Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 32


__ADS_3

Menikah? Siapa yang tidak ingin menikah hampir semua manusia tentu menginginkan pernikahan sama seperti sepasang calon pasutri. Ane sungguh deg-degan hari di mana ia akan dipersunting oleh Bhanu telah tiba. Ane masih berada di kamar lengkap riasan make up serta kebaya mempercantik penampilannya hari ini. Akad nikah tentu dilakukan di rumah Ane, yang telah disulap dan didekor sedemikan rupa.


Pintu terbuka, ada sang ibu datang sama cantiknya dengan Ane. Senyum mengembang di wajah keriput sang ibu, bahkan mata sedari tadi menahan air mata haru karena sebentar lagi Ane sah menjadi istri. Ane berdiri memeluk Ratna yang dibalas hangat oleh sang ibu.


“Ibu, doakan Ane. Terimakasih atas kasih sayang ibu sama Ane selama ini, mohon doa dan restu semoga Ane bisa jadi istri sekaligus ibu yang baik untuk suami dan anak Ane kelak,” bisik lirih mata yang berkaca-kaca.


Ratna mengangguk menahan isakan tangan merengkuh erat putrinya. Ia harus melepas sang putri membangun rumah tangga dan keluarga kecil bahagia.


“Mbak, di bawah udah siap mau akad, yuk turun,” sosok wanita yang kira-kira umurnya dibawah beberapa tahun dari Ratna datang memberitahu sepasang ibu dan anak agar segera bersiap turun ke bawah.


Ratna melepas pelukan, wajah Ane terlihat sendu dan sudut matanya berair. Ratna beranjak mengambil tissue lalu menyeka sudut mata putrinya hati-hati agar riasan make up Ane tetap aman. Ratna memberikan senyum indah dan menggenggam tangan Ane erat seakan memberikan ketenangan bagi Ane yang kini sedang gugup menanti akad. Ane didampingi oleh Ratna dan juga sang bibi adik dari almarhum ayahnya.


Semua mata tertuju ketika Ane telah muncul, apalagi sang mempelai pria seakan enggan mengalihkan pandangan bahkan saat Ane berhasil duduk di samping Bhanu, tatapan Bhanu tak lepas dari kecantikan Ane. Sejenak Bhanu melupakan kegugupan yang melanda saat melihat kedatangan Ane. Namun ketika penghulu memulai sesi akad degup jantung Bhanu tak terkontrol lagi seakan berpacu dengan cepat. Ane sendiri merasakan hal yang sama bahkan rasanya ia menahan sesak saking gugup dan tegangnya.


Rangga menjadi wali nikah, tentu siapa lagi kalau bukan dia. Kini Rangga dan Bhanu berjabat tangan karena akad benar-benar telah di mulai. Suara rentetan kalimat terdengar dari Rangga dan Bhanu setelah itu terdengar lah suara riyuh mengucapkan syukur serta kata SAH. Bukan hanya pengantin yang merasakan ketegangan para keluarga dan tamu undangan pun ikut merasakan euforia ketegangan proses akad berlangsung. Kini Bhanu dan Ane telah resmi menjadi sepasang suami dan istri.


Bhanu dan Ane saling mengadu pandangan, keduanya kompak tersenyum walau Ane kini tak sadar menitihkan air mata bahagia dan terharu karena Bhanu berhasil mengucapkan hanya satu kali napas tanpa mengulang-ulang. Bhanu menyeka air mata Ane, Bhanu mengecup kening sang istri begitupula dengan Ane mencium punggung tangan suaminya.


Proses selanjutnya tanda tangan berbagai berkas, oleh kedua mempelai serta para saksi. Setelah itu, masing-masing menyematkan cincin nikah di jari manis secara bergantian habis itu dilakukan proses sungkem.


Bhanu dan Ane sungkem kepada orang tua masing-masing lebih dulu sebelum bertukar posisi.


“Jadi lah suami yang bertanggung jawab, Mas. Sayangi, muliakan dan curahkan segala rasa cinta mu pada istri mu. Jangan biarkan istri mu sedih dan menderita, bahagiakan lah dia dengan apa yang kamu punya. Ayah percaya kamu bisa melakukan itu semua, bahagia lah nak doa ayah selalu menyertai mu,” nasihat Hanung ketika anaknya sungkem di bawahnya. Tentu Bhanu menerima nasihat itu dengan baik.


Bhanu berpindah ke ibunya—wanita itu kini telah berlinang air mata sembari mengusap punggung anak lelaki satu-satunya tak lupa nasihat serta wejangan juga diberikan kepada Bhanu.

__ADS_1


“Mas harus jadi suami yang baik. Jangan sekali-kali kamu melakukan kekerasan, sayangilah istrimu seperti kamu menyayangi ibu, semoga pernikahan kalian Sakina mawadah warahmah. Doa ibu selalu menyertai rumah tangga kalian,”


Di samping itu, Ane juga melakukan hal yang sama. Ia bersimpuh di hadapan ibunya memohon doa dan restu agar mahligai rumah tangganya dipenuhi dengan keberkahan dan kebaikan.


