Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 13


__ADS_3

Ratna dan Rangga heran melihat mobil asing terparkir di depan rumah. Ibu dan anak itu celingukan melihat ke arah rumah. Ratna turun lebih dulu lalu disusul Rangga sembari mengambil tas belanja sang ibu. Ratna masuk ke dalam rumah, ia menghentikan sejenak langkah kakinya melihat sosok punggung tegap berdiri di depan pintu dan terlihat sedang berbicara dengan putrinya. Melihat dari postur badan serta suara, Ratna seperti mengenali sosok itu.


Suara obrolan samar-samar terdengar, ia melangkah kaki mendekat hingga suara pria itu terdengar jelas di telinganya.


“Jadi lah istri saya!”


“Gak!” spontan keluar dari mulut Ratna mempercepat langkahnya lalu menarik sang putri masuk ke dalam rumah. Ratna melihat sosok Bhanu pikiran Ratna menjadi aneh dan berpikir yang tidak-tidak.


“Ibu enggak setuju kamu jadi yang kedua, gak mau ibu juga gak mau kamu jadi perusak hubungan orang,” ujar Ratna penuh penekanan.


“Bu—” Ane tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Ratna memberikan kode agar tidak usah bersuara.


Bhanu merasa ada yang salah, Rangga ikut bingung dengan apa yang terjadi serta ucapan sang ibu.


“Maaf, jujur saya bingung ini kenapa, saya juga tidak mengenal, Mas, ah—iya, mungkin kita bisa ngobrol di dalam, mari Mas masuk,” ajak Rangga untuk mengobrol guna memperjelas semuanya.


Bhanu mengikuti langkah kaki Rangga dan sampai lah di ruang tengah yang dindingnya dicat warna krem, beberapa bingkai foto digantung di dinding. Bhanu melirik satu persatu foto dan matanya berhenti pada satu figura foto keluarga yang terlihat nampak bahagia, dimana sosok suami-istri duduk di sebuah kursi di sebelah kanan dan kiri mereka berdiri sosok anak kecil berusia 8 tahun dan 9 tahu serta satu sosok anak perempuan berkepang dua duduk di pangkuan sang ayah tersenyum manis sembari menaruh jari telunjuknya ke pipi tembamnya. Seulas senyum diwajahnya Bhanu melihat sosok anak perempuan kecil itu, ia sudah menduga jika itu adalah Ane.


Rangga baru saja meletakkan tas belanja sang ibu di dapur, muncul dan menyadarkan Bhanu lalu mengajaknya duduk di sofa. Rangga dan Bhanu berhadapan, sempat terjadi keheningan hingga Rangga membuka suara mempertahankan sosok Bhanu.


“Maaf, Mas siapa yah? Sepertinya ibu dan adik saya kenal,”


Bhanu mengangguk lalu menjawab pertanyaan Rangga sembari memperkenalkan diri, “Saya Bhanu, kebetulan ibu saya teman pengajian ibu kamu, kemarin saya ketemu sama beliau beserta Ane saat menjemput ibu saya di mesjid usai acara pengajian,”

__ADS_1


“Oh begitu, lalu kenapa ibu saya bilang adik saya akan dijadikan yang kedua jika menerima, Mas? Dan apakah Mas serius dengan omongan barusan soal meminang adik saya?” tuntut Rangga penjelasan pada Bhanu.


“Saya rasa ada kesalah pahaman, kemarin ketika saya bertemu beliau, saya bersama kerabat wanita dan mungkin mengira jika dia adalah pasangan saya tidak lebih, soal meminang Ane, tentu saya serius, saya tidak pernah bermain-main soal hubungan apalagi mengenai pernikahan, di umur saya yang sekarang sudah bukan waktunya untuk sekedar pacaran jadi saya memutuskan untuk langsung mengajak Ane menikah,” jelas Bhanu penuh keyakinan.


Rangga melihat keseriusan di dalam diri Bhanu, dari cara bicara dan tatapan penuh keyakinan dari Bhanu, namun begitu Rangga masih penasaran dan bertanya mengapa Bhanu bisa seyakin itu pada adiknya.


“Bukan kah, kalian baru saling mengenal? Kenapa bisa secepat itu?”


