Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 69


__ADS_3

Jika hubungan antara orang tua terjalin harmonis maka akan membawa energi yang sama pada anak-anaknya. Bhanu dan Ane akan selalu berusaha menciptakan suasana nyaman, mesra dan hangat bagi keluarga kecilnya, khususnya bagi mereka berdua, saling cinta dan menjaga hati.


Nai berjalan, kaki-kaki gemuknya melangkah pelan mendekat sang ibu sedang memangku sang adik. Nai menjatuhkan bokong montoknya di karpet, menepuk kaki milik Chana lebih mungil darinya, mendapatkan perlakuan tiba-tiba dari sang kakak membuat Chana merengut kaget.


“It's okay, adek, mbak Nai sayang adek itu, iya kan mbak?” Ane meraih tangan Nai agar mengelus kaki Chana lalu berujar lagi, “maaf yah adek, mbak bikin adek kaget,” ia mewakili Nai menirukan suara anak kecil.


Terkai hubungan Nai dan Chana memang sudah lebih baik dari sebelumnya, Nai mulai menerima dan tak lagi menolak berada di dekat Chana. Nai menarik tangannya dari genggaman Ane. Putri sulung Ane dan Bhanu itu berdiri dan berjalan tertatih ingin mengambil mainannya.


“Ka...ka...in,” Nai menarik tangan serta telinga boneka beruang miliknya serta menggoyangkan boneka itu naik turun.


Bhanu baru saja turun dari kamar, penampilan pria itu terlihat segar dan tampan. Ayah dua anak itu, mendekati sang istri serta anaknya. Satu kecupan mesra diberikan tepat di kening Ane tak lupa si kecil Chana—bayi kecil itu seolah mengerti kehadiran sang ayah nampak tersenyum menatap wajah Bhanu, kepalan tangan mungil milik Chana mengambang di udara. Bhanu gemas meraih tubuh Chana.


“Cantiknya papa, MasyaAllah, wangi banget sih,” Bhanu menghirup wangi khas bayi dari tubuh Chana.


Sang kakak—Nai—mendengar suara papanya sontak saja menoleh dan membuang bonekanya berjalan menghampiri Bhanu. Setibanya, Nai menarik kaki Chana cemburu. Nai merengek ingin digendong.


“Mbak Nai, adek jadi sakit kalau ditarik gitu kakinya nak. Baik-baik yah, dielus gini adeknya,” Bhanu meraih tangan Nai melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Ane tadi. Nai mengoceh tak jelas seakan protes.


Pelan-pelan meraih Nai agar duduk di pahanya sebelah kanan sedangkan di kiri ada Chana.


“Ca...ca...pa...pa...Ai!” mata Nai mengarah pada Chana seperti sedang mengomeli sang adik walau Chana menoleh ke arah yang lain.


“Ai? Mbak Nai?” tanya Ane memastikan jika kata ‘Ai’ yang dimaksud adalah Nai sendiri, anggukan pun diberikan Nai, tak sampai situ saja, Ane kembali bertanya, “Ca, adek Chana?” Nai mengangguk lagi.


Senyum lebar diukir oleh Ane, kosa kata Nai bertambah walau belum sempurna dalam penyebutan setidaknya Nai mulai menyebutkan namanya sendiri dan Chana.


“Papa, papanya mbak Nai dan adek Chana,” Ane bergeser lalu duduk tepat di depan suami beserta anaknya.


Nai menggelengkan kepalanya berulang kali sebagai tanpa protes, “pa...pa...Ai!”


Bhanu baru memahami apa maksud sang anak, ia tertawa pelan dan segera meluruskan ucapan sang anak.


“Eh sayangnya papa, anak papa ada dua, mbak Nai sama adek Chana, jadi papa ini punya kalian, papa juga sayang mbak Nai dan adek Chana, sayang banget,”


Ane menggerakkan tangannya secara bergantian menunjuk Bhanu, Nai dan Chana, “papa, papanya mbak Nai dan adek Chana,” ujarnya. Mata bulat Nai mengikuti setiap gerakan tangan dan bibir dari sang ibu sedangkan Chana sibuk menatap wajah Ane, “mama, mamanya mbak Nai dan adek Chana, mama dan papa sayang mbak Nai dan adek Chana,” lanjutnya. Chana nampak tersenyum lebar mengira jika Ane sedang mengajaknya bermain.


“Adek senyum? MasyaAllah cantiknya, sama kayak mbak Nai cantik,” Ane menyadari senyuman Chana.

