
Kencan pertama?
Sebuah blouse tosca berumbai di bagian ujung baju dipadukan dengan celana kulot berwarna hitam serta jilbab pashmina berwarna cream dan flatshoes hitam menjadi pilihan Ane membungkus kaki mungilnya.
Senyum merekah tak henti ditujukan Bhanu pada Ane tatkala gadis itu berada di depan matanya. Keduanya kompak pamit pada Ratna dan Rangga, khususnya Bhanu meminta izin membawa Ane berjalan-jalan. Bhanu dan Ane berjalan beriringan menuju mobil, bahkan Bhanu tak lupa membukakan pintu mobil untuk Ane, suara lembut milik Ane terdengar kembali di telinga Bhanu ketika gadis itu mengucapkan kata terima kasih.
Di dalam mobil sempat terjadi keheningan, namun itu hanya beberapa saat ketika salah satu di antara mereka membuka suara lebih tepatnya Bhanu.
Ekor mata Bhanu melirik ke arah Ane yang sedang duduk diam memangku tangan menatap lurus melihat mobil yang berlalu lalang.
“Enaknya kita ke mana yah?”
Ane mendengar suara itu sontak melirik ke arah Bhanu yang memabdangnyacjuga walau hanya sekilas, gadis itu menggelengkan kepalanya pelan pertanda jika dia juga tidak tahu, namun begitu dalam hati, Ane menggerutu sebab Bhanu yang mengajaknya lalu sekarang mengapa Bhanu seakan tak tahu harus ke mana.
Bhanu berpikir tempat yang cocok untuk mengajak Ane. Terlintas dipikirannya adalah Jogja City Mall sebagai tempat yang akan mereka tuju, setelah dipikir-pikir bukan ide yang buruk, sebab di Mall menyediakan banyak pilihan untuk mereka nantinya.
Beberapa menit kemudian mereka pun telah sampai, Ane merapihkan penampilannya sebelum turun dari mobil, tak lupa Bhanu membukakan pintu pada Ane.
“Terima kasih, tapi Mas lain kali gak usah, Ane bisa kok buka pintu sendiri,”
Bhanu membalasnya hanya dengan senyuman dan mempersilahkan Ane jalan lebih dulu kemudian ia menyusul dan ikut berjalan beriringan. Langkah keduanya seirama, Ane masih bingung hendak ke mana apalagi Bhanu juga tidak mengatakan apa pun.
“Kamu lapar gak?” Bhanu menoleh ke Ane yang dihadiahi sebuah gelengan kepala saja. “Ya udah kita nonton aja habis itu makan,” lanjutnya memutuskan karena jika memberi Ane tawaran atau pilihan pun Ane pasti akan menjawab terserah atau justru tidak tahu.
Keduanya memasuki bioskop, mereka disuguhkan pilihan 4 film layar lebar, 2 film Indonesia dan 2 film barat. Mata Ane seakan fokus menatap sebuah layar yang menampilkan poster film Indonesia yang bergenre komedi—romantis, Bhanu pun yang tadinya bingung akhirnya bisa menentukan pilihan menonton film yang poster film sedari tadi Ane pandangi.
Bhanu memilih tempat duduk yang berada di tengah-tengah, tak lupa sebelum nonton Bhanu membeli cemilan untuk menemani mereka selama pemutaran film berlangsung. Deretan kursi yang Bhanu pesan rupanya diisi oleh kaum lelaki hingga ia putuskan untuk Ane duduk dipojok dan dirinya duduk tepat di samping penonton laki-laki lainnya. Ketika Ane berjalan menuju kursi, Bhanu berjalan agak miring ke kiri menutupi bagian tubuh belakang Ane agar tidak bersentuhan dengan laki-laki lain.
Bhanu memberikan minuman berserta popcorn dan cemilan lainnya pada Ane.
“Mas, kok kasih aku semua, punya mas mana?” heran Ane pada Bhanu karena cemilan yang dibeli Bhanu semua diberikan padanya.
“Iya, emang Mas beli buat kamu, gampang lah, Mas cukup sama ini,“ Bhanu mengangkat satu cup minuman berbahan dasar kopi pada Ane.
