
Rutinitas sehari-hari kembali berjalan, seperti sekarang ini Bhanu telah bekerja terhitung dari seminggu ia melakukan lamaran. Tentu saja baik Bhanu dan juga Ane telah sibuk mempersiapkan pernikahan yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Kedua belah keluarga telah membuat list nama siapa saja yang akan diundang ke acara pernikahannya nanti. Jam istirahat, Bhanu sedang berada di kantin bersama satu rekan kerjanya ia juga meminta pendapat atau usulan mengenai persiapan pernikahan.
“Jadi Lo akadnya di Jogja resepsi juga?” tanya Reza yang sedang menyantap makanannya.
“Iya, tapi yah gue tetap ada acara di Jakarta gimana pun gue juga udah lama tinggal di sini, yah tapi mungkin gak sebesar acara di Jogja yang penting teman-teman di sini tau lah kalau gue udah nikah,”
“Kenapa gak sekalian aja sih? Modal banyak tuh, repotnya juga double, gakpapa maksudnya kalau Lo mau sekalian undang teman-teman di sini yah pasti mereka datang apalagi yah Lo kan anaknya gak cuek sama orang, pasti mereka sempetin buat datang, gue aja mau kok datang ke Jogja. Kalau pun misalnya ada yang gak datang yah udah gak masalah yang penting kan doa baik dari mereka dan udah tau juga Lo nikah. Mending uang buat acara di Jakarta Lo tabung, ke depannya kita gak tahu loh, apalagi kalau kalian dikasih momongan cepat kan lumayan buat biaya lahiran sama beli perlengkapan bayi atau apapun lah. Gue udah ngerasain bro, kehidupan rumah tangga tuh pengeluarannya double gak kayak waktu single, jadi harus pintar-pintar ngatur uang mana yang penting mana gak gitu, ini gue cuma kasih pendapat aja yah selebihnya itu hak lo,”
Pendapat Reza tentu tidak lah salah justru ada benarnya, lagi pula kalau di pikir-pikir pun rekan atau teman yang akan diundang Bhanu tidak lah banyak, mungkin akan dia pikirkan ulang mengenai pendapat Reza untung saja ia belum menyewa gedung ataupun hotel buat acaranya nanti. Jangan lupakan untuk diskusi dengan Ane nanti bagaimana pun Bhanu harus melibatkan Ane disegala hal menyangkut pernikahan.
“Lo sama Ane juga kan istilahnya sekali capek gitu, jadi gak mesti bolak-balik. Tapi tergantung si Ane juga sih kalau dia emang gak masalah ada pesta lagi yah sok atuh gakpapa,”
“Ntar lah gue diskusi sama Ane lagi,”
Tak ada obrolan lagi, masing-masing kembali asik melahap makanan mereka hingga tandas. Habis itu, Reza pamit lebih dulu dan setelah itu Bhanu pun juga bergegas menuju ruangannya. Di tengah jalan, ada Erina mengajak Bhanu berbincang sebentar.
“Dok,” sapa Erina pada Bhanu.
“Iya ada apa Bu Erina?” balas Bhanu ramah.
“Hm, saya dengar dokter udah lamaran?” Erina mengetahui kabar lamaran Bhanu dari bisik-bisik yang sudah menyebar ke seantero rumah sakit.
Bhanu mengangguk, “Alhamdulillah, saya minta doanya semoga berjalan lancar," ujarnya.
Satu sudut bibir Erina melengkung ke atas membentuk senyum paksa, “tentu dok, semoga lancar sampai hari H,”
“Aamiin terimakasih, ada lagi yang mau ditanyakan?” Bhanu melirik jam berharap jika Erina peka, tidak ingin berlama-lama apalagi ia bisa menebak gelagat Erina yang sesungguhnya. Bukannya GeEr tapi Bhanu bisa merasakan jika Erina suka padanya.
“Ah, iya, rencana pemindahan pengobatan Kinan jadi dok, atas permintaan keluarga suami saya, mereka ingin Kinan berobat di Singapura dengan berharap Kinan bisa sembuh bukannya kami tidak percaya kinerja dokter dan rumah sakit di sini hanya saja kami ingin yang terbaik untuk Kinan,”
“Yah, saya mengerti. Hm, kalau boleh tahu rencananya kapan?”