__ADS_1


Ratna serta bi Popon baru saja datang dari pasar, kedua wanita paruh baya itu tersenyum melihat interaksi keluarga kecil Bhanu dan Ane. Sebelum menghampiri anak dan cucunya, Ratna ke dapur lebih dulu menyimpan belanjaan. Ratna menyuruh bi Popon untuk mengeluarkan bahan masakan makan siang nanti. Ratna mengambil mangkuk, menuangkan bubur sumsum yang ia beli di pasar bubur itu untuk sang cucu—Nai.


“Mbak Nai, Uti bawa bubur sumsum nih,” Ratna memasang senyum lebar memegang mangkuk.


“Ti, mam!” Nai turun dari pangkuan sang ayah, merangkak cepat menuju sang nenek. Nai anak yang pandai dan tidak rewel soal makanan justru anak itu suka makan jadi tanpa bersusah payah membujuknya mau makan.


“Nah, sini duduk yang manis,” Ratna menepuk karpet agar Nai duduk di depannya yang dituruti oleh sang cucu.


“Mam!” seru Nai dengan nada kencang.


“Sabar anak cantik, anak Sholehah,” tangan Ane menjulur menjangkau kepala Nai sambil mengelusnya pelan.


“Baca doa dulu, Nduk. Bismillahirrahmanirrahim,” Ratna mengucapkan doa makan sebelum menyuapi Nai yang disambut senang oleh bayi berusia setahun lebih itu.


“Enak?” tanya Ane.


Nai memamerkan gigi putihnya, tersenyum lebar, “hum, nak! Ti! Mam!” tangan mungilnya meraih sendok di tangan Ratna.


“Iya, ayo makan lagi,” Ratna terkekeh pelan kembali menyuapi sang cucu.


Bhanu mengingat jika ia harus segera ke rumah sakit karena urusan penting rapat bersama pimpinan rumah sakit, pria itu menyerahkan Chana pada Ane lalu pamit ke kamar mengganti baju.


Citra menurunkan kakinya lebih dulu dari dalam taksi, ia perlahan keluar matanya lekat memandang rumah Bhanu, memasok oksigen sebanyak mungkin, mengontrol diri agar tenang, ini kali pertama ia berkunjung ke rumah Bhanu selama pacaran dulu, atas keinginannya sendiri seluruh keluarga Bhanu juga tidak mengetahui siapa sosok Citra, mereka sungguh cantik dan rapi dalam menyembunyikan hubungan. Pihak keluarga hanya mengenal sosok satu wanita saja itupun mantan Bhanu ketika SMA sejak saat itupun tidak ada yang mengetahui jika hampir sembilan tahun Bhanu menjalin kasih bersama Citra.


Citra menginginkan semua itu, ia tidak ingin jika orang-orang tahu akan hubungannya bukan tanpa sebab, Citra merasa belum waktu yang tepat pada saat itu apalagi kondisi keluarganya hancur berantakan menjadi ujung tombak dirinya mengalami insecure, takut mendapat penolakan dari keluarga Bhanu apalagi memang pada masa itu Citra belum siap melangkah ke jenjang pernikahan. Acapkali Bhanu mengajak Citra jalan atau ngedate, tidak ada yang tahu sama sekali, Lingga yang notabenenya se-kota dengan sang adik pun tidak tahu menahu.


Lama terdiam di tempat, Citra melangkah kakinya memasuki rumah Bhanu. Di tangannya sudah ada bingkisan kue yang ia bawa. Pertemuan kali ini memang, atas keinginan Ane membahas rencana apa yang akan mereka lakukan mengenai obrolan di cafe tempo hari. Langkah Citra terhenti tatkala telah menginjak ubin lantai depan pintu yang terbuka setengah.


Citra hendak mengetuk pintu serta mengucap salam terhenti saat ada sosok Nia berjalan hanya menggunakan popok.


“Na...na...na!”


Citra memajukan sedikit tubuhnya agar melihat situasi di dalam rumah. Tubuh Nai hampir saja terjatuh namun untung saja Citra segera meraih tubuh mungil itu. Nai menelisik wajah asing yang mendekap tubuhnya, serta ada rasa aneh dan geli ketika merasakan perut buncit Citra. Tangan Nai menyentuh perut Citra serta menepuk pelan membuat empuhnya kaget.


“Ca...ca...ma! Ca...ca!” bibir Nai berceloteh tak jelas dan tak dimengerti oleh Citra.


Sementara itu Ane, baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di lantai bawah seketika melebarkan mata tak menemukan Nai di ruang tengah. Wanita itu mulai panik dan mencari ke arah dapur namun tidak menemukan Nai, Ratna dan bi Popon ikutan panik. Mereka kompak mencari dan melangkah menuju pintu rumah takut jika Nai berjalan keluar. Mata mereka memicing melihat Nai bersama seorang wanita cantik di depan pintu.

__ADS_1


”Mbak Citra,” gumam Ane sambil melangkah ke depan. “Ya Allah nak, mama cariin juga,” lanjutnya berjongkok meraih Nai.