“Selamat yah, Nduk. Ibu sangat senang bisa dampingi Ane nikah, semoga kehidupan rumah tangga kalian Sakina mawadah warahmah, ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk Ane dan Mas Bhanu. Jadi lah istri yang selalu menghormati dan memuliakan suami sebagai mana mestinya. Terima baik dan buruknya, ibu percaya Ane bisa menjadi istri yang baik,”


“Alhamdulillah yah dek, InsyaAllah rumah tangga kamu Sakina mawadah warahmah, bahagia lah selalu, walau kamu sudah menikah kamu tetap adik Mas jangan pernah sungkan untuk cerita atau butuh bantuan sama Mas. Mas sayang kamu dek, Mas berdoa yang terbaik buat kalian. Selama dan berbahagia lah,”


Bhanu dan Ane bertukar posisi, namun ketika Bhanu berada di depan Rangga—pria itu berdiri dan memeluk Bhanu sebagai sambutan hangat sebagai saudara. Bagaimana pun, Bhanu lebih tua dari Rangga, walau statusnya sebagai suami Ane tetapi Rangga tetap menganggap Bhanu sebagai kakaknya. Acara kemudian dilanjutkan serangakaian proses adat Jawa dan setelahnya menyambut tamu undangan, hingga menjelang ashar.


Malam nanti mereka akan mengadakan resepsi pernikahan di gedung mewah. Ketika waktu telah menunjukkan pukul tiga sore, Bhanu dan Ane akan beristirahat sebentar.


...****...


“Mas jangan buka puasa dulu loh, masih ada acara resepsi loh, kasian Ane capek nanti,” celetuk Hanung sedikit menggoda sang putra yang kini tengah menuntun istrinya menuju kamar untuk beristirahat sejenak. Tentu celetukan itu mengundang gelak tawa dari keluarga yang mendengar.


Ane rasanya ingin baring, pegal sekali mulai dari leher, punggung, pinggang hingga betis setelah beberapa jam berdiri menyalami tamu. Belum lagi resepsi malam nanti, jumlah tamu undangan pun lebih banyak dari akad tadi. Ane duduk di pinggiran ranjang, memijat lutut dan betis pelan secara bergantian. Melihat itu Bhanu berinisiatif jongkok di depan Ane meraih kaki sang istri lalu ikut duduk di ranjang menaruh kaki Ane di pahanya. Tangannya telaten memijat kaki Ane mendapatkan perhatian itu tentu Ane terharu.


“Peka sekali suami Ane, sini cium dulu," Ane berubah centil dan mendekatkan wajahnya memberi satu kecupan di pipi Bhanu.


Bhanu memalingkan wajah, “di sini juga sayang,” ujarnya menunjuk bibir.


“Ih, nanti malah mas minta lebih, ingat loh belum boleh buka puasa, gak tega sama Ane? Pegal loh mas badan Ane, belum lagi resepsi ntar malam, kebayang gak pegalnya kayak gimana asta—”


Bhanu menaruh jari telunjuknya di bibir Ane menghentikan perkataan sang istri, “yang bilang mas mau minta jatah siapa, eh? Mas kan juga mau dicium di bibir gak lebih, kamu tuh pikirannya kotor,”

__ADS_1


“Yah, mana tahu habis itu mas khilaf,"


“Kalau kebablasan juga gak papa, kan udah sah. Halal itu kamu malah dapat pahala,”


“Tuhkan, ujungnya malah kesitu udah ah, Ane mau baring,” Ane mengangkat kaki dari paha Bhanu dan menyingkir ke tengah ranjang meluruskan kakinya.


“Jilbabnya, mbok yo dibuka dulu, udah halal gak masalah kalau mas lihat rambut kamu, itu juga ganti dulu gerah pakai kebaya,"


“Kepalang tanggung mas, udah capek banget ini,” gumam Ane tak kuasa menahan rasa kantuk masih menggunakan kebaya. Bhanu membiarkan sang istri kini sudah tertidur, ia melangkah ke kamar mandi untuk bersih-bersih setelah itu bergabung di atas ranjang bersama Ane.


Keduanya tidur hanya dua jam saja karena, mereka harus kembali bersiap terutama Ane akan touch up ulang, serta ganti baju resepsi. Ane memakai jubah mandi panjang menuggu MUA merias wajahnya. Ia memainkan ponselnya banyak pesan masuk mengucapkan selamat dan doa. Dari arah kamar mandi, Bhanu mendekati sang istri duduk di depan meja rias. Kini ia melihat Ane tanpa menggunakan hijab, ia memeluk pundak sang istri tak lupa mencuri kecupan di kening.


“Wangi sekali istrinya mas,” Bhanu mengendus leher putih Ane, wangi memabukkan menyeruak masuk ke dalam hidungnya.


“Ih geli mas,” bukannya berhenti Bhanu semakin mendusel di leher Ane. “Mas! Ih, geli tau!” Ane menaruh ponsel di meja lalu meraih tangan hingga terlepas dari pundaknya.


Ane mengerucut bibirnya sebal, namun tanpa izin Bhanu mengecup bibir Ane awalnya hanya menempel saja namun tiba-tiba dengan gerakan lembut Bhanu mulai ******* bibir Ane hingga gadis itu syok tapi setelahnya ikut terlena. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, ia hanya diam dan menikmati Bhanu mencium bibirnya.


“ASTAGAFIRULLAHALAZIM!” pekik MUA ketika tak sengaja masuk ke dalam kamar dan melihat hal tak senonoh di depannya walaupun sudah sah tapi matanya ternodai.


Bhanu dan Ane melepaskan tautan bibir keduanya. Ane salah tingkah, pipi merona malu bahkan memberikan cubitan di perut Bhanu.


“Tuhkan malu, mas sih!” sungutnya kesal. Bhanu mengedikkan bahu cuek.


“Aduh, maaf yah mbak, jadi ganggu!” sang MUA jadi tidak enak hati mengganggu momen romantisme Bhanu dan Ane.

__ADS_1


“Eh, saya juga minta maaf yah mbak. Udah ah, mending make up saya aja mbak,” sang MUA mengangguk patuh mulai mengerjakan tugasnya memoles wajah cantik Ane menjadi lebih cantik lagi.


__ADS_2