Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 34


__ADS_3

Seluruh keluarga kini berada di Jakarta untuk menghadiri acara yang digelar oleh Bhanu khusus untuk teman serta rekan kerjanya. Tidak besar memang tapi masih bisa membuat para tamu undangan merasa senang dan turut dalam suka cita pernikahan Ane dan Bhanu.


Bhanu dan Ane mengambil tema outdoor untuk pestanya kali ini, bahkan baju yang mereka kenakan simpel tak seperti resepsi di Yogyakarta kemarin. Ane memakai long dress hingga mata kaki berwarna mint, memiliki potongan lengan balon dan bagian bawah menjuntai indah dengan bentuk ekor mermaid. Sedangkan Bhanu memakai setelan jas berwarna mint dan kemeja berwarna putih. Dress code para tamu undangan adalah putih dan mint sesuai tema. Tentu saja Ane terlihat cantik apalagi senyum tak pernah luntur dari wajahnya menyambut para tamu undangan. Begitu banyak ucapan selamat dan doa diberikan untuk kedua pasangan itu.


“Aaaa, selamat Ane, semoga Sakina mawadah warahmah, cepat dikasih debay lucu yah,” Qilla sangat antusias serta turut senang atas pernikahan Ane dan Bhanu.


“Pak dokter jagain sahabat saya loh, sabar-sabar hadapin tingkah Ane kadang cerewet, manja bahkan sikap nyebelin dia, pokoknya kudu sabar lah. Bahagia selalu love bird,”


“Terima kasih Qilla, selamat menikmati pestasnya juga yah,” balas Bhanu yang diangguki oleh Qilla.


Erina—wanita itu turut sebagai tamu undangan sesuai janji Bhanu tempo hari bahwa akan mengundang janda beranak satu itu. Erina datang memakai blouse putih dipadukan kulot panjang senada dengan warna blouse, Erina tampil serba putih. Rambutnya di gulung ke tengah dan menyisihkan beberapa helai di bagian depan, make up tipis digunakan Erina menutupi wajah letihnya. Bagaimana tidak, ia mulai sibuk bolak-balik kerja dan rumah sakit mengurus pekerjaan dan berkas pemindahan Kinan.


Erina menyapa pengantin, bibirnya melengkung ke atas membentuk senyum semanis mungkin agar kepedihan hatinya tak bisa ditebak oleh orang.


“Selamat yah dok, semoga bahagia dan segera diberikan keturunan,”


“Terima kasih, Bu Erina, semoga Kinan juga lekas pulih, maaf kalau sejauh ini saya sebagai dokternya belum melakukan yang terbaik,”


“Ah, tidak! Dokter sudah melakukan yang terbaik untuk Kinan,” Erina menatap Bhanu beberapa detik hingga berpaling ke arah Ane. “Selamat, semoga bahagia,”


“Terima kasih,” Ane tidak tahu harus membalas apalagi pada Erina.


Usai itu, Erina pamit langkahnya menuju meja yang menyiapkan minuman segar. Erina meraih satu gelas untuk menyegarkan tenggorokannya. Menelan segala kepahitan hatinya.


“We meet again, Erina!” suara itu terdengar jelas di telinga. Erina menoleh ke samping kanannya dan benar saja ia bertemu pria itu lagi.


“Teman atau rekan kerja Mas Bhanu?” tanya pria itu.


“Ah, saya ibu salah satu pasien dokter Bhanu. Kamu?”


“Rangga, kakak dari mempelai wanita,” yah pria itu adalah Rangga. Sejak awal jumpa, ketertarikan pada Erina datang begitu saja pada dirinya. Tak bisa dilupakan, bayang-bayang wajah Erina selalu menghantui, bahkan semesta seakan mendukungnya untuk terus bertemu Erina.


“Oh, kalau begitu saya pamit soalnya saya gak bisa lama-lama, anak saya menunggu di rumah sakit, permisi!”


“Tunggu!” Rangga tanpa sengaja menarik lengan blouse Erina.


“Maaf kalau saya lancang, apakah sudah menikah?”

