
“Ante Caca mau tambah lagi pudingna,” Caca menggoyangkan lengan sang Tante asik menonton tv.
Sejak siang tadi Caca bersama Lingga berkunjung ke rumah, Ane yang pada saat itu sedang membuat puding bersama bi Popon berakhir dengan omelan Lingga beranggapan jika Ane tidak boleh banyak gerak, Lingga berubah protektif dan posesif pada sang adik ipar, bagaimana pun Ane mengandung calon keponakannya terlebih mengkhawatirkan kondisi Ane jika terlalu kelelahan.
Menjelang sore, Lingga pamit sebab harus menjemput Satya di tempat les. Caca yang enggan ikut bersama sang ibu dan terpaksa Lingga menitipkan anaknya pada Ane tak lupa mewanti-wanti Caca agar tidak nakal dan melakukan hal aneh agar tidak merepotkan Ane.
Ane menyuruh Caca diam di tempat sementara dirinya berjalan menuju dapur mengambil puding di dalam kulkas. Ane mengambil 2 cup puding sekaligus jadi ketika Caca ingin tambah ia tak perlu ke dapur lagi. Saat Ane berada di ruang tengah kembali, suara decitan mobil terdengar dan setelahnya suara gesekan besi pagar ikut terdengar. Caca yang tadinya anteng di sofa beranjak turun hingga kaki mungilnya berlari keluar rumah menyambut sang paman pulang kerja. Jam pulang Bhanu agak ngaret karena ia harus menunggu rekannya tiba di rumah sakit karena ada urusan di luar sana.
Caca melompat riang di depan pintu rumah sembari merentangkan tangan menyambut kedatangan Bhanu. Bagaimana tidak, selepas Bhanu ke Bandung mereka belum pernah bertemu lagi membuat gadis kecil Lingga rindu pada sang paman. Bhanu tertawa kecil melihat keriangan Caca menyambutnya pulang. Apakah ini simulasi ketika sudah lahir dan besar seperti Caca? Membayangkan itu saja rasanya hati Bhanu membuncah senang.
Bhanu berjongkok menyamakan tinggi badan Caca—gadis kecil itu langsung lompat dan Bhanu sigap menangkap tubuh gempal Caca.
“Kangenna, uh, om na Caca nih, bikin Caca kangen telus,”
Ane dan Bhanu saling pandang ketika Caca berucap, sungguh ajaib sekali mulut kecil Caca sudah pandai merayu.
“Tapi om gak kangen tuh,” balas Bhanu ingin mengerjai Caca.
Caca melepaskan tubuhnya dari Bhanu menatap sengit ke arah Bhanu, ekspresi wajah senang kini luntur sudah dari wajah Caca.
“Ya udah belalti Caca khilap kangen sama om! Caca gak like om lagi,” Caca berbalik badan mengampiri Ane namun baru beberapa langkah Bhanu mengunci pergerakan Caca dengan mengangkat tubuh gadis kecil itu tak lupa Bhanu mengecup pipi Caca gemas.
“Ututu, anak cantiknya om ngambek, om bercanda tahu! Om kangen pake banget nih sama Caca. Cium om dong, Ca!” ujar Bhanu mengarahkan jari telunjuk ke pipinya.
Caca tersenyum lebar lalu menuruti keinginan Bhanu, tapi otak cerdik Caca bekerja dengan baik, “udah! Om harus beliin Caca mainan lumah belbie, kan udah Caca cium, Caca nda telima plotes!” ujarnya memeras Bhanu lebih tepatnya meminta hadiah setelah menuruti keinginan Bhanu.
“Hm, kalau om gak mau gimana?”
“Halus mau! Kan Caca udah bilang nda TELIMA PLOTES! jadi om halus nulut belikan Caca!”
“Tapi uang om habis, gimana dong?”
Mata Ane membulat sempurna, bagaimana bisa Bhanu berbohong dengan alasan seperti itu. Ane mencubit perut suaminya yang mendapatkan ringisan dari pria itu.
“Gak boleh gitu, nanti kalau habis beneran gimana? Mas mau kasih makan Ane sama dedek apa?” bisik Ane galak.
Bhanu hanya menyengir tanpa dosa, Caca menggeleng kepala menaikkan jari telunjuknya dan digerakkan ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
“Dilalang boong! Boong tuh dosa, om mau masuk nelaka? Dilalang pelit juga, apalagi sama Caca yang cantik ini, om nda boleh gitu, nanti nda di sayang Allah lagi sama Caca sama ante juga, iyakan nte?” Caca mencari sekutu dan berharap Ane ada dipihaknya.
Ane dengan polosnya mengangguk hingga Caca bertepuk senang, “nah kan! Pokoknya om halus beliin Caca lumah boneka belbie!” serunya tegas tanpa penolakan.
Bhanu akhirnya pasrah saja. Mereka kini duduk santai di ruang tengah, menyadari jika Bhanu baru saja dari luar Ane langsung menyuruh sang suami bergegas menuju kamar untuk bersih-bersih.
“Astaga mas harusnya bersih-bersih dulu dong, baru sentuh Caca! Kan mas dari luar, kuman masih menempel di pakaian mas tuh, ah, mas lain kali jangan sentuh apa pun sebelum bersih-bersih,” omel Ane.
“Iya, maaf mas lupa, lagian Caca duluan sih—”
“Kok nyalahin anak kecil? Sana mending mas mandi sekarang!” potong Ane galak mengusir sang suami agar segera mandi.
“Huuh, om nakal sih jadi dimarahin ante,” seru Caca meledek Bhanu.
Bhanu mendengus sebal dan beranjak menuju kamar.
