
Bhanu telah tiba di Jakarta dan kini pria itu sedang menuju rumah menaiki taksi. Ia tidak memberitahu Ane ataupun Lingga karena ingin memberi kejutan. Pria itu sudah tidak sabar bertemu Ane dan menyapa langsung anaknya di dalam perut sang istri. Bhanu benar-benar telah mengikhlaskan apa yang terjadi kemarin, nyatanya rasa cinta mengalahkan semua rasa kesal dalam dirinya. Lagi pula Bhanu tidak ingin gagal dalam berumah tangga, sekuatnya berusaha mempertahankan apa yang sudah ia bangun dan menepis segala permasalahan yang datang.
Setibanya di rumah, Bhanu segera memasuki rumah sambil menggeret koper dan beberapa barang bawaan berupa hadiah untuk sang istri. Pintu rumah terbuka lebar, pria itu melangkah pasti hingga telah berada di ruang tengah, matanya mengeder di sekeliling rumah tak menemukan batang hidung sang istri. Saat Bhanu hendak menuju kamar, ia melihat bayangan sang istri, ia berbelok hendak mengampiri Ane. Mata pria itu membulat ketika Ane mengangkat ember besar berisikan pakaian basah dan terlihat cukup besar.
Ane melihat kehadiran sang suami terpaku di tempatnya, hingga Bhanu makin mendekat dan merebut ember dari tangannya.
“Kamu apa-apaan sih! Ingat gak kamu lagi hamil, bisa-bisanya bawa ember berat gini! Gak kasian sama anak kita, huh?” omel Bhanu tetapi Ane masih terpaku tak percaya di depannya ada sang suami yang begitu dirindukan.
Bhanu berdecak kesal dan melangkah untuk menjemur pakaian. Terlihat dari pakaian yang berada di ember sepertinya Ane mencuci langsung tanpa memakai mesin cuci. Bhanu semakin kesal, mengapa Ane tidak menggunakan mesin cuci saja apalagi keadaannya sedang hamil dan tidak boleh terlalu capek dan beraktivitas berat termasuk mengangkat beban berat.
“Ih, kok Ane di tinggal!” Ane baru mengeluarkan suara setelah terpaku hingga beberapa saat. Ane menghentakkan kaki mendekati sang suami, lalu tangannya dilingkarkan di pinggang Bhanu serta kepalanya menempel di punggung tegap suaminya itu.
“Uh, kangennya!” gumam Ane menikmati kebersamaan dengan sang suami saat ini.
“Lepas dulu, mas susah buat jemur pakaian!” Bhanu menarik lengan Ane mencoba melepaskan dari pinggangnya tetapi Ane menolak keras dan semakin mengeratkan pelukannya.
“Ih, kangen tau! Jangan resek deh mas!”
“Tapi mas lagi jemur pakaian, ka—”
Karena sebal Bhanu mengoceh melulu, Ane melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Bhanu dan beranjak ke depan, hingga ia berhadapan dengan sang suami. Tanpa ba-bi-bu, Ane mencium bibir sang suami agar berhenti mengomel. Sikap agresifnya muncul seketika.
Bhanu pasrah sampai Ane puas menciumnya, tak mendapat balasan Ane merengut kesal sekaligus sedih, biasanya ketika bersikap agresif Bhanu akan terpancing tapi ini seperti tidak memberi efek apapun pada Bhanu. Ane menjauhkan bibirnya dan menunduk sedih. Drama ibu hamil sepertinya akan di mulai.
“Dek, papa jahat! Masa mama cium papa tapi papa diam aja, papa kayaknya udah jijik dan gak sayang sama mama, dek! Gimana dek, mama harus apa? Apa kita cari papa baru saja, yah?”
Bhanu memutar bola matanya malas, ia kemudian mengangkat tubuh Ane ala bridal style. Ane membalas perlakuan Bhanu dengan aksi diam bahkan membuang muka walau gini berada digendongan sang suami. Bhanu membawa Ane menuju sofa bahkan tubuh Ane kini mendarat sempurna di sofa.
“Duduk diam gak usah cerewet! Mas mau selesaikan jemuran dulu, satu langkah kaki mas tidak akan mau bicara lagi sama kamu!” ancam Bhanu membuat Ane bungkam dan membuang mukanya kesal.
