
Awal niatan akan ke Dufan tetapi berubah ketika Bhanu membawa dua kurcil, sebenarnya tidak masalah mereka ikut ke Dufan hanya saja Bhanu mengatakan jika Satya dan Caca meminta untuk dibelikan pensil warna dan juga mainan berbie, tentu saja di Dufan tidak menjual itu. Kalau mereka tetap ngotot ingin ke Dufan, Ane khawatir jika nantinya Satya dan Caca kecapekan malah bisa jadi tidak sempat membeli barang yang kedua bocah itu inginkan.
Mall, pusat perbelanjaan menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat umum bukan hanya itu ada juga berbagai tempat bermain bagi anak-anak. Ane memilih untuk ke Mall saja, berbelanja sekaligus bermain. Pilihan yang tepat tentunya. Bhanu hanya mengikuti saja, walau sebenarnya ia bisa memenuhi keinginan Ane ke Dufan tanpa mengkhawatirkan keponakannya, tapi Ane keras kepala mengubah destinasi liburan mereka hari ini.
Ane menggandeng tangan Satya sedangkan Caca berada di gendongan sang paman. Ane hendak mengajak Caca dan Satya untuk makan lebih dulu tetapi kedua bocah itu mengatakan jika mereka masih kenyang, Bhanu juga mengatakan hal yang sama karena memang Caca dan Satya tadi memakan bubur kacang ijo cukup banyak. Akhirnya tujuan pertama mereka mengunjungi tempat bermain anak-anak, Caca dan juga Satya terpekik senang dan berlari memasuki arena permainan lebih dulu meninggalkan Ane dan Bhanu menggelengkan kepala melihat tingkah kedua bocah itu.
Ane dan Bhanu ikut menyusul Caca berserta Satya, kemudian membeli koin permainan cukup banyak hingga Caca dan Satya pasti akan puas bermain. Ane menemani Caca naik ke mobil bergerak maju mundur, Ane memasukkan dua koin hingga mobil itu perlahan bergerak. Caca memutar stir mainan mobil tersebut seakan seperti sedang menyetir. Ane begitu gemas dengan Caca tak kuasa menahan rasa gemas, Ane mencuri satu kecupan di pipi gembul Caca tanpa membuat gadis kecil itu merasa terganggu.
Di sisi lain, Bhanu menemani Satya bermain bola basket. Sesekali Bhanu ikut memasukkan bola ke dalam ring, Satya tak ingin kalah dari sang om sudah banyak memasukkan bola walau tubuhnya belum terlalu tinggi tapi ia tetap semangat memasukkan bola ke dalam ring walau kadang kala bola meleset. Setelah permainan bola basket usai, Satya mengajak Bhanu kembali ke arena bom-bom car. Sedangkan Ane setia menemani Caca dengan tingkah aktif gadis itu, berjalan menyusuri arena bermain mencari permainan yang menarik untuknya.
Hampir setengah jam lamanya mereka habiskan waktu di arena bermain, Ane dan Bhanu mengajak Caca serta Satya untuk makan lebih dulu. Sesuai permintaan Satya menginginkan makan steak, Bhanu mengabulkan keinginan tersebut. Caca sepertinya lelah habis bermain, bagaimana tidak gadis kecil itu sangat lincah mencoba hampir semua permainan, Caca duduk dipangkuan Ane, melingkarkan tangan mungilnya di perut Ane.
Pesanan mereka akhirnya datang, Satya dengan tenang melahap steak daging sesuai keinginan pria kecil itu, Ane menawarkan diri untuk membantu Satya memotong daging tetapi Satya mengatakan bisa melakukannya sendiri. Sebelum makan Ane lebih dulu menyuapi Caca, khusus untuk gadis kecil kesayangan Lingga, Bhanu memesankan steak ayam karena Caca tidak begitu menyukai steak daging.
Ane memotong kecil daging ayam kemudian menyuapi Caca. Ane begitu telaten mengurus Caca bahkan sesekali ketika Satya sedikit kesulitan memotong daging, Ane membantunya. Bhanu lagi-lagi dibuat kagum atas kepribadian Ane begitu lembut memperlakukan anak-anak jiwa keibuan Ane sangat terlihat jelas. Ane menangkap sosok Bhanu menatapnya dengan tatapan dalam, mengernyit heran menggerakan kepalanya naik turun seakan berkata ada apa.
