Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 38


__ADS_3

Ane bertopang dagu, menghayal pikirannya seakan melayang-layang tak tentu arah. Ada keraguan muncul di hatinya, bagaimana jika dia hamil? Apakah tidak ada kesempatan baginya untuk bekerja? Ane sangat ingin berkerja, tekad itu kembali seiring dukungan sang suami yang tetap memperbolehkannya bekerja.


Lama melamun, Ane memutuskan untuk memastikan suatu hal lebih dulu jadi ia bisa mengambil tindakan untuk kedepannya. Ane pamit pada bi Popon keluar sejenak, Ane mengganti baju, ia mencari alamat kemana akan ia kunjungi kemudian memesan ojek online.


Tujuan Ane adalah ke klinik Permata Bunda, untuk memeriksa kandungan. Ane mengantri mengambil nomor antrian pemeriksaan. Suasana klinik nampak sepi, Ane mendapatkan nomor antrian 7 dan sekarang sudah masuk antrian 3. Ane menunggu sampai setengah jam lamanya dan tiba lah nomor antrian yang dipegang disebut.


Ane duduk di depan seorang wanita yang usianya hampir seusia sang ibu namun sepertinya agak lebih muda beberapa tahun.


“Saya mau periksa dok, apakah saya hamil atau tidak,”


“Oh, baik, jadi belum periksa sebelumnya yah? Pakai testpack juga belum?”


“Belum dok,”


“Baik mungkin bisa pakai dulu, sebentar saya ambilkan testpack,”


Dokter mengambil testpack baru lalu diberikan pada Ane untuk dicoba. Tak sampai lima menit hasilnya pun keluar dan negatif. Ane menghela napasnya lega, ia pun akan melakukan KB. Keputusan itu sudah bulat dan Ane yakin jika itu yang terbaik untuk saat ini. Ane meminta pil anti hamil walau ada cara lain tetapi Ane tetap memilih meminum pil saja.


Setelah pemeriksaan selesai, Ane akan kembali ke rumah tentu di sepanjang jalan pikirannya tertuju pada apa yang dilakukan sekarang berulang kali ia meyakinkan diri sendiri bahwa ini memang keputusan yang tepat.


Langkahnya perlahan memasuki rumah, di halaman ada bi Popon baru saja selesai membersihkan halaman melihat istri majikannya berjalan sembari melamun. Ane bahkan tidak menyadari kehadiran bi Popon di sana, ia terus berjalan masuk. Bi Popon menyusul khawatir terjadi sesuatu pada Ane.


“Neng kenapa? Sakit atau apa?”


Ane tersentak dan menoleh ke arah bi Popon, “astagfirullah, maaf bi. Ane gak apa-apa kok, kalau semuanya udah beres bi Popon istirahat aja, nanti capek. Ane ke kamar dulu yah bi,”


Bi Popon hanya mengangguk saja dan menatap punggung Ane berjalan menjauh. Ia tidak berani bertanya lebih dalam, lagipula ia tak ingin ikut campur dalam urusan orang lain sekalipun sang majikan. Ane berbaring ke atas kasur, ia memejamkan matanya sesaat, mungkin hampir semenit menenangkan pikiran, Ane merogoh tas mengambil ponsel hendak menghubungi sang ibu.


“Assalamualaikum ibu, Ane kangen,” Ane tersenyum senang ketika panggilan teleponnya diangkat oleh Ratna.

__ADS_1


^^^“Walaikumsalan nak, ibu juga kangen adek! Lagi apa nak?”^^^


“Lagi baring aja, ibu sehat kan? Mas Banyu?”


^^^“Iya Nak, Alhamdulillah ibu sehat mas mu juga sehat, kalau kamu sama suami gimana? Sehat kan?” ^^^


“Alhamdulillah ibu, jadi ibu sendiri di rumah?”


^^^“Alhamdulillah, iya nih kalau mas kamu juga udah nikah beda cerita lagi, ibu pasti sama menantu ibu mungkin cucu juga. Ibu jadi gak sabar dek gendong cucu ibu, semoga kamu segera diberi momongan yah sama Allah SWT. Gimana nak hari-hari kamu jadi istri?”^^^


Ane tadinya terdiam ketika sang ibu membahas perihal cucu, tetapi Ane menutupi raut wajahnya menjadi biasa saja.


