Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 59


__ADS_3

Ane membasuh wajahnya di kamar mandi, namun ada rasa rasa sakit dari dalam perutnya, apalagi bagian bawahnya serta pinggul yang terasa begitu menyakitkan. Ia meringis menduduki closet mengelus lembut perutnya berulang kali dan mulut yang bergumam menenangkan sang jabang bayi.


“Dek, pelan-pelan yah, udah gak sabar pengen lahir yah nak? Hu, aw—” Ane meringis pelan tatkala perut bagian bawahnya terasa sakit seakan ada tekanan kuat dari sana. Ane merasakan mules dalam benaknya mungkin ingin BAB, ia meraih ********** hingga terlepas kemudian mencoba untuk mengejan membuang hajat tetapi tak kunjung keluar. Dari semalam, sudah Ane rasakan nyeri, panggul terasa sakit dan mules serta perutnya terasa mengencang, selaku suami Bhanu pun sudah membujuk sang istri untuk ke rumah sakit sejak semalam tetapi Ane bersikeras mengatakan jika mungkin saja wanita itu hanya mengalami kontraksi palsu. Ane harus menahan sakit semalaman dan tidurnya pun jadi terganggu begitupula dengan Bhanu setia mengawasi istrinya suntuk semalam mengabaikan jika esok ia akan bekerja. Cukup lama Ane berada di kamar mandi, hingga ada suara ketukan terdengar yaitu Ratna sedang menggendong baby Nai.


“Dek, kamu lagi apa? Kok lama banget, dek!” seru Ratna di luar pintu harap-harap cemas karena Ane sangat lama turun dari kamar, ketika ia mengecek ternyata sang anak berada di kamar mandi.


“I—ya, Ane baik-baik aja Bu, huh—” susah payah Ane berucap dan terdengar jelas suara ngos-ngosan seperti sedang mengatur napas.


“Dek, kamu kenapa? Ibu izin masuk boleh?” Ratna khawatir mendengar suara Ane yang sepertinya tidak baik-baik saja berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan oleh sang anak. Tidak ada jawaban justru terdengar suara lirihan makin membuat Ratna cemas dan tak tenang lalu memaksa masuk ke dalam kamar mandi. Matanya membulat ketika melihat Ane duduk di closet namun wajah Ane begitu pucat dan banyak bulir keringat membasahi wajah cantik putrinya apalagi ada cairan mengalir dibagian bawah Ane hingga mengalir ke paha wanita itu.


“Kamu mau melahirkan, dek! YaAllah, bentar ibu panggil bi Popon, kuat yah nak!” Ratna panik keluar dari kamar Ane memanggil bi Popon agar mengambil alih baby Nai lalu menelepon Lingga meminta bantuan karena tidak mungkin jika menelepon Bhanu sebab akan terlalu lama menunggu nantinya.


Sakit makin terasa, Ane hanya bisa menahan dan berusaha tenang tangannya pun tak berhenti mengelus perutnya. Rasa sakit hampir sama ketika sedang menstruasi dihari pertama namun sakitnya beribu kali lipat. Tak sampai lima menit Lingga datang membawa mobil agar mengantar Ane segera ke rumah sakit. Baby Nai untuk sementara dititipkan pada bi Popon hanya Caca yang ikut sedangkan Satya masih sekolah.


“Ibu udah telepon Bhanu?” tanya Lingga menolehkan kepalanya sekilas ke belakang pada Ratna kini mengelus hijab yang dikenakan Ane di kursi penumpang.


“Astagfirullah, ibu lupa, Nak! Bentar ibu telepon dulu,” Ratna merogoh ponsel di dalam tasnya lalu mengetik kontak di layar datar itu.


“Assalamualaikum, kenapa Bu?”


“Walaikumsalam, maaf kalau ibu ganggu, cuma mau kasih tahu kalau ibu sama Ane di jalan soalnya Ane mau lahiran diantar sama nak Lingga,”


“Hah? Baik Bu terima kasih, Bhanu konfirmasi ke dokter Triska, Bhanu tunggu di rumah sakit,”


“Iya nak, ya udah ibu tutup teleponnya yah, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Di rumah sakit, Bhanu baru saja selesai kunjungan pasien, ia segera berlari menuju bagian obigyn menemui dokter Triska. Satu ruangan pun sudah langsung disiapkan selama Ane di rumah sakit. Bhanu menunggu di lobi rumah sakit bersama satu suster dan membawa kursi roda. Beberapa menit kemudian mobil Lingga berhenti tepat di depan pintu utama, Bhanu segera berjalan menghampiri mobil tersebut membantu sang istri turun dari mobil. Wajah Ane terlihat begitu pucat menahan sakit.

