
Flashback On.
Ane berjalan keluar kamar hendak mencari sosok ibunya, gadis itu melihat sang ibu di ruang tamu memakai mukena, makin mendekati ternyata Ratna sedang membaca Al-Qur'an. Ane berjalan sangat hati-hati tak ingin mengganggu sang ibu. Ia duduk di single sofa memandang ibunya yang fokus pada Al-Qur'an.
Kehadiran Ane tentu disadari oleh Ratna—wanita itu menyelesaikan bacaan lebih dulu. Usa itu, Ratna menutup Al-Qur'an dan menaruhnya di atas meja. Ia berpaling memandang Ane—gadis itu menyunggingkan senyuman berdiri dan duduk di samping ibunya. Ane tanpa izin, baring dan langsung menaruh kepalanya di paha sang ibu.
“Ibu, Ane mau tanya sesuatu, boleh gak?” Ane melihat wajah sang ibu yang memberikan senyuman indah padanya tak lupa usapan halus di rambutnya. “Ibu dulu sebelum nikah sama ayah apa ibu dijodohkan atau saling cinta, apa gimana Bu?”
Senyum makin melebar di wajah Ratna, ia bernostalgia, mengingat kembali kisah cintanya bersama sang suami sekaligus muncul rasa sedih dan rindu mengenang sang suami, tapi Ratna tidak menampakkannya sebab tak ingin membuat Ane ikut sedih.
“Ibu sebenarnya dijodohkan sama ayah kamu. Saat itu ibu masih umur sembilan belas tahun dan ayah kamu umurnya dua puluh lima tahun, ayah kamu udah kerja ibu juga saat itu training di toko swalayan cuma ibu bagian akuntan—”
“Jadi ibu umur segitu udah kerja, kok bisa Bu? Ane aja umur segini masih menganggur,” lesuh Ane mengingat kembali perihal pekerjaan.
“Itu kan rejeki orang beda-beda, dek! Apalagi jaman dulu persaingan masih dikit, beda sama sekarang. Alhamdulillah gak lama ibu lulus SMK, ibu coba daftar kerja karena emang niatannya kerja dulu dan gak ada pikiran buat nikah muda, cuma orang tua ibu menginginkan ibu nikah, awalnya ibu sempat nolak cuma pas dikenalin sama Ayah kamu yang MasyaAllah punya kepribadian yang baik dan pekerja keras, jadi ibu dengan hati yang ikhlas menerima ayah sebagai suami ibu dan Alhamdulillah selama pernikahan ayah benar-benar sosok suami dan ayah yang baik,”
“Terus gimana sama pekerjaan ibu?”
“Ibu masih kerja sampai akhirnya ibu melahirkan Mas Rangga dan memutuskan untuk berhenti saja ibu mau fokus jadi ibu rumah tangga, sebelum ibu terima ayah, ibu langsung omongin itu ke ayah, bisa gak ibu kerja setelah nikah dan ayah juga gak keberatan katanya walau udah nikah bukan berarti ruang gerak ibu terbatas,”
Ane bisa menangkap garis besar dari kisah orang tuanya. Ane pun akan melakukan hal yang sama setelah bertemu dengan Bhanu nanti.
__ADS_1
Flashback off.
\*\*\*\*
“Loh, Mas balik kerja langsung ke sini?” tanya Ane telah berada di dalam mobil.
Bhanu mengiyakan sembari berkata, “iya Mas udah kangen sama kamu, jadi pengen cepat-cepat ketemu,”
“Apa sih, lebay,” cibir Ane. Perihal Ane bersama Bhanu saat ini, keduanya telah izin pada Rangga. Bhanu meminta izin lewat WhatsApp sedangkan Ane izin langsung pada kakaknya.
Bhanu rencananya akan mengajak Ane ke rumahnya. Ingin memperlihatkan rumah yang mungkin akan menjadi rumah Ane juga ketika mereka telah menikah nanti.
“Sayang kamu bisa masak, kan?” matanya melirik sekilas Ane.
“Bisa, emang kenapa Mas?”
“Mas pengen coba masakan kamu, pasti enak! Kita singgah ke supermarket kebetulan stok dapur di rumah udah habis,” Ane manggut-manggut saja.
Ketika sampai di supermarket, Bhanu mengambil troli belanja di sampingnya ada Ane ikut menemani.
“Mas mau cari apa dulu?”
__ADS_1
“Sayuran sama buah-buahan mungkin,”
Keduanya berjalan menuju space bagian sayur dan buah. Ane mengambil kentang, wortel, kubis, brokoli dan daun bawang, langkahnya menuju persediaan daging ayam dan sapi. Ane mengambil bungkusan yang berisi potongan paha bawah ayam. Bhanu memerhatikan setiap pergerakan Ane, tersenyum cerah sembari membayangkan kegiatan mereka setelah nikah nanti. Bhanu sengaja diam di tempat, ingin menikmati momen Ane memilih bahan dapur untuknya dan seberapa peka serta perhatian Ane padanya.
“Bawang merah, putih, cabe dan tomat di rumah Mas habis atau masih ada?” Ane datang membawa bungkusan ayam tersebut hendak menaruh ke dalam troli.
Bhanu mengedikkan bahunya tidak tahu, selama ini ia tidak pernah memasak soalnya Bhanu telah menyewa pembantu rumah tangga untuk mengurus rumah serta menyiapkan sarapan untuknya, pembantu itu hanya bekerja sampai pukul 4 sore, untuk makan malam Bhanu lebih sering ke rumah sang kakak yang berada di kompleks yang sama dengannya atau Bhanu memesan makanan melalui aplikasi online.
“Kamu beli aja, gakpapa, jam segini mau telepon bi Popon juga udah balik,”
Ane mendengus lalu berbalik melanjutkan aktivitasnya. Setelah sayur, buah dan bumbu dapur lengkap, Bhanu mengajak Ane ke bagian sabun. Ane mengambil beberapa sabun sesuai perkataan Bhanu.
“Mas jadi gak sabar nikah sama kamu, momen seperti ini pasti akan sering terjadi,” ujar Bhanu ketika keduanya antri di kasir.
Ane menoleh dan membalasnya dengan senyuman hingga Bhanu memasang wajah serius dan berbisik lirih, “tolong jangan lama-lama kasih Mas kepastian,”
Senyum pudar di wajah Ane dan gadis itu menjadi diam seribu bahasa.
“Apa Mas Bhanu udah bosan menunggu?” batinnya bergemuruh.
......Assalamu'alaikum, gimana dengan bab ini? Selamat hari raya idul Adha semua ♥️ Aku sengaja update cepat special birthday to me! Eh ada bonus deh nanti kalau gak lupa wkwwk. Jangan lupa vote+like+comment yah! Thankyou.......
__ADS_1
...Big Love ♥️...