
Ane tengah sibuk belajar meracik minuman di tempat kakaknya diajar salah satu barista, pemuda berkulit sawo matang dan bermata sedikit sipit serta wajah layaknya orang Korea pemuda itu bernama Raynand. Karyawan pertama yang direkrut oleh Rangga dan Banyu sejak awal berdirinya cafe.
Pagi tadi Ane memutuskan untuk ikut bersama sang kakak menghabiskan waktunya di cafe, ia sudah memutuskan untuk membantu sang kakak di cafe selama ia belum memiliki pekerjaan. Dari pada Ane menganggur di rumah dan tidak memiliki kegiatan lain. Raynand begitu sabar mengajari Ane mulai dari memberitahu takaran gula, susu, kopi serta bahan lain untuk membuat minuman.
Suara Banyu menghentikan aktivitas Ane menuangkan susu ke dalam cup minuman, “dek, hp kamu bunyi, nih! Ada telepon dari Mas Bhanu,” secepat kilat Ane menaruh kaleng susu di meja dan pamit sejenak pada Raynand.
Ane meraih ponsel di tangan sang kakak lalu menggeser layar mengangkat panggilan tersebut.
“Assalamualaikum, halo Mas kenapa?”
“Walaikumsalam, gak papa cuma pengen nelepon aja, kamu lagi di mana?”
Ane sembari berjalan menuju ruang kerja sang kakak, “di cafe bantuin Mas Banyu sama Mas Rangga,”
“Oh gitu, boleh alih ke Video Call, gak? Mas kangen pengen lihat kamu,”
Ane mengigit bibirnya lalu mengiyakan permintaan Bhanu. Beberapa saat alihan panggilan suara ke panggilan video, keduanya bisa saling melihat melalui layar ponsel. Ane tersenyum malu melihat wajah Bhanu yang menatapnya apalagi kedua kakaknya turut memandangnya penuh arti.
“Mas kerja?” tanya Ane yang dibalas anggukan oleh Bhanu di seberang sana. Ane melirik Rangga dan Bhanu masih memandangnya membuat Ane malu dan salah tingkah.
“Ih Mas, jangan liatin Ane kayak gitu,” rengek Ane pada kedua kakaknya namun Bhanu salah paham mengira jika dirinya lah yang dikeluhkan oleh Ane.
“Loh kenapa kan Mas kangen lihat kamu, Mas suka kalau kamu ngerek kayak gitu, lucu!” Bhanu rasanya ingin memeluk Ane erat-erat dan mencubit pipi gadis itu saking gemasnya.
Ane mengerucutkan bibirnya lalu dengan kesal mengalihkan kamera belakang mengarahkan ke Rangga dan Banyu, ”bukan mas Bhanu! Tapi tuh Mas Rangga sama Mas Banyu!”
Banyu segera mengalihkan perhatiannya pada ponsel sedangkan Rangga stay cool bahkan ketika Bhanu menyapa dia membalasnya juga.
“Oh, hi, maaf kalau mengganggu kalian,”
__ADS_1
“Gak papa. Ane, kami keluar bentar yah, kamu di sini dulu kalau ada apa-apa telepon mas atau panggil Raynand di depan,” setelah membalas sapaan Bhanu, Rangga berinisiatif mengajak Banyu keluar, ia bukanlah tipe kakak yang posesif pada adiknya, makanya ia memberi ruang untuk Ane dan Bhanu mengobrol.
Rangga dan Banyu kompak mencium pipi dan kening Ane sebelum mereka keluar ruangan. Melihat itu, Bhanu merasa ingin melakukan hal yang sama, ia bisa gila lama-lama. Bhanu sebenarnya bisa saja melakukan itu, tapi ia tidak boleh sembarangan, mengingat Ane berbeda dari wanita lain dan ia sangat menghargai Ane serta menjaga kehormatan dan kesucian Ane hingga status halal mereka dapatkan.
