Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 30


__ADS_3

Di hari Sabtu kemarin, sepulang dari bekerja Bhanu bergegas menuju bandara. Pria itu akan melakukan penerbangan ke Yogyakarta, waktu libur dimanfaatkan Bhanu untuk melamar Ane secara langsung lengkap dengan membawa kedua orangtuanya ke rumah Ane. Semua telah disetujui oleh kedua belah pihak. Tak ingin menunda waktu lebih lama, baik keluarga Bhanu maupun Ane setuju juga jika hubungan Bhanu dan Ane harus segera diresmikan.


Tibalah hari ini, hari dimana Bhanu datang meminta Ane pada Ratna serta Rangga. Bukti keseriusan yang ditunjukkannya pada Ane beserta keluarga gadis itu, ia tak pernah main-main. Bhanu memakai kemeja batik begitupun dengan sang ayah sedangkan Sri menggunakan gamis brokat berwarna cokelat senada dengan warna batik yang dipakai Bhanu dan Hanung. Tak lupa ada gadis kecil memakai dress serta rambutnya dikuncir serta menggunakan jepitan kupu-kupu di kiri dan kanan rambut gadis kecil itu. Tentu mereka tidak datang dengan tangan kosong, sudah ada seserahan yang akan diberikan pada Ane.


“Om, anteng! Caca antik!” gadis kecil itu adalah Caca, hanya ia yang diperbolehkan ikut oleh Lingga sebab Satya sekolah di hari Senin jikalau Satya ikut takutnya Satya akan kelelahan. Bhanu hanya sehari semalam, Minggu malam Bhanu akan kembali ke Jakarta.


“Iya Caca cantik MasyaAllah,” Sri mencium pipi Caca gemas membuat empunya terkiki geli. Mereka memasuki rumah Ane dan di ambang pintu telah disambut oleh Ratna dan juga Rangga.


Caca melirik ke sekelilingnya, lalu ia menggoyang tangan sang nenek, “oma, ini lumah siapa sih?” tanyanya.


“Rumah Tante Ane,” jawab Sri.


Mata bulat Caca berbinar mendengar jawaban keluar dari bibir sang nenek, ia melepas genggaman tangan Sri dan berlari hendak memasuki rumah.


“Samikum ante antikna Caca, ante ooo ante Caca atang umah ante,” teriak Caca kini tubuh mungilnya berhasil mencapai pintu rumah Ane.


Mendengar suara teriakan bocah kecil, Ratna keluar bersama Rangga. Betapa kagetnya mereka melihat seorang bocah perempuan berdiri menatapnya polos.


“Assalamualaikum, aduh maaf yah cucu saya teriak-teriak,” Sri berdiri di samping Caca mengucapkan maaf pada tuan rumah.


Ratna tersenyum maklum bahkan ia meraih tangan kecil Caca sembari mengelus kepala gadis kecil imut itu.


“Walaikumsalam tidak apa-apa, aduh ada anak Sholehah datang ke rumah, cari Tante Ane?” kepala Caca mengangguk cepat. Ratna mempersilahkan keluarga Bhanu masuk tak terkecuali Caca yang kini lebih dulu masuk.


“Mana ante antiknya Caca, Oma?” tanya Caca pada Ratna belum melihat sosok Ane di dalam rumah.


Ratna terkekeh, lalu menyuruh Banyu yang kebetulan baru saja bergabung untuk memanggil Ane di kamar.

__ADS_1


“Bentar yah, Caca tunggu di sini dulu,”


Caca menurut, kini tubuhnya berada di pangkuan sang nenek. Kedua keluarga berkumpul di ruang tengah rumah Ane. Tak lama Ane muncul bersama Banyu yang menggandeng tangan sang adik. Ane terlihat cantik memakai gamis berwarna coklat susu bentu gamis tersebut begitu sederhana namun tidak mengurangi kadar kecantikan Ane. Caca memaksa turun dari pangkuan sang nenek berlari ke arah Ane.


“Antena Caca,” gadis kecil itu memeluk kaki Ane.


“MasyaAllah Caca cantik sekali," puji Ane pada Caca yang kini merentangkan tangan ingin digendong. Dengan senang hati, Ane meraih tubuh mungil lalu menggendongnya tak lupa memberikan kecupan ke pipi Caca yang juga dibalas oleh gadis kecil itu.


