
Sore hari, Bhanu tengah berbincang dengan sang ayah yang kebetulan belum balik ke Jogja dan rencana akan balik seminggu lagi. Hanung ingin menikmati waktu liburnya bersama anak dan cucunya di Jakarta. Hanung membantu Bhanu mencari informasi terkait prosedur dan persyaratan apa saja yang dibutuhkan untuk mengangkat baby Nai sebagai anak Ane dan Bhanu. Rupanya tidak segampang yang Bhanu pikirkan, ada persyaratan yang belum bisa ia penuhi yaitu usia pernikahan minimal 5 tahun sedangkan pernikahannya baru berjalan hampir satu tahun dalam waktu beberapa bulan lagi. Mau tak mau, Bhanu harus bersabar menunggu usia pernikahan menginjak 5 tahun agar memenuhi persyaratan.
“Tidak ada jalan lain, kamu harus sabar menunggu,” ujar Hanung sembari menyesap teh hijau hanget miliknya.
Bhanu mengangguk setuju, “mau bagaimana lagi.”
“Assalamualaikum, yah, Nu,” Randu baru saja tiba selepas dari kantor. Randu mencium punggung tangan Hanung lalu duduk di kursi kosong.
“Walaikumsalam,” jawab kompak Bhanu dan Hanung.
“Istri sama anak mu lagi di dalam kumpul sama yang lain,” tambah Hanung memberitahu keberadaan Lingga serta Satya dan Caca. Randu mengangguk saja, membiarkan para wanita berbincang di dalam, sedangkan para lelaki menikmati waktu senja di luar.
Di dalam rumah, tepatnya di ruang tengah, baby Nai bermain bersama Satya dan Caca. Baby Nai duduk di tengah Satya dan Caca, bayi kecil itu sedang memainkan boneka kelinci milik Caca bahkan ia menggigit gemas bagian telinga kelinci tersebut. Sontak saja Caca merampas boneka kelinci di tangan baby Nai.
“Ih, dedek jangan digigit dong, sakit nanti telingana boneka kelinci ebak! Ebak gak like dedek yah kalau main ditu!” sungut Caca memberikan tatapan serius pada baby Nai yang menatapnya polos.
“Apa sih Ca, itukan cuma boneka! Mana ada sakit, kasihan tuh dedek kasih aja bonekanya,” sahut Satya.
Caca mengerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, “no, no! Nanti telingana tupus, kalau digigit telus sama dedek, Caca nanti nda punya boneka kelinci lagi, mas mau ganti lugi emang?” alis gadis kecil itu naik menuntut pada Satya.
“Caca pelit sama dedek!” balas Satya sengit, pria kecil itu memberikan mainan mobilnya pada baby Nai sedari tadi hanya diam memerhatikan kedua kakak sepupunya. “Nih, main mobilan mas aja,” ujarnya di sambut tawa oleh baby Nai.
“Mmmmm...ma....ma...ss,” tangan baby Nai memegang mobilan Satya sembari menggoyangkan di udara menatap Satya senang.
“Kalau nomong tuh yang jelas, apa coba mmmmmm....ma...ma...ss,” ledek Caca mengikuti suara baby Nai.
“Kenapa sih Ca, mending minggir aja deh kalau gitu. Dasar, nyebelin!” Satya mendorong sang adik menjauh hingga Caca hampir terjungkal ke belakang sontak saja gadis kecil itu menangis kencang atesin para wanita dewasa pun menoleh ke arah Caca.
“Ya, ampun kenapa sih, ini mbak Caca nangis?” karena jarak Ane lebih dekat dengan para anak-anak jadilah ia lebih dulu menjangkau tubuh Caca naik ke pangkuannya tak memperdulikan perut besarnya namun begitu Lingga melihat itu langsung mengambil alih Caca karena mengkhawatirkan perut Ane jika memangku Caca.
Caca menyembunyikan wajahnya di dada sang ibu menangis sesenggukan, “kenapa nak?” tanyanya lembut.
“Mas dolong Caca, suluh Caca pelgi, mas jahat, Caca gak like mas!” jawab Caca disela-sela tangisannya.
Lingga menatap wajah putra sulungnya dengan tatapan tajam serta menuntut penjelasan apa penyebab Satya mendorong Caca.
“Caca tuh nyebelin Bunda! Suka ngejek dedek terus, pelit juga gak mau pinjamin dedek boneka, kan gak boleh pelit!” ujar Satya.
“Caca nda pelit!” sergah Caca cepat mengubah posisi duduknya menatap garang sang kakak, mulut kecilnya kembali bersuara, “dedek gigit telingana boneka ebak terus! Nanti kalau tupus gimana? Nanti ebak gak punya boneka lagi, yang mau tanggung jawab siapa? Dedek kan nda punya uang buat beli!” jelasnya.