__ADS_1
Ane memutar bola matanya lalu kembali berkata, “ya udah ini buat kita berdua,” Bhanu hanya mengangguk saja sambil tersenyum. Keduanya fokus pada layar datar berukuran besar karena film telah di mulai, hingga 15 menit berlangsung, Ane mulai memakan popcorn sedangkan Bhanu terlihat anteng tak menyentuh popcorn atau cemilan lainnya. Ane memilih cuek saja, hingga tak terasa popcorn sudah setengah dari bungkusnya. Ane kemudian beralih mencomot waffle dan memakannya, matanya melirik Bhanu seakan tidak terganggu sama sekali, begitu fokus pada menonton film. Ane beralih pada bungkusan yang berisikan chicken burger yang wanginya begitu menggiurnya, ketika hendak menyicipinya, Ane berpikir jika ia harus menawarkan pada Bhanu lebih dulu bagaimana jika Bhanu sebenarnya ingin hanya saja malu padanya.
“Mas,” Bhanu saking fokusnya sampai tidak mendenga panggilan Ane. Hingga membuat gadis itu menyentuh tangan Bhanu tentu saja Bhanu langsung mengalihkan pandangan memerhatikan tangan Ane menyentuh tangannya.
“Maaf,” Ane menarik tangannya dan seketika raut kecewa dari Bhanu atas aksi Ane, padahal Bhanu ingin sekali merasakan sentuhan Ane padanya lebih lama, jujur saja sedari tadi Bhanu menahan diri agar tidak menyentuh atau menggenggam tangan Ane karena tidak ingin membuat Ane risih.
“Its okay, kenapa?”
Ane mengambil burger hendak diberikan pada Bhanu, “Mas mau coba?”
“Kamu udah coba?” bukannya menjawab justru Bhanu memberikan pertanyaan pada Ane—gadis itu menggeleng lalu Bhanu kembali berkata, “yaudah kamu coba dulu baru nanti Mas coba,”
“Tapi nanti bekas Ane dong, Mas! Kalau Mas mau gak papa makan aja, Ane makan wafflenya aja,”
“Gakpapa, lagian sama calon istri Mas sendiri, yaudah makan dulu,” ujar Bhanu.
Ane menjadi salah tingkah, mungkin saja pipinya telah merona. Ane kemudian mulai menggigit burger tersebut, matanya masih memerhatikan Bhanu yang telah fokus menonton film. Ane jadi berpikir kenapa Bhanu begitu yakin padanya. Ane akan mempertanyakan itu nanti. Bhanu meminum minuman miliknya, saat hendak menaruh cup itu ditempatnya, Ane meraih cup tersebut dan menggantikan burger yang telah ia icip namun ia menyodorkan burger di bagian yang belum Ane gigit.
“Makan dulu!” seru Ane menyipitkan matanya seakan mengancam Bhanu untuk segera mematuhi perintahnya. Bhanu mengarahkan mulutnya ke bagian yang telah digigit oleh Ane sontak saja membuat Ane terpaku beberap detik.
“Mas, kok gigit dibagian bekas Ane? Kan tadi Ane sengaja kasih bagian yang belum disentuh,” Ane mengerucut bibirnya mendelik pada Bhanu.
“Gak papa kan calon istri,” celetuk Bhanu tersenyum manis ke arah Ane.
Ane bukannya tersipu seperti tadi namun kini memasang wajah kesal bahkan ikut meniru ucapan Bhanu.
“Gak papa kan calon istri,”
Bhanu tertawa, “dosa loh, ngejek calon suami kayak gitu,”
Ane mengembungkan pipinya kesal, “yah, mas juga gitu, sih! Lagian Mas emang calon suami Ane? Sejak kapan?”
“Sejak tadi,”
__ADS_1
Ane spontan memukul lengan kekar Bhanu karena kesal.
“Tau ah, gelap!”
“Ya, emang gelap sayang, kan filmnya belum selesai,” timpal Bhanu.
