Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 8


__ADS_3

—Pertemuan pertama—


Ane begitu cantik menggunakan rok plisket berwarna abu-abu lalu dipadukan dengan blouse putih serta hijab yang senada dengan warna roknya. Ane meminta izin pada ibu serta kedua kakaknya untuk memakai mobil menemani Qilla hari ini. Tujuan kemana Qilla mengajaknya pun, ia belum tahu pasti dan Ane terlebih dulu akan menjemput Qilla di hotel gadis itu menginap.


Di perjalanan, Qilla menyetel radio yang sedang memutar lagu kesukaannya akhir-akhir ini, sehingga ia sesekali ikut bersenandung ria. Di seberang jalan tepatnya di trotoar tak jauh dari hotel yang ia tuju, sosok Qilla ternyata telah menunggunya. Ane menepikan mobil lalu sosok Qilla pun berjalan mendekat hingga naik ke dalam mobil.


“Kok gak tunggu dalam lobi?” Ane menoleh ke arah sampingnya.


Qilla menggeleng kepala seraya berucap, “males ah, lagian aku juga baru kok nunggunya,”


Ane hanya mengangguk saja. Ponsel Qilla berdering cukup nyaring, di layar ponsel tertera sebuah nama yang membuat Qilla menepuk jidatnya hampir lupa.


“Assalamualaikum, iya, dok gimana?”


“Kamu belum otw balik Jakarta, kan?”


“Belum, kok, dok! Ohiya, ini saya mau otw kok, tolong sharelock yah dok biar gak nyasar,”


Sayup terdengar suara bariton khas suara seorang pria yang sedang bertelepon dengan Qilla. Usai obrolan itu singkat melalui ponsel, Qilla memandang Ane yang sedang fokus menyetir.

__ADS_1


“Ne, hampir lupa, kita singgah bentar ke daerah gamping,” ujar Qilla sembari memberitahu jalan melalui maps.


Jarak tempuh tidak begitu panjang, sekitar 20 menit perjalanan mereka sampai di tujuan. Lebih tepatnya mobil Ane berhenti di depan sebuah rumah cukup besar.


“Tunggu bentar, aku cuma mau ngambil titipan doang kok,” Qilla turun dari mobil tergesa-gesa hampir saja ponsel dalam genggamannya jatuh. Ane melihatnya hanya menggeleng kan kepala. Sembari menunggu, Ane memilih untuk membuka akun media sosialnya. Melihat berbagai postingan dan story yang terdapat di halaman beranda instagramnya.


Sementara itu, Qilla memencet bel rumah berharap ada yang keluar dari rumah tersebut. Tak berselang lama, sosok pria tampan memakai kaus oblong dan celana pendek keluar dari rumah sembari membawa bungkusan gudeg titipan rekan sejawatnya di rumah sakit.


“Maaf yah, jadi repotin, istrinya dokter Reza lagi ngidam soalnya,” ujar pria itu sembari tersenyum.


“Gakpapa dok, ohiya kalau gitu saya langsung yah, soalnya—” ucapan Qilla terjeda.


“Ini loh, anak Koas yang mau Mas titipin gudeg buat Reza, Ma!” jawab pria itu.


“Oalah, yaudah suruh masuk dulu dong, Mas! Yuk, nak masuk dulu,” Qilla menatap sosok dokter tampan di depannya guna meminta pertolongan tapi pria itu hanya mengedikkan bahu.


“Bhanu ke warung bentar,” pamit pria bernama Bhanu. Langkah kaki pria itu terhenti sesaat ketika matanya menangkap sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya, bukan itu sebenarnya menjadi objek pria itu tapi terlihat siluet sosok perempuan di dalam mobil tersebut.


“Iya Mas, Ane nanti langsung pulang, kok! Astaga, iya-iya, Mas ku sayang! Udah dulu yah, Mas, Ane tutup teleponnya, Assalamualaikum,”

__ADS_1


Suara itu terdengar jelas di telinga Bhanu ketika sosok perempuan di dalam mobil keluar dan seperti sedang menelepon dengan seseorang di seberang sana. Sepersekian detik Bhanu terdiam kaku ketika sang perempuan itu menoleh ke arahnya hingga keduanya terlibat aksi saling tatap.


Ane memutuskan pandangannya dan menganggukkan kepala lalu memasuki mobil. Bhanu membalas dengan anggukan juga sembari melanjutkan langkahnya. Dalam hati, pria itu masih mempertanyakan siapakah gadis itu.


“Ganteng banget, MasyaAllah, bismillah jodoh,” dalam mobil Ane padangannya tak luput dari sosok Bhanu. Setelah punggung pria itu tak terlihat baru lah, Ane mengalihkan atensinya ke ponsel hendak mengirimkan Qilla pesan singkat.


Lain hal dengan Qilla yang berada di dalam rumah, gadis itu tak enak hati pada Ane jika berlama-lama, bertepatan hal itu, sebuah pesan dari Ane muncul di layar ponselnya. Qilla meraih segelas teh lalu meminumnya hingga setengah, hendak berpamitan.


“Maaf, Bu, saya tidak bisa berlama-lama, soalnya teman saya ada di luar menunggu gak enak,”


“Oke, maaf yah, udah maksa kamu mampir, ibu gak tahu,” sesal ibu Bhanu pada Qilla.


Qilla mengangguk sopan dan bangkit dari kursi yang ia duduki, serta mencium punggung tangan ibu Bhanu, beberapa langkah ketika hendak mencapai pintu, Bhanu muncul sembari menenteng kantong plastik kecil.


“Udah mau balik?” tanyanya pada Qilla.


“Iya, dok! Kasihan teman saya tunggu di mobil,“ jawab Qilla sembari mencuri pandang ke arah luar.


Bhanu mengangguk paham. “Jadi gadis itu temannya Qilla” batinnya. Qilla pun pamit pada Bhanu dan melangkahkan kakinya menuju mobil sesampainya, tak lupa Qilla mengucapkan maaf pada Ane karena menunggunya cukup lama.

__ADS_1


__ADS_2