“Caca, sini nak sama oma lagi!” bujuk Sri tetapi Caca menolak keras bahkan mengeratkan tangannya di leher Ane.


“Biar Caca sama Ane aja Bu,”


“Maaf yah Caca repotin kamu terus,”


“Tidak sama sekali Bu,”


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, kita panjatkan puji dan syukur atas nikmat dan karunia-Nya kita bisa berkumpul dalam keadaan sehat wal-afiat, tak lupa salam dan shalawat kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Baik lah, saya selaku ayah dari Bhanu mengucapkan terimakasih atas sambutan hangat untuk kami, tentu kedatangan kami mempunyai maksud dan tujuan. Sebagaimana Sunnah Rasul dan pelengkap ibadah di dunia ini, anak kami Bhanu ingin menunaikan hal tersebut, menjadi seorang suami, kepala rumah tangga di bahtera rumah tangganya bersama istri. Maka dari itu kami meminta izin dan restu menjadikan ananda Ane sebagai istri dan pendamping hidup Bhanu serta menantu keluarga kami. Besar harapan kami, niat yang baik ini akan diterima baik pula,”


Jantung Ane dan Bhanu sama-sama berdetak kencang, gugup dan tegang tentu ikut mereka rasakan.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, terimakasih atas sambutan hangat dari ibu Ratna dan keluarga. Seperti yang disampaikan ayah saya bahwa maksud dan tujuan saya adalah ingin melaksanakan Sunnah Rasul dan melakukan ibadah panjang bersama Ariane Edith Callista, saya meminta izin dan restu ibu berserta keluarga untuk meminang Ane sebagai istri dan pendamping hidup saya. Saya tidak bisa berjanji banyak, namun saya akan selalu berusaha untuk menjadi seorang suami yang baik dan bertanggung jawab kepada istri saya kelak. Semoga niatan baik saya diterima oleh Ibu, keluarga khususnya Ane, terimakasih,”


Sri menatap sang putra tertua untuk bersuara lebih dulu sebagai perwakilan ayah mereka dan tangan Sri menggenggam tangan Ane yang begitu dingin, Sri mengerti apa yang dirasakan oleh putrinya tentu ia pun juga pernah merasakan hal yang sama ketika dilamar oleh suaminya kala itu.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT dan salam serta salawat kepada nabi Muhammad SAW. Saya selaku wali adiknya menggantikan almarhum ayah, tentu kedatang Bhanu beserta bapak dan ibu kami sambut dengan hangat apalagi datang dengan niat baik. Dari awal ketika saya bertemu dengan Mas Bhanu serta dengan keseriusannya terhadap adik saya, saya pun percaya jika Mas Bhanu bisa menjaga serta membimbing adiknya. Saya pun tidak pernah melarang Ane berhubungan dengan siapa pun, saya memberikan kepercayaan penuh ke pada adik saya dalam memilih pasangan hidup lagi pula itu sudah hak Ane dan menjalani kedepannya Ane sendiri jadi saya juga tidak punya hak melarang atau menghalangi selagi pilihan dia sosok yang baik dan bertanggung jawab kenapa tidak. Jadi intinya saya menyerahkan sepenuhnya kepada Ane, jikalau memang Ane menerima insyaallah saya akan merestui dan berdoa yang terbaik buat keduanya. Terimakasih,”


Ratna menghela napasnya pelan kemudian ikut bersuara, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sebenarnya saya mengucapkan terimakasih atas kedatangan ibu, bapak serta Nak Bhanu dengan niat yang baik, tentu seperti yang dikatakan Mas Rangga, ibu juga menyerahkan sepenuhnya kepada anak ibu, Ane. Jikalau memang Mas Bhanu adalah pilihan Ane Insyaallah ibu merestuinya. Ibu yakin terhadap Mas Bhanu bisa menjaga, menyayangi dan membimbing Ane menjadi lebih baik lagi. Ibu cuma berharap pada Mas Bhanu benar-benar bisa menerima baik dan buruknya anak ibu, kalau nantinya Ane salah tegur lah dengan baik dan jangan lah sekali-kali melakukan kekerasan, ibu sungguh sangat sedih jika itu terjadi, namun besar harapan ibu Mas Bhanu bisa menjadi suami dan imam yang baik untuk anak ibu. Mungkin Mas Banyu mau menambahkan?” Sri beralih pada putra keduanya yang sedari tadi diam, bagaimana pun Banyu juga wali dari adiknya sebagai kakak laki-laki menggantikan posisi sang ayah.