Nai tertawa dan bertepuk tangan, “ma...ma...ca...tu!” tunjuknya pada perut buncit Citra.


“Hah? Adek Chana kan bobo di kamar sayang. Oh, mama ngerti, maksudnya mbak di perut Tante ada adek bayinya?”


“Dek, yi ma!”


“Iya, dedek bayi yah, nanti mbak Nai punya teman baru deh, sama kayak adek Chana. Eh mari mbak masuk,” Ane mengajak Citra masuk ke dalam.


Ane menyuruh Citra duduk di sofa yang ada di ruang tengah, sementara ia pamit sebentar melanjutkan tugasnya memakaikan baju Nai takut jika anaknya akan masuk angin sekalian menidurkan Nai mengingat sudah jam tidur siang bagi anaknya.


Citra mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah, beberapa figuran foto terpampang di dinding, foto pernikahan Bhanu dan Ane. Dalam hati Citra merasa iri menyaksikan bagaimana kemesraan yang ia lihat dari foto-foto itu. Langkah kaki dan suara mengagetkan Citra.


“Silahkan di minum nak,” Ratna menaruh gelas berisikan teh di meja.


Citra bangkit dari sofa, dalam kepalanya sudah bisa menduga jika wanita paruh baya di depannya adalah mertua Bhanu, karena ada kemiripan dari wajah di depannya dengan sosok Ane.


“Makasih Tante,”


“Ah, iya sama-sama, duduk lagi nak sambil di minum tehnya selagi masih hangat,” Ratna ikut duduk di samping Citra.


Wajah tua Ratna memerhatikan Citra dengan seksama dan matanya terhenti pada perut bunci Citra. Entah mengapa ada dorongan kuat yang membuatnya ingin menyentuh dan mengelus perut itu.


“Maaf nak, ibu minta izin buat elus perut kamu boleh?”


Citra mengerjapkan matanya beberapa kali, kaget namun begitu kepalanya mengangguk sebagai persetujuan hingga senyum terbit dari wajah Ratna.


“Terima kasih. Assalamualaikum, nak, sehat-sehat di perut yah, semoga nanti ketika kamu lahir bisa menjadi anak yang Sholeh ataupun Sholehah,”


Elusan pertama yang Citra rasakan dari orang lain, selama ini hanya dirinya yang menyentuh dan mengelus perut buncitnya mengingat Citra begitu jarang berinteraksi dengan orang-orang. Ada rasa hangat dan nyaman ketika Ratna mengelus perutnya bahkan sang anak di dalam perut menendang sebagai respon. Ratna terlihat begitu senang merasakan tendangan dari dalam perut Citra.


“Dulu, waktu Ane masih hamil Chana, ibu suka banget mengelus perutnya, kayak candu buat ibu gak bisa berhenti buat mengelus,” Ratna mengangkat pandangannya menatap wajah cantik Citra, Ratna sudah tahu mengenai siapa Citra dari cerita yang ia dengar dari Ane. Ia berempati pada Citra. “Setiap manusia punya masalah atau ujiannya masing-masing, jangan pernah merasa jika Allah tidak adil pada kita, karena sejatinya Allah maha adil dan maha penyayang. Kamu adalah wanita kuat jadi Allah SWT memberikan kamu ujian, mungkin terasa berat tapi jika kita yakin permasalahan yang dihadapi adalah bentuk rasa cinta Allah pada kita maka akan terasa lebih ringan, tetap semangat, bersyukur dan berdoa agar segera diberikan jalan keluar terbaik dari Allah,”


Tangan Ratna mengelus punggung belakang Citra, tatapan matanya menatap manik mata Citra kini berubah menjadi senduh, senyum hangat tersungging di bibir, seakan memberikan dukungan moril pada Citra, kekuatan serta ketenangan percaya jika Citra bisa melewati setiap permasalahannya. Citra sendiri merasakan hati dan jiwanya terasa damai dan tenang mendapatkan perlakuan hangat dari Ratna. Citra mendadak melow, rindu akan sentuhan itu, sentuhan yang sudah sangat lama tidak dirasakan.


“Terima kasih, bo—leh saya peluk Tante?” sorot mata Citra penuh harap dan tersirat sebuah kesedihan mendalam, Ratna bisa merasakan itu dan memahami arti tatapan dari Citra.

__ADS_1


Tanpa kata, Ratna langsung memeluk tubuh Citra. Ia merasakan jika tubuh yang dipeluk bergetar, hatinya tergerak mengelus punggung Citra dengan lembut.


“Menangis lah jika itu bisa membuat kamu tenang, ibu sudah tahu semua yang terjadi pada kamu, ibu yakin kamu bisa melewatinya,”


__ADS_2