Ane mau marah tapi tidak jadi, mendengar Bhanu memanggilnya sayang membuatnya merasa tak karuan, dalam hati kenapa Ane tidak merasakan risih atau jijik padahal selama ini jika Ane mendapat panggilan itu dari orang yang tidak begitu dekatnya akan merasakan risih dan jijik pada orang itu. Memikirkannya membuat Ane pusing sendiri dan memilih memutuskan kembali mengunyah cemilan di di pangkuannya.
Satu jam empat puluh lima menit, pemutaran film akhirnya berakhir. Ane dan Bhanu keluar dari bioskop, Bhanu mengajak Ane makan sebelum pulang. Sushi menjadi pilihan Bhanu, rasanya sudah lama ia tidak makan sushi dan disetujui oleh Ane.
Berbagai menu hidangan sushi tersaji di meja. Ada spicy crispy roll, salmon fried roll, aburi salmon Belly sushi, Chicken katsu dan spicy miso ramen serta minuman iced passion fruit tea dan strawberry froz tea.
Spicy miso ramen adalah pesanan Ane—gadis itu melahap makanan dengan khidmat sampai lupa pertanyaan yang akan diajukan kepada Bhanu sedangkan pria itu sama seperti Ane yang begitu nikmat memakan pesanannya yaitu chicken katsu dan tak lupa menyicipi satu persatu sushi yang dipesan. Mangkuk ramen Ane hampir habis, ia ikut menyicipi salmon Belly sushi dan yang lainnya. Di sela keduanya menikmati makanan dengan lahap, Ane tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
Sebelum berucap, Ane menyempatkan meminum strawberry froz tea miliknya dan melipat kedua tangannya di atas meja, pandangannya lurus menatap Bhanu sedang mengunyah.
“Mas,” sahut Ane, Bhanu mendengar itu mendongak menatap Ane, satu alisnya naik dan tatapan seakan mengatakan ada apa. Ane tak lantas bersuara, menunggu Bhanu selesai mengunyah habis itu barulah ia akan kembali mengajukan pertanyaan.
“Aku mau tanya sesuatu dan mas harus jawab jujur loh!” tuntut Ane yang diangguki oleh Bhanu kembali mengunyah sisa chicken katsu milik pria itu. “Mas, beneran suka sama Ane? Kok bisa?”
Bhanu masih mengunyah, ia tidak buru-buru menelan takut tersedak, habis itu ia meminum iced passion fruit tea hingga setengah.
“Mas juga gak tau, cuma yah pertama kali Mas lihat kamu yaudah mas suka dan Mas mencoba meyakinkan diri sama perasaan mas dengan berdoa ternyata setelah mas berdoa hati mas semakin yakin bukan cuma perasaan suka, tapi yakin insyaallah kalau kamu memang yang terbaik buat pendamping Mas,” jawab Bhanu penuh keyakinan seperti saat mendatangi rumah Ane dan bertemu Ratna dan Rangga.
“Padahal Ane anak yang manja loh, Mas. Banyak maunya, cerewet, kadang juga nyebelin, Mas-mas Ane aja kadang suka kesal sama Ane,”
Bhanu bertopang dagu memandang wajah Ane, “gak masalah, mas suka kok kamu manja,”
Ane memonyongkan bibirnya, lalu mengubah pernyataan mengenai dirinya, “gak deh, Ane itu mandiri gak suka nyusahin orang, malah Ane suka lakuin semuanya sendiri,”
Bhanu kembali menggelengkan kepala, “oh iya? Bagus dong, tapi tetap mas suka walau kamu manja, asal manjanya ke mas saja jangan sama yang lain,”
Ane menundukkan kepalanya dan meraih salmon fried roll lalu mengunyah dalam diam. Bhanu terkekeh geli, ia menegakkan tubuhnya masih menatap wajah Ane dengan serius.
__ADS_1
“Pokoknya mau bagaimana pun kamu, insyaallah Mas akan siap hadapi sikap manja kamu, cerewet, atau bahkan semandirinya kamu, karena Mas menerima kamu sebagaimananya kamu kalau memang kamu seperti ya sudah mas enggak bakal maksa kamu untuk jadi seperti yang mas mau,”
Ane menjadi bingung sekarang, ia sepertinya harus berdoa meminta petunjuk mengenai perasaan dan sikap yang akan diberikan pada Bhanu.