Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 64


__ADS_3

6 bulan yang lalu.


Sosok wanita berparas cantik yang berprofesi sebagai dokter umum di salah satu rumah sakit swasta di Bali. Kecantikannya mampu mengundang perhatian para kaum lelaki, tak khayal begitu banyak lawan jenis mencoba mendekati dokter cantik itu bahkan dari berbagai kalangan. Terkadang ada pasien yang secara terang-terangan menggoda atau keluarga pasien yang mencoba menjodohkannya dengan kerabat pasien tetapi tidak pernah ditanggapi serius oleh dokter cantik tersebut bukan tanpa alasan hatinya terlanjur terkunci tak bisa menerima pria lain dan sampai sekarang hatinya masih milik mantan kekasihnya.


Hubungan terakhir yang ia jalani tentu memberikan banyak cerita apalagi hubungan itu terjalin hingga 9 tahun lamanya. Satu hal yang membuat hubungan itu kandas adalah ketidakmampuan pihak wanita keluar dari bayang-bayang masa lalu yang terjadi pada orang tuanya hingga berakhir pada perceraian. Ia hidup dihantui perasaan tak tenang setiap kali memikirkan arah hubungan dengan sang mantan dulu, hingga satu keputusan ia memilih mengakhiri hubungan yang sudah terjalin selama 9 tahun lamanya itu. Nyatanya, selama hubungan terjalin tak mampu membuat keyakinan akan sebuah pernikahan muncul bahkan entah mengapa rasanya semakin mustahil membina rumah tangga karena rasa trauma kian mencekiknya.


Bali menjadi tempat pelarian setelah putus dari sang mantan. Di sana, ia bisa menata hidupnya kembali walau sendiri tanpa ada satu pun menemaninya karena memang itulah keinginannya hidup tenang walau seorang diri. Namun ternyata, hidupnya tidak berjalan sesuai keinginan, tempat kerjanya yang baru begitu banyak memberikannya berbagai masalah hingga kini ia hamil.


“Saya mau bertemu dengan dok Andrew,”


“Dokter Andrew sedang menangani operas, dokter, jika dokter berkenan menunggu silahkan mungkin sebentar lagi selesai,”


“Ah, iya baik saya menunggu saja,”


“Kalau begitu saya permisi dokter Citra,”


“Baik sus,”


Wanita yang dipanggil Citra, memilih duduk di salah satu kursi menunggu dokter kepala rumah sakit tempatnya bekerja. Citra Hermawan, dokter berusia 32 tahun, memiliki paras cantik dan kulit putih serta mulus tanpa celah, tangannya tak henti meremas ujung jas yang ia pakai serta menahan gejolak aneh dalam dirinya dan juga rasa pusing di kepalanya kian menyiksa.


Hampir setengah jam lamanya menunggu, sosok yang ditunggu akhirnya datang. Citra berdiri dari kursi menatap lekat manik wajah pria berparas tampan yang memiliki darah campuran.


“Ada apa?” tanya pria itu tajam penuh selidik pada Citra.


Citra menelan ludahnya kemudian bersusah payah mengeluarkan suara, “we need to talk!”


Pria itu mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi, kemudian mengajak Citra masuk ke dalam ruangan.


“Saya tidak punya banyak waktu silahkan sampaikan apa tujuan kamu ke sini!”


Citra mengepalkan tangan, menahan amarah yang kini mulai menghinggapi, “i'm pregnant, you're mine!” ujarnya secara lugas.


“Are you kidding me? Hel ya! Fucking ****! Gugurkan! Bukan kah kita sama-sama mabuk? Bukan salah saya, jadi saya tidak berhak bertanggung jawab, right?”


Citra memukul meja dengan keras tak peduli rasa sakit yang ia rasakan, “brengsek! But its yours! Anak ini dari benih mu sialan! Aku memang tidak sebaik wanita lain tapi aku tidak akan pernah menggugurkan darah daging ku sendiri!”


Pria bernama Andrew itu akhirnya ikut terpancing emosi, ia berdiri dari kursi meraih dagu Citra dan menekannya dengan kuat.


“I don't care! Terserah, kalau kamu mau mempertahankan janin itu tapi jangan pernah meminta pertanggungjawaban dari saya karena sampai kapan pun itu tidak akan terjadi, saya tidak sudi mengakui janin itu! Sekarang kamu pergi dari ruangan saya! Pergi!”


Andrew dengan teganya mendorong Citra hingga jatuh ke lantai. Bulir air mata menetes begitu saja, dengan sisa tenaga Citra bangun matanya menatap tajam Andrew lalu memberikan satu tamparan keras di pipi pria itu.

__ADS_1


“Brengsek! Aku bersumpah sampai kapan pun aku tidak akan menemui mu lagi dan ketika aku sudah melahirkan, anak ini hanya akan menjadi anak ku! Camkan itu!” Citra berbalik meninggalkan ruangan Andrew.