“Awal bulan depan dok,”
“Baik, nanti kalau misalnya Bu Erina belum berangkat dan punya waktu luang mungkin bisa datang ke acara saya nanti. Undangannya nanti saya kasih ke Bu Erina,”
“Ah, baik, saya tunggu undangannya,”
“Kalau gitu saya pamit, permisi,” Bhanu membalikkan badan melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruangan sedangkan Erina hanya bisa memandang punggung tegap Bhanu dengan tatapan sendu serta hati meringis pedih. Ia harus bisa menerima dan merelakan Bhanu di hatinya, bagaimana pun mencintai seseorang yang sudah memiliki kekasih hal yang paling menyakitkan dan Erina tidak ingin terus terjebak dalam situasi menyakitkan itu.
Setelah memastikan Kinan baik-baik saja, Erina akan kembali bekerja, ia tidak bisa lagi meninggalkan pekerjaannya seperti kemarin-kemarin apalagi ia akan cuti selama pengobatan Kinan di Singapura. Hidupnya sangat sulit jujur saja dikondisi seperti ini Erina sangat membutuhkan sosok pria yang bisa menjadi keluh kesahnya bahkan penyemangat untuk melewati semuanya.
__ADS_1
Sejak Kinan di rawat dan bertemu Bhanu, rasa suka timbul begitu saja terlebih kedekatan Bhanu dan Kinan membuat hatinya semakin menyimpan rasa pada Bhanu tapi sekarang tentu tidak bisa lagi. Memikirkan itu rasanya Erina pusing, ketika ia sudah berada di Hotel tempatnya bekerja ia tak langsung menuju ruangannya. Ia akan makan siang lebih dulu. Erina duduk sendirian. Ada sosok pria tampan sedang bersiap untuk makan siang juga baru saja turun dari lantai 5 letak kamarnya. Melihat wajah Erina nampak tak asing entah dorongan dari mana pria itu menghampiri Erina duduk sendirian.
“Boleh saya bergabung?”
Erina tadinya sedang melamun, tersentak kaget ketika ada sosok pria berdiri di depannya. Erina mengernyitkan dahinya memandang heran pria tersebut.
“Boleh saya bergabung?” pria itu mengulang perkataannya. Erina tak langsung menjawab, ia melirik di sekelilingnya masih banyak kursi kosong tetapi mengapa pria itu mau duduk bersamanya. Erina tidak enak hati menolak.
“Tentu silakan,”
Pria itu tersenyum dan ikut duduk bersama Erina. Guratan terlihat jelas di kening Erina selama melamun tadi, ia yakin wanita itu sedang banyak pikiran.
“Sebelumnya perkenalkan nama saya—” belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, dering ponsel Erina terdengar.
“Maaf saya angkat telepon dulu,” Erina beranjak menjauh sembari mengangkat telepon. Erina mendapatkan penggilan dari atasannya mau tak mau Erina harus segera naik ke ruangannya. Erina kembali ke kursinya tak lupa meminta maaf pada pria itu sekaligus pamit.
“Maaf saya harus ke ruangan saya, mungkin lain kali kalau kita bertemu lagi permisi,” bertepatan ketika Erina hendak berbalik menuju ruangan ada pelayan hotel datang membawa nampan berisi pesanan Erina, “tolong antar ke ruangan saya yah soalnya pak bos udah manggil nih,” ujarnya pada pelayan itu.
“Oke, Bu," balas pelayan itu maklum.
“Erina,” bibir tebal pria itu tersenyum memerhatikan langkah Erina kian menjauh.
“Astaga Mas, tak cariin loh. Lah, ini kenapa Mas senyum-senyum sendiri? Kerasukan apa gimana? Mas!" Suara itu mengejutkan pria yang bersama Erina tadi. Ia memutar bola matanya ketika sang adik menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
“Mau makan siang di sini? Gak sekalian di luar aja Mas?”
“Yaudah lah,” lagi pula sudah tidak ada wanita itu lanjut batin pria itu mengajak sang adik keluar hotel.
\*\*\*\*
Serba serbi menjelang pernikahan tentu ada saja hal-hal yang terjadi entah itu ada perdebatan kecil, ke-riwehan, serta bisa membuat kedua pihak stress apalagi ada yang tak sesuai dengan ekspektasi. Mungkin drama-drama itu lah dirasakan Ane dan Bhanu saat ini. Keduanya cukup rewel hingga Ratna dan Sri terkadang jengkel namun begitu dua ibu tersebut dengan sabar membantu segala proses persiapan pernikahan anak-anak mereka.
