
Ane memerhatikan sang suami seperti ada yang berbeda. Makan malam terasa sangat sunyi, Bhanu yang biasanya sering meminta tambah nasi kini hal itu tidak terjadi bahkan Bhanu makan sangat sedikit. Bhanu mengangkat bokong berdiri dari kursi tanpa kata berlalu begitu saja. Ane termangu di tempat, ia heran sikap sang suami tiba-tiba berubah. Ane segera membersihkan dapur dan akan menemui sang suami menanyakan apa yang terjadi.
Setelah piring telah tertata rapih westafel pun sudah bersih. Ane mengelap tangan menggunakan serbet, ia mencari keberadaan sang suami. Di ruang tengah tidak ada, di teras pun tidak ada, ia mengunci pintu lebih dulu sebelum naik ke kamar. Sosok Bhanu tengah duduk di atas ranjang dan kepala yang disandarkan ke sandaran kasur. Ane merangkak naik, ia duduk menghadap sang suami. Merasakan ada gerakan di ranjang tak membuat Bhanu membuka kedua matanya.
Ane mengusap lengan kekar Bhanu, “mas, are you okay?” tanya wanita itu pelan sembari memberikan usapan lembut.
Bhanu membuka kelopak matanya, tatapan mata pria itu tak biasa. Tajam dan dingin, tak seperti biasa Ane dibuat takut sekaligus heran. Ane menelan ludah susah payah, otaknya berpikir keras memikirkan kesalahan mungkin saja tak sadar Ane lakukan.
“Mas ada masalah?”
Bhanu bungkam, namun tatapan mata pria itu tidak teralihkan sama sekali masih tertuju ke arah Ane—wanita itu mengulurkan tangan hendak mengusap wajah Bhanu tetapi ditepis pria itu.
“Tidur!” perintah Bhanu.
“Ane belum ngantuk mas!” tolak Ane.
“Terserah!” Bhanu membaringkan tubuhnya berbalik ke arah jendela membelakangi Ane.
Ane tidak mau seperti ini, ia beranjak dari kasur berdiri di depan sang suami, ia mendorong tubuh Bhanu dan secara paksa masuk ke dalam pelukan pria itu.
“Jangan gini, Ane gak suka! Mas marah atau Ane buat salah?”
Bhanu diam saja walau Ane kini memeluk tubuhnya, pria itu masih enggan berbicara hati dan pikiran Bhanu berkecamuk. Ia membutuhkan waktu menenangkan diri. Walau sedang marah, tapi Bhanu harus mengontrol diri makanya menghindari suatu hal yang buruk maka Bhanu memilih seperti ini menjaga jarak.
Aksi diam Bhanu membuat Ane frustasi, terlintas sebuah ide di kepala, ia mengabaikan rasa malu demi membujuk suaminya. Ane mendorong tubuh Bhanu hingga berubah posisi menjadi terlentang, Ane naik ke atas tubuh sang suami menggencarkan semua ide gila yang ada di kepala. Bhanu mendapatkan serangan tiba-tiba dan gencar dari Ane tidak bisa menahan hasrat muncul begitu saja, hingga berakhir penyatuan pun terjadi.
Bulir keringat membasahi tubuh keduanya, pergulatan panas telah terjadi dan durasi cukup panjang. Bhanu menyingkirkan tubuhnya dari atas tubuh Ane. Ia baring di samping sang istri sembari mengatur napas. Ane pun melakukan hal yang sama, napasnya masih memburu. Namun Ane tiba-tiba saja kebelet buang air kecil, ia menyibakkan selimut dari tubuh dan memungut daster berlari ke kamar mandi.
Rasa legah dirasakan Ane—wanita itu keluar dari kamar mandi dan mendapati sang suami tidur tengkurap. Ane berjalan penuh hati-hati dan menarik laci meja nakas mengambil sesuatu lalu berjalan menuju dapur. Tanpa sepengetahuan Ane, Bhanu mengikut langkah Ane sedari tadi pria itu tidak tidur lebih tepatnya sengaja ingin mengetahui apakah Ane meminum obat tersebut atau tidak dan sekarang Ane hendak melakukan itu. Bhanu ingin mencegah Ane, bukan karena ingin bertindak egois tetapi Bhanu benar-benar tidak ingin Ane meminum obat itu lagi tanpa sepengetahuan dirinya. Ia akan menggagalkan Ane ketika wanita itu ingin mengonsumsi obat tanpa sepengetahuan dirinya berbeda hal jika Ane jujur padanya ingin menunda kehamilan maka Bhanu tidak akan melarang. Bhanu masih waras, hamil dan melahirkan itu adalah hak Ane walau sebagai seorang istri tapi yang memilki tubuh adalah Ane ia bukan lah suami yang berpikiran kolot.