Bhanu tersenyum ditengah kunyahan, setelah menelan daging tersebut, Bhanu tak bisa menahan diri untuk tidak memuji Ane dan mengucapkan terimakasih karena Ane bisa menerima dan memperlakukan Satya dan Caca layaknya anak sendiri.
“Kamu hebat, Mas makin gak sabar nikahin kamu, Mas pasti sangat beruntung punya istri sekaligus ibu yang baik buat anak-anak Mas kelak, terimakasih atas semuanya, kebaikan kamu dan kesabaran kamu menghadapi dua keponakan Mas,”
Ane ikut tersenyum dan mengaminkan dalam hati ucapan Bhanu yang mengatakan jika ia akan menjadi seorang istri dan ibu yang baik.
“Sama-sama Mas, lagipula mereka anak-anak yang lucu dan manis,” balas Ane melihat Satya dan Caca secara bergantian. ”Makannya dilanjut Mas, perut Mas gak bakal kenyang kalau cuma lihat wajah Ane terus,” tegur Ane karena Bhanu belum juga melanjutkan makannya malah bertopang dagu memandang Ane dengan senyum terukir di wajah tampan pria itu.
\*\*\*\*
Randu Bagaskara adalah kepala manager salah satu perusahan besar di Jakarta, suami dari Lingga kakak perempuan satu-satunya dimiliki Bhanu. Randu beserta Lingga baru saja tiba, mereka langsung singgah di rumah Bhanu menjemput kedua anaknya. Di sana Randu pertama kali bertemu Ane begitu pula sebaliknya.
Caca karena kelelahan dan kekenyangan, habis dari Mall pukul empat sore, Ane membantu Caca mandi habis itu bermain sebentar kemudian makan malam bersama. Kini Caca tidur di kamar Bhanu sedangkan Satya asik bermain lego di ruang tengah di temani Ane dan Bhanu. Satya seperti tidak letih seharian bermain. Bhanu membujuk Satya untuk tidur tetapi Satya bersikeras menunggu orang tuanya datang sembari bermain lego.
“Assalamualaikum,”
“Walaikumsalam, Bunda Ayah!” Satya mendengar suara kedua orang tuanya berlari cepat menemui Randu dan Lingga.
Randu merentangkan tangannya lebar menyambut sang putra kemudian menggendong Satya tak lupa mengecup kening putra kecilnya itu.
“Eh, ada calon adek ipar,” seru Lingga ketika Bhanu bersama Ane menghampirinya.
__ADS_1
“Seharian yang urus anak-anak Mbak yah Ane, untung masih di Jakarta kalau gak Bhanu kewalahan,” keluh Bhanu.
Randu terkekeh kecil, lalu menimpali perkataan Bhanu sedikit menggoda adik iparnya itu, “sekalian latihan kalau kalian nikah terus punya anak, asal jangan latihan buatnya belum boleh, haram hukumnya,”
Bhanu menggaruk kepalanya, hendak memakai Randu tetapi ia tidak mungkin melakukan itu apalagi ada Lingga bisa-bisa kena omelan sang kakak. Ane sendiri sudah salah tingkah, ia bukan gadis polos lagi yang tak bisa mengartikan maksud dari ucapan Randu.
“Aduh, ayah, jangan bahas itu nanti Bhanu makin gak tahan, kasihan Ane nanti, makanya buruan gih naik pelaminan,” tambah Lingga.
Bhanu mendelik tajam, sedangkan Ane tertunduk malu. Randu mewakili istrinya mengucapkan terima kasih pada Ane karena sudah mengurus anak-anaknya hampir seharian ini.
“Terima kasih sudah membantu Bhanu mengurus anak-anak kami, jangan kapok yah karena kadang istri saya masih suka pengen berduaan terus,” ujar Randu pada Ane namun diselipi candaan tetapi justru mengarah ke godaan pada sang istri.
Lingga tertawa bukannya mengelak justru wanita itu mengiyakan perkataan sang suami.
“Maklum anak-anak kalau udah sama ayahnya lengketnya minta ampun, mbak jadi tersingkir kan, mau dekat sama suami sendiri malah ditodong sama anak-anak terutama Caca tuh—oh iya Caca mana, Nu?” Lingga menyadari jika putrinya tidak kelihatan sejak tadi menginjakkan kaki di rumah sang adik.