Citra berlari menuju ruangannya, ia tidak bisa menahan rasa kecewa, sedih dan marah lebur menjadi satu. Citra tidak bisa menerima apa yang terjadi padanya. Citra terus saja meraung, menyesali akan perbuatan bodohnya. Malam itu, malam kelam yang merebut semuanya hingga tak tersisa. Alih-alih ingin menenangkan diri dengan mabuk justru berakhir penyesalan luar biasa. Semuanya telah direnggut, masa depannya seakan tak ternilai lagi dan tak ada yang bisa ia banggakan lagi. Semuanya sirna dan hancur.


****


Di sebuah apartemen kecil, sosok wanita hamil terlihat gelisah dalam tidurnya, bayangan itu muncul lagi. Citra terbangun dengan napas yang tersengal-sengal. Ia menjambak rambutnya sendiri, hatinya terasa sakit dan sesak mengingat kejadian itu. Citra menggeleng keras mengusir bayang-bayang pria brengsek itu. Tidak! Ia tidak boleh mengingat pria itu lagi.


Ia melirik ke arah jam di dinding menunjukkan pukul 9 pagi, tangannya meraih ponsel tergeletak di sampingnya. Jari-jarinya bergerak lincah menekan keyboard mengetik nama kontak pria yang menjadi tempat pertolongannya, walau penolakan terus ia dapatkan Citra tidak akan menyerah akan berusaha demi anak dalam kandungannya.


Citra bergegas bersih-bersih dan akan keluar menemui mantan kekasihnya. Dress panjang polos berwarna pink cerah menjadi pilihan wanita hamil itu, rambutnya di gerai lurus serta memakai bando berwarna hitam. Ia meraih slingbag tergantung di balik pintu kemudian melangkah keluar apartemen tak lupa memesan taksi online yang akan membawanya menuju rumah sakit tempat seseorang bekerja.


Perjalanan memakan waktu setengah jam lamanya, Citra turun dari taksi berjalan penuh percaya diri memasuki rumah sakit. Kaki jenjangnya melangkah menyusuri lorong demi lorong hingga ia sampai di sebuah ruangan yang tertera papan nama bertuliskan nama dokter Bhanu.


Tepat saat Citra ingin mengetuk pintu ruangan, sosok Tya keluar dari ruangan tersebut dan menyapanya ramah namun guratan penuh tanya terlihat jelas dari raut wajah Tya.


“Loh, mbaknya yang waktu itu kan yah?” celetuk Tya.


Citra menarik senyum tipis sembari mengangguk pelan, “iya, dokter Bhanu ada di dalam?”


“Ada, mbak,”


“Saya boleh masuk, saya ada urusan sama dokter Bhanu, boleh?”


“Kenapa Tya? Oh, iya tolong nanti kalau ada adik ipar saya datang langsung suruh masuk aja,” seru Bhanu tidak menyadari jika Citra yang masuk ke dalam ruangannya bukan Tya.


Citra berdeham keras menyebabkan Bhanu menoleh dan membuat pria itu terkejut sebab kedatangannya secara tiba-tiba di ruangan mantan kekasihnya itu.


“Citra?” mulut Bhanu terbuka melihat penampakan Citra di depannya.


Citra memasang seutas senyum manis tanpa kata menduduki kursi hingga ia berhadapan dengan Bhanu. Ia bisa melihat wajah tampan mantan kekasihnya secara jelas dan dekat, wajah yang begitu susah hilang dalam pikiran dan hatinya, wajah itu seakan terus menari menghantui.


“Hai!” sapanya sangat pelan.


Terdengar hembusan napas kasar dari Bhanu—pria itu mengendurkan otot-ototnya, matanya menatap tajam mengarah pada Citra.


“Ada apa? Sejak kapan kamu menjadi orang bodoh seperti ini Citra! Sampai kapan kamu akan terus datang menemui ku, bukan kah sudah ku bilang aku tidak akan membantu mu karena itu sama saja akan membuat rumah tangga aku hancur! Tolong jangan ganggu aku, aku tidak sebaik yang kamu pikirkan aku tidak akan membantu mu kali ini apalagi bertanggung jawab atas janin yang bukan milik ku! Get out, please!”


Citra meremas tangannya di atas pangkuan, ia tahu penolakan itu akan terus ia dapatkan, namun jika Bhanu bersikeras maka ia pun sama sampai ia mendapatkan apa yang dia mau.


“Tolong! Aku hanya butuh status dan anak aku! Nikahi aku sampai anak ini lahir, setelah itu kamu boleh menceraikan aku, aku hanya ingin anak aku mendapatkan nama ayahnya di aktenya, aku tidak mau anak aku diejek karena tidak memiliki ayah! Tolong, By, bukan kah kamu sangat suka anak kecil, iya kan? Anak aku bisa menjadi anak kamu juga—”

__ADS_1


Bhanu tertawa mengejek sambil berkata, “stop it! Tidak usah meneruskan kalimat omong kosong mu itu, Citra! Apa kamu lupa atau belum tahu, kalau aku sudah punya anak, bahkan anak aku sudah dua jadi untuk apa aku menganggap anak kamu sebagai anak aku? Kamu siapa, istriku? Bukan! Tolong, kamu juga seorang wanita Cit, hargai perasaan istriku, dengan sikap kamu ini itu bisa melukai hati istriku!”