__ADS_1
Bhanu berakting seolah tidak terjadi apa-apa dan menghampiri Ane hingga wanita itu tidak jadi meminum obat. Bhanu beralasan jika haus, Ane memberikan segelas air pada Bhanu setelah itu sang suami pun mengajaknya kembali ke kamar hanya helaan napas terdengar dari Ane. Mungkin besok pagi ia akan meminum obat tersebut.
\*\*\*\*
“Ante Caca mau ikan goleng tepung,”
“Caca banyak maunya ih, emang Tante Ane mau bikin kamu ikan goreng?” Lingga mencolek tangan gemuk sang putri.
Caca mengerucutkan bibirnya dan menempelkan badannya ke lengan Ane duduk disampingnya.
Lingga dan Ane baru saja dari supermarket membeli keperluan dapur masing-masing dan turut serta membawa si kecil Caca.
“Yah, ante antik? Mau ya, ya?” Caca mengedipkan mata berulang kali berharap jika Ane mengabulkan permintaannya, masakan Ane terasa pas di lidah Caca bukan berarti masakan Lingga tidak enak tetapi Caca cenderung lebih suka masakan Ane ketimbang masakan ibunya sendiri.
“Iya, nanti Tante buatkan khusus untuk Caca cantik,”
“Ne, kamu belum isi?” pertanyaan Lingga tentu saja membuat Ane terdiam sesaat. “Ne, kalian gak lagi menunda kan?”
Ane sontak menggeleng, “eng—gak! Emang belum rejekinya kali, mbak!” elaknya.
Lingga hanya mengangguk samar.
“Hamil itu seru tahu, Ne! Lagian ibu Ratna juga pasti udah gak sabar gendong cucu apalagi kan cucu pertama. Bhanu juga senang tuh, umur diakan udah matang banget tuh, emang udah waktunya buat momong anak. Tenang, Bhanu bisa diandalkan kok waktu mbak hamil aja Bhanu jadi adik siaga buat mbak, kan kerjaan mas Randu waktunya gak menentu. Kamu akan jadi istri paling beruntung deh,”
Ane hanya diam saja tak menanggapi ucapan Lingga—wanita itu merasa tak enak hati menyinggung soal anak mungkin saja Ane juga kepikiran mengapa belum hamil itu yang ada dipikiran Lingga.
“Ah, tapi tenang kalian masih pengantin baru. Gak masalah, nikmati waktu berdua dulu,” lanjut Lingga yang hanya diberikan senyuman oleh Ane.
Suara Caca menginterupsi keduanya, “ih lucuna. Nda, Caca mau dedek bayi!” ujar gadis kecil itu bukan tanpa sebab, Caca sedang menonton YouTube dan Video yang ditonton Caca adalah kumpulan video bayi lucu.
__ADS_1
“Apa sih Ca! Random banget minta adek, kamu masih kecil gini udah minta adek yang ada adeknya nanti kamu jahilin terus,” seolah mengerti ucapan sang ibu, Caca mendengus sebal kemudian beralih ke arah Ane.
“Ante,” Caca menarik lengan Ane sedari tadi melamun menatap jalanan.
“Eh, iya kenapa sayang?”
“Minta dedek bayi! Caca mau dede bayi, ante!”
“Eh? Kok tiba-tiba minta adek bayi?”
“Nih, lucu!” Caca memperlihatkan layar ponsel ditangannya kepada Ane agar turut melihat bayi lucu di layar ponsel.
“Iya lucu kayak Caca,”
“Hehe, ante cepat kasih Caca dedek!” tuntut Caca memaksa, jika ia tidak bisa mendapatkan adik bayi dari Lingga maka Ane bisa menuruti kemauannya bukan kah selama ini Ane selalu menuruti apa yang dimaui olehnya?
“Oke, nanti kita beli boneka bayi yah?”
“Ih, kok boneka? Caca mauna bayi hidup ante kayak Caca nih,” protes Caca.
“Udah Ne, diiyain aja biar cepat,” celetuk Lingga bosan mendengar ocehan putrinya.
“Iya nanti tante kasih adik,”
“Janji?”
“Janji!”
“Aduh, Ne, kenapa pake janji-janji segala tuh anak gak bisa dijanjiin pasti bakal ingat terus!” lagi-lagi Lingga bersuara, sungguh serba salah posisi Ane.
__ADS_1