
Ane duduk di ruang tengah, laptop berada di pangkuannya. Ane sedang memasukkan lamaran pekerjaan di salah satu perusahaan. Ane sudah meminta izin pada Bhanu untuk melamar pekerjaan, Bhanu pun mengizinkan dan tidak melarang atau menghalangi niatan Ane tersebut.
Ane mendapatkan telepon dari Hanna, ia menggeser laptop dan menaruh ke atas meja. Ane mengangkat telepon tersebut.
^^^“Assalamualaikum istri Sholehahnya mas dokter,”^^^
“Walaikumsalam, haha apa sih, Han,”
^^^“Hahaa, eh gue mau kasih info nih, ada loker loh kebetulan penempatan di Jakarta, di tempatnya om gue lagi buka lowongan bagian sekertaris, kalau Lo mau ntar gue kirim link form pendaftarannya, terus gue tanya om gue supaya peluang Lo keterima lebih besar. Sekali-kali main ordal gakpapa hahah,”^^^
“Kenapa Lo gak daftar?”
^^^“Males ah, rantau lagi, lagian gue udah ada tempat sih buat kerja cuma lagi nunggu info lagi, jadi gimana mau gak nih?”^^^
“Ya udah deh, gue coba kirim aja,”
^^^“Sip, otw nih, yaudah gue tutup teleponnya Assalamualaikum,”^^^
Tak lama, suara notifikasi muncul di layar, Ane menggeser layar membuka notifikasi tersebut. Ane mengklik link yang dikirimkan oleh Hanna. Ane membaca isi form tersebut dan persyaratannya.
1. Wanita single (menikah boleh asal belum memiliki anak atau niat memiliki anak)
2. Berpengalaman/Fresh graduate dipersilahkan
3. Berpengalaman menarik
4. Bisa berbahasa Inggris (minimal pasif)
5. Mampu menggunakan komputer dengan baik
6. Teliti dan detail dalam bekerja.
7. Penempatan Jakarta.
Ane menimbang-nimbang persyaratan tersebut, apalagi poin pertama menjadi pertimbangannya. Ane belum membicarakan perihal anak pada Bhanu. Ia bingung sekarang, bagaimana ini. Tapi tekad Ane ingin bekerja begitu kuat apalagi mendapat dukungan dari Bhanu. Ane mengesampingkan keraguan sempat menghinggapi dirinya dan memutuskan tetap mendaftar lowongan tersebut.
Ane mengisi form pendaftaran secara lengkap. Besar harapan Ane diterima dari salah satu tempat yang ia daftar. Ane sangat ingin bekerja dan berjanji jikalau dikasih kesempatan akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya serta membagi waktu antara bekerja dan mengurus sang suami.
Ane melirik jam dinding sebentar lagi Bhanu akan pulang, Ane ingin membuatkan kue untuk suaminya itu. Ane menggulung rambutnya ke atas lalu mencepol asal hingga leher jenjang miliknya terekspos. Sebelum ke dapur, Ane menutup pintu lebih dulu takut jika orang asik masuk.
__ADS_1
Brownies cokelat kukus menjadi pilihan Ane—wanita itu mulai menyiapkan bahan-bahan kue lalu dengan lihai mulai mencampur segala bahan hingga menjadi kue lezat.
Terdengar suara gesekan besi pagar dan decitan mobil memasuki pekarangan rumah. Ane mencuci tangan lebih dulu habis mengolesi brownies dengan krim. Ane hendak menyambut Bhanu di depan pintu.
“Assalamualaikum—eh, istrinya mas udah nunggu toh,” Bhanu memeluk Ane tak lupa mengecup leher jenjang Ane.
“Walaikumsalam, Ane buatin mas brownies,” Ane merangkul lengan suaminya mesra. Kedua pasangan itu berjalan menuju dapur, Ane hendak menunjukkan kue hasil buatannya.
“Wangi banget, pasti enak nih,” puji Bhanu ketika aroma sedap menguar masuk ke dalam hidungnya.
“Mas bersih-bersih dulu deh, nanti Ane siapin teh hangat sama brownies,”
“Siap bos laksanakan,” Bhanu mengangkat tangannya hormat lalu pria itu mengecup singkat bibir Ane dan berbalik menuju kamar. Ane senyum-senyum sendiri tingkah Bhanu selalu saja membuat dirinya tersipu.
Sembari menunggu Bhanu, Ane melanjutkan menaburkan parutan keju di atas brownies lalu mengirisnya menjadi beberapa bagian. Tak lupa Ane membuatkan teh untuk Bhanu setelah itu ia membawa menuju ruang tengah menunggu Bhanu.
“Sayang, udah belum? Takut tehnya dingin,” seru Ane memanggil Bhanu.
“Iya bentar ini udah selesai,” akhirnya Bhanu muncul menghampiri Ane. “Tadi perasaan kamu manggil aku sayang yah?” Bhanu menyadari panggilan Ane tadi, pertama kali Ane memanggilnya dengan kata sayang.
Ane salah tingkah mengelak, “eng—gak, salah dengar deh kamu Mas, udah ah duduk nih aku udah siapin,”
Bhanu tersebut mengejek, meraih Ane hingga menghadap padanya, “yakin salah dengar? Telinga mas masih bisa dengar jelas loh, gak budeg juga telinga mas nih,” alisnya naik turun menggoda Ane.
