
Tujuh bulanan usia kehamilan Ane, kini kediaman Bhanu nampak ramai dari para tamu undangan syukuran tujuh bulanan kehamilan sang istri. Para sanak saudara ikut berkumpul di rumahnya. Hasil diskusi antara ia dan sang istri yaitu sepakat akan mengadakan syukuran kecil-kecilan tujuh bulanan, tidak mengadakan pesta yang besar keinginan tersebut sebenarnya atas permintaan Ane sendiri, yang awalnya Bhanu ingin mengadakan acara mitoni-tujuh bulanan dengan adat Jawa dan besar-besaran mengingat ini adalah kehamilan pertama hanya saja Ane tidak ingin hal itu menurutnya yang penting ada acara doa bersama, pengajian dan kultum dari pemuka agama cukup bagi Ane dan yang terpenting adalah doa dari para keluarga, teman dan kerabat lainnya.
Saat ini, acara pengajian baru saja di mulai. Ane memakai gamis brokat berwarna peach begitu juga dengan baby Nai memakai dress lucu berwarna senada dengan Ane sedangkan Bhanu memakai baju Koko berwarna peach juga, keluarga kecil itu terlihat kompak. Baby Nai nampak anteng di pangkuan Bhanu sembari memainkan boneka beruang berukuran kecil sambil berceloteh khas bayi.
“Sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan berbagai macam amanah dan tanggung jawab kepada manusia. Diantara amanah dan tanggung jawab terbesar yang Allah Ta’ala bebankan kepada manusia, dalam hal ini orang tua adalah memberikan pendidikan yang benar terhadap anak. Dan yang paling mendasar adalah membangun jiwa kesadaran akan pentingnya sholat dan berakhlak mulia. Diantara yang perlu ditanamkan sejak dini dalam diri anak-anak adalah kesadaran untuk mengerjakan sholat wajib. Yang demikian ini disebutkan dalam firman Allah SWT. “perintahkan keluargamu untuk mengerjakan sholat dan bersabar atasnya” (QS. Thoha:132).” dan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “ajarkan sholat pada anak anak disaat berumur 7 tahun” (HR. At-Tirmidzi). Kita sebagai orang tua harus memberinkan suri tauladan yang baik karena anak-anak itu pada dasarnya mencontoh perilaku dari orang tuanya jadi kita juga sebagai orang tua atau calon orang tua hendak lah memperbaiki diri karena sesungguhnya anak adalah cerminan dari orang tuanya begitu juga sebaliknya,”
Semua orang khusyuk mendengarkan kultum dari ustadz. Ketika dipenghujuk kultum dilanjutkan dengan doa bersama untuk keselamatan Ane dan bayinya ketika lahir nanti. Baby Nai mulai gelisah di pangkuan Bhanu bahkan bayi berumur satu tahun lebih itu merengek mencondongkan tubuh mungilnya ke samping tempat Ane duduk, tangan mungilnya menepuk-nepuk lengan Ane.
“Sayang, bentar yah, sabar dikit lagi selesai,” bisik Bhanu menimang-nimang baby Nai agar kembali tenang.
“Ma...ma...” rengek baby Nai dengan kedua tangan mengudara sembari melambai memanggil Ane.
“Sini pa, biar mama yang tidurin udah ngantuk tuh si Nai,” Ane meraih tubuh baby Nai kemudian menimbang-nimbang bayi itu kini tak merengek lagi, mata bayi itu kelihatan sudah sangat ngantuk bahkan perlahan memejamkan matanya saking kantuknya.
Belum 5 menit berada di pelukan Ane, baby Nai sudah terlelap. Ketika rangkaian acara selesai, Bhanu mengambil kembali baby Nai dalam pelukan Ane untuk ditidurkan di kamar.
“Sayang, mau makan? Ibu ambilkan,” Ratna mencolek lengan sang putri yang sedang merapihkan jilbabnya.
“Nanti aja Bu, nunggu mas Bhanu, ibu makan aja, udah siang loh ini. Eh mas Rangga sama mas Banyu di mana Bu?” Ane sudah tidak melihat batang hidung kedua kakaknya setelah acara usai.
“Lagi di depan, ngobrol bareng sama pak Hanung dan suaminya mbak Lingga,”
“Oalah, yaudah ibu makan duluan aja,”
Ratna hanya mengangguk saja lalu menghampiri besannya bersama para ibu-ibu pengajian yang hadir. Ane hendak bangkit dari duduknya tetapi rasanya sedikit sulit hingga ada sebuah tangan kekar muncul di depan matanya. Ane tersenyum merekah, melihat pemilik tangan tersebut. Ia membalas uluran tersebut dan mulai bangkit dari duduk di bantu oleh Bhanu.
“Papa mau makan?”
“Mama mau?”
Ane memberikan pukulan gemas di dada sang suami, “orang tanya kok malah dibalik tanya!” ujarnya.
