
Terhitung sejak dua bulan Ane memasukkan lamaran ke tempat yang direkomendasikan oleh Hanna, sampai sekarang Ane belum mendapatkan panggilan interview. Ia baru mengingat hal itu, lupa saking sibuknya membujuk Bhanu yang tak kunjung berubah seperti awal. Ia bertanya-tanya apakah ia tidak lulus berkas serta status pernikahannya menjadi permasalahan lagi, kah? Ane bingung sendiri, ia meletakkan gelas di atas meja dan beranjak meraih ponselnya di kamar.
Ane menghubungi Hanna untuk memastikan apakah dugaan di kepalanya benar atau tidak. Panggilan pertama tidak diangkat hingga Ane mencoba menelepon kembali dan diangkat.
“Assalamualaikum Han, gue mau tanya nih kok belum ada informasi yah dari kantor om Lo?” tanya Ane enggan berbasa-basi karena tingkat penasaran sangat tinggi memenuhi kepala wanita itu.
^^^“Walaikumsalam, serius? Dan Lo baru kasih tahu gue sekarang? Yaampun, Bentar deh gue coba hubungi om gue ntar gue kabarin lagi yah,” ^^^
“Oke, maaf yah Han, repotin,”
^^^“Iya santai aja, yaudah gue matiin teleponnya dulu yah,”^^^
Ane menggigit bibirnya cemas dan penasaran, selang beberapa menit kemudian Hanna mengirim sebuah chat.
Hannaaaa
Ne, sorry yah katanya om gue si bosnya cari yg single terus bosnya turun tangan langsung nyeleksi berkas yg masuk dan semua wanita yg udah nikah gak keterima. Maaf yah Ne;( om gue juga kaget padahal awalnya bosnya gak mempersalahkan tapi berubah pikiran sekarang. Ikut sebel deh labil banget;(
Ane mendesah napas kasar. Dugaannya tidak meleset.
Me
Gakpapa Han, ngerti kok gue haha udah biasa juga sih gak keterima. Btw thanks udah kasih info yah.
Hanna
Iya Ne, tetap semangat yah. Nanti kalau ada info loker gue kasih tahu Lo lagi deh.
Me
__ADS_1
Okedeh, sip Han!
Ane melempar ponselnya ke atas kasur, kesal? Kecewa? Tentu iya. Tapi Ane sudah merasa biasa toh bukan kah itu sudah sering terjadi? Ane mendudukkan bokongnya, semua permasalahan menumpuk di kepalanya, bahkan sikap Bhanu pun masih sama ia hampir frustrasi sendiri memikirkan cara apalagi untuk membujuk Ane. Terlintas di kepalanya tentang pil anti hamil. Ia membuka laci meja dan meraih strip pil tersebut. Ia memejamkan mata, mendesah pelan ia baru meminum pil tersebut sebanyak 5 pil dan intensitas hubungan ranjang bersama Bhanu rutin bahkan lebih sering selama made membujuk sang suami. Ane mengigit bibirnya, ia juga baru mengingat jika setiap selesai berhubungan pasti Bhanu akan menahannya dan durasi pun cukup lama sehingga Ane terkadang tidak memiliki tenaga lagi untuk sekedar bangun dari ranjang.
“Apa mas Bhanu udah tahu?” gumam Ane—wanita menutup matanya menggunakan tangan dan merutuki kebodohan sendiri. “Bodoh, kenapa juga aku simpan di laci meja ini sih! Tapi kok mas Bhanu gak ngomong langsung? Ya Allah Ane harus gimana,”
“Neng, ada den Rangga,” bi Popon muncul di balik pintu, wanita paru baya itu melihat raut kecemasan di wajah Ane sedangkan Ane hanya mengangguk saja dan segera bangkit menemui sang kakak.
Mood Ane kembali seperti biasa karena kehadiran sang kakak. Ane berlari kecil menghampiri Rangga di ruang tengah dan memeluk tubuh sang kakak erat.
“Kangen banget sama mas!”