\*\*\*\*
Di ranjang berukuran besar terdapat 3 orang yang sedang menikmati waktu santai. Sepasang suami-istri sibuk mengamati satu bocah kecil duduk di tengah-tengah mereka sembari bermain boneka dengan mulut berkomat-kamit tak jelas seakan sedang berbicara pada boneka tersebut.
Ane dan Bhanu menonton aksi Caca seperti sedang berdongeng. Gadis kecil itu lagi-lagi ngotot menginap di rumah mereka dengan alasan Caca masih rindu pada Bhanu walau dibujuk oleh Lingga tetapi Caca menolak keras, Satya sebenarnya iri dengan sang adik bisa menginap dirumah sang om tetapi apa boleh buat ia sekolah besok pagi.
“Mas punya sesuatu buat kamu,” Bhanu kembali bergabung di atas ranjang bersama Ane dan Caca.
Ane menaikkan satu alisnya penasaran, Bhanu mengulurkan tangannya hingga nampak lah sebuah kotak persegi panjang berwarna merah beludru. Bhanu membuka kotak itu hingga kilauan dari isi kotak tersebut terpancar, mata Ane melebar tak percaya mendapatkan kalung indah dari sang suami. Bhanu mengeluarkan kalung tersebut dan memberi kode pada Ane untuk berbalik karena ia ingin memasang kalung tersebut langsung ke leher sang istri.
“Mas?” Ane menatap Bhanu masih tak percaya dengan pemberian Bhanu.
“Dalem? Kenapa sih kok mukanya kayak kaget gitu, wajar dong kalau suami kasih istrinya perhiasan,” Bhanu terkekeh geli melihat ekspresi sang istri.
“Makasih mas, tapi kapan mas belinya?”
“Waktu di Bandung, mas juga beli sesuatu buat dedek bayi nih,”
“Dedek bayi?” alis Ane naik tak mengerti sebab anaknya kan belum lahir lantas mengapa Bhanu ikut membelikan buat sang anak.
Bhanu mengulurkan tangannya yang memegang sebuah kotak persegi panjang namun berukuran lebih kecil dari milik Ane. Bhanu menyuruh Ane membuka kotak tersebut lagi-lagi Ane dibuat speechless oleh sang suami.
__ADS_1
“Mas tuh gak bisa nahan diri buat beli, pertama kali mas lihat dua gelang itu mas langsung suka yaudah mas beli,” ujar Bhanu—pria itu memang membeli dua gelang yang sangat indah dan lucu.
“Mas tapikan dedek bayinya belum jelas cewek apa cowok,” Ane bergumam pelan.
Bhanu mengangkat bahunya lalu berkata, “yah, gak masalah kalau pun dedeknya cowok bisa disimpan buat adeknya nanti,”
Ane mendesis sebal, menarik gemas bibir sang suami, “ih adeknya yang ini aja belum lahir,”
“Yah gak masalah, kan planning sayang,” sanggah Bhanu.
“Whatever lah mas! Eh, bentar berarti itu termasuk ngidam gak sih, mas beli semua ini apa jangan-jangan mas masih ada hadiah lain buat Ane?”
“Hm, ada gak yah?” Bhanu menempelkan jari telunjuknya di dagu seakan sedang berpikir. Ane merengek agar Bhanu tidak bersikap sok misterius seperti itu. Bhanu tertawa kecil lalu mengangguk menyuruh Ane diam di tempat sedangkan dia beralih mengambil bingkisan berisi baju hamil untuk Ane.
Bhanu menyerahkan bingkisan tersebut yang disambut meriah oleh Ane—wanita itu tak hentinya dibuat takjub atas semua hadiah yang diberikan. Ane berdecak kagum melihat baju hamil yang dibeli Bhanu, model dan motifnya memang sederhana tetapi di mata Ane baju itu sangat bagus untuk model baju ibu hamil. Ane menggoyangkan baju itu di tangannya, kedua bola matanya tertuju pada Bhanu yang mengisyaratkan rasa terimakasih, terharu dan senang atas semua hadiah yang dia dapatkan.
“Ternyata aku makin cinta, cinta sama kamu, hanya kamu lah seorang kasih ku—”
“Tak mau yang lain cuma sama kamu,”
“Hahaha,” tawa keduanya menguar.
Bhanu meraih tubuh sang istri mengecup kening Ane mesra. Pasangan suami-istri itu termenung sejenak karena tidak mendengar ocehan dari bocah yang sedari tadi mereka abaikan. Keduanya kompak menurunkan pandangan ke arah tengah di mana Caca sudah tertidur pulas dengan boneka berada dipelukan gadis kecil itu.
“Astaga, kasian banget, maaf sayangnya tante,” Ane meraih tubuh Caca sembari memperbaiki posisi tidur gadis kecil itu. Ane mengecup kening dan mengusap pipi Caca sayang.
Bhanu ikut melakukan hal yang sama seperti Ane, habis itu Bhanu meraih ponsel melakukan video call dengan Ratna dan Sri. Ane mengambil foto USG dan testpack, Bhanu mengarahkan kamera belakang pada dua benda tersebut agar ketika video call telah tersambung orang tua mereka langsung melihatnya.
“Assalamualaikum mas Bhanu—ya Allah, nak. Adek hamil?”
“Assalamualaikum mas—istri kamu hamil, mas?”
Bhanu dan Ane saling melirik dengan senyum merekah.
“Walaikumsalam iya ini dedek cucu Mbah,” jawab Ane menirukan suara anak kecil.
“Alhamdulillahirobbilalamin, MasyaAllah, akhirnya ibu dapat cucu,”
__ADS_1
Obrolan mereka pun berlanjut mengharu-biru membahas kehamilan Ane dan para ibu-ibu tak lupa memberikan wejangan pada Ane selama masa kehamilan.