__ADS_1
Hampir sepuluh menit lamanya, Bhanu baru menyelesaikan kegiatannya. Pria itu kembali ke ruang tengah menghampiri sang istri. Terlihat Ane sedang duduk bersedekap tangan di dada, bibir manyun dan raut wajah ngambek. Bhanu jongkok di depan Ane, meraih wajah wanita itu, sapuan lembut bahkan ******* diberikan Bhanu pada bibir Ane. Awal yang lembut dan pelan hingga berubah menjadi liar dan panas, tak hanya itu tangannya merambat memasuki baju kaos sang istri dan terhenti di perut Ane. Bhanu hampir saja lepas kontrol, ia melepaskan bibirnya dan menatap wajah Ane dengan tatapan remang dan dalam. Ia memejamkan matanya sejenak menghilangkan segala hasrat dalam diri yang sedari tadi hampir memberontak ingin dilepaskan.
“Ayo kita selesaikan masalah kita, mas gak mau berlarut-larut dan berkepanjangan,” Bhanu berdiri dan mengulurkan tangan pada Ane lalu dibalas wanita itu. Keduanya melangkah menuju kamar.
Jantung Ane berdetak tak karuan, rasa sesak kembali menyerangnya, takut jika Bhanu memilih untuk menyerah atau melepaskannya. Ia tidak ingin itu terjadi, Ane berdoa dalam hati agar masalah ini selesai dengan cara baik-baik tanpa ada rasa sakit atau sesal lagi dan akan menjadi pembelajaran khususnya bagi Ane.
Sepasang suami-istri itu duduk di tengah ranjang saling berhadapan, Bhanu menggenggam tangan sang istri sambil memberikan elusan melalui ibu jarinya.
“Sebelumnya mas mau minta maaf sama kamu karena udah ninggalin kamu sendiri selama tiga hari ini. Mas harusnya menyikapi ini lebih dewasa dan memikirkan kondisi kamu, maaf sudah buat kamu kepikiran bahkan stress atas sikap mas selama ini. Mas cuma butuh kejujuran kamu waktu itu dan ketenangan setelah kejadian ini. Alhamdulillah, sekarang mas sadar, mas juga salah,” mata Bhanu menatap manik mata Ane dengan tatapan penuh kelembutan dan ada sesal terpancar dari sorot matanya.
Ane menggelengkan kepala, menolak jika Bhanu salah karena semua terjadi itu murni kesalahan dirinya.
“Ane harusnya yang minta maaf sama mas setelah apa yang terjadi. Ane jadi malu sama mas dan juga Allah karena berniat melakukan dosa besar, tapi alhamdulilah berkat—Nya yang menyadarkan Ane akan perbuatan itu dan Ane lagi-lagi sadar sangat menyadari jika selama ini Ane bersikap egois, Ane tidak pernah bosan untuk meminta maaf sama mas. Ane juga ikhlas mas melepaskan semua impian Ane dan—” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Bhanu menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.
“Mas tidak pernah melarang kamu untuk mewujudkan impian kamu, mas tidak akan mematahkan seluruh harapan kamu. Dengar, kamu masih bisa bekerja, mas tetap mendukung kamu, asal kamu bisa membagi waktu antara bekerja dan mengurus suami serta anak kita. Mas tidak mau menjadi penghalang kamu, Ne! Walau mas suami kamu bukan berarti mas bisa seenaknya melarang kamu, asal mas sangat mohon untuk tidak mengulangi apa yang kamu perbuat, jangan pernah menyembunyikan apapun dari mas apalagi urusan rumah tangga kita, mas suami kamu, setiap kamu butuh teman curhat mas akan menjadi pendengar yang baik, kamu butuh solusi atau saran InsyaAllah mas juga akan memberikan itu, ketika kamu butuh sandaran mas juga siap menjadi sandaran kamu bahkan menjadi tempat keluh kesah kamu,”
Air mata tak bisa dibendung oleh wanita hamil itu—Ane mendekatkan diri segera memeluk tubuh kekar sang suami erat. Ia sangat beruntung memiliki suami seperti Bhanu, ia malu sangat malu dan bertekad dalam dirinya akan menjadi seorang istri yang baik untuk Bhanu bukan hanya sekedar istri tapi teman hidup.
“Itulah gunanya mas sebagai suami kamu, membimbing kamu agar menjadi lebih baik dari versi kamu sebelumnya. Terima kasih juga sudah mempertahankan anak kita,” elusan demi elusan diberikan Bhanu pada punggung Ane.
