
“Bagaimana apakah kamu bersedia? Kalau memang kamu menerima dan siap untuk menunda maka saya bisa merekomendasikan kamu ke atasan saya, kebetulan dengan latar pendidikan kamu sangat relevan dengan posisi ini dan saya melihat kamu mempunyai skill komunikasi yang bagus,”
Ane meremas tangannya, menghadapi satu pilihan sulit untuk ia pilih. Ane mengigit bibirnya bawahnya bingung. Yah, wanita itu sedang mengikuti interview untuk kesekian kalinya namun kali ini sepertinya peluang cukup besar Ane dapatkan karena pihak perusahaan sama sekali tidak mempermasalahkan status pernikahan hanya saja soal anak.
“Bisa kah saya memikirkan hal ini lebih dulu? Saya harus membicarakan dan meminta persetujuan suami saya lebih dulu,” ujar Ane meminta waktu walau ia sendiri tidak yakin jika bisa menerima tawaran tersebut. Bahkan kini tangannya tanpa sengaja menyentuh bagian perutnya.
Pria yang menjawab sebagai kepala HRD itu mengangguk dan memberikan Ane waktu berpikir selama sehari dan ia ingin mendapatkan konfirmasi secepat mungkin. Sesi interview pun telah usai, sejak awal mewawancarai Ane entah mengapa ia merasa tertarik menarik Ane bergabung di perusahaan tempatnya bekerja, aura Ane sangat positif dan juga wanita itu memiliki skill komunikasi yang bagus dan baik tentu sangat diperlukan dalam pekerjaan.
Ane mengusap bulir keringat di dahi, ia menyalakan ponsel hendak memesan taksi online, ia merasa tak sanggup untuk naik ojek karena terik matahari dan hawa panas begitu terasa. Ane sungguh gerah, hampir lima menit menunggu akhirnya taksi pun tiba. Ane segera masuk ke dalam taksi, ia mengecek WhatsApp dan tidak ada pesan satu pun yang masuk bahkan dari sang suami padahal Ane sangat berharap jika Bhanu mengabarinya atau sekedar menanyakan apakah Ane sudah makan siang atau belum.
Ketika hendak memasuki kompleks perumahan, Ane memberhentikan taksi sejenak karena melihat ada penjual rujak dekat minimarket samping kompleks. Ane turun membeli rujak bahkan porsi double, melihat irisan buah-buahan serta saus rujak rasanya ingin segera menyicipi rujak tersebut sungguh nikmat menikmati rujak di siang hari. Setibanya di rumah, Ane langsung menuju dapur dan mengeluarkan bungkusan dan menjadikan satu ke atas piring dan saus rujak ke dalam mangkuk.
Lebih dulu Ane mencuci tangan habis itu mulai menyicipi rujak yang ia beli. Sangat nikmat bahkan saus kacangnya begitu enak. Tak butuh waktu lama Ane menghabiskan rujak tersebut tanpa sisa. Perut Ane menjadi begah dan kenyang. Ia beranjak mencuci piring, usai itu Ane memasuki kamar hendak mengganti baju. Daster rumah sebatas lutut serta berbahan lembut menjadi pilihan Ane, ia merasa lega menggunakan daster. Wanita duduk di atas kasur sembari kepala bersandar di sandaran ranjang. Ane berselancar di dunia sosial media, menghilangkan kepenatan sejenak.
Berbagai macam hot news dari seputar dunia entertainment ia dapatkan, tak jarang ia sedikit berkomentar mengenai berita tersebut walau hanya secara lisan saja. Merasa bosan, Ane mencoba membaringkan badannya dengan posisi menyamping. Pikirannya melayang memikirkan sesi interview tadi. Wanita itu mencoba menyingkirkan hal tersebut di kepala tetapi rasanya sulit, hal itu terus saja menghantui apalagi ia hanya memiliki waktu 24 jam untuk memberi konfirmasi pada pihak perusahaan.
Ane tidak bisa, ia harus mencari saran atau pendapat dari orang lain. Ane memutuskan untuk menelepon sang sahabat yaitu Hanna namun sepertinya gadis itu sedang sibuk terbukti berulang kali Ane mencoba menghubungi tetapi Hanna tidak juga mengangkat teleponnya. Ane kini beralih menelepon Linda dan langsung diangkat oleh gadis itu. Ane me-loudspeaker panggilan telepon.
