
Kabar bahagia datang dari pasangan suami-istri yaitu Bhanu dan Ane, di mana mereka mendapatkan anggota baru di keluarga kecil mereka. Sosok bayi mungil berjenis kelamin perempuan yang katanya mengikuti wajah sang ibu namun hidung dan bibir milik sang papa. Semua orang turut bahagia merasakan kebahagiaan yang terpancar dari Bhanu dan Ane.
Kini ruangan Ane nampak ramai dari kunjungan keluarga. Ruangan Ane memang cukup besar jadi bisa menampung beberapa orang ketika ada yang menjenguk. Pusat perhatian tertuju pada bayi mungil berselimut merah muda. Ramai-ramai mereka merebutkan ingin menggendong bayi kecil Bhanu dan Ane. Orang tua Bhanu ketika mendapatkan kabar jika Ane melahirkan langsung mengambil penerbangan besok pagi menuju Jakarta.
“YaAllah lucu banget cucu Nenek, gemes! Masih gak nyangka bakal gendong cucu lagi,” Sri bergumam sendiri menatap takjub bayi di gendongannya.
Hanung ikut bahagia dan senang mendapatkan cucu baru lagi yang sangat cantik seperti menantunya. Orang tua Bhanu dari Bandara langsung menuju rumah sakit, bahkan belum bertemu anaknya yang lain yaitu Lingga—wanita itu masih sibuk mengurus segala keperluan anak dan suaminya apalagi ada baby Nai yang dititipkan padanya nanti ketika Satya dan Randu sudah berangkat, ia akan langsung ke rumah sakit. Baby Nai sejak semalam belum bertemu dengan Ane ataupun Bhanu, ketika kemarin datang kembali ke rumah sakit ia seorang diri sebab anak-anak di rumah bersama Randu lagipula baby Nai sudah tidur.
“Oh, iya, Nai sama siapa?” tanya Hanung ditengah euforia kebahagiaan kelahiran cucunya.
“Sama mbak Lingga, Yah. Palingan bentar lagi ke sini, pagi-pagi gini kan mbak Lingga masih sibuk urus Satya sama mas Randu,” jawab Bhanu yang hanya diangguki oleh Hanung kemudian melirik ke arah sampingnya dimana sang istri dan besannya terlihat senang mengobrol mengenai cucu baru mereka.
Ane sejak tadi hanya diam menyaksikan bagaimana kebahagiaan dirasakan oleh para orang tua, kini ia beralih menatap sang suami juga ikut tersenyum menatap para orang tua. Ada rasa sedih dan resah menyusup di relung hatinya, tangannya naik menyentuh lengan kekar Bhanu—pria itu sontak menoleh ketika merasakan sentuhan lembut dari sang istri.
“Pa, mama jadi gak enak sama mbak Lingga pasti repotin banget. Hm, baby Nai rewel gak sih pa? Mama rindu banget deh sama baby Nai,” tutur Ane memasang ekspresi sendu.
Bhanu memeluk tubuh istrinya dari samping, “gak kok, lagian mbak Lingga sendiri yang menawarkan diri. Nai anak yang baik pasti gak rewel mengerti sama kondisi mama dan papanya, percaya sama mas," ujarnya memberikan ketenangan pada Ane.
“Oh, iya kamu belum kasih tahu nama anak kamu ini loh,” seru Sri penasaran sejak tadi belum mengetahui nama cucunya.
Ane ikut penasaran sebab soal nama ia sudah memberikan kepercayaan penuh pada Bhanu—pria itu kemudian melangkah menuju kursi hendak meraih bayi kecilnya di gendongan Sri. Pelan-pelan bayi itu pun berpindah ke gendongan Bhanu.
“Namanya Chana Talea Giandra,” ungkap Bhanu.
“MasyaAllah namanya lucu sekali, artinya apa?” celetuk Sri.
__ADS_1
“Chana Talea Giandra yang artinya kesayangan orang tua, yang beruntung serta penuh cinta, sentosa dan pintar,” jawab Bhanu kini sudah duduk di samping sang istri dan rupanya sudah waktunya Ane harus memberikan asi bagi anaknya lagi.
“MasyaAllah, semoga berkah namanya yah,” Ratna dan Sri kompak bersuara yang diangguki dan diaminkan oleh Bhanu dan Ane.
Tak lama, setelah menyusui baby Chana pintu ruangan pun terbuka menampilkan sosok Lingga bersama dua anak perempuan berbeda usia. Caca melepaskan tangan sang ibu berlari menuju brankar tak sabar melihat adik barunya sedangkan baby Nai nampak bingung melihat sekelilingnya.
