Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 23


__ADS_3

Lingga Ayudya Lestari adalah kakak satu-satunya yang dimiliki Bhanu. Sejak kuliah hingga menikah Lingga sudah tinggal di Jakarta. Lingga memiliki dua orang anak satu berusia 7 tahun bernama Satya Pratama dan putri kecilnya bernama Marsha Dwi Putri atau biasa dipanggil Caca.


Hari ini ia berkunjung ke rumah sang adik tak jauh dari kediamannya, ia hendak mengecek adiknya karena biasanya Bhanu selalu menghubungi atau mendatangi rumahnya menjelang malam tapi kali ini Bhanu tidak melakukan itu, karena khawatir ia bersama sang putri datang ke rumah Bhanu memastikan.


Tapi sebuah kejutan ia dapatkan, ternyata Bhanu bersama seorang wanita yang ia pikir itu adalah Ane, bukan tanpa sebab ia mengetahui sosok Ane tentu ibunya lah sudah bercerita bagaimana hubungan Bhanu dan Ane. Hampir lima belas menit menunggu di ruang tv, sang adik datang bersama Ane yang menggendong Caca, mereka nampak seperti keluarga kecil bahagia. Tak sadar seulas senyum terbit di wajah Lingga, tak sabar melihat Bhanu menikah dan mempunyai anak yang lucu.


“Caca turun dong, Nak! Kasian tantenya gendong kamu,” Caca menggeleng keras, meletakkan kepalanya di dada Ane.


Ane dan Bhanu duduk bersebelahan, Caca yang berada di pangkuan Ane nampak anteng, tangan mungilnya memainkan ujung hijab Ane.


“Ah, iya kenalin saya Lingga, mbaknya Bhanu,” Lingga mengulurkan tangannya.


Ane membalas uluran tangan itu sembari berkata, “Ane, mbak. Mbak Lingga kakak kandungnya Mas Bhanu?”


“Iya, emang Ibu atau Bhanu belum cerita?” Ane melirik Bhanu kemudian menggeleng.


Lingga memutar bola matanya, “kamu lagi ada urusan apa emang sengaja nyamperin Bhanu?”


“Gak mbak, kebetulan saya lagi temanin Mas saya lagi ninjau lokasi buat buka cafe,” jawab Ane.


“Wah, bagus dong. Oh iya ibu cerita kamu baru lulus kuliah, kan? Gak coba cari kerja di Jakarta?”


Bhanu menyela ucapan sang kakak takut membuat Ane tersinggung karena membahas pekerjaan.


“Udah deh Mbak gak usah bahas kerjaan!”


“Dih, kenapa kamu yang sewot, mbak kan cuma nanya lagian di kantor Mas Randu ada lowongan siapa tau Ane mau coba daftar,” ucap Lingga jelas.


Ane berbinar senang mendengarnya, “serius, mbak?”


“Iya, jadi staff marketing sih, tapi kalau kamu mau coba boleh nanti Mbak kasih kamu apa aja persyaratannya,”


“Gak usah, ntar mas kasih kamu info loker lain deh,


Ane memicingkan mata curiga melihat gelagat aneh dari Bhanu yang sepertinya tidak serius atau terkesan berbohong.


“Iya besok deh mas kasih tahu kamu,”


“Kalian udah sejauh mana sih? Mbak kepo nih, apalagi si Bhanu tuh susah banget mau dikenalin sama cewek, mbak aja kaget pas tau hubungan kalian,” Lingga melirik Ane dan Bhanu secara bergantian menuntut penjelasan.

__ADS_1


“Yah, sejauh mata memandang, Mbak!” jawab Bhanu menyeleneh. Lingga melemparkan bantal kursi ke arah Bhanu kesal tidak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan pertanyaannya.


“Mbak serius nanya loh!”


Ekor mata Bhanu melirik Ane sibuk mengelus punggung Caca dimana bocah itu sepertinya sudah mengantuk.


“Kalau Ane udah terima lamaran Bhanu, langsung gas ke pelaminan lah,” jawab pria itu.


“Jadi Ane belum terima kamu? Astaga, mbak kira udah,” Lingga memonyongkan bibirnya sedikit rasa kecewa, lalu ia beralih ke Ane sedari tadi diam tak bersuara. “Ane, emang kamu belum yakin sama Bhanu yah? Apa gimana? Eh maaf loh mbak cuma penasaran,” lanjutnya.


Ane menggigit bibirnya bingung harus menjawab apa tetapi ia berusaha untuk menjawab dengan jujur sesuai hatinya, “Ane cuma takut kalau ini terkesan terburu-buru aja,”


“Oh iya kalian juga baru saling kenal juga yah. Tapi mbak bisa jamin adek mbak itu tipe suami dan ayah idaman deh, bukannya karena dia adik mbak yah, cuma emang ini pandangan mbak sebagai wanita gitu, semoga saja kalian jodoh lah, kasian juga Bhanu udah umur segitu belum nikah,”


“Tua gini tapi gak kalah ganteng sama brondong di luar sana,” celetuk Bhanu.


Lingga tertawa renyah mendengarnya begitu pula dengan Ane baru tau jika Bhanu mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Lingga mengambil Caca dari pangkuan Ane, Lingga juga berpamitan untuk pulang ke rumah sebab anaknya tertidur. Sepulangnya Lingga, tinggal Bhanu dan Ane di rumah duduk terdiam di ruang tengah. Ane rasa ia akan menanyakan hal yang memenuhi kepalanya.