“Assalamualaikum, Lin sibuk gak?”
^^^“Walaikumsalam, gak sih kenapa?”^^^
“Gue butuh teman curhat Lin, gue bingung banget sumpah!”
^^^“Kenapa sih? Cerita aja mumpung gue ada waktu nih, siapa tahu gue bisa kasih Lo masukan atau yah sekedar pendengar buat Lo,”^^^
“Gue, tadi kan habis interview awalnya gue gak nyangka bisa lulus berkas secara kan gue udah nikah bahkan waktu gue interview sumpah gue gak ekspetasi kalau peluang gue besar buat keterima dan gak mempermasalahkan status gue gitu mereka fine-fine aja,”
^^^“Yah bagus dong terus kenapa Lo bingung? Apa suami Lo ngelarang buat kerja?”^^^
“Gak Lin, mas Bhanu tuh bahkan dukung gue banget buat kerja, tapi yang jadi permasalahan adalah—” Ane menjeda kalimatnya sembari menarik napas dalam-dalam. “Gue hamil, Lin!” lanjutnya dengan nada lirih.
^^^“WHAT? SERIUS? TERUS GIMANA?” pekik Linda kaget.^^^
“Yah itu, gue bingung apalagi pihak perusahaan tuh maunya gue nunda dulu, tapi malah udah jadi Lin, gue bingung! Apa gue gugurin aja?”
^^^“ASTAGFIRULLAH! LO GILA, NE!”^^^
“Gue pengen kerja Lin! Gue pengen ngerasain jadi wanita kantoran, gue pengen kayak Lo juga kerja di kantor,”
__ADS_1
^^^“Ne, dengerin gue, semua orang punya jalan yang berbeda-beda. Dan Lo harusnya sadar sekarang Lo udah nikah gak single lagi, Lo harusnya mikir sejak awal gimana kalau Lo hamil disaat Lo masih pengen ngejar karir. Lo harusnya pikirin ini, atau emang sejak awal Lo gak omongin hal ini sama suami Lo?”^^^
“Gue lupa dan gue bingung sekarang, Lin! Gue mau gugurin aja mumpung mas Bhanu belum tahu!”
^^^“ASTAGFIRULLAH, ANE! NYEBUT-NYEBUT NE! JANGAN GILA DEH LOH!” Linda ikut emosi ketika Ane mengatakan ingin menggugurkan kandungan.^^^
Ane menangis, ia tidak tahu harus berbuat sedangkan dalam otaknya dipenuhi dengan obsesi menjadi wanita karir namun hati berkata lain bahkan terus berbisik lirih agar Ane tidak melakukan hal yang tidak-tidak.
^^^“Jangan pernah melakukan hal bodoh itu Ne! Dosa, Ne, Lo harusnya mikir anak itu juga rejeki, banyak diluar sana bertahun-tahun menanti momongan dan Lo Alhamdulillah dikasih kepercayaan dapat momongan cepat sama Allah harusnya bersyukur Ne. Jangan bodoh, jangan terpaku sama obsesi Lo semata. Lo egois kalau sampai mengorbankan anak Lo, apalagi suami dan keluarga Lo! Gak semua orang ditakdirkan jadi wanita kantoran, Ne! Ketika Lo gak jadi wanita kantoran pun bukan berarti Lo gagal atau Lo gak sukses, Lo bisa kerja jadi apa aja, Lo bisa sukses di bidang lain, gak harus Lo kerja kantoran, Ne! Rejeki orang berbeda-beda, segala sesuatu harus kita syukuri Ne, Lo gak bakal merasa puas dengan apa yang Lo dapat kalau Lo sendiri gak mensyukuri apa yang Lo punya sekarang!”^^^
****
Bhanu hari ini pulang satu jam lebih awal, sebab ia akan menghadiri seminar esok pukul 10 pagi di kota Bandung. Bhanu akan mengambil penerbangan pertama menuju Bandung sekitar jam 6 pagi. Rumahnya terlihat sepi, Ane tidak terlihat di ruang tengah. Namun yang pasti sang istri berada di rumah, kaki jenjangnya seketika berhenti tepat di depan pintu kamar. Suara obrolan terdengar jelas di telinga. Bhanu tidak bermaksud untuk menguping hanya saja obrolan tersebut begitu sensitif bahkan berhasil memancing emosi dan amarah Bhanu. Telinganya terasa panas mendengar ucapan sang istri begitu enteng dan egois.
