Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 19


__ADS_3

Berawal dari rasa nyaman bisa mengantarkan ke rasa cinta. Mungkin perlahan itu lah yang dirasakan Ane walau ia masih meraba-raba rasa itu. Segala perhatian dan keseriusan Bhanu tak bisa ia bendung berhasil mencuri hatinya, namun ia masih butuh waktu untuk meyakinkan dirinya seratus persen agar kedepannya tak ada sesal keluar dari bibirnya atau bahkan terbesit dalam pikirannya.


Perkataan Rita masih memenuhi pikirannya, di luar sana pasti banyak yang mengagumi Bhanu. Ane percaya pada Bhanu dan juga kalau mereka benar-benar jodoh pasti akan tetap berlabuh di pelaminan bersama, walau kerikil tajam menerjang mereka. Tapi Ane tetap merasakan khawatir dan ada rasa tak rela jika Bhanu bersanding dengan lain, sisi lain Ane juga tak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan.


Ane melamun bertopang dagu, ia berada di dapur di tengah kegiatan membuat water lemon, moodnya tiba-tiba saja down. Lamunan Ane terhenti, ketika sebuah tepukan di pundak membuatnya terlonjak kaget.


“Hayo, ngapain melamun, nanti kesambet setan tahu rasa,” Banyu baru saja pulang dari cafe karena haus ia berbalik ke dapur, namun ia heran melihat sang adik termenung sendiri.


Ane memutar bola matanya kesal dan mencibikkan bibirnya, “untung Ane gak jantungan! Gak boleh loh, Mas!”


Banyu menarik kursi di depan Ane dan meneguk air hingga membasahi kerongkongannya, “lagian kamu kenapa melamun, mikirin apa?” tanyanya.


“Kalau Ane nikah, gimana Mas?”


“Yah, gakpapa, berarti emang udah takdirnya kamu nikah muda, emang kamu udah siap menyandang status sebagai istri dan ibu nantinya?”


“Ane juga udah pikirin masalah itu dan Ane rasa Ane bisa dan siap cuma itu Ane takut kalau nantinya Ane justru menyesal,” Ane menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Banyu menegakkan tubuhnya dan meraih tangan sang adik, “udah sholat istikharah?” Ane mengangguk, “terus gimana perasaan kamu?”


Ane menatap sang kakak, “kalau bicara perasaan yah, Ane mulai menerima Mas Bhanu dan keyakinan kalau Mas Bhanu emang yang terbaik buat Ane perlahan muncul dan semakin besar, cuma itu Ane takut kalau nantinya Ane salah pilih keputusan dan terkesan terburu-buru, Mas!” rengeknya frustasi.


“Dek, dengarin Mas!” Bhanu meraih lengan Ane yang sempat terlepas dan memberi isyarat agar memandang wajahnya. Dengan lesu, Ane mendongak. “Semua tergantung niat dan keikhlasan kita serta percaya jika memang itu lah takdir yang sudah ditentukan Allah SWT. Kamu menikah niatnya buat ibadah dan percaya sama Allah, Insyaallah semua akan berjalan dengan baik atas izin Allah, kalau pun misalnya kedepan kamu ada masalah atau problem di kehidupan rumah tangga kamu, itu hal yang lumrah terjadi, sebuah hubungan tentunya tak akan lurus-lurus aja, pasti ada cobaan tinggal gimana kamu menyikapi dan selalu melibatkan Allah disetiap langkah serta keputusan kamu,”


Masih ada yang Ane ingin tanyakan pada Banyu, saat ini ia sangat membutuhkan masukan.


“Hm, kalau misalnya Mas ada di posisi Mas Bhanu dan Ane lama kasih Mas keputusan bahkan mungkin terkesan mengulur waktu, itu gimana Mas?”


“Bukan hanya kaum wanita saja yang butuh kepastian, kami pun para kaum lelaki butuh kepastian, apalagi sudah mengutarakan keinginan dan perasaan tentu pasti ingin segera mendapatkan kejelasan. Satu yang harus kamu tahu, para kaum lelaki selalu mengedepankan logika, ketika sang wanita tidak juga memberi kejelasan yah bisa saja lelaki akan mundur secara perlahan, sesuatu yang tidak jelas untuk apa kita tunggu, benar gak? Saran Mas, kalau memang kamu udah siap dan yakin, jangan terlalu lama mengambil keputusan,”


****


Seorang wanita cantik memakai wedges serta dress selutut bermotif bunga, berjalan menuju kantin, kaki jenjangnya menyusuri lorong rumah sakit hingga kakinya berhasil menapaki lantai kantin. Matanya memicing ketika menangkap sosok dokter tampan yang menangani putrinya sedang melahap seporsi soto. Senyum terbit di wajah cantik nya menampilkan sebuah lesup Pipit di pipi kirinya.


“Sendirian aja dok?”

__ADS_1


Aktifitas makan Bhanu terhenti dan memandang Erina yang kini duduk di depannya. Ia meraih sebotol mineral lalu meneguknya, tak lupa meraih selembar tissue menyeka bibirnya.


“Ya, tapi sekarang saya harus balik ke ruangan,” Bhanu tidak memiliki selera makan lagi. Entah mengapa, ia seperti mendapatkan sinyal aneh agar tidak terlalu dekat dengan Erina.


“Sotonya belum habis dok,” Erina melirik mangkuk soto yang isinya masih ada setengah.


Bhanu memaksa tersenyum dan berbohong jika sudah kenyang. Bhanu hendak bangkit dari kursi tetapi Erina kembali bersuara.


“Dokter sepertinya memang sengaja menghindar dari saya? Saya punya salah sama dokter?”


“Ah, itu perasaan Bu Erina saja, saya benar-benar sibuk, saya pamit,” Bhanu segera melangkah kakinya agar terbebas dari Erina—wanita itu tak langsung percaya, ia yakin jika Bhanu memang menghindarinya bahkan sejak awal Kinan dirawat di rumah sakit.


Ketika Bhanu berada di ujung lorong kantin, tiba-tiba saja sosok Qilla muncul.


“Jaga mata dan hati, ada Ane yang menunggu di Yogyakarta,”


Qilla memasang senyum jahil, ia sebenarnya mengintip interaksi Bhanu dan Erina, awalnya tak sengaja lalu menjadi penasaran makanya Qilla memilih berdiri di balik tembok ujung lorong. Qilla tahu sosok Erina, karena beberapa kali Qilla melihat Erina mendorong kursi roda Kinan ketika sang bocah itu ingin keluar dari ruang inap.

__ADS_1


Bhanu tidak menanggapi serius godaan Qilla, pria itu berlalu begitu saja hal itu sukses membuat Qilla mendengus kesal.


__ADS_2