“Mas!” rengek Ane.
“Ngomong sayang dulu cepat baru mas lepasin,”
“Sa—yang!” bibir Ane bergerak pelan mengucapkan kata sayang.
Bhanu masih belum puas, ia menyuruh Ane kembali memanggilnya sayang. Ane kesal sekaligus malu mengulang-ulang panggilan sayang pada Bhanu.
“Sayang, sayang, sayang,”
Cup.
Bhanu menyumpal bibir Ane dengan bibirnya. Adegan itu kemudian berlanjut hingga mereka saling membelit satu sama lain walau Ane masih kaku tetapi mencoba mengimbangi Bhanu namun sepertinya setiap momen romantisme Bhanu dan Ane selalu saja ada gangguan.
“Om napa maem bibilna ante Caca! Hua, om jahat!!!”
__ADS_1
Caca berteriak menangis membuang tas ransel berbentuk kelinci di tangannya dan berlari menghampiri Ane dan Bhanu. Gadis kecil itu menubruk tubuh Ane memeluk pinggang Ane, mata bulatnya berair tetapi masih sempat memberikan tatapan kesal pada Bhanu kini berdiri memandang wajah Caca penuh tanya mengapa bocah itu ada di rumahnya secara tiba-tiba.
Caca menarik ujung daster Ane meminta agar digendong. Ane meraih Caca, “cup...cup, sayang berhenti nangis Tante gak apa-apa ini,”
“Om na jahat ante, masak maem bibil ante emang bibil ante maeman,”
“Eh, gak sayang, tadi om lagi bersihin bibir Tante dari kue, Caca salah liat, om gak makan bibir Tante kok,”
“Bohong, jelas-jelas Caca liat, ante jangan bela om nakal, Caca gak suka,”
“Sstt, udah ah diam. Mending makan kue aja yuk Tante bikin kue nih,” Ane membujuk Caca dengan sepotong kue.
Wajah sedih berubah menjadi cerah melihat potongan kue di depannya, tangan mungil Caca menyeka kasar bulir air mata di pipi gadis kecil itu. Tak sabaran, Caca mencomot satu potong kue tersebut.
“Enak, Caca suka,”
Ane dan Bhanu terheran-heran dengan Caca, sungguh anak ajaib hanya makanan bisa mengubah mood anak itu.
“Bocil ini sunggu pengganggu, pasti gak izin lagi nih sama mbak Lingga,” tebak Bhanu ia segera menghubungi sang kakak. Sedangkan Ane mengambil tas kelinci Caca yang tergeletak di lantai.
Ane penasaran dengan isi tas Caca, ia meminta izin pada Caca membuka tas itu lebih dulu mendapatkan persetujuan Ane pun membuka isi tas.
“Dot, susu sama popok?” gumam Ane mengeluarkan sebotol dot, sebungkus susu yang isinya sudah sedikit serta satu popok.
“Kok Caca bawa ini?”
Bhanu ikut melihat isi tas Caca, ia melebarkan matanya.
“Mbak ini Caca bawa dot, susu sama popok segala,”
“Hah? Astaga kok bisa? Coba deh tanya dia ngapain bawa-bawa segala,”
Karena suara panggilan di loud speaker maka Ane bisa mendengar, Ane berinisiatif bertanya pada Caca asik memakan kue bahkan sudah dua potong kue Caca habiskan.
“Sayang, kok Caca bawa ginian, untuk apa?” atensi Caca berpaling ke arah Ane dan barang bawaannya.
“Caca mau bobo sini sama ante, jadina Caca bawa susu sama pempes dalipada pulang kelumah bolak-balik jadi Caca bawa sekalian. Caca pintel kan ante?”
Bhanu menepuk jidatnya frustasi sungguh diluar dugaan, kenapa Caca bisa memikirkan sedetail itu dan kenapa juga Caca tiba-tiba ingin menginap di rumahnya sungguh pengacau, bisa-bisa Bhanu tidak mendapat jatah.
__ADS_1
...Assalamualaikum, sabar yah sabar, otw tegang yah tapi biasa aja sih hehe. ohiya, aku mau omongin soal konflik nih, aku mengingatkan kembali kepada kalian kalau cerita ini tidak akan ada konflik 'pelakor' dan konflik yang berat atau dramatis. aku akan memberikan konflik ringan sebagaimana pada umumnya. aku pun udah membayangkan alur kedepannya bakal membahas yang lebih bermakna dan ada kesan yang kalian bisa ambil dari cerita ini. aku ingin kisah Bhanu dan Ane memberikan kalian hiburan, motivasi, bahkan gambaran baik dalam hubungan percintaan maupun kehidupan. jangan lupa vote+like+comment. aku berharap cerita ini bisa dijangkau para readers lebih luas dan membooming hehe terima kasih selalu setia menanti setiap bab cerita ini. ohiya, bantu author buat share dan rekomendasikan ke teman-teman kalian yah, jadi bisa sama-sama menikmati kisah cinta Bhanu dan Ane...
...Big Love ♥️...