__ADS_1


Erina sebenarnya tak nyaman atas pertanyaan itu tapi tak ada salahnya ia menjawab jujur pertanyaan itu.


“Saya janda anak satu,”


“Oh, cerai?”


“Tidak tapi suami saya sudah—”


“Saya mengerti,” tanpa harus dijelaskan Rangga sudah paham. Rangga menghela napas lega sudah mengetahui status Erina walau seorang janda Rangga tidak mempermasalahkan hal itu yang penting Erina single.


Erina pamit lagi pada Rangga tetapi pria itu ingin menemaninya ke rumah sakit lebih tepatnya memaksa dan Erina tidak tahu apa yang terjadi padanya seolah tak berdaya menolak keinginan Rangga.


Sebenarnya Ane dan Bhanu melihat interaksi Rangga dan Erina, penuh tanda tanya tetapi Ane bisa menebak cara menatap Rangga ke Erina itu berbeda ada ketertarikan dari sorot mata Rangga layaknya seorang pria ke wanita.


Ane tidak ambil pusing, toh selama ini Rangga juga hampir tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mungkin sudah saatnya sang kakak menemukan tambatan hati bahkan kalau bisa sampai naik ke pelaminan.


“Capek banget, tapi alhamdulilah berjalan lancar,” tak terasa hari berganti kini menunjukkan pukul 9 malam. Acara dilaksanakan mulai pukul 4 sore dan sekarang para tamu undangan pun telah pulang tersisa para keluarga. Mereka semua bersiap untuk balik ke rumah, orang tua Bhanu akan menginap di rumah Lingga sedangkan Ratna, Rangga dan Banyu akan menginap di rumah Bhanu.


Semua sudah bubar, sampai di rumah Bhanu menyuruh Ratna segera istirahat di kamar yang telah disiapkan begitu pula Banyu. Rangga sampai sekarang belum terlihat batang hidupnya , entah kemana pria itu. Bhanu menunggu sang istri sedang membersihkan diri. Ia melepas kemeja membalut tubuh kekarnya sungguh sangat gerah.


Tak lama Ane keluar menggunakan gaun tidur, pandangan ini tentu bukan kali pertama Bhanu temui, jadi tidak ada rasa malu atau canggung untuk keduanya. Ane duduk di meja rias menyisir rambut, Bhanu menyusul dan mencium tengkuk leher sang istri yang beroma sabun.


“Sayang tolong ambilkan handuk!” teriak Bhanu dari dalam kamar mandi. Ane berdecak sebal mengambil handuk lalu memberikan pada Bhanu—pria itu tanpa dosa membuka lebar pintu kamar mandi sehingga Ane melihat jelas tubuh telanjang Bhanu.


Ane melebarkan pupil matanya dan bibirnya melongo. Bhanu mengedipkan mata menggoda sang istri, “mau ikut mandi?”


“Astaga, Mas! Tutup pintunya!” Ane membalikkan badan enggan melihat tubuh telanjang Bhanu lagi.


“Alah, kayak belum pernah lihat. Sok polos banget,” cibir Bhanu menutup kembali pintu kamar mandi dan melanjutkan sesi mandinya.


Ane memakai mukena keluar kamar hendak mengecek ibunya di kamar sebelah. Ane mengetuk pintu kamar, rupanya ibunya baru saja hendak baring di atas kasur.


“Eh, maaf Ane ganggu yah Bu?”


“Gak dong, kenapa dek?”


“Gak cuma mau ngecek ibu, yaudah lanjut istirahat aja Bu!”

__ADS_1


“Iya, selamat malam yah dek, istirahat juga tuh mas Bhanu udah nunggu di kamar gak baik loh buat suami nunggu lama,” Ratna mengedipkan mata sebelah kanan, Ane tersipu malu dan segera pamit kembali ke kamar.


Benar saja, Bhanu telah selesai mandi. Menyadari kehadiran sang istri, Bhanu segera merengkuh tubuh Ane sangat erat, tak lupa memberikan kecupan ke seluruh wajah Ane.


