Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 50


__ADS_3

Pukul 2 pagi, Bhanu terbangun. Di sampingnya Ane tertidur pulas, entah mengapa ia menginginkan makan mie kuah dengan potongan sawi hijau dan kubis tak juga telur. Ia tidak lapar, tapi rasanya sangat ingin memakan mie. Apakah dia ngidam? Sungguh random tiba-tiba bangun dan ingin memakan sesuatu di tengah malam ini.


Bhanu tidak tega membangunkan Ane tetapi ia ingin jika Ane yang membuat mie itu. Bhanu meringis bergumam sendiri meminta maaf karena membangunkan sang istri. Ia menggoyangkan pelan lengan Ane agar sang istri bangun.


“Sayang, bangun dulu yuk!” bisik Bhanu di telinga Ane.


Seiring dengan sentuhan yang Bhanu berikan perlahan Ane pun bangun walau masih merasakan kantuk yang luar biasa. Bhanu tersenyum lembut sembari tangan berpindah mengelus pipi Ane.


“Kenapa mas?” tanya Ane beberapa kali menguap.


“Mas pengen makan mie buatin mas yah, tolong boleh gak?”


Ane mengerjapkan mata, memastikan jika telinganya tidak salah dengar, “makan mie? Mas ngidam?”


Bhanu mengedikkan bahu, “gak tau, pokoknya mas pengen makan mie sayang, buatin yah please,” ujarnya memasang ekspresi wajah penuh harap.


Ane mendesah pelan, ia kemudian mengangguk sebagai jawaban jika permintaan Bhanu akan dipenuhi. Mengusir rasa kantuk, Ane turun dari ranjang hingga kakinya menyentuh dinginnya lantai. Ane menggulung rambut panjangnya menggunakan cepolan dan terlihat lah leher jenjang milik Ane, Bhanu meneguk ludahnya kasar seketika bayangan erotis muncul di kepala. Bhanu memukul-mukul pelan keningnya sembari mengusir bayangan itu.


Bhanu ikut turun dari ranjang hendak menyusul sang istri. Ane mengeluarkan mie instan di laci kemudian mengambil sawi di dalam kulkas serta kubis dan cabe. Ane mengambil panci berukuran kecil lalu mengisi air buat rebusan mie. Lebih dulu, Ane memotong sawi dan kubis yang telah ia cuci, rebusan air telah mendidih, ia memasukkan sayuran lebih dulu kemudian mie dan terakhir telur. Ane bergerak ke arah kulkas mengambil sosis, ia berinisiatif untuk menambahkan itu ke dalam mie.


Aroma khas mie pun tercium menggunggah nafsu makan, khususnya Bhanu tak sabaran menunggu di meja makan. Mie membawa mangkuk yang berisikan mie kuah racikannya tadi.


“Selamat dinikmati pakmil,”


“Hum, terima kasih bumil,”


Ane menggelengkan kepala, ketika Bhanu tersenyum senang menerima mie buatannya. Ane berbalik membersihkan peralatan masak hingga rengekan dari sang suami terdengar.


“Sayang kok pakai sosis? Kan mas gak minta,”


Ane buru-buru menyelesaikan membilas panci lalu segera menghampiri Bhanu—pria itu memasang wajah cemberut, seperti anak kecil saat permintaan tak sesuai keinginan. Bhanu merajuk bahkan seolah enggan melahap mie tersebut. Ane menarik kursi lalu ikut duduk. Ia memandang jengah wajah sang suami, ia menarik mangkuk tersebut dan memakan semua potongan sosis.


“Kok di makan?” seru Bhanu tak suka.

__ADS_1


Ane melongo tak percaya ada apa dengan sang suami malam ini? Ane menggelengkan kepala dan menepuk pipinya.


“Gini amat sih nak ngidamnya papa kamu!” gumam Ane pelan.


Bhanu masih merajuk, “terus maunya apa? Kan tadi mas protes ada sosis yah udah Ane makan aja, mubazir kan kalau gak dimakan,” ujar Ane.


Bhanu mencibik meraih mangkuk, “tapikan mas gak suruh kamu makan juga!” protesnya sembari melahap mie secara perlahan karena panas.


“Tau ah,” Ketika Ane hendak berdiri dan pergi, Bhanu kembali merengek.


“Temani mas dulu,”


Ane memutar bola matanya malas, rasa kantuk benar-benar telah sirna digantikan rasa kesal atas tingkah absurd sang suami tengah malam ini.


Habis, Bhanu berhasil menghabiskan mie itu tanpa sisa bahkan kuahnya pun ludes. Ane memberikan segelas air yang diterima oleh Bhanu senang. Setelah itu, Bhanu mengajak Ane kembali ke kamar tak lupa mengucapkan terimakasih karena mau direpotkan olehnya tengah malam ini.


