Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 55


__ADS_3

Sesuai rencana, kini di pusat perbelanjaan terbesar di kota Jakarta Bhanu dan Ane beserta baby Nai berkeliling mencari segala keperluan baby Nai. Mereka memasuki toko perlengkapan bayi, Bhanu membeli beberapa potong baju, mulai dari baju rumahan hingga dress lucu beserta sepatu dan sendal.


“Baby Nai mau yang mana warna apa pilih coba, mama bingung nih, warna ungu atau pink yah?” Ane memegang dua baju kaos bergambar princess di depan baby Nai hendak meminta pendapat bayi itu walau ia sendiri tak tahu akan mendapat respon apa dari baby Nai.


Kedua tangan baby Nai terulur ke depan mata bulatnya mengarah ke dua baju di depannya secara bergantian. Seolah mengerti maksud Ane, tangan baby Nai perlahan digerakkan menyentuh baju berwarna pink dengan motif princess Sofia. Ane dan Bhanu saling pandang takjub, tak ayal membuat Ane mencium gemas pipi tembam baby Nai.


“Gemes banget sih nak, udah bisa pilih baju sendiri!”


“Anak papa kan pinter mama, iya kan, nak?” Bhanu mengubah posisi tubuh baby Nai menghadap wajahnya gelak tawa terdengar dari bayi itu tatkala Bhanu mencium seluruh wajahnya secara bertubi-tubi.


Ane hanya geleng-geleng kepala saja, wanita hamil itu kemudian melanjutkan langkahnya menyusuri rak menyediakan berbagai jenis sepatu. Mata Ane berbinar melihat begitu banyak sepatu lucu, kali ini ia tidak akan meminta persetujuan baby Nai dan memilih sepatu beberapa pasang agar bisa pakai secara bergantian nanti. Ane juga mengambil sendal lucu berwarna peach dengan khiasan bunga-bunga kecil. Perlengkapan makan pun tak luput dari perhatian Ane, untuk stroller Lingga Ane tidak beli sebab punya Caca masih bagus, mungkin ia akan beli satu lagi nanti ketika anaknya lahir.


Sekiranya telah lengkap apa yang dibutuhkan baby Nai, mereka menuju kasir membayar seluruh belanjaannya. Setelah ini Ane juga akan membeli beberapa potong pakaian dalam untuk dirinya karena Ane makin sesak dengan ukuran sebelumnya. Ketika memasuki toko pakaian dalam, Ane menyuruh Bhanu menunggu di luar saja tetapi Bhanu menolak serta bersikeras ikut masuk.


“Sayang, yang warna ini aja,” Bhanu menunjuk bra berwarna maroon dan hitam sontak saja membuat Ane terbelalak mencubit kecil perut Bhanu karena malu apalagi ada karyawan toko ikut menyaksikan itu.


“Malu tahu mas, keluar aja ih!” bisik Ane mengusir suaminya.


“Wajar kali, kan suami sendiri yang pilihin, kalau cowok lain itu baru gak wajar bukan begitu mbak?” Bhanu melemparkan pandangan kepada karyawan yang mengikuti mereka sejak masuk ke dalam toko.

__ADS_1


“Iya mbak, bukan kali pertama kok, setiap ada yang ke sini bareng suami pasti kebanyakan pilihan suami, jadi mbaknya gak usah malu kita-kita di sini udah terbiasa kok,” balas karyawan tersebut sambil tersenyum maklum.


“Nah dengerin tuh kata mbaknya, nak mama kamu malu nih, yaudah deh kita keluar aja yuk sayang,” usil Bhanu mencolek baby Nai tengah asik meremas bola kecil di tangannya, sebelum keluar Bhanu kembali mengingatkan Ane agar mengambil pilihan warna darinya. “Ingat yah, warna maroon sama hitam itu diambil juga,”


“MAS!” pekik Ane malu. Wajahnya sudah merah padam, saking malunya Ane menutup wajahnya tak sanggup melihat karyawan toko tersebut yang kini ikut tertawa atas aksi Bhanu.


\*\*\*\*


“Loh, kok ibu sama ayah gak bilang kalau mau ke sini,” Ane mencium punggung tangan Sri dan Hanung bergantian. Ia terkejut kehadiran mertuanya di rumah tanpa ada pemberitahuan sama sekali bukannya tidak senang hanya aja Ane tidak enak hati sebab tidak menyiapkan makanan ataupun kue untuk mertuanya.


“Kejutan dong, nak! Lagian ibu udah kangen sama kalian,” Sri mengajak Ane duduk, tangan keriputnya terulur mengelus perut buncit Ane.


“Makin sering gerak gak si dedek dalam perut?" tanya Sri menginginkan mendapat tendangan dari bayi di perut Ane.


“Oh, iya jadi gimana selanjutnya tentang nasib bayi itu, yakin mau adopsi?” kini giliran Hanung berbicara saat Bhanu telah datang setelah menaruh baby Nai di kamar.


