pelan, “yah, memang benar anda tidak mengenal saya, tapi saya mengetahui dengan baik apa yang anda lakukan pada kerabat saya, ah tidak kakak saya. Citra Hermawan, saya pikir anda tidak mengalami amnesia jadi bisa mengingat dengan jelas siapa mbak Citra,”
__ADS_1
“Jangan macam-macam, apa mau anda sebenarnya, hah?”
“Simple, tanggung jawab, nikahi mbak Citra dan akui anak yang dikandungnya adalah darah daging anda, tuan Andrew yang terhormat!”
“Itu tidak akan pernah terjadi, lagi pula masalah ini sudah selesai, saya dan Citra tidak akan pernah menikah dan saya tidak akan pernah mengakui bahwa yang dikandungnya adalah anak saya, kamu jangan macam-macam,”
“Anda nampaknya memang tidak menyadari kesalahan dan dosa yang anda perbuat. Saya tidak tahu apakah anda seorang muslim atau non, tapi yang saya tahu setiap agama tidak pernah mengajarkan atau menyuruh penganut-Nya dalam hal keburukan. Sikap anda ini sangat tidak mencerminkan jika anda adalah seorang penganut agama yang baik dan bukan laki-laki yang gentleman, bahkan anda ini terkesan seperti maaf, bajingan! Sekali lagi saya tekankan, hukum tabur tuai itu berlaku selama anda hidup di dunia ini, saya tidak menyumpahi anda tapi saya yakin karma akan anda dapatkan atas perbuatan anda ini. Saya pun berdoa pada Tuhan agar anda segara menyadari dan mengakui kesalahan anda. Assalamualaikum,”
Tanpa panjang lebar lagi, Ane memutuskan sambungan telepon. Ekor matanya menangkap sosok Citra yang menunduk meremas tautan tangannya sendiri. Ane menepuk pelan pundak Citra—wanita itu—mendongak memandang Ane.
“Tenang mbak, semua akan berjalan sesuai rencana. Jika selama ini dia dengan liciknya membalikkan keadaan dan memanipulasi fakta, maka kita harus bertindak cerdik, memanfaatkan celah dan bergerak pelan tapi pasti,”
“Tapi bagaimana bisa kita mengalahkan Andrew—”
“Bisa, bentar,” Ane mengambil satu ponsel yang ia sembunyikan di samping pahanya. Suara percakapan Ane dan Andrew terdengar begitu jelas, seulas senyum penuh kemenangan dan keyakinan terpancar dari wajah Ane. “Sebenarnya dengan rekaman ini kita bisa menekan pria itu, mbak. Hanya saja kita perlu bukti lagi agar dia tidak bisa mengelak lagi,”
Cerdik, itu lah satu kata yang terlintas di kepala Ane. Citra ikut menyunggingkan senyum tanpa kata memeluk tubuh Ane.
“Alhamdullilah, terima kasih, aku semakin percaya kalau kita bisa,”
Ane membalas pelukan Citra sama eratnya.
“Mulai sekarang hilangkan keraguan yang mbak rasakan, tanamkan terus rasa percaya dan yakin jika semua bisa dilalui, mbak tidak sendiri menghadapi ini, banyak yang bantu mbak dan jangan pernah merasakan kesepian lagi mbak, Ane tahu jika selama ini mbak merasakan di dunia ini hidup seorang diri, berjuang sendiri dan sekarang Ane, mas Bhanu, serta yang lainnya adalah keluarga mbak, jadi jangan sungkan, mungkin ini sulit mbak percaya tapi Ane sudah menganggap jika mbak sebagai kakak buat Ane, terlalu cepat memang mengingat kita baru saja saling kenal tapi ada sebuah ikatan yang datang begitu saja serta kenyamanan Ane rasakan setiap bersama mbak,”
__ADS_1
Citra termangu, lagi-lagi ia tidak bisa berkata-kata dengan keramahan dan kehangatan keluarga Ane. Mulai dari Ane sendiri, ibu dan kakak Ane sangat membuka tangan menyambutnya ramah bukan sebagai musuh atau penjahat padahal apa yang dilakukan Citra awalnya sungguh tidak masuk akal dan sulit untuk diterima tapi dengan hati yang tulus semua keluarga Ane tetap menerimanya.