“Yah itu, gue bingung apalagi pihak perusahaan tuh maunya gue nunda dulu, tapi malah udah jadi Lin, gue bingung! Apa gue gugurin aja?”
“ASTAGFIRULLAH! LO GILA, NE!”
“Gue pengen kerja Lin! Gue pengen ngerasain jadi wanita kantoran, gue pengen kayak Lo juga kerja di kantor,”
“Ne, dengerin gue, semua orang punya jalan yang berbeda-beda. Dan Lo harusnya sadar sekarang Lo udah nikah gak single lagi, Lo harusnya mikir sejak awal gimana kalau Lo hamil disaat Lo masih pengen ngejar karir. Lo harusnya pikirin ini, atau emang sejak awal Lo gak omongin hal ini sama suami Lo?”
“Gue lupa dan gue bingung sekarang, Lin! Gue mau gugurin aja mumpung mas Bhanu belum tahu!”
Sudah cukup, kuping Bhanu terasa panas, pria itu memilih untuk berbalik menuju ruang tengah. Bhanu menghempaskan tubuhnya ke sofa, amarahnya sedang bergemuruh dan siap untuk meledak. Bhanu mengatur napas, rasanya sangat sesak walau hanya sekedar bernapas saja, sungguh Bhanu sangat kecewa dan marah atas ide konyol sang istri. Tidak kah Ane sadar sejak awal wanita itu sudah berbuat salah bahkan sekarang Ane mau bertindak diluar nalarnya. Sungguh tega dan egois.
Padahal Bhanu pulang ingin bersantai dan beristirahat sejenak lalu packing untuk esok hari dengan hati yang tenang namun justru bertolak belakang yang ada kini Bhanu merasa hatinya sakit dan ada rasa takut jika Ane benar-benar melakukan hal bodoh itu.
“Mas Bhanu!”
Suara itu membuat Bhanu menoleh, tak jauh dari tempatnya duduk ada sang istri berdiri kaku di sana. Bhanu berdiri dari sofa melangkah mendekati Ane—wanita itu terlihat tidak baik-baik saja, apalagi mata sembab dan sedikit bengkak.
Tatapan Bhanu begitu tajam seakan mampu menghunus Ane di depannya. Tanpa kata Bhanu menarik tangan Ane menuju kamar. Ane mulai merasa suasana tegang dan perasaannya pun tidak enak, dalam otaknya sudah terbayang-bayang hal yang tidak-tidak. Mungkin kah Bhanu sudah tahu semuanya bahkan mendengar obrolannya tadi? Ane makin takut dan cemas. Ia juga tidak tahu Bhanu berada di rumah sejak kapan.
“Duduk!” titah Bhanu menyuruh Ane duduk di pinggiran ranjang. Ane menurut saja matanya mengawasi setiap gerak-gerik Bhanu di mana pria itu melangkah mendekati meja nakas lalu menarik laci mengambil obat yang selama ini Ane sembunyikan. Matanya terpejam dalam hati merutuki kebodohan dan berdoa agar Bhanu mau memaafkannya.
Bhanu mengangkat tinggi-tinggi obat pil di depan wajah Ane yang kini menatapnya penuh rasa takut bahkan kedua mata wanita itu berembun siap mengeluarkan air mata.
“Jelaskan sama mas! Kenapa kamu melakukan ini tanpa sepengetahuan mas!” tuntut Bhanu berusaha mengontrol nada bicaranya agar tidak mengeluarkan nada bentakan untuk sang istri, hatinya masih berusaha sabar walau itu sangat sulit.
__ADS_1
Ane seketika menunduk dengan rasa takut yang begitu besar dalam dirinya. Ane bahkan hanya bisa meremas tangannya sendiri serta bibir kecilnya bergumam lirih mengatakan maaf pada sang suami.
“Maafin Ane, mas! Ane salah, maaf!”
Bhanu meraih wajah Ane agar menatapnya dengan jelas, “jelaskan mas butuh penjelasan Ane! Kenapa?” mata itu masih menyiratkan kemarahan dan kekecewaan dalam diri Bhanu.