“Yah, seperti itu lah, ternyata jadi istri juga MasyaAllah menyenangkan, apalagi kan tiap hari udah ada yang temenin kalau tidur, teman curhat yang baru selain ibu sama Mas, Ane juga nyiapin makanan, pakaian untuk mas Bhanu apalagi mas Bhanu sangat perhatian sama Ane, sayang sama Ane, doain yah Bu semoga rumah tangga Ane baik-baik terus,”


^^^“Pasti nak, ibu selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anak ibu. Ingat yah pesan ibu, muliakan lah suami mu, layani dengan sepenuh hati karena pahalanya juga besar loh, Nak! Jangan pernah menyembunyikan apapun, sekecil apapun yang disembunyikan bisa menjadi besar dikemudian hari, apa pun yang kamu rasakan atau ada hal yang janggal bicaralah sama suami kamu cerita cari solusinya jangan mengambil keputusan sendiri apalagi menyangkut urusan rumah tangga kalian. Kepercayaan dan kejujuran adalah dua hal yang sangat krusial dalam rumah tangga, jika diantara salah satu tersebut kalian curangi maka percaya sama ibu, rumah tangga akan menjadi goyah dan retak.”^^^


Di malam hari, usai makan malam Bhanu dan Ane kini duduk santai di ruang tengah sembari menonton TV. Ane baring di sofa, paha Bhanu menjadi bantal bagi kepala Ane. Keduanya menonton web series favorit Ane yang kini tengah digandrungi para remaja, walau sudah menikah, selera wanita itupun masih sama seperti anak remaja pada umumnya.


Bhanu yang tak terlalu suka menonton drama series, hanya pasrah ketika Ane memaksanya ikut nonton. Bhanu sesekali bermain hp ketika rasa bosan menghinggapi. Ane mendongak menatap lurus ke arah sang suami tengah asik bermain ponsel. Ane berdecak sebal merebut hp tersebut.


“Ih, bukannya nonton malah main hp gimana sih mas!”


“Yah, mas bosan sayang. Mas gak suka nonton begituan,”


“Begituan apa? Ih, mas ngomongnya ambigu deh,”


Bhanu menyentil gemas dahi Ane, “kamu nih pikirannya yang gak beres,”


Ane memonyongkan bibirnya lucu dan mengubah posisi tidurnya menghadap perut Bhanu. Tangan nakal Ane mengelus perut sixpack milik suaminya itu.

__ADS_1


“Tangannya!” desis Bhanu takut hilang kendali. Ia menarik tangan Ane dari perutnya.


“Ih, kan pengen elus, eh kalau perut Ane sixpack juga bisa gak yah? Ane bayangin dulu ah!”


Bhanu memutar bola mata, ia menarik tengkuk sang istri lalu menempelkan bibirnya di bibir sang istri. Ane membulatkan matanya dan mendorong dada Bhanu agar menjauh.


“Ih main nyosor aja!”


“Haha, lagian kamu juga ada-ada aja, mau punya perut sixpack gak ah mas gak suka. Datar sedikit berlemak sexy tahu!”


“Alah datar sedikit berlemak apaan bilang aja perut berlemak,”


“Ntar kalau mas bilang perut berlemak kamu ngambek gak mau ah, bisa-bisa mas tidur di luar,”


“Haha, tapi kayaknya enak juga tuh tidur sendiri jadi kangen bobo sendiri, mas tidur di—”


“Apa-apaan, jangan ngawur!” tidak membiarkan Ane menyelesaikan kalimatnya, Bhanu segera mengangkat tubuh sang istri masuk ke kamar tak lupa mematikan televisi lebih dulu.


Pukul 03.00 pagi, Ane terbangun ia memandang wajah sang suami tertidur pulas. Ane turun dari ranjang memungut gaun tidur lalu beranjak keluar kamar. Ane menuju dapur mengambil air mineral, ia duduk di meja bar dan mengeluarkan satu strip obat lalu mengambilnya satu butir kemudian meminumnya. Ane memejamkan mata, mengusir bayang-bayang wajah Bhanu dalam pikirannya. Tak sadar tetes air mata jatuh, ia tidak punya pilihan lain, obsesi pada pekerjaan begitu besar memenuhi isi kepala Ane walau hati berkata lain, biar lah kali ini Ane mengikuti isi kepalanya mengabaikan hati yang tak henti berbisik lirih. Ane berdiri dari kursi hendak kembali ke kamar.


Sesampainya di kamar, Ane langsung bergabung bersama Bhanu dengan hati-hati takut membuat sang suami terbangun. Tangannya terulur mengelus wajah tampan Bhanu.


“Maafin Ane mas, Ane janji jika pada akhirnya Allah SWT berkata lain dengan menitipkan janin di rahim Ane dalam waktu dekat ini maka Ane ikhlas melepas impian Ane. Seluruh hidup Ane akan selalu menjadi istri dan ibu rumah tangga buat mas,”


Ane mencium kening Bhanu tak sadar tetes air mata Ane turun menetes ke atas kening Bhanu.


...Assalamualaikum, engingeng gimana? saya tahu udah ada rasa bosan baca ini percayalah aku masih terus berusaha buat memberikan yang terbaik bagi para readers, maaf jika alur/jalan cerita ini begitu2 saja atau kurang;') aku sangat butuh semangat kalian terus jadi jangan lupa vote+like+comment terima kasih yg masih setia dengan cerita ini;)...


...Big Love ♥️...

__ADS_1


__ADS_2