Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 20


__ADS_3

Yogyakarta—Jakarta, sekitar kurang lebih 9 jam dihabiskan Ane dan Rangga menempuh jalur darat. Ane menemani sang kakak ke Jakarta meninjau ruko yang akan di sewa oleh Rangga untuk pembukaan cabang Cafe miliknya. Ruko itu sebenarnya milik teman lama Rangga, tepatnya teman semasa duduk di bangku SMP. Ruko itu lumayan besar dan lokasinya pun strategis. Rangga akan mencoba melebarkan usahanya hingga luar kota Yogyakarta.


Pukul dua belas siang, Ane dan Rangga telah sampai di Jakarta, Rangga menyewa dua kamar hotel selama 2 hari. Rangga membangunkan Ane tertidur, ia menggoyang lengan Ane pelan hingga perlahan gadis itu membuka mata. Ane mengerjapkan matanya berulang kali melirik ke sekelilingnya. Ane merenggangkan tangannya, usai itu meneguk air di botol hingga habis. Rangga meraih ransel miliknya dan juga Ane lalu turun dari mobil yang diikuti oleh sang adik.


Keduanya berjalan memasuki hotel, sampai di meja resepsionis, Rangga memesan langsung dua kamar usai itu mereka diantar oleh petugas hotel menuju kamar. Rangga menyuruh Ane beristirahat sejenak, ia juga ingin baring setelah melakukan perjalanan panjang. Malam nanti, Rangga mengajak Ane bertemu dengan pemilik ruko yang disewanya.


Ane merebahkan tubuhnya di kasur empuk hotel, ia melepas peniti dan melepas jilbabnya serta melepas ikatan rambut hingga rambutnya terurai. Ane hendak bersih-bersih tapi sebelum itu ia ingin merebahkan badan lebih dulu. Ane membuka media sosial, yaitu Instagram. Ane mengambil foto suasana kamar hotel kemudian diunggah melalui story Instagram tak lupa memberi tag lokasi.


Ditempat lain, Qilla beserta temannya sedang berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju luar rumah sakit, hendak ke rumah makan padang tepat di samping gedung rumah sakit. Sambil berselancar di dunia maya, Qilla berjengit kaget saat melihat story dari Ane berada di sebuah hotel di Jakarta. Tanpa menunggu lama, Qilla segera menghubungi teman SMAnya itu untuk memastikan langsung apakah Ane benar ada di Jakarta atau hanya status bodong alias prank.


“Assalamualaikum, kamu beneran di Jakarta, Ne?” suara Qilla cukup nyaring membuat beberapa orang menoleh ke arahnya termasuk mendapatkan pukulan ringan di lengan dari temannya, Qilla meringis mengucapkan kata maaf dan memelankan suaranya. Bahkan sosok Bhanu yang baru saja memasuki area rumah sakit dengan membawa bungkusan makanan bersama rekan sejawat pria itu.


Reza memanggil Qilla dan memaksa langkah kaki gadis itu terhenti tanpa mematikan sambungan telepon bersama Ane, Bhanu mengikuti langkah kaki Reza.


“Kamu mau ke mana?”

__ADS_1


“Ke rumah makan Padang sebelah gedung, dok!” jawab Qilla menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga. Bhanu yang tadi diam saja hanya menyimak, menyipitkan matanya tatkala tak sengaja memandang layar ponsel milik Qilla, apalagi tertera nama yang tak asing di layar ponsel Qilla.


“Ah, kebetulan sekali, saya nitip telur dadar Padang,” ujar Reza sembari memberikan satu lembar uang berwarna biru pada Qilla.


Qilla meraih uang tersebut kemudian bertanya apakah ada yang ingin dititip lagi atau tidak, Reza tidak menginginkan sesuatu lagi maka dari itu Qilla dan temannya pamit melanjutkan langkahnya. Qilla juga melanjutkan obrolannya bersama Ane.


“Jahat banget gak kasih kabar kalau di Jakarta, Ane pokoknya kita harus ketemu titik gak pake koma!”


Karena langkah kaki Qilla yang begitu pelan dan jarak antara Bhanu dan Qilla belum jauh maka Bhanu masih bisa mendengar suara Qilla sontak membuatnya menoleh dan memanggil Qilla kembali.


“Yaampun, apa lagi dok? Katanya udah gak ada yang mau dititip kok sekarang manggil lagi!” kesal Qilla belum tahu siapa yang memanggilnya, ia mengira jika Reza saat berbalik badan Qilla menjadi salah tingkah.


Bhanu mendekati Qilla, tangannya terulur menengadah ke atas seolah meminta sesuatu pada Qilla, mulut Bhanu berucap namun tanpa suara mengatakan ‘HP’ serta tatapannya mengarah ke ponsel gadis itu. Qilla hanya menurut dan memberikan ponselnya hingga benda itu berhasil berpindah ke tangan Bhanu.


“Assalamualaikum, ini Mas, kok kamu gak kasih kabar ke Mas?”

__ADS_1


“Ane takut ganggu Mas kerja, lagian Ane juga cuma dua hari kok,”


“Ganggu? Dua hari kamu bilang sebentar? Ane di dua hari itu Mas bisa ketemu sama kamu! Pokoknya kamu kirim alamat hotel ke hp Mas!” tuntut Bhanu memberikan ponsel Qilla kembali ke gadis itu.


Bhanu mengucapkan kata terima kasih dan berbalik menuju ruangannya yang diikuti Reza. Fyi, Reza dan Bhanu adalah teman semasa di bangku SD dan mereka di pertemuan kembali saat Bhanu bertugas di rumah sakit yang di mana Reza juga bekerja di tempat yang sama hanya saja mereka berbeda, Reza adalah seorang dokter kandungan dan Bhanu sendiri dokter anak. Namun begitu mereka hampir tiap hari selalu berjumpa di sela-sela waktu entah itu berpapasan atau pun memang menyempatkan waktu seperti sekarang ini mencari makan siang dan juga mereka mempunyai jam kerja yang sama.


“Bentar deh, bisa jelasin ke gue?” Reza mengernyitkan dahi menatap Bhanu tak mengerti.


“Teman Qilla calon istri gue,” ujar Bhanu lugas, Reza kaget karena setahunya Bhanu tidak dekat dengan siapa pun selama ini bahkan sangat jarang mendengar Bhanu bercerita tentang seorang wanita.


“Wait, calon? Sejak kapan? Apa kemarin pas Lo balik ke Jogja, Lo lamaran?” tuntut Reza penjelasan.


“Yah, bisa dibilang seperti itu, nanti lah gue cerita, gue balik ke ruangan dulu,” Bhanu belum ingin menceritakan bagaimana hubungannya dengan Ane, biarlah nanti waktu yang menjawab.


Setibanya di ruangan, Bhanu mengecek ponselnya dan Ane telah memberikan alamat hotel tempat gadis itu menginap.

__ADS_1


__ADS_2