Ane meringis tak enak hati, walau jelas baby Nai tidak sengaja karena belum tahu betul apa yang dilakukan bayi itu, Ane meraih baby Nai namun bayi itu menolak dan melemparkan mobilan Satya ke sembarang arah merangkak menuju tempat Lingga dan Caca.
Baby Nai berhenti merangkak dan bersusah payah mengubah posisinya menjadi duduk bahkan hendak memanjat menggapai tubuh Caca di pangkuan Lingga.
“Aduh, sayang sini Tante pangku juga!” Lingga meraih tubuh baby Nai duduk di paha kirinya. Tangan mungil baby Nai naik menyentuh wajah Caca, “tuh, adeknya minta maaf katanya, maafin adek Nai yah mbak Caca! Jangan nangis lagi,” bujuk Lingga menirukan suara anak kecil mewakili baby Nai masih setia memegang wajah Caca dengan tatapan polosnya. Bayi itu seolah mengerti dan bermaksud ingin menenangkan Caca.
__ADS_1
“Dedek nda boleh gigit boneka ebak lagi, nanti tupus telingana, ebak jadi nda punya boneka lagi nanti,” balas Caca sedih.
“Ya...ya...ya...” mulut kecil baby Nai bergerak lucu sembari bersuara yang menjadi jawaban atas ucapan Caca entah bayi itu mengerti atau tidak. Semua orang terkejut mendengar suara lucu baby Nai, namun begitu senang melihat keakraban Caca dan Nai lagi.
“Tuh, adeknya bilang iya. Di maafin gak adeknya?” Caca mengangguk sebagai jawaban dan memeluk baby Nai.
“Gini nih, kalau punya anak sama-sama cewek, mungkin kayak gini bakal sering kamu alami, Ne, apalagi kalau anak kamu cewek, sabar-sabarin aja,” tambah Lingga.
Ane tersenyum membayangkan kejadian itu, lucu sekaligus menguji kesabaran di waktu yang bersamaan. Perihal jenis kelamin, Ane sengaja tidak ingin tahu jenis kelamin anaknya biar menjadi kejutan, pada awalnya Bhanu menolak ingin tahu tetapi Ane terus bersikeras jadi ia hanya pasrah saja walau begitu Bhanu berkeyakinan jika anaknya cewek.
...****...
Ane sempat kecewa mengenai persyaratan pengangkatan baby Nai karena ingin segera mengakui secara hukum jika baby Nai adalah anaknya, walau begitu ia harus bersabar menunggu usia pernikahannya berusia 5 tahun.
Bhanu mengusap lembut perut besar sang istri tak lupa sesekali melayangkan kecupan mesra di kening wanitanya.
Ane menyandarkan tubuhnya pada sang suami di sampingnya, wajahnya menengadah menatap wajah tampan Bhanu lalu mengulurkan tangan mengusap pipi pria itu.
“Mas boleh nanya sesuatu gak?”
“Hm, boleh, apa?” jawab Bhanu menatap wajah sang istri sekilas dan kembali fokus pada perut buncit istrinya.
“Sebelum kita nikah, mas punya pacar atau dekat gitu sama cewek lain?” Bhanu memalingkan wajah, menaikkan satu alisnya atas pertanyaan Ane, mengapa Ane baru bertanya soal ini padanya? Melihat ekspresi wajah sang suami Ane ikut merengut, “kenapa? Mas kok gitu banget mukanya,” lanjutnya.
“Yah, gak apa-apa, mau tau banget atau mau tau aja, nih?” goda Bhanu yang mendapatkan cubitan gemas dari sang istri.
Bhanu tertawa geli sambil mencuri satu kecupan di bibir sang istri lalu menjawab, “iya pernah!”
Ane merengek lagi karena Bhanu menjawab setengah-setengah dan tidak menjawab rasa penasarannya.
“Cerita!”
“Pengen tau banget nih? Yakin gak cemburu habis dengar cerita mas?” alis Bhanu naik turun menggoda sang istri.
Ane memanyunkan bibirnya lucu dan menggelengkan kepala, “yang penting nikahnya sama Ane! Bahkan udah punya dua anak aja, jadi buat apa cemburu, Ane bahkan bebas nih mau peluk, pegang, sampai cium pun udah halal, jadi untuk apa cemburu!”
“Yaudah, coba peluk, pegang sama cium mas! Sini, katanya bebas kan ya udah sini!” tantang Bhanu.
Ane memicingkan mata memberikan cubitan kecil di perut sang suami, “modus! Cerita ih! Keburu Ane ngantuk!”
Bhanu mewakili sang istri, memeluk, memegang dan mencium wanita dicintainya itu. Ane merengut sebal Bhanu mencuri kesempatan itu.