“Ane mau kerja jadi Ane minum pil itu—”
“Kenapa kamu gak ngomong sama mas? Kamu pikir mas ini siapa kamu, hah? Mas gak suka kamu berbohong, seperti ini! Sejak awal mas sudah tahu, yah ini penyebab mas berubah dan kamu bahkan tidak merasa bersalah sama sekali, padahal ketika kamu bertanya alasan mas berubah dan mas membalikkan pertanyaan itu ke kamu tapi kamu bersikap seolah tidak melakukan apa pun Ane!”
“Maaf, mas maaf—”
“Kamu pikir mas bukan suami pengertian, Ane? Selama ini bukan kah mas selalu mendukung kamu untuk bekerja? Lalu kenapa kamu meragukan mas, hm? Kamu melakukan semua ini seakan tidak percaya sama suami kamu sendiri, Ne! Jika sejak awal kamu ngomong mau menunda mas siap dan tidak masalah, tapi cara kamu ini salah! Sangat salah, kamu mengambil keputusan sepihak tanpa omongin ke mas! Mas suami kamu, kepala rumah tangga dan kamu tidak menghargai itu, Ne!”
Ane tidak tahu harus berkata apa lagi, ia sadar kesalahan yang sudah dibuat sangat fatal, hati Ane berdenyut sakit melihat kilat kemarahan dari tatapan sang suami walau nada bicara pria itu masih dalam nada normal justru itu yang membuat Ane semakin bersalah, mengapa Bhanu tidak membentak dirinya bukan kah ia salah?
Bhanu mengatur napas sejenak saking merasa sesak di dadanya, tangannya mengepal kuat hingga jari-jarinya memutih saking kuatnya. Bhanu rasanya ingin meluapkan emosinya mentah-mentah tapi itu tidak boleh apalagi sampai melukai sang istri.
“Sekarang jawab dengan jujur, kenapa kamu sampai tega mau menggugurkan anak kita, hm? Sebesar itu kah cinta kamu sama pekerjaan sampai kamu rela mengorbankan anak kita? JAWAB, NE!” ujar Bhanu penuh penekanan.
Ane tersentak, pikiran ini lah yang sedari tadi memenuhi isi kepalanya. Hal yang tidak diinginkan olehnya, Bhanu mendengar semua obrolan bersama Linda.
“Maaf mas! Ane lagi-lagi salah, Ane sadar, maaf!”
“Bisa kah kamu mengucapkan kata lain selain kata maaf? Mas butuh penjelasan yang ada di otak kamu sampai berpikir akan melakukan hal bodoh seperti itu!”
“Ane akui semua kesalahan yang Ane perbuat, Ane sadar kalau Ane sudah sangat keterlaluan, Ane janji tidak mengulangi kesalahan itu lagi, mohon mas maafin Ane! Tolong mas, Ane sadar Ane juga egois,”
Ane menangis tersedu-sedu memohon maaf atas segala kesalahan yang diperbuat ia sadar sangat sadar dan berjanji tidak akan melakukan hal bodoh itu serta mempertahankan janin dalam kandungannya.
“Ane janji tidak akan menggugurkan anak kita, Ane lebih mencintai anak kita, Ane sadar kalau Ane terlalu terobsesi dengan impian Ane untuk berkerja,”
“Jujur mas marah sekaligus kecewa sama kamu, Ne! Mas tidak habis pikir sama jalan pikiran kamu itu, apalagi selama ini kamu sangat senang dengan anak kecil lalu kenapa anak kamu sendiri mau—sungguh mas kecewa!”
Bhanu berbalik badan mengambil koper dalam lemari dan mengisi beberapa potong pakaian. Ia tidak kuat, ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan hati dan pikiran.
“Mas, tunggu mas mau ke mana? Mas jangan tinggalkan Ane! Maafin Ane mas!” Ane mengejar Bhanu tetapi pria itu nampak acuh padanya bahkan kini Bhanu berlalu begitu saja. Ane luruh di lantai menangis sejadi-jadinya, menyesali perbuatan yang diperbuat.
“Maafin mama sayang, papa kamu marah sama mama,” satu tangan Ane mengelus perutnya berbisik lirih seakan mengajak calon anaknya berbicara.
__ADS_1
...Assalamualaikum, gimana dengan bab ini apakah sudah dapat feel kesel, marah, sedih atau kecewanya? terimakasih setia menunggu cerita ini dari bab ke bab, aku gak pernah bosan ingatin kalian buat vote+like+comment karena itu sangat penting untuk aku dan mood buat nulis terus!!! 😊...
...Big Love ♥️...