“Aku cuma mau keadilan, By—”


“Keadilan apa maksud kamu? Kamu salah tempat mencari keadilan, karena kamu tidak akan mendapatkan apapun dari ku. Ingat, aku dan kamu tidak mempunyai hubungan apapun dan anak yang kamu kandung bukan darah daging ku, jadi kamu salah besar kalau meminta keadilan padaku! Aku masih heran, di mana pria yang menghamili mu, kenapa bukan sama dia kamu minta pertanggungjawaban, dia berhak untuk bertanggungjawab atas janin yang kamu kandung!” cerca Bhanu kesal pada Citra.


Mata Citra yang tadinya berembun, kini basah karena air mata mulai menetes. Hatinya sakit ketika mendengar cacian Bhanu apalagi menyinggung soal pria brengsek itu.


“Asal kamu tahu, By, andai dia mau bertanggung jawab aku juga tidak akan bersusah hati mengemis sama kamu! Dia brengsek, By, dia melepas semua tanggung jawabnya pada anak yang aku kandung. Kami memang sama-sama salah, kami mabuk tapi dia tidak mau menerima anaknya bahkan menyuruh aku buat menggugurkan kandungan aku, jahat bukan? Aku masih punya hati tidak membunuh anak aku sendiri, By! Aku mau membesarkan anak aku, tapi aku butuh seseorang yang bisa mengganti posisi pria brengsek itu, By! Aku tahu aku gak pantas buat kamu lagi, tapi aku cuma mau minta tolong buat nikahin aku demi anak ini, By tolong—” Citra tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi, ia hanya bisa menangis tersedu-sedu.


...****...


“Iya, mas sek toh sabar, aku lagi di jalan tapi singgah bentar kasih bekal mas Bhanu soalnya lupa dibawa, yowes dilit kok, yo, Assalamualaikum!”


Banyu membelokkan mobilnya memasuki rumah sakit tempat Bhanu bekerja. Iparnya itu lupa membawa bekal buatan sang adik alhasil, Ane meminta tolong padanya untuk membawa bekal tersebut yang kebetulan memang ia akan keluar menemui Rangga di cafe.


Sebelum turun, Banyu menelepon sang ipar lebih dulu untuk bertemu di lobi tetapi panggilan teleponnya tidak diangkat mau tak mau Banyu langsung membawa bekal tersebut ke ruangan Bhanu. Di sepanjang jalan, Banyu sesekali mengangguk ketika ada yang melemparkan senyum padanya, kakinya melangkah pasti menuju ruangan Bhanu seketika kakinya terhenti saat sosok wanita yang pernah ia temui di rumah Bhanu. Wanita yang sama, tentu mengundang banyak pertanyaan di kepalanya terlebih penampilan wanita itu mencerminkan tidak baik-baik saja. Mata sembab, hidung merah, serta jejak air mata terlihat jelas membasahi pipi wanita itu.


Bhanu menahan napasnya, Banyu melihat Citra tentu saja Bhanu takut jika Banyu berpikiran yang tidak-tidak tentangnya dan juga Citra. Suasana menjadi tegang dan canggung. Banyu berdeham, matanya melirik Bhanu penuh selidik.


“Ini, mas lupa bawa!” Banyu menyerahkan paper bag berisikan kotak bekal Bhanu.


“Makasih, maaf mas repotin,” balas Bhanu mengukir senyum sedikit paksa.


“Yah, sama-sama, oh iya, mbaknya ini yang kemarin kan? Jadi mbak kenal sama ipar saya?” Banyu menatap wajah Citra yang kini kebingungan harus menjawab apa sedangkan Bhanu bergeming dan bertanya-tanya apa yang dibicarakan oleh Banyu.


“Bentar, maksud kamu apa?” todong Bhanu.


Banyu menggerakkan kepalanya lalu menoleh pada Bhanu lagi, “iya, kemarin sore datang ke rumah, terus pas Banyu tanya cari siapa eh malah kabur,”


“Kamu se-nekat itu, Citra? Stop, jangan ulangi lagi! Tolong pergi dari sini dan jangan temui aku lagi, ingat hubungan kita sudah selesai dan aku tidak akan melakukan apa yang kamu minta!”


“Tapi by—” Citra memegang lengan Bhanu tapi secepat kilat pria itu menepis tangannya.


“Tolong pergi!” usir Bhanu melemparkan tatapan penuh peringatan pada Citra.


Citra menyerah, ia menelan kepahitan yang ia terima. Wanita hamil itu memutar tubuhnya berjalan menjauh dari Bhanu dan juga Banyu.


Bhanu memijat keningnya terasa pening, Banyu terdiam sesaat memandang lekat punggung Citra sampai tak terlihat lagi.


“Maaf dia siapanya mas?” Banyu bertanya pada Bhanu karena tidak tahan lagi ingin tahu siapa sosok Citra.

__ADS_1


Bhanu mengajak Banyu masuk ke ruangannya lalu menjelaskan siapa Citra dan apa yang wanita itu inginkan hingga menemuinya terus-menerus.


__ADS_2