Bhanu memahami situasi sekarang, Rangga jelas tidak percaya begitu saja padanya.


“Jujur saja pertama kali melihat Ane saya merasa ada ketertarikan dalam diri saya ke Ane, dan mengingat usia saya juga sudah memasuki kepala tiga, jadi saya mencoba untuk mendekati dan mengajak Ane ke jenjang pernikahan. Saya juga tidak akan langsung menikah jika memang Ane menginginkan waktu untuk saling mengenal, pada intinya tujuan saya ke sini ingin meminta izin mendekati Ane,”


Rangga menganggukkan kepala saja, tanpa kedua pria itu sadari, Ratna beserta Ane ikut menguping di balik pintu kamar Ratna yang satu dinding dengan ruang tengah.


“Iya, ibu, cuma waspada aja,”


Ane memutar bola matanya, “iya boleh, tapi kan belum tentu pasti, Bu!”


Ratna mengernyitkan dahi lalu memberikan satu pertanyaan yang membuat Ane bungkam, “kok kamu sampai gitu? Jangan bilang kamu sebenarnya suka?”


Ane diam sejenak sembari menggaruk pipinya walau tak gatal, “ih, ibu! Tau ah!” lanjutnya.


Rangga datang hendak memanggil ibu dan adiknya ikut bergabung ke ruang tengah menemui Bhanu. Hingga mereka berkumpul di ruang yang sama.

__ADS_1


Ratna tidak enak hati pada Bhanu, ia pun berinisiatif untuk meminta maaf atas sikapnya tadi.


“Maaf yah, Nak! Ibu tidak tahu, ibu kira mbak kemarin pasangan kamu, maklum ibu cuma khawatir kalau Ane jadi perusak hubungan kalian,” sesal Ratna.


Bhanu tersenyum tipis, “gak masalah, saya mengerti perasaan ibu. Tujuan saya ke sini cuma mau menyampaikan dan meminta izin untuk mendekati Ane lebih jauh sebagai calon pendamping saya kelak, jika memang ibu dan Allah meridhoi,”


Ratna melihat sikap gentleman Bhanu membuatnya berpikir jika Bhanu memang serius pada anaknya. Matanya melirik ke arah Ane yang duduk di sampingnya menundukkan kepala sambil memainkan ujung bajunya. Tangan keriputnya meraih tangan sang putri menggenggamnya erat.


“Dek,” Ane mendongakkan kepala memandang wajah ibunya. “Gimana?” lanjut Ratna bertanya pada sang anak namun Ane hanya menggelengkan kepala serta tatapan yang seolah berkata tidak tahu. Ratna mengerti jika Ane butuh waktu untuk berpikir, karena Bhanu pun secara tiba-tiba datang dan mereka juga baru saja bertemu.


“Kalau ibu sendiri, tidak masalah jika, Nak Bhanu memang mempunyai niatan yang baik, tapi semuanya ibu serahkan pada Ane, jika Ane setuju maka silahkan, gimana, Mas?” lanjut Ratna kemudian beralih ke putra sulungnya meminta pendapat.


Rangga mengangguk mengiyakan sambil berucap, “ya, tergantung gimana Ane saja, lagian yang menjalani kedepannya Ane, saya cuma bisa mendoakan apapun keputusannya nanti itu lah yang terbaik,”


“Ane butuh waktu, untuk menjawab itu, apalagi Ane sama Mas baru kenal, belum pernah saling mengobrol satu sama lain, jadi masih butuh waktu untuk pengenalan, Maaf mas!” akhirnya keluar lah suara dari bibir Ane. Bhanu tersenyum mengerti perasaan gadis itu.


“Saya mengerti tidak masalah, kebetulan besok saya sudah harus balik ke Jakarta, jadi apakah hari ini saya bisa mengajak Ane keluar? Hm, mungkin sebagai awal pengenalan?”


Ane melirik ibu dan kakaknya, sebuah anggukan diberikan Ratna dan Rangga seolah mengizinkan Ane pergi bersama Bhanu.


“Boleh, Mas,”


Senyum senang terukir di wajah Bhanu, Ane pun pamit untuk bersiap-siap.

__ADS_1


__ADS_2