Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 25


__ADS_3

Di hari Minggu yang cerah, Minggu yang sangat menyenangkan bagi laki-laki tampan yang memiliki profesi sebagai dokter. Hari ini akan mengajak sang pujaan hati untuk kencan, sebelum esok pagi Ane akan kembali ke Yogyakarta karena urusan Rangga di Jakarta pun sudah bisa ditinggal dan rencana Rangga akan ke Jakarta pekan depan namun Ane sepertinya tidak akan ikut sebab ia harus menemani ibunya di rumah, karena nyatanya Banyu akan ikut ke Jakarta, cafe pun akan dipercayakan kepada Raynand selama Rangga dan Banyu sedang di luar kota.


Bhanu akan mengajak Ane ke Dufan, sebenarnya atas permintaan gadis itu yang memilih menghabiskan waktu liburan di Dufan. Pukul 9 pagi, Bhanu baru saja selesai bersiap-siap dan hendak turun ke bawah. Bi Popon selaku orang yang mengurusi rumah, menawarkan sarapan pagi untuk Bhanu yaitu bubur kacang ijo karena Bhanu sudah request pada Bi Popon kemarin kalau ia ingin sarapan bubur kacang ijo.


Suara bel serta langkah kaki terdengar memasuki rumah Bhanu, sosok Lingga muncul menggandeng dua anaknya. Bhanu menukikkan alisnya tajam, matanya memicing curiga pada sang kakak yang pagi-pagi sudah berkunjung ke rumahnya apalagi membawa dua anak kurcil. Dipikiran Bhanu sudah dipenuhi kecurigaan pada sang Kakak pasti akan meminta bantuan yang mungkin saja akan merusak rencananya kencan bersama Ane.


Lingga membalas tatapan sang adik dengan tatapan setajam silet, “ngapain lihat mbak kayak gitu?” wanita itu melotot.


“Gak! Mbak ngapain ke rumah pagi-pagi gini? Jangan bilang mbak mau—” kalimat Bhanu terhenti.


“Benar sekali! Mbak titip anak-anak lucu ini yah sama kamu, mbak mau pergi sama Mas Randu dulu kondangan ke daerah puncak, kasihan kalau mereka ikut, mbak titip yah palingan malam mbak jemput mereka,” Lingga mengedipkan matanya membujuk sang adik agar mau tapi kalau pun Bhanu menolak, Lingga akan tetap memaksa sang adik seperti kebiasaan Lingga dan Bhanu tidak akan bisa menolak.


Lingga beralih pada kedua anaknya, ia berjongkok tepat di depan putra dan putrinya, “oke, anak-anak yang manis, kesayangannya bunda Lingga sama ayah Randu, kalian sama om Bhanu dulu yah, nanti malam Bunda jemput kalian, repotin om kamu gak apa-apa asal jangan nakal aja,” tak lupa Lingga mencium kening kedua anaknya bergantian sembari mengelus pipi gembul anak-anaknya. Lingga kemudian berdiri kembali dan menyodorkan kedua anaknya pada Bhanu tanpa sempat pria itu protes karena Lingga bergegas keluar rumah.


Bhanu menghela napasnya kasar, perhatiannya kemudian beralih pada Satya dan Caca yang memandangnya polos terutama Caca mata bulat gadis itu menatapnya penuh binar, isi kepala Caca sudah dipenuhi berbagai keinginan yang pasti akan di kabulkan oleh sang paman. Bhanu mengangkat tubuh mungil Caca naik ke atas kursi tak lupa mengajak keponakan tertuanya ikut bergabung.


“Mas Satya sama Caca, makan bubur dulu habis itu om ajak kalian jalan-jalan,” ujarnya pada kedua keponakannya. Dengan telaten Bhanu meladeni Satya dan Caca.


“Om, Mas Satya boleh minta tolong dibeliin pensil warna gak? soalnya kemarin Mas Satya udah minta di Bunda cuma Bunda belum sempat beliin,” ujar Satya sebelum menyendokkan bubur ke dalam mulutnya.


Bhanu mengangguk sebagai tanda persetujuan bahwa keinginan Satya akan dikabulkan, melihat itu Caca tidak ingin kalah, mulutnya yang sudah dipenuh bubur hingga belepotan sampai ke pipi gadis kecil itu.


“Om, om!”


“Telan dulu baru ngomong, Ca!” tegur Bhanu.