Bhanu tertawa kecil mengelus pipi chubby wanita hamil di sampingnya, “iya, ayo kita makan pasti dedek di perut juga udah lapar itu, ya kan, dek?” usap Bhanu di perut sang istri yang mendapatkan tendangan dari anak di dalam perut Ane.
Ane dan Bhanu kompak tersenyum bahagia, saking gemasnya Bhanu menunduk mencium perut buncit sang istri.
“Nih, papa cium, gemes banget dek, belum lahirnya aja udah bikin papa gemes!”
Ane mengusap punggung lebar Bhanu, bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman lebar. Orang-orang yang melihat interaksi mereka ikut senang dan berdoa agar rumah tangga mereka bahagia selalu.
Bhanu menggandeng istrinya menuju meja menyediakan berbagai hidangan lezat. Dari arah kejauhan Satya berlari menghampiri Ane. Pria kecil itu memeluk perut buncit Ane dan melayangkan kecupan berulang kali hingga tendangan dari dalam perut pun terasa di bibir Satya ketika menyentuh perut buncit Ane.
__ADS_1
“Hihi, dedeknya nendang Tante,” Satya mendongak melihat wajah Ane yang tersenyum. “Assalamualaikum adeknya mas Satya, sehat-sehat yah, maaf mas baru sapa adek soalnya mas Satya tadi sama ayah terus jagain mbak Caca supaya gak lari-lari, sampai ketemu adek, mas sayang adek cantik,” tambahnya kembali mendapatkan tendangan kuat dari dalam perut Ane—wanita itu meringis pelan ketika anak dalam perutnya menendang tidak sakit hanya ia kaget karena tendangan itu lebih kuat dari yang sebelumnya.
“Adek cantik, emangnya mas yakin adeknya cewek?” tanya Bhanu pada sang keponakan.
Satya mengangguk mantap, ”yakin dong, pasti dedeknya nanti cewek dan bakalan cantik kayak Tante Ane,”
“MasyaAllah makasih anak gantengnya Tante,” balas Ane mengelus wajah Satya.
Satya mengulurkan tangan pada Bhanu memberi kode agar sang paman menggendongnya.
“Berat ah, mas Satya bukan Caca atau adek Nai,” tolak Bhanu.
“Ih, bentar doang om, ayo gendong!” paksa Satya menggoyangkan lengan Bhanu.
Mau tak mau Bhanu mengangkat tubuh Satya—pria kecil itu tersenyum lebar mendekatkan wajahnya ke Ane hingga bibirnya berhasil menyentuh pipi istri pamannya itu sontak saja aksi Satya mengundang pelototan dari Bhanu dan kekehan kecil dari Ane.
Bhanu menurunkan Satya, “enak aja main cium istrinya om!”
Ane menggeleng memberikan cubitan di perut sang suami, “sama anak kecil juga main cemburuan! Sini Tante balas cium mas Satya ganteng,” kecupan bibir Ane berhasil mendarat di pipi tembam Satya kini tersipu malu dan berlari pergi menghampiri sang ayah.
Ane tertawa melirik Bhanu memasang ekspresi wajah melongo. Ia menepuk pelan pipi sang suami hingga Bhanu mengalihkan pandangan padanya.
“Semoga pas gede, Satya gak asal cium cewek, Ya Allah gak kebayang main nyosor aja!”
“Udah-udah, gak usah bahas Satya lagi ah!” sergah Bhanu mengambil piring makan.
...****...
Di malam harinya, Banyu, Ratna dan Rangga masih berada di rumah Bhanu dan Ane sedangkan orang tua Bhanu sudah balik ke Yogyakarta karena pekerjaan Hanung yang tidak bisa ditinggalkan lama masih ada urusan penting yang akan ia urus mengingat sebentar lagi Hanung akan habis masa jabatan sebagai rektor.
Di ruang tengah mereka yang ada di rumah Bhanu berkumpul sambil berbincang hangat. Rangga, Banyu dan Bhanu asik berbincang mengenai pekerjaan dan kesibukan masing-masing, lain hal dengan para wanita, membahas perihal kehamilan dan bagaimana yang harus Ane lakukan ketika lahiran nanti, sedikit banyaknya Ratna memberikan pengalaman sewaktu hamil dulu pada sang anak.
“Hati-hati, nak! Ya Allah,” baby Nai belum mengantuk, bayi itu sangat aktif bergerak ke sana ke kemari, mulai dari merangkak menyusuri sudut ruangan lalu berdiri berpegangan dari meja ataupun sofa dan terkadang bayi cantik itu duduk sambil bergoyang-goyang riang seakan sedang mendengarkan alunan musik.
“Senang yah, lihat berkembangan Nai makin aktif makin gesit lincah, apalagi kalau udah pintar jalan aduh ibu gak kebayang nanti udah keliling kompleks mungkin haha, janji sama ibu yah, jangan pernah membedakan Nai sama anak kalian. Kasih sayang harus sama rata tidak boleh berat sebelah, ibu percaya kamu bisa jadi ibu yang baik buat mereka,”
“Iya ibu, InsyaAllah Ane akan melakukan yang terbaik buat mereka—aduh nak, kan mama bilang hati-hati, pa itu loh anak kamu tolong pa digendong mama agak susah buat berdiri,” atesin semuanya teralihkan pada baby Nai menangis dengan terlentang karena jatuh tak bisa menyeimbangkan badannya ketika hendak berdiri.