“Iya, kami udah sayang banget sama Nai, Yah! InsyaAllah Senin nanti Bhanu coba tanya-tanya dulu apa aja persyaratannya. Oh, iya namanya Naila Rihanna Giandra, kalian bisa panggil Nai,” jawab Bhanu tanpa keraguan.


“Tapi, Nak, bukannya ibu gak setuju cuma kalian kan bisa taruh ke panti saja, kalian juga bisa kontrol perkembangannya kok, lagipula anak kalian kan sebentar lagi lahir, takutnya Ane keteteran, usia seperti Nai itu masih butuh perhatian lebih, sementara kalian punya bayi yang sama butuhnya seperti Nai,” imbuh Sri mengeluarkan pendapatnya.

__ADS_1


“Bu, jangan kuatir, Ane insyaAllah bisa kok rawat dua bayi sekaligus anggap saja ini sebagai simulasi juga kalau misalnya Ane hamil lagi nanti, ibu tenang yah, nanti juga kan Ane bakal di bantu sama mas Bhanu dan juga ibu Sri dan Ibu Ratna, jadi aman. Makasih yah, udah khawatir sama Ane, tapi ibu harus percaya sama Ane,” ujar Ane selembut mungkin agar bisa menyentuh hati Sri dan tidak tersinggung.


Sri tersenyum mengelus lengan Ane, “ibu selalu percaya sama kamu, tapi—”


“Bu, sudah! Ini keputusan Bhanu dan Ane, tolong ibu jangan memperkeruh semuanya, pokoknya kami akan tetap mengangkat Nai sebagai anak kami,” potong Bhanu tegas enggan mendengar kalimat tak setuju keluar dari mulut ibunya.


Ane melanyangkan tatapan tajam pada Bhanu agar tidak bersikap seperti itu lagi, bagaimana pun Bhanu harus tetap menghargai Sri sebagai ibunya.


“Kalau memang kalian yakin, ya sudah ibu tidak akan ikut campur, cuma pesan ibu, jangan pernah membandingkan Nai dan anak kalian nanti, rawat lah mereka sebaik-baiknya, berikan kasih sayang sama rata tanpa berat sebelah. Itu juga menjadi kekhawatiran ibu, ketika kalian sudah mengambil tanggung jawab sebagai orang tua pengganti bagi Nai, maka kalian pun siap menanggung dan menjamin tumbuh kembangnya,” jelas Sri bukan tanpa alasan ia tidak setuju hanya takut jika Bhanu dan Ane melalaikan kewajiban mereka sebagai orang tua angkat bagi Nai.


Ane bernapas lega setelah mengetahui alasan mengapa sang mertua tidak setuju perilah pengangkatan baby Nai, ia bersyukur Sri bukannya tak suka dengan kehadiran baby Nai di kehidupan mereka, tetapi bagaimana kekhawatiran mengenai tanggungjawab Ane dan Bhanu nantinya. Ane tahu betul ibu mertuanya memiliki hati yang baik.


“InsyaAllah Bu, mohon bantuan dan bimbingannya yah Bu, semoga kami bisa menjadi orang tua yang bertanggung jawab untuk anak-anak kami nanti seperti ibu dan ayah,” balas Ane memeluk tubuh Sri dari samping.


“Bukan hanya kami, ibu dan ayah pun juga sama harus menerima Nai dan menyayanginya seperti cucu kandung kalian, Bhanu tidak ingin jika nanti Nai merasa sedih mendapatkan perlakuan tidak adil dari kakek dan neneknya,” tambah Bhanu.


“Tentu saja, Nak! Jika kalian bisa menerima Nai itu artinya kami pun harus menerima. Ayah bukan kakek yang kejam dan tidak punya hati,” jawab Hanung.


Usai perbincangan, Ane mengajak Sri untuk beristirahat di kamar tamu. Namun sebelum itu, Sri meminta izin pada Ane melihat baby Nai. Wanita paruh baya itu ingin melihat secara jelas dan dekat baby Nai. Ane mengajak sang mertua masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Di tengah ranjang ada baby Nai yang dikelilingi bantal tertidur pulas. Sri mendekati ranjang dengan hati-hati agar tidak membangunkan baby Nai. Mata Sri mengamati wajah baby Nai tertidur pulas, dalam pikiran Sri bagaimana bisa bayi tak berdosa ditelantarkan terlepas dari alasan ibu kandung baby Nai. Atas gerakan hatinya, Sri mengulurkan tangan menyentuh wajah mungil baby Nai.


“Cucu Nenek,” gumamnya, menerima kehadiran baby Nai sepenuhnya melihat wajah polos dan tak berdosa bayi itu, tidak pantas untuk dibenci atau ditolak kehadirannya. Justru ia merasa jika baby Nai wajib untuk dirawat dan dilindungi. Ane menyunggingkan senyum bahagia dan rasa lega luar biasa. Ia tidak haru mengkhawatirkan apapun karena baby Nai pasti akan dilimpahkan segala kasih sayang dari orang-orang sekelilingnya.


__ADS_2