Bhanu seketika sadar tingkahnya berubah menjadi aneh, padahal sebelumnya ia mewanti-wanti dirinya ketika menghadapi tingkah absurd sang istri lalu kenapa sekarang justru terbalik? Keduanya kembali ke kamar bahkan sepasang suami-istri itu kini berpelukan mesra. Ane memaksa matanya terpejam berharap bisa kembali terlelap hingga subuh nanti sedangkan Bhanu—pria itu setelah lima menit melamun akhirnya tertidur.


“Hoek!”


Suara itu terdengar jelas di telinga Bhanu, ia membuka mata meraba di sampingnya dan tak menemukan keberadaan sang istri. Ia bangkit dari ranjang menuju kamar mandi, karena mendengar suara orang mual. Bhanu meringis menyaksikan sang istri mengalami gejala mual. Ia mengurut leher Ane sembari menyeka bulir keringat membasahi kening wanita itu.


Ane berbalik menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan sang suami.


“Mual banget mas,” gumam lirih.


Bhanu membawa Ane keluar dari kamar mandi. Ane menghirup aroma tubuh sang suami yang entah mengapa berhasil mengurangi rasa mual. Ane menikmati momen ini, sampai rasa mual benar-benar hilang.


“Kayaknya tiap Ane mual obatnya ini deh mas,” ujar Ane sambil mengirup aroma tubuh Bhanu.


“Maaf yah sayang, kamu mual karena—”


Ane menjauhkan kepalanya, mendongak lalu menempelkan jari telunjuk tepat di bibir sang suami.

__ADS_1


“Mas gak salah, tidak ada yang salah! Emang ini hal yang biasa terjadi sama ibu hamil, Ane menikmati momen ini kok.”


Bhanu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, “makasih sayang, kamu istri yang hebat dan calon ibu yang hebat untuk anak kita,”


“Amiin, makasih mas!” balas Ane memberikan satu kecupan mesra di bibir sang suami. Wanita itu lalu menarik tangan Bhanu agar menyentuh perutnyanya, “papa belum sapa dedek pagi ini, sapa dedek dong papa!” ujarnya menirukan suara anak kecil.


Bhanu tertawa pelan mengubah posisi hingga berjongkok dan kepalanya kini sejajar dengan perut Ane.


“Assalamualaikum, anak papa, pagi ini mama mual loh nak, tapi gakpapa katanya mama, dek mama hebat yah? Dedek harus sayang sama mama yah, soalnya mama tuh udah berkorban banyak untuk dedek, terus sayang sama dedek juga. Pokok ya sehat-sehat yah nak, papa sama mama sayang dedek!” ucap Bhanu tak lupa memberikan kecupan di perut sang istri.


“Mama sama dedek juga sayang papa banyak-banyak,” balas Ane. Ia terharu, momen inilah yang ia tunggu-tunggu.


Ane dan Bhanu tertawa bersama-sama menikmati momen kebersamaan mereka. Mengingat jam menunjukkan pukul 7 pagi, Bhanu bergegas untuk bersih-bersih, Ane menyiapkan segala keperluan kerja sang suami setelah itu turun menyiapkan sarapan. Hari ini Ane menyiapkan bekal makan siang agar Bhanu tidak perlu repot mencari makan siang lagi. Menu bekal yaitu ayam goreng lengkuas, nasi putih, sayur tumis sawi serta beberapa potongan buah apel dan pir. Tak lupa air mineral dalam botol. Ane menyiapkan dengan penuh cinta tentu semakin terasa lezat.


Bhanu baru saja turun dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi, Ane melemparkan senyuman tatkala melihat kehadiran sang suami di meja makan.


“Mas, Ane siapin bekal jadi gak perlu repot cari makan siang,” ujar Ane sembari membawa box bekal pada Bhanu.


“Wah, makasih sayang,”


“Dihabisin loh, jangan sampai sisa, aku buatnya penuh cinta tuh,”


“Pasti dong mas habisin, masakan kamu kan enak,”


Untuk sarapan, Bhanu request ingin makan sandwich tuna, Ane membuatkan itu dibantu bi Popon.


“Mas, rencana kapan kasih tahu orang tua kita soal dedek di perut Ane?”


“Ohiya, mas sampai lupa, kita kabarin nanti aja pas mas pulang kerja, kita video call mereka pasti senang, atau pas acara empat bulanan aja kita kasih tahu?”


“Ih, jangan kasihan tau! Mereka pasti bakalan sedih kalau tahu kehamilan Ane belakangan,”


Bhanu menaik turunkan kepalanya pertanda jika setuju dengan ucapan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2