Cukup lama keduanya berpelukan, Ane melepaskan diri dan memberikan kecupan ke seluruh wajah Bhanu seperti yang dilakukan ketika bersama Caca. Bhanu hanya diam dan pasrah, lagi pula bukan kah itu rejeki juga?
“Sayang mas banyak-banyak,” ujar Ane di sela-sela kecupannya.
Bhanu terkekeh geli, ia meraih pundak Ane agar menjauh darinya beberapa centi kemudian membalas perlakuan Ane sama apa yang dilakukan wanita itu.
“Sayang istri mas banyak-banyak,”
Di otak Ane tiba-tiba saja muncul bayangan wajah sang suami tersenyum manis bersama sosok wanita cantik. Ane mendorong pelan tubuh sang suami, ekspresi wajahnya berubah menjadi datar dan matanya memicing menatap Bhanu kini terlihat kebingungan.
__ADS_1
“Mas jujur sama Ane, di Bandung mas ketemuan yah sama cewek lain?” tanya Ane penuh selidik.
Bhanu mengernyitkan dahi tetapi kepalanya mengangguk bukan kah memang Bhanu bertemu banyak wanita di Bandung? Yah, peserta seminar kebanyakan kaum wanita.
Ane memajukan bibirnya beberapa centi, memukul dada bidang Bhanu sambil mengomel tanpa henti.
“Ih jahat! Di sini Ane kepikiran mas terus, di Bandung malah mas sama cewek! Ih jahat banget, dosa tahu mas berdua-duaan begitu sama cewek yang bukan muhrim. Apa kata orang lihat mas deket sama cewek lain, mana pasang story segala, ih posenya juga sok manis banget! Jahat mas jahat, Ane gak suka lihat mas dekat-dekat sama cewek lain! Mas—”
Bhanu mengerti arah pembicaraan Ane, ia meraih tangan Ane bergerak memukul dadanya yang tak sakit sama sekali, “hei! Dengerin mas, kamu salah paham! Mana mungkin mas begitu—”
“Mungkin lah wong buktine gawe status bareng,” potong Ane kesal.
Bhanu memencet hidung mungil Ane gemas, “gak sopan potong-potong ucapan suami! Denger dulu mas belum selesai ngomong, cewek itu tuh sepupunya mas. Anaknya kakak ibu, Adel sama keluarganya emang tinggal di Bandung dan mas juga gak sengaja ketemu terus mas juga gak kasih kabar apapun sama Adel ataupun bude kalau mas di bandung.”
“Oh, gitu jadi Ane salah paham dong,” ucap pelan Ane.
“Makanya kalau ada apa-apa tuh ngomong sama mas jadi gini nih kamu kepikiran sendiri mana yang kamu pikirkan juga gak benar!”
“Yah, maaf,” Ane memasang raut wajah sesal lagi dan lagi memang salahnya sendiri.
“Sayang, mas boleh minta satu hal lagi sama kamu?”
Ane mendongak dan bibirnya bergerak seakan mengatakan apa.
“Kedepannya ketika kamu lagi kepikiran atau ada masalah tentang hubungan rumah tangga kita, tolong jangan cerita ke siapa pun, mas tahu Linda sahabat kamu tapi bagaimana pun urusan rumah tangga itu adalah urusan kita berdua sayang, tidak harus orang lain tahu, sama saja itu mengumbar aib rumah tangga kita ke orang. Kalau pun kamu mau cerita langsung sampaikan ke mas biar kita selesaikan berdua, ngerti kan sayang?”
Ane mengangguk setuju, Bhanu benar, bagaimana pun permasalahan rumah tangga jangan sampai diketahui orang luar walau itu sahabat sendiri.
“Oh, iya mas, ini dedeknya belum disapa papa loh,” Ane memajukan perutnya agar perhatian Bhanu tertuju pada perutnya itu.
__ADS_1
Bhanu tersenyum lebar ia menundukkan kepala agar lebih dekat dengan perut sang istri.
“Assalamualaikum anak papa, maaf yah papa baru sapa dedek sekarang, gimana nak sehat-sehat kan di dalam, walau kamu masih sangat kecil di perut mama tapi papa yakin Allah SWT yang akan menyampaikan ini ke dedek. Papa sangat sayang sama dedek, terima kasih udah hadir di kehidupan mama dan papa yah, dek, semoga dedek sehat-sehat terus sampai kita bertemu,” Bhanu tak lupa memberikan kecupan sayang di perut Ane dan juga elusan lembut yang membuat Ane merasakan kehangatan serta ada rasa geli secara bersamaan.