
Dua orang anak kecil sedang asik bermain di teras rumahnya. Bocah laki-laki berumur 7 tahun asik bermain bola sedangkan sang adik yang baru berusia 3 tahun duduk di rerumputan bermain masak-masakan. Di sore hari, pasti dua bocah itu akan bermain di halaman rumah. Satya melemparkan bolanya ke tong kosong, kakinya melangkah mendekati sang adik.
“Mas bosan ah main bola, enaknya main apa lagi yah?” Satya duduk di samping sang adik, bosan bermain bola apalagi tidak memiliki lawan, terlintas ide di pikirannya, baru semenit bocah itu duduk ia kembali berdiri berlari kecil menuju garasi rumah mengambil sepeda.
Melihat sang kakak, naik ke atas sepeda tangannya memegang buah tomat mainan dilempar begitu saja dan berlari mengikut sang kakak.
“Ikut!!! Caca ikut Mas!” Caca menghadang Satya.
“Oke, adek ambil sepeda sana kita naik sepeda ke rumah om!” tanpa berpikir lama Caca berlari mengambil sepeda kecilnya.
Satya menunggu sang adik, setelah itu Caca datang dengan sepeda rodanya ia mulai mengayuh sepeda keluar rumah disusul oleh sang kakak. Caca terpekik senang, rasanya sudah lama ia tidak bersepeda. Saking semangatnya Caca mengayuh sepeda cukup kencang tentu saja Satya khawatir jika Caca jatuh.
“Adek, pelan-pelan!” seru Satya ikut mengayuh sepeda mengimbangi kecepatan Caca.
Caca tertawa keras ketika tahu Satya mengejarnya, Caca malah semakin kencang mengayuh sepeda mengira jika ia sedang balapan sepeda bersama Satya. Jarak rumah Bhanu dan Lingga tidak lah jauh, hingga sepeda kecil Caca berhasil memasuki pekarangan rumah sang paman sembari memekik senang karena mendahului sang kakak.
“Caca menang, Mas kalah! Wle,” Caca mengejek Satya sambil bergoyang bahkan bokong montok gadis kecil itu ikut bergoyang.
Satya turun dari sepeda, matanya menatap malas