“Terima kasih, terima kasih sayangnya Mas, cintanya Mas, bidadari surganya Mas, istrinya mas, cantiknya Mas, pokoknya segala-galanya buat mas!”


Ane tertawa geli dan membalas pelukan serta kecupan di bibir sang suami.


“Sayang Mas banyak-banyak!”


Bhanu mengangkat Ane dan membaringkan tubuh mungil Ane di atas kasur.


“Mas mau itu lagi?” tanya Ane menelan ludah susah payah bukannya Ane tidak mau melayani hanya saja Ane masih malu-malu mengulang momen panas bersama Bhanu.


“Kita belum coba di ranjang mas loh! Mau yah?” bisik Bhanu dengan suara berat menahan hasrat.


Ane tidak mungkin menolak, bukan kah sejak awal Ane mengatakan jika kewajibannya sebagai istri melayani suami dan sudah hak suami mendapatkan kepuasan batin dari sang istri. Anggukan pelan diberikan Ane sebagai tanda jika Bhanu mendapatkan izin.


...****...


Di lain halnya, pukul 10 malam Rangga masih berada di rumah sakit menemani Erina. Rangga ikut prihatin atas kondisi dari Kinan dan entah mengapa ia langsung sayang pada gadis kecil itu, sama seperti Erina, Kinan juga berhasil merebut hati Rangga walau pertama kali jumpa. Bahkan Rangga kini sudah akrab dengan Kinan, Erina sendiri bingung dengan kedekatan Rangga dan Kinan begitu cepat.


Rangga beranjak dari ranjang setelah berhasil menidurkan Kinan sedari tadi gadis kecil itu merengek ingin dibacakan dongeng sama Rangga, dengan alasan ingin merasakan seperti anak-anak lain dibacakan dongeng dengan sang ayah. Erina tidak bisa protes atau mengusir Rangga karena kehadiran Rangga mampu mengisi kekosongan yang dirasakan Kinan.


Rangga melirik jam melingkar di tangannya ia harus balik sekarang, sebab Banyu terus menanyakan kabar darinya.


“Saya pamit dulu, yah. Kalau butuh bantuan hubungi saya, InsyaAllah saya akan datang dan jika nanti kalian akan ke Singapura tolong kabari juga,” Rangga mengetahui kepindahan pengobatan Kinan dari gadis kecil itu yang bercerita jika akan ke Singapura dan Erina juga menjelaskan tujuan ke Singapura padanya.


“Makasih, tapi maaf bukan kah ini berlebihan?”


“Maksudnya?”


“Kita baru saja kenal dan apa yang kamu lakukan hari saya pikir agak berlebihan, saya takut kehadiran kamu justru buat Kinan berharap lebih padahal sebenarnya kita sama-sama asing,”


“Saya mengerti, tapi saya melakukan ini ingin mengenal kamu lebih dalam. Saya tidak memberi harapan pada Kinan tapi mencoba menjadi sosok yang selama ini dia butuhkan. Izinkan saya mengenal kamu dan juga Kinan, saya tertarik, tapi sekarang maybe suka bahkan sayang sama kalian. Tolong jangan tanya kenapa karena saya sendiri tidak tahu jawaban yang tepat untuk itu, tapi satu hal yang kamu harus tahu, saya tulus sama kamu dan Kinan, tolong izinkan saya,”


Erina tak tahu harus menjawab apa, ia bingung ini begitu cepat dan tak terduga sama sekali. Hatinya baru saja patah hati atas cinta tak terbalas lalu kini datang pria asing ingin masuk ke dalam hidupnya. Erina diam seribu bahasa.

__ADS_1


Rangga memaklumi, ia merogoh saku celana mengambil dompet lalu mengeluarkan kartu nama dan memberikan kepada Erina.


“Simpan ini, tolong pikirkan niat baik saya. Saya serius dan tidak pernah bermain-main. Kalau begitu saya permisi, selamat malam istirahat lah,” Rangga menyelipkan kartu itu di tangan Erina kemudian berbalik meninggalkan Erina yang terpaku ditempat masih bingung dengan keadaan saat ini.


__ADS_2