__ADS_1


Banyu menegakkan tubuhnya, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya cuma ingin menyampaikan satu hal bahwa jika nantinya rasa cinta yang Mas Bhanu rasakan memudar atau bahkan sirna tolong jangan menduakan Ane, kalau memang Mas Bhanu sudah tidak menginginkan adik saya tolong bilang ke kami, saya dan Mas Rangga akan membawa adik kami kembali, itu saja terima kasih,”


Semua mata kini tertuju pada Ane—gadis itu pun tersenyum menutupi kegugupannya. Ia melirik satu persatu, lalu berkata, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sebelumnya saya mengapresiasi kedatangan Mas Bhanu beserta ibu dan bapak atas bentuk keseriusan Mas Bhanu terhadap Ane dan juga Ane mengucapkan maaf karena membuat Mas Bhanu menunggu cukup lama atas jawaban Ane. Bismillahirrahmanirrahim, atas izin Allah SWT, ibu beserta kedua Mas Ane—” terjadi jeda sejenak dari ucapan Ane—gadis mengembuskan napasnya perlahan kemudian melanjutkan kalimatnya.


“Ane menerima lamaran Mas Bhanu sebagai suami serta pendamping hidup Ane. Mohon bimbingannya agar Ane bisa menjadi wanita serta istri yang baik buat Mas kelak, semoga keputusan ini memang yang terbaik untuk Ane dan juga Mas Bhanu beserta keluarga lainnya.”


Semua orang mengucapkan hamdalah, tak terkecuali Bhanu dalam hatinya tak henti mengucapkan syukur dan terimakasih kepada Allah SWT sang membolak-balikkan hati manusia, hingga tergerak hati Ane menerima lamarannya. Obrolan berlanjut ke penentuan tanggal pernikahan dan sesuai kesepakatan bersama jika pernikahan Bhanu dan Ane akan dilaksanakan bulan depan.


Hanung mengajak kedua kakak Ane untuk berbincang ringan tentang berbagai hal termasuk bisnis cafe Rangga dan Banyu. Ratna dan Sri pun ikut berbincang satu sama lain tinggalah Ane dan Bhanu beserta Caca di tengah-tengah mereka. Caca masih setia di pangkuan Ane enggan berpindah, Ane pun tidak mempermasalahkan hal itu bahkan kini Ane mengawasi Caca sedang memakan puding sesekali ia menyeka bulir puding di sekitar mulut Caca.


“Mas, Ane kok ngerasa lagi di lamar duda anak satu yah,” celetuk Ane.


Bhanu tertawa ia baru menyadarinya, kehadiran Caca seperti anak Bhanu. Apalagi Caca begitu dekat dengan Ane, persis layaknya ibu dan anak.


“Iya juga ya, untung Satya gak jadi ikut kalau iya udah kayak duda anak dua deh,” ujar Bhanu.


“Ante pudingna abis, mau lagi,” suara Caca menginterupsi keduanya mau tak mau Bhanu dan Ane mengalihkan perhatian mereka pada Caca kini menatapnya polos sembari menunjukkan cup sudah kosong.


Bhanu memutar bola matanya malas, dalam hati merutuki Caca terus menerus mengganggu waktunya saat bersama Ane.


“Biar om yang ambilkan,” Bhanu berdiri dari duduknya mengambil satu cup puding lagi untuk Caca.


“Bu, itu Caca diambil dulu dong, Bhanu jadi gak ada waktu ngobrol sama Ane,” rengek Bhanu pada sang ibu asik mengobrol dengan calon besan.


“Bocah e ra gelem males mokso ibu ntar nangis malah ribet,” balas Sri jengah pada Bhanu pasalnya membujuk Caca pisah dari Ane itu sangat sulit jadi Sri sudah malas sendiri bahkan capek apalagi kalau Caca sampai nangis.


“Sabar Mas, nanti juga setelah nikah kamu kan punya banyak waktu berdua sama Ane, tahan dulu,” ujar Ratna, Bhanu jadi malu dan tidak bisa protes lagi akhirnya hanya bisa pasrah dan pamit kembali duduk tak lupa cup puding untuk Caca.

__ADS_1


__ADS_2