“Adekna Caca!” pekik Caca senang ingin memanjat ranjang.
Bhanu menutup mulut mungil Caca agar tidak berteriak, “sut! Jangan berisik! Sini om gendong, tapi lap dulu tangannya,” pria itu mengambil tissue basah yang mengandung anti bakteri mengelap permukaan tangan Caca.
“Ih, cantikna! Pipina melah,” Caca memandang cerah wajah baby di gendongan Ane.
“Iya, cantik sama kayak mbak Caca,” balas Ane meraih wajah Caca. Atensi wanita itu kemudian beralih ke anaknya yang lain yakni baby Nai nampak menatapnya polos di gendongan Lingga.
Ane kemudian memberikan Chana pada Bhanu agar bisa menggendong baby Nai, ia tak ingin Nai merasa terabaikan atas kehadiran Chana bagaimana pun kasih sayang Ane harus adil pada kedua anaknya. Lingga seolah mengerti beranjak mendekati ranjang memberikan baby Nai pada Ane namun diluar dugaan ternyata baby Nai enggan bahkan menyembunyikan wajahnya di cekuk leher Lingga bahkan bayi usianya hampir dua tahun itu menangis jadi Lingga berbalik menenangkan baby Nai. Tentu hal itu mengundang tanya, Ane merasa sedih atas penolakan baby Nai.
“Gak papa, hei it's okay!”
“Baby Nai gak mau sama mama lagi yah? Kok gak mau digendong sama mama lagi, sih pa? Apa baby Nai marah?” Ane mulai menangis.
Ratna bangkit dari duduknya mengambil baby Chana untuk dibaringkan ke box bayi. Bhanu memeluk Ane terisak-isak.
“Mungkin Nai masih kaget aja, apalagi lihat kamu tadi gendong Chana,” seru Sri.
Suara tangis di depan ruangan kini tak terdengar lagi, Lingga masuk kembali ke ruangan dan terlihat baby Nai mulai tenang di gendongan ibu beranak dua itu.
__ADS_1
“Sini nak sama mama, baby Nai gak kangen sama mama?” Ane menyeka air mata menggunakan tangannya lalu membuka tangan lebar-lebar pada baby Nai.
Baby Nai nampak diam saja, Lingga perlahan mendekati ranjang.
“Sayang, itu mama Ane loh, kangen sama Nai,” ujar Lingga. Baby Nai nampak enggan dan menenggelamkan wajahnya di dada Lingga. “Loh, Nai emang gak kangen sama mama? Itu mama pengen gendong Nai,” bujuk Lingga dan mencoba memberikan baby Nai pada Ane. Baby Nai merespon dengan gelengan kepala dan mencengkram erat baju Lingga, tetapi Ane sedikit memaksa agar Nai berada digendongannya.
“Huuuu,” tangis baby Nai terdengar lagi. Ane langsung memeluk erat tubuh anaknya penuh kerinduan.
“Ini mama nak, mama kangen Nai, jangan nangis yah sayang, mama sedih kalau Nai seperti ini,” bisik Ane lirih ikut menangis lagi.
“U....na...u...,” gumam baby Nai menghentakkan kakinya dan menatap Bhanu penuh harap.
“Udah sayang, Nai takut, Nai butuh adaptasi, dia masih kaget aja dan butuh waktu, secara gak sadar mungkin dia sudah bisa merasakan kalau ada bayi lain di antara kita,” Bhanu meraih baby Nai dari Ane.
“Pa...pa...pa...” baby Nai memeluk erat leher Bhanu.
“It's okay sayang, ini papa! Don't cry, itu ada adeknya mbak Nai loh, yuk lihat sama papa,” Bhanu melangkahkan kaki menuju box bayi. Baby Nai masih enggan melihat apa yang ada di depannya.
“Na...u...pa...na...u!” gelengan kepala Bhanu rasakan dari Nai dan ia pun mengerti apa yang diucapkan Nai.
“Yaudah gakpapa, tapi adeknya cantik kayak mbak Nai loh, mama dan papa tetap sayang sama mbak Nai, sayang banget sama mbak Nai,” Bhanu menepuk bokong Nai pelan.
“Tu...” baby Nai menunjuk pintu jadinya Bhanu membawa baby Nai keluar.
“Om Caca mau ikut!” Caca berlari kecil menyusul Bhanu keluar ruangan.
__ADS_1
Ratna mengusap punggung Ane bergetar menangis sesenggukan. Begitu pula dengan Sri memberikan kalimat penenang bagi menantunya.