Rangga tersenyum kecil mengelus pundak Ane serta memberikan kekuatan sayang di kepala sang adik sama halnya dengan Ane, Rangga juga merindukan sang adik.
“Tambah ganteng aja sih,” goda Ane melihat penampilan Rangga sedikit berbeda sepertinya sang kakak baru saja mengubah potongan rambut.
“Adik kakak juga makin cantik dan kayaknya bahagia banget deh habis nikah badan kamu makin berisi gak kurus lagi,” Rangga memerhatikan tubuh sang adik memang nampak berisi dari sebelum wanita itu menikah cukup kentara perubahan itu.
“Hahah, yang penting kamu makin cantik terus suami kamu juga makin sayang pasti,”
“Tau ah, Mas udah makan belum?” Rangga menggeleng, Ane menyeret lengan Rangga agar ikut ke ruang makan kebetulan masih ada makanan yang bisa dimakan oleh Rangga.
“Wah sepertinya enak nih,” Rangga melihat ada ikan gurame asam manis serta sayur tumis kangkung tak lupa ada tempe dan tahu goreng. Ane menyuruh Rangga cuci tangan lebih dulu dan ia segera menyiapkan piring serta minum untuk sang kakak.
Dengan senang hati Rangga menyicipi makanan lezat yang telah disiapkan oleh Ane—wanita itu tersenyum senang melihat betapa lahapnya Rangga makan. Namun seketika ia terdiam tatkala mendengar ucapan Rangga.
“Kamu udah hamil dek?”
Ane menggeleng kepala dan terdengar suara helaan napas dari Rangga.
__ADS_1
“Mas selalu berdoa tahu dek, kamu cepat dikasih momongan sama Allah, mas pengen banget lihat kamu hamil terus Mas bisa gendong ponakan Mas, pasti lucu mas tuh selalu bayangin ada anak bayi mukanya mirip kamu atau Mas Bhanu gak kebayang lucunya kayak apa,” Rangga berbicara dengan senyum menghiasi wajah pria itu yang justru Ane merasa ada sesuatu menyentil hatinya.
Orang-orang sekitar Ane sudah gencar menanyakan apakah sudah hamil atau tidak. Nyatanya memang belum apalagi Ane kesalahan yang telah dibuat Ane, keputusan sepihak tentu saja kedepan akan berdampak buruk bagi rumah tangganya. Ane masih belum berani untuk berbicara dan mengakui kesalahannya pada Bhanu.
Tak sadar tangan Ane turun menyentuh perut datar miliknya. Ia pun bertanya-tanya apakah di rahimnya sudah ada benih dari Bhanu atau belum mengingat Ane mengonsumsi pil anti hamil walau baru beberapa pil saja dan sudah lama Ane tidak meminum obat tersebut.
Setelah Rangga makan, pria itu mengajak Ane mengobrol sejenak sebelum kembali ke rumah kontrakan untuk bersih-bersih.
“Dek, besok lusa mas ke Singapura, kamu mau nitip apa?”
“Heh, kok bisa? Ngapain?”
“Mas ada urusan, mau nitip sesuatu gak?”
“Ini seriusan mas mau ke Singapura? Udah ngomong ke ibu?”
“Iya udah lah, cepat mau apa nanti mas belikan?”
“Apa yah, ah, aku tahu foundation kebetulan produknya belum ada di sini, nanti aku kirim gambarnya ke mas,”
Rangga mengacungkan jempol pertanda oke, “tapi bayarnya pakai ponakan lucu yah? Berharap mas balik Jakarta kamu udah hamil,”
“Kok gitu? Kalau belum gimana? Ih, kan itu rejeki mas gak ada yang tahu,”
“Iya mas tahu, makanya mas bantu doa, yaudah mas balik dulu,” Rangga mencium kening Ane dan pamit pergi pulang ke rumah kontrakan.
“Apa aku udah hamil yah?” gumam Ane meraba perut datarnya.
...Assalamualaikum, jangan lupa vote+like+commentnya yah! terimakasih yang selalu setia menanti cerita ini;)...
__ADS_1
...Big Love ♥️...