Bhanu langsung meraih tubuh mungil baby Nai dalam gendongan sambil memberikan elusan di punggung bayi cantik itu.
“Cup, cup, sayangnya papa, anak kuat anak Sholehah,” bisik Bhanu menenangkan.
__ADS_1
“Sini pa!” Ane merentangkan tangan pada Bhanu agar lelaki itu mendekat, ia ingin menenangkan baby Nai. “Ululu, anak mama, sakit yah nak?” Ane menyeka bulir air mata di wajah sang anak ketika Bhanu duduk di sampingnya.
“Tit...” bayi itu mengeluarkan suara dan mengucapkan kata terakhir dari kata ‘sakit’.
“Kan mama tadi bilang hati-hati, tapi gakpapa yah, anak mama kan kuat,”
“Ma...ma...” bayi itu merengek ingin di gendong oleh Ane tetapi secepat kilat Bhanu mengalihkan perhatian Nai.
“Sama papa aja yah anak cantik, bobo yuk nak udah malam, ayo bobo sama papa di kamar, kita buat susu dulu yah,” Bhanu berdiri kemudian pamit pada semua orang untuk menidurkan baby Nai lagi pula sudah jam tidur bayi itu.
Semua orang kagum atas sikap Bhanu yang begitu sabar dan lembut memperlakukan baby Nai walau bukan anak kandungnya.
“Dek, mas Bhanu baik banget yah, gak salah kamu tuh pilih suami,” celetuk Banyu sedari tadi diam memerhatikan interaksi keluarga kecil Bhanu.
“Banget mas, Ane beruntung banget bukan hanya ke anak tapi ke istri juga gitu bahkan lebih,”
“Btw, mas masih kaget loh dengar kalian udah panggil mama—papa, geli gimana gitu mas dengar hahaha,” Banyu tertawa geli mencoba mengingat kembali percakapan Bhanu dan Ane ketika memanggil satu sama lain dengan sebutan mama—papa, bagi Banyu ini masih cukup aneh terdengar di telinganya sebab adik kecilnya kini benar-benar sudah dewasa dan seorang ibu.
“Ih, mas tau ah. Nanti juga kalau mas nikah terus punya anak gitu, wajarkan, ibu?” Ane meminta pertolongan dari sang ibu agar membelanya.
Ratna tertawa renyah membenarkan ucapan Ane, “wajar dong, kan udah menikah punya anak juga, makanya mas nikah baru tahu rasanya gimana lagipula ibu juga pengen lihat mas Rangga sama mas Banyu nikah, lumayan kalau ibu dapat menantu baru plus cucu,”
“Belum ada jodohnya Bu, gak tahu tuh kalau mas Rangga,” Banyu menyenggol lengan sang kakak duduk anteng di sampingnya.
Rangga menarik alisnya ke atas menatap sang adik kemudian beralih kepada sang ibu menatapnya penuh harap, “iya, doain aja, Rangga masih berjuang!” ujarnya mengundang rasa penasaran dari semua orang.
“Mas serius?” tanya Ane penuh keterkejutan lalu diangguki mantap oleh Rangga.
“Alhamdulillah, ibu senang dengarnya, ibu doakan semoga kamu berhasil dan segera bawa calon menantu ibu ke sini, tapi siapa dia, teman mas atau—”
“Bukan teman Bu, pokoknya adalah nanti mas cerita ke ibu!” balas Rangga.
“Eh, jangan pelit bagi info dong, sama Banyu juga kan Banyu adeknya mas, jadi harus tahu seperti apa calon kakak ipar Banyu,” celetuk Banyu tak mau ketinggalan informasi perihal wanita yang berhasil memikat hati sang kakak.
“Kayaknya Ane tahu deh,” gumam Ane mencoba menebak satu nama yang ada di kepalanya.
Rangga memicingkan mata melihat sang adik bungsu, bukan hal sulit untuk Ane menebak bisa saja tebakan gadis itu benar apalagi wanita yang didekatinya memang dulunya adalah kenalan sang ipar.
“Mbak Er—ups, maaf! Papa jangan bobo duluan tunggu mama, Bu Ane pamit bobo duluan yah!” Rangga memberikan ekspresi penuh ancaman pada Ane karena tebakan gadis itu dan hampir saja membocorkan nama wanitanya.
Ane berteriak dan segera berjalan cepat menuju kamar langsung mendapatkan teriakan panik dari sang ibu.
__ADS_1
“Astagfirullah, adek jangan jalan cepat! Ingat kamu hamil! Dek, pelan-pelan!”
“Aduh, lupa maaf! Nih pelan-pelan jalannya, night semua!” Ane menyengir lebar mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya pada sang ibu.