“Caca tidur di kamar Bhanu,” ujar Bhanu, tanpa kata Lingga menyelonong masuk menuju kamar Bhanu mengambil putrinya. Setelah Lingga berhasil mengangkat tubuh Caca tanpa membuat anaknya bangun, Lingga beserta suaminya pamit pulang tak lupa mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Bhanu khususnya pada Ane.
Kini tinggal Ane dan Bhanu—pria itu memandang jam di dinding menujukkan pukul 8 malam, Bhanu bergegas menuju kamar untuk mengambil jaket beserta kunci mobil hendak mengantar Ane balik ke hotel mengingat besok pagi Ane akan melakukan perjalanan panjang menuju Yogyakarta.
“Coba deh buka dasboard itu,” ujar Bhanu. Ane melakukan apa yang diperintahkan Bhanu, matanya menatap heran map cokelat ia temukan di dalam dasboard.
Ia mengangkat map tersebut dan mengangkatnya sembari memandang Bhanu ketika pria itu melirik ke arahnya sekilas. Bhanu menyuruh Ane membuka map tersebut. Di dalam map tersebut ada selembar kertas, tangannya mengambil kertas tersebut kemudian membaca seksama tulisan di kertas itu.
Dibutuhkan segera seorang istri!!!
Kriteria yang dibutuhkan:
1. Seorang wanita berakhlak Sholehah;
2. Memakai hijab;
3. Sayang suami dan memiliki jiwa keibuan;
4. Setia menemani suaminya dalam suka maupun duka;
5. Sabar;
__ADS_1
6. Bisa memasak;
7. Sayang keluarga;
8. Yang paling penting wanita itu harus bernama Ariane Edith Callista.
Benefit yang akan didapatkan:
1. Menjadi istri kesayangan dari dokter tampan Bhanu Kumara Giandra;
2. Akan menjadi ratu di istana Bhanu Kumara Giandra;
3. Mendapatkan pahala yang berlimpah tanpa batas dan tak lekang oleh waktu;
4. Semua keinginan akan dipenuhi;
5. Mendapatkan kasih sayang berlimpah serta kesetiaan dari Bhanu Kumara Giandra.
Di mohon Ariane Edith Callista untuk segera memasukkan lamaran tersebut segera mungkin agar pernikahan segera terlaksana dan seluruh dunia tahu jika gadis cantik bernama Ariane Edith Callista adalah istri Bhanu Kumara Giandra.
Tawa meledak, tak kuasa menahan rasa geli sekaligus gemas setelah membaca isi kertas tersebut. Bahkan Ane melemparkan ejekan pada Bhanu.
“Astaga, kok Mas bisa se-lebay ini sih? Ya Ampun perut aku sakit ketawa ngakak ih,”
Bhanu memasang wajah cemberutnya atas reaksi Ane sepertinya tidak merasakan keromantisan darinya. Bhanu memilih diam tak menanggapi Ane—menyadari jika Bhanu ngambek, Ane menggoda Bhanu.
“Oke, nanti Ane coba kasih masuk lamaran deh, siapa tahu keterima, ya kan, Mas?” Ane mengedipkan matanya menggoda Bhanu.
Bhanu mengedikkan bahunya cuek masih dalam mode ngambek.
“Ih, kayak Caca kalau lagi ngambek!” cibir Ane sembari memasukkan kembali kertas tersebut ke dalam map dan memegangnya erat, ia akan menyimpannya hingga nanti ia membalas lamaran Bhanu.
Ane mengapresiasi Bhanu, ia yakin jika pria itu ingin berusaha terlihat romantis dengan cara yang berbeda, Ane sungguh gemas pada Bhanu jadi tidak sabar menjadi istri Bhanu, menyadari pemikiran itu Ane salah tingkah sendiri.
......Assalamualaikum, gimana dengan bab ini? apakah kalian juga ikut terbawa suasana keromantisan Bhanu & Ane? honestly, nulis bab ini aku gak berhenti senyum sendiri haha, semoga gregetnya dapat yah buat kalian. ditunggu vote+like+comment kalian wajib yah supaya aku semakin semangat buat menulis dan update 😊🙏......
...Big Love ♥️...
__ADS_1