Caca menelan bubur di mulutnya secepat mungkin, tangannya mengusap bibirnya yang cemong hingga tangannya kini ikut kotor.


“Caca, mau mainan belbie apina belbie yang lambutnya walna bilu sama melah,”


Bhanu menaikkan satu alisnya lalu membalas perkataan Caca, “emang ada berbie rambut biru sama merah?” tanyanya tak percaya jika berbie berambut biru dan merah ada yang dijual.

__ADS_1


Caca mengangguk semangat, “ada, punyana Sela aja belbie na lambutna walna tuning,”


“Emang bener, Mas?” tanya Bhanu pada Satya asik melahap bubur.


“Mas gak tahu om,” jawab Satya karena memang Satya belum pernah melihat berbie milik Sera teman Caca.


“Oke, oke nanti kita cari pensil warna sama berbie, sekarang kalian lanjut habisin bubur,” Satya dan Caca tersenyum cerah tak lupa mengatakan terima kasih pada sang paman.


...****...


Ane berdiri di depan hotel tempatnya menginap, gadis itu menggunakan blouse berwarna Lilac dipadukan dengan celana jeans serta pashmina putih menutupi rambutnya. Ane melirik jam di tangannya, menunjukkan pukul hampir 10.30 WIB. Setengah jam yang lalu Bhanu mengabarkan jika pria itu sedang on the way menuju hotel.


Tak lama, mobil milik Bhanu terlihat lalu berhenti tepat di depannya. Pintu kaca mobil terbuka menampilkan dua penampakan bocah berbeda jenis kelamin, satu perempuan sudah ia kenali dan satunya ada bocah laki-laki belum pernah ia temui.


“Kalian pindah ke belakang yah,” pinta Bhanu tetapi keduanya kompak menolak. Ane tidak masalah, ia akan mengalah duduk di belakang namun ketika ia hendak membuka pintu belakang Caca menghalanginya dengan suara penolakan dan menyuruh Ane duduk di depan bersamanya dan Satya.


“Ante duduk sini sama Caca sama Mas juga,”


Bhanu meringis pelan melihat tingkah keponakannya, sehingga ia meminta maaf dan menjelaskan jika kakaknya meminta tolong menitipkan Caca dan Satya.


“Maaf yah, mbak Lingga lagi ada acara jadi nitip anak-anaknya ke Mas,” ujar Bhanu sedikit rasa sesal pada Ane.


Ane tersenyum sembari menggelengkan kepala seakan mengatakan jika dia tidak masalah dengan kehadiran Satya dan Caca. Bhanu mulai mengemudikan mobilnya membelah jalanan. Ane melirik bocah laki-laki di sampingnya duduk diam menatap lurus memandang mobil berlalu lalang.


“Hi, nama kamu siapa?” Ane berinisiatif untuk mengajak Satya berkenalan sembari mengulurkan tangannya pada bocah SD itu.


Satya memandang Ane serta membalas uluran tangan Ane, senyum manis tercipta di wajah imut Satya dengan coolnya Satya memperkenalkan diri pada Ane.


“Satya Pratama, Tante panggil Mas Satya aja seperti Bunda, Ayah, Om, Oma, Opa, Kakek, nenek dan Mbah uyut,” jelas bocah duduk di bangku sekolah dasar itu.


Ane mengacak rambut Satya gemas, Caca sedari tadi mengamati interaksi sang kakak bersama kekasih pamannya tak ingin kalah, ia juga ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Satya pada Ane. Gadis kecil itu meraih paksa tangan Ane kemudian memegang tangan Ane.

__ADS_1


“Nama atu, Marcha Wi Putli, pandil aja Caca sepelti Nda, Yayah, Om, Oma, Opa, Kakek, Nenek, Mbah uyut, Sela, Dini, Lala, Agas—”


Satya membekap mulut adiknya agar diam, bagaimana tidak Caca mengucapkan semua orang-orang terdekatnya bahkan seluruh teman main pun diucapkan Caca.


“Adek diam! Berisik, gak usah disebutin semua!” sungut Satya.


Caca mengembungkan pipinya, berkacak pinggang, matanya melotot pada sang kakak, “Mas Sat, diam! Caca kan gak nomong sama Mas, Caca nomongna sama ante antik, jadi telselah Caca wlee,” kini Caca menjulurkan lidahnya hendak meledek Satya.