“Mas udah makan?” Bhanu menggelengkan kepala sebagai jawaban. Ane melebarkan matanya dan mengomeli Bhanu seperti anak kecil bahkan tak sadar perlahan tingkah Ane jauh lebih perhatian dari sebelumnya. “Kok belum makan sih? Sakit loh, nanti! Katanya dokter tapi kok gak perhatian sama kesehatan sendiri. Dokter pasti tahu dong kalau menunda lapar berakibat apa, gimana sih! Sibuk periksa pasien boleh, tapi yah kesehatan sendiri juga jangan dilupakan. Kalau kamu sakit yang periksa atau tangani pasien siapa?”
Bhanu bukannya takut atau kesal diomelin oleh Ane, justru ia senang bahkan perasaannya makin besar pada gadis itu, ia suka cara Ane mengomelinya yang terkesan lucu dan gemas.
“Iya pagi tadi mas sarapan kok, ntar mas makan lagi, kamu gimana udah makan?”
Dengan polosnya Ane menggeleng kepala tapi setelah itu ia mengangguk, “u—dah!” ia sebenarnya juga sama belum makan, hanya saja ia malu mengingat tadi habis mengomeli Bhanu sedangkan dirinya juga melakukan hal yang sama.
Bhanu memicing matanya curiga, melihat gelagat aneh dari Ane, “bohong yah?”
“Iya ini Ane mau makan kok,” Ane berkilah, segera bangkit dari kursi berjalan menuju ruangan. Ketika kakinya melewati meja bar penyediaan minuman, Raynand menyapa Ane melihat sosok Raynand membuat Bhanu tak suka walau tak bisa melihat wajah Raynand tapi suara Raynand yang membuatnya kesal.
“Mau ke mana Ane?”
“Kamu balik di ruangan aja, nanti biar Mas yang pesanin,” perlahan Raynand mendekat dan menyuruh Ane kembali masuk..
“Tapi—”
“Udah masuk gih, rice bowl chicken katsu kan?” Raynand menyebutkan makanan favorit Ane di cafe itu.
“Iya, kalau gitu Ane masuk lagi yah mas, makasih!” Ane berbalik dan masuk ke dalam ruangan. Panggilan masih berlangsung, ketika melihat ke layar, wajah Bhanu terlihat jelas mengisyaratkan kekesalan.
“Siapa?” tanya Bhanu.
“Siapa apa?”
__ADS_1
“Itu, siapa yang tadi ngajak kamu ngobrol,”
“Oh, Mas Raynand, karyawan cafe,”
“Oh, kamu pakai cincin kan?”
“Iya,” Ane sudah bisa menduga jika Bhanu sepertinya cemburu.
“Bagus,”
Di seberang sana Bhanu terkaget-kaget ketika mendapati Kinan yang di dorong oleh Erina dan satu perawatan yang memegang infus.
“Papa dokter,”
Bhanu terpaku mendengar panggilan Kinan padanya, ia berjalan mendekati Kinan sambil memegang ponsel, panggilan video bersama Ane masih berlangsung. Erina tak sengaja melirik ponsel milik Bhanu dan melihat wajah cantik Ane di layar.
“Kinan mau ke taman, boleh gak papa dokter?”
“Eng—boleh, tapi sebentar saja yah,”
“Sayang papa dokter, sayang Mama juga,” ujar Kinan senang pada Bhanu dan Erina.
Ane yang mendengar itu hanya diam saja, ia tidak ingin menduga-duga atau berpikir aneh.
“Maaf mengganggu, Kinan gak berhenti merengek jadi saya bawa dia langsung ke sini,” ujar Erina memasang wajah sesal.
Bhanu tersenyum dan mengangguk saja, Erina pamit mendorong kursi roda Kinan.
“Mas, Ane matiin Video Callnya yah, Assalamualaikum,”
__ADS_1
Bhanu mengernyitkan dahi bingung, Ane mematikan sambungan telepon secara mendadak, ia mengerang kesal, takut jika Ane berpikiran negatif padanya.