__ADS_1


“Sabar yah sayang, bentar lagi, anak kita lahir, mama kuat sama dedeknya juga kuat di dalam perut,” bisik Bhanu menenangkan sang istri mendorong kursi roda. Mereka menuju ruang yang telah disiapkan dan di sana pun sudah ditunggu oleh dokter Triska.


Ane akan diperiksa lebih dulu, secara pelan Bhanu membaringkan Ane di atas brankar. Dokter Triska menyuruh Bhanu keluar sebentar dari ruangan untuk memeriksa kandungan Ane. Ternyata Ane sudah memasuki pembukaan 4. Triska pun menyuruh keluarga menemani Ane di dalam selama proses pembukaan. Bhanu ingin sekali menemani Ane tetapi ia harus kembali bekerja karena akan melakukan operasi pada pasiennya. Bhanu mau tak mau menitipkan Ane dulu pada Ratna dan Lingga.


“Papa kerja dulu bentar, nanti kalau operasi sudah selesai, papa bakal balik ke sini, mama kuat, bismillah semoga lancar yah, papa keluar dulu,” Bhanu menyempatkan mencium kening sang istri pamit keluar hendak menyelesaikan tugasnya.


Penantian 9 bulan atas pertemuan antara ibu dan calon anaknya tentu hal yang sangat dinanti-nantikan termasuk Ane yang kini sedang berada di rumah sakit tengah berjuang menunggu pembukaan demi pembukaan. Ane dibantu oleh Ratna berjalan-jalan sekitar ruangan demi melancarkan proses pembukaan. Ane mencoba tetap tenang dan menikmati segala proses yang ia lalui sebelum bertemu dengan anaknya. Qilla berkunjung ke ruangan Ane menyempatkan waktu melihat kondisi Ane serta memberikan semangat.


“Bumil, yang bentar lagi lahiran, kuat-kuat yah, kamu pasti bisa. Dedeknya sabar yah bentar lagi bakal lahir lihat mama dan papa deh, aunty juga gak sabar lihat kamu, bantu mama kamu yah dek supaya lahirannya juga lancar,” ujar Qilla memberikan sedikit elusan pada perut Ane.


Ane menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum walau sakit melanda dan tekanan di bagian perutnya makin terasa ia memekik pelan sontak saja Ratna dan juga Qilla membantu Ane kembali ke brankar serta memanggil dokter.


“Bu, mules banget, sakit!” lirih Ane menahan sakit sambil mengigit bibirnya dan mencengkram tangan sang ibu cukup kuat.


Setelah Qilla memanggil dokter akhirnya sosok dokter cantik masuk ke dalam dan segera melihat kondisi Ane.


“Sedikit lagi, sudah pembukaan delapan, sabar yah,” dokter Triska ikut memberikan dukungan pada Ane dan mengelus lembut pundak Ane sebelum pamit keluar lagi.


“Huh, la—gi tangani pasien, huh, Bu sakit!” jawab Ane sesak berusaha mengatur napas.


Qilla ngeri sendiri membayangkan sakit yang dirasakan oleh Ane, ia melirik jam di pergelangan tangannya ia harus kembali bekerja terpaksa ia pamit pada Ane dan memberikan dukungan pada sang sahabat serta berdoa agar proses lahiran lancar dan normal.


Proses pembukaan nyatanya tidak secepat yang Ane bayangkan dan di ruangan yang berbeda Bhanu melangkah cepat menuju ruang rawat salah satu pasiennya, baru sejam ia keluar dari ruang operasi kini ia harus kembali memeriksa pasien atas laporan salah satu suster mengatakan bahwa pasiennya mengalami kejang-kejang. Operasi berlangsung cukup lama dan berjam-jam bahkan. Ia harus menangani pasiennya lebih dulu, walau hati dan pikirannya berkecamuk mengkhawatirkan istrinya. Fokus Bhanu tentu saja terpecah, namun begitu ia tetap menjalankan tugasnya sebagai dokter dengan sebaik mungkin. Cukup lama ia menangani pasiennya yang kejang, Bhanu menghela napasnya perlahan lalu keluar dari ruangan.


Ia berpapasan dengan rekan dokter dan menyuruh Bhanu fokus pada Ane lagi pula ini sudah pergantian shift. Bhanu hendak ke ruangannya lebih dulu sebelum ke ruangan Ane. Ia akan membersihkan diri lebih dulu. Tepat ketika ia menginjakkan kaki di ruangan sang istri ternyata pembukaan Ane sudah lengkap dan siap melahirkan. Ratna memberi kode pada Bhanu agar masuk menemani Ane di dalam. Ratna akan menunggu di luar karena ia pikir kehadiran Bhanu lebih penting.