Bhanu berada di Yogyakarta kembali mengurus berkas pernikahan ke KUA dan memilih desain undangan serta dekorasi gedung. Sehabis urusan KUA selesai, mereka kini berada di tempat percetakan memilih desain undangan. Tentu ada perdebatan kecil di antara calon pengantin tersebut.
“Yang ini lucu Mas,” Ane mengambil satu contoh undangan dan mengarahkannya pada Bhanu agar pria itu melihatnya.
Tanpa pikir panjang Bhanu menggeleng tidak menyukai pilihan Ane, “gak ah, kebanyakan bunga-bunganya,” serunya tak suka.
Ane mencibir, kini giliran Bhanu mengambil undangan, “nah ini, simple terus bagus juga,”
Ane membolakkan matanya, bibir melengkung cemberut dan tidak setuju pilihan Bhanu, “terlalu simple Mas, ih polos banget gak like!”
__ADS_1
“Yaudah ini aja,”
“Gak mas yang lain,”
“Ini?”
“No!”
“Ah, Ane dapat yang ini aja Mas,”
“Gak!”
”Ih, ini aja!”
“Gak ada itu terlalu ramai!”
“Yaudah pilih aja sendiri,” Ane pusing sendiri dan kesal tidak menemukan desain yang cocok. Karyawan percetakan sampai pusing sendiri sekaligus gemas pada calon pengantin tersebut berdepat tanpa henti.
“Bentar gimana kalau saya yang pilih kan? Kebetulan ada desain terbaru, sebentar saya ambil contohnya dulu,” mau tak mau karyawan percetakan tersebut turun tangan melerai Bhanu dan Ane siapa tau sarannya berhasil. Tak lama, karyawan tersebut datang dan di tangannya ada contoh undangan yang akan ditunjukkan pada Ane dan Bhanu.
Mata Ane berbinar melihat undangan tersebut, Bhanu terlihat suka dengan desain yang dibawa oleh karyawan percetakan itu.
“Ini bagus, cantik, simple elegan,” gumam Ane memuji undangan di tangannya.
Bhanu mendekatkan tubuhnya dan ikut memerhatikan seksama desain undangan tersebut, benar undangan itu cocok untuk mereka. Akhirnya Bhanu dan Ane sepakat menggunakan desain tersebut.
“Mas Ane lapar,” Ane mengelus perut datarnya lapar.
“Anak papa di dalam perut mama lapar yah?” ucap Bhanu asal.
Ane melebarkan matanya dan memukul pelan pundak Bhanu, “ih ngawur, ntar ada yang dengar terus mikirnya aneh gimana?” kesalnya.
Bhanu tertawa, “yah, anggap saja doa. Apalagi kan bentar lagi nikah jadi dedek bayi juga otw jadi tuh,” lanjutnya tak memikirkan wajah merah Ane sekarang, melihat itu Bhanu kembali berseru, “jangan dibayangin dulu, haram! Belum boleh nunggu sah dulu,” pria itu mengedipkan matanya yang mendapatkan delikan tajam dari Ane.
“Oh iya sayang, menurut kamu Mas buat acara di Jakarta juga apa gak, kan Mas juga udah lumayan lama tinggal di Jakarta tentu Mas udah punya teman sama rekan kerja juga kalau mas ada pesta di Jakarta kan enak mereka gak usah jauh-jauh kalau mereka diundang ke resepsi di Jogja, tapi kamu gimana?”
“Yah, aku sih terserah mas, kalau misalnya ada rezeki lebih gak apa-apa. Kalau gak yah sekalian juga gak masalah, tergantung mas sih, kan yang tahu finansialnya mas kan mas sendiri,”
“Tentu ada, mas udah nabung dari dulu buat nikah, InsyaAllah cukup lah, buat istri mas aja udah mas siapin. Bentar—” satu tangan Bhanu merogoh saku celananya mengambil dompet lalu memberikannya pada Ane.
“Hah untuk apa?”
__ADS_1
“Udah ambil aja itu,” Ane mengambil dompet Bhanu ragu. “Buka dompet Mas,” jari Bhanu menunjuk satu kartu kredit berwarna hitam serta menyuruh Ane mengambil kartu itu.
Ane menolak tapi Bhanu memaksa, “bentar lagi kan kita nikah, jadi kartu itu kamu simpan. Buat keperluan rumah, nanti Mas kasih buat keperluan pribadi kamu, soalnya Mas belum pindahin saldo ke kartu satunya lagi,” sungguh Ane tak bisa menolak karena Bhanu sangat keras kepala.