“Haha, oke, mas cerita, tapi janji loh gak boleh cemburu!” Ane mengiyakan dengan anggukan kepala. Bhanu menarik napas pelan lalu kembali berkata, “jadi setahun sebelum mas balik ke Yogya dan bertemu kamu, mas baru saja putus dari mantan mas! Kami dulunya teman kuliah, cuma baru dekat pas menjelang akhir semester karena kebetulan kita punya dosen pembimbing yang sama dan kami pun juga coas di rumah sakit yang sama sampai akhirnya mas memutuskan mengambil spesialis sedangkan dia tidak tapi hubungan kita masih berjalan—”
“Wait, mas pacaran berapa tahun?” potong Ane tak sabaran.
__ADS_1
“Hm, sembilan jalan sepuluh tahun, maybe, mas juga udah lupa!” jawaban itu membuat Ane melebarkan mata kaget.
“What? Selama itu? Kok bisa putus?” tanya Ane masih dengan ekspresi terkejutnya.
Bhanu mengangkat bahunya cuek, “karena gak jodoh dong sayang, gimana sih!” ujarnya gemas menarik hidung mungil istrinya.
Ane menyingkirkan tangan sang suami, rasa penasarannya masih menguasai, “ya iya lah, kalau jodoh, Ane gak bakalan ada di sini mana perut Ane buncit gini!” sungutnya sebal.
“Haha, gemas banget kalau lagi cemburu gini,” Bhanu membingkai wajah sang istri mengecup seluruh wajah istri cantiknya itu.
Ane memukul dada bidang Bhanu agar pria itu segera berhenti.
“Ih, cerita dulu yang jelas!”
“Oke-oke, bumil sayang! Jadi mas putus karena dia gak mau diajak nikah padahal mas dulu tuh pengennya nikah muda gak sampai umur tiga puluhan baru nikah cuma yah udah takdir. Jalan lima tahun hubungan kami, mas udah coba tuh buat ajak serius mas juga udah sering banget bahas soal nikahan, cuma dia bilang belum siap, yaudah mas ngalah dan nunggu sampai mas udah masuk usia kepala tiga dia masih belum siap buat nikah. Mas juga gak bisa menunggu lama dan maksa dia. Ibu sama ayah udah ngebet pengen lihat mas nikah dan punya cucu. Mas udah bujuk, udah kasih masukan, pendapat, support semua mas lakukan buat dia bebas dari keraguan dan ketakutannya, dia takut tidak bisa menjadi istri yang baik buat mas, dia juga takut kalau pernikahan tidak berjalan sebagaimana yang ia pikirkan dan berujung pisah. Dia anak broken home makanya agak sulit untuk menerima tentang pernikahan,”
“Jadi, dia trauma maksudnya?”
“Iya bisa dibilang seperti itu,”
“Kasihan, terus sekarang kabarnya gimana?”
“Kalau itu mas kurang tahu, cuma yang mas dengar sih dari teman-teman sekarang dia tinggal di Bali, soalnya habis putus dia benar-benar udah gak pernah hubungin mas, mas udah pernah coba buat kontak dia cuma gak ada respon sama sekali, mas pikir walau kami putus bukan berarti silaturahmi juga ikut putus kan, walau bagaimanapun kami sebelumnya adalah teman,”
Ane manggut-manggut, “berarti mas tipe cowok setia banget nih yah?"
“Wah, jelas kalau itu jangan diragukan lagi! Mas tuh, kalau udah sayang atau cinta nih sama orang susah buat lepas, mas juga gak senang berbagi dan membagi! Maunya satu yah satu, jadi mas harap kamu gak boleh ragu soal kesetiaan karena insyaAllah mas akan setia, oke mama sayang?” Bhanu mencolek dagu sang istri yang kini tersipu malu.
Ane mengangguk memeluk Bhanu, menghirup aroma khas dari suaminya.
“Mulai sekarang, baiknya kita ubah panggilan deh, baby Nai tuh lagi masa belajarnya buat bicara dan udah bicara meniru apa yang ia dengar serta lihat, jangan sampai dia manggil mas bukan papa lagi,”
“Hahaha, kayak manggil mas Satya gitu?”
“Iya, yakali kan, mas kan papanya jadi harus panggil papa!”
“Iya papa sayang,”
Bhanu melebarkan senyum mencium bibir sang istri mesra.
“Semoga rumah tangga kita selalu diberkahi Allah SWT yah, pa! Keluarga kita bahagia, rukun, sehat dan bisa saling sayang,” bisik Ane setelah ciuman mesra Bhanu—pria itu mengangguk setuju.
Bhanu meraih kedua tangan Ane lalu mengecupnya cukup lama, “kalau papa ada salah atau ada sikap yang menyakiti mama, tolong tegur papa, karena terkadang manusia tidak menyadari kesalahannya, maka dari itu gunanya untuk saling mengingatkan agar rumah tangga kita juga rukun, sebab komunikasi antara mama dan papa lancar, pokoknya apapun yang menjadi beban pikiran kamu cerita sama papa, oke sayang?”
“Iya, terima kasih selalu menjadi suami dan papa yang terbaik buat mama dan anak-anak!”
__ADS_1
Keduanya kembali saling berpelukan mesra setelah pillow talk.