“Mas,” panggil Ane dengan suara pelan dan lembut.


“Dalem,” jawab Bhanu tak kalah lembut.


Bhanu mengerti arah pembicaraan Ane, ia bahkan berpikir jika hal itu adalah salah satu yang membuat Ane bingung dan bimbang makanya gadis itu belum memberikannya kepastian.


“Dua-duanya. Tergantung istri Mas maunya seperti apa. Kalau dia maunya jadi ibu rumah tangga saja yah Mas Alhamdulillah, tapi kalau mau bekerja juga gak masalah. Menikah bukan berarti ruang gerak seorang istri terbatas, istri juga bisa memilih dan menentukan pilihannya termasuk bekerja atau tidak, asal dia bisa membagi waktu antara bekerja dan mengurus suami serta anak nantinya.”


Terdengar suara hembusan napas lega setelah mendengarkan jawaban Bhanu—pria itu terkekeh kecil kembali bersuara semakin meningkat keyakinan bahwa Bhanu memang yang terbaik untuk Ane.


“Selagi kamu melakukan hal yang baik, Mas akan selalu support kamu. Pernikahan itu bukan ajang saling kekang, tapi saling mendukung, pengertian, dan bekerja sama untuk membangun rumah tangga,”


Giliran Ane yang serasa ingin memeluk tubuh Bhanu saking speechlessnya. Ane menahan itu dengan meremas kedua tangannya gemas, menyadari akan tingkah laku Ane, Bhanu mempertanyakan hal tersebut.


“Kamu kenapa, kebelet?”


Dengan polosnya, Ane menggeleng sembari berkata, “Ane gemes pengen peluk, tapi—”


“Hahah, belum boleh, sabar orang sabar di sayang Allah SWT dan Mas,” tawa dari Bhanu sekaligus meledek Ane mengulang kalimat yang diucapkan Ane pada saat dirinya melakukan hal yang sama seperti Ane.


****

__ADS_1


“Dek, kayaknya kita bakal seminggu deh, soalnya Mas udah deal soal harga sewa dan rencana mas mau nyicil dekor ruko,” Rangga menyeruput secangkir kopi dan Ane meminum teh hijau.


Ane menyendokkan sup cream ke dalam mulutnya, hanya anggukan kepala sebagai jawaban sebab ia ingin menikmati sup cream miliknya yang begitu nikmat. Rangga mengigit roti panggang dengan selai kacang, ikut menikmati sarapannya. Tak ada suara selama mereka makan.


Suara notifikasi terdengar, Ane melirik sekilas notif di layar ponselnya dan ternyata chat dari Bhanu. Ane memilih menghabiskan sup creamnya lebih dulu lalu membalas chat tersebut.


—Mas Bhanu—


Makan siang bareng Mas yah, nanti Mas jemput kamu. Balik Jogja rencana jam berapa?


^^^Me : Boleh, atau aku aja yg ketempat mas deh bawa makan siang, takut ntar Mas gak keburu makan siangnya. Nanti tinggal sharelock aja, aku gak jadi balik hari ini Mas, katanya Mas Rangga aku bakal seminggu di sini.^^^


—Mas Bhanu—


MasyaAllah, calon istri pengertian sekali ♥️ Alhamdulillah, jadi mas punya banyak waktu sama kamu 😁


^^^Me : Mas udah sarapan?^^^


—Mas Bhanu—


Udah, makan bubur ayam, yaudah Mas mau berangkat kerja dulu.


^^^Me : Hati-hati mas jangan ngebut!^^^


Ane menyeruput sisa teh hijau miliknya sebelum berbicara.


“Mas, nanti aku mau minta tolong antar ke rumah sakit tempat Mas Bhanu, ngajak makan siang, gak papa kan?”


Rangga tadinya fokus pada ponsel, kini beralih memandang adiknya, “oke, nanti mas antar, tapi temani mas nyari peralatan ruko yah,” Ane mengacungkan jempolnya sebagai tanda setuju.


Setelah keduanya usai sarapan, mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap. Ane yang menggunakan tunik berwarna hitam motif polkadot selutu dan celana jeans putih serta sendal dan Sling bag sedangkan Rangga tampak tampan menggunakan kaos polos putih dan celana pendek hitam tak lupa Sneakers yang makin membuat penampilan Rangga begitu sempurna. Rangga merangkul sang adik, beberapa pasang mata tertuju pada mereka apalagi outfit keduanya tampak kompak. Hingga sosok wanita baru saja memasuki hotel memakai blazer abu-abu dengan rambut panjang yang tergerai sedikit Curly di bagian bawahnya, wanita itu tak sengaja menabrak Rangga saking fokusnya pada ponsel.


“Maaf, saya gak sengaja,” ujar wanita itu meminta maaf.


Rangga meneliti perempuan itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, cantik dan elegan dua kata yang mewakili wanita itu.


“It's okay,” balas Rangga.


Wanita itu memicingkan matanya tatkala melihat Ane, ia seperti mengenali wajah Ane, otaknya berputar keras mengingat kemungkinan di mana kah ia pernah melihat wajah Ane. Hingga terdengar suara seorang pria membuat wanita itu menoleh dan segera pamit pada Rangga dan Ane.

__ADS_1


“Bu Erina, ibu sudah di tunggu sama pak Jason, meeting akan dimulai,”


__ADS_2