Satya mencibir mengejek balik Caca, kedua jari telunjuknya menarik kedua ujung kiri dan kanan mulutnya sembari memeletkan lidah. Caca tertawa keras melihat ekspresi wajah konyol kakaknya bahkan mulut kecilnya mengatakan jika Satya seperti badut.


“Hahaha, Mas badut,”


Satya kesal langsung menerjang tubuh kecil adiknya hingga Ane ikut terguncang karena pergerakan Satya. Caca menangis keras ketika Satya mencubit lengannya. Bhanu menghela napasnya susah payah, ia memilih diam sedari tadi karena ia pikir hari ini Caca dan Satya hanya bercanda biasa saja tapi ternyata dugaannya salah.


“Mas Satya! Kenapa adeknya di cubit?” Bhanu melirik sekilas Satya dengan tatapan datar. Ia tidak suka jika Satya mulai main fisik, seringkali ketika keduanya bertengkar saat bermain bersama Bhanu, maka Bhanu akan bersikap tegas dan menasihati keponakannya agar tidak berperilaku kasar atau main tangan.


“Adek ejek aku!” seru Satya membalas tatapan sang paman dengan delikan sebal kemudian melirik adiknya sedang ditenangkan oleh Ane.


“Tapi gak gitu caranya! Mas kan boleh tegur adek, gak boleh main kasar kayak gitu, om gak suka yah mas mainnya seperti itu, kalau mas gak suka diledek adek kasih tahu adeknya pelan-pelan, ayo minta maaf sama adek!”


Satya masih kesal dengan tingkah menjengkelkan adiknya kadang-kadang, Satya bergeming tak mengindahkan perintah Bhanu. Ane melihat itu, ikut serta dalam meleraikan antara Satya dan Caca.


Satu tangan Ane berpindah mengusap kepala Satya membuat bocah itu menoleh ke arahnya, di dalam pikiran Satya pasti Ane akan ikut memarahinya tapi ternyata tidak, Satya tertunduk ketika Ane menatapnya dengan tatapa teduh dan lembut tidak ada tatapan intimidasi terpancar di kedua bola mata Ane.


“Mas Satya, anak baik, anak Sholeh, kalau lagi main sama siapa pun itu, tidak boleh mencubit atau melakukan hal-hal membuat orang sakit yah? Sekarang Tante tanya, Mas Satya kalau dicubit sakit gak? Apalagi sampai merah bekas cubitannya. Adek masih kecil, kalau Mas Satya gak suka omongin baik-baik sama adek, gak baik main cubit seperti itu, apalagi Caca kan adeknya Mas Satya, harusnya Mas Satya jaga adek jangan sampai adek terluka atau menangis, lain kali Mas Satya jangan seperti itu, yah?” Satya mengerakkan kepalanya naik turun walau walau bocah itu menduduk. Ane mengangkat dagu Satya agar melihat wajahnya, Satya sepertinya sudah mulai menyadari kesalahannya.


Satya mencium pipi adiknya sembari mengucapkan kata maaf pada Caca walau Caca langsung memeluk erat leher Ane dan menenggelamkan wajahnya di celuk leher Ane yang tertutupi hijab. Satya sedih atas sikap Caca seolah belum memaafkannya.


“Caca, Mas Satya minta maaf tuh, di maafin gak?” ujar Ane yang mendapatkan gelengan saja dari Caca. Ia mengerti suasana hati Caca masih tidak baik. Ane pun memberikan pengertian pada Satya agar bocah laki-laki itu tidak bersedih karena sikap Caca.


“It's Okay, Caca udah maafin Mas Satya kok,” elusnya lembut kepala Satya.

__ADS_1


Interaksi antara Ane dan dua keponakannya—Bhanu diam-diam menyembunyikan senyumnya, perasaan haru dan hangat merasukinya apalagi melihat jiwa keibuan Ane, otaknya seakan berimajinasi kehidupan rumah tangganya nanti bersama Ane apalagi ketika mereka telah dikaruniai anak, mungkin yang terjadi barusan akan Bhanu dan Ane alami ketika anak-anak mereka bertengkar. Keyakinan terhadap Ane sudah tidak bisa diragukan lagi oleh siapa pun, Bhanu akan berusaha lebih keras lagi agar Ane segera menerima lamarannya.


__ADS_2