“Pa, sakit! Huh! Ya Allah,” Ane mencengkram erat tangan Bhanu dikala sakit kian melanda.


Bhanu tidak bisa melakukan banyak hal selain menenangkan sang istri serta membisikkan doa-doa di telinga wanita itu berharap jika proses lahiran lancar.

__ADS_1


“Atur napas dulu, jangan mengejan sebelum ada instruksi dari saya yah,” ujar dokter Triska.


Hingga tahap di mana sudah waktunya, dokter cantik itu memberikan instruksi pada Ane agar mengejan secara perlahan. Selama itu pula, Ane menjadikan Bhanu sebagai pelampiasan rasa sakitnya. Rasa syukur dipanjatkan semua orang yang berada di ruang bersalin ketika suara tangisan bayi terdengar nyaring.


Air mata menetes tanpa diminta, Bhanu menyeka sudut air matanya lalu memberikan kecupan di kening sang istri sembari mengucapkan terima kasih dan rasa cintanya pada Ane.


“Terima kasih sayang, kamu ibu yang hebat, papa sayang dan cinta sama mama,” bisik Bhanu.


Ane hanya bisa tersenyum lirih mendengar kalimat itu.


\*\*\*\*


Ratna memeluk tubuh anak menantunya erat, membisikkan kata syukur dan selamat karena Bhanu mendapatkan satu karunia baru dari Allah SWT.


“Selamat yah, Nak! Semoga amanah ini kamu bisa jalankan dengan baik, ibu percaya kamu dan Ane bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kalian,” Ratna mengusap rahang sang menantu.


“Iya Bu, terimakasih juga sudah melahirkan Ane, merawat dan mendidiknya menjadi seperti sekarang. Mohon bimbingannya yah Bu, semoga kami bisa menjadi orang tua yang baik,” balas Bhanu.


Sedari tadi memang Ratna sendiri karena Lingga harus kembali pulang menjemput Satya dan akan mengambil alih baby Nai mengingat jika bi Popon akan pulang dari rumah Bhanu di sore hari itu artinya tidak ada yang menjaga baby Nai. Lingga akan kembali sekaligus membawakan pakaian ganti buat sang adik dan makanan. Mereka masuk ke ruangan saat kondisi Ane sudah kembali normal bahkan mereka tak sabar menanti putri kecil yang sedang dibersihkan oleh suster.


Ane tersenyum cerah melihat sang ibu masuk ke dalam ruangan, ia merentangkan tangan agar dipeluk oleh Ratna. Ia menangis di pelukan sang ibu mengucapkan kata maaf dan terimakasih atas perjuangannya melahirkan dirinya dulu, ia sudah merasakan bagaimana rasa sakit dan perjuangan seorang ibu. Haru biru terjadi di antara ibu dan anak, Bhanu hanya diam memerhatikan momen haru di depannya. Bhanu menepuk jidatnya pelan tatkala lupa memberi kabar pada orang tuanya jika Ane sudah melahirkan.


Suara pintu decitan pintu terbuka, nampak lah seorang suster datang mendorong kereta bayi. Ane, Bhanu dan Ratna sangat senang dan menyambut haru kedatangan bayi kecil itu.


“MasyaAllah cantiknya cucu Uti, mirip kamu banget Nak, cuma versi mancung,” bayi merah itu katanya dulu mirip sewaktu Ane bayi. Mata tua Ratna menelisik wajah cucunya. “Hidung sama bibirnya mirip nak Bhanu,”


Suster memberikan bayi kecil itu pada Ane dan memberitahu jika Ane harus memberikan asi. Suster pun pamit setelah mengantar bayi kecil Bhanu dan Ane. Pelan-pelan Ane membuka kancing bajunya dan mendekatkan wajah sang anak pada dadanya untuk disusui. Rasa perih pertama kali ia rasakan pada saat sang anak mulai menyesap sumber makanannya.


“Mama sayang dedek, sayang banget terima kasih sudah mau berjuang sama mama yah nak, dedek juga anak yang hebat,” Ane mengecup kening anaknya, sungguh ia sampai saat ini tak percaya jika ia melahirkan bayi cantik di gendongannya.

__ADS_1


Bhanu melangkah mendekati brankar, ia takjub melihat bayi mungil di gendongan sang istri. Rasa syukur terus saja terucap dari bibirnya. Ia memberikan satu kecupan di kening Ane dan juga sang anak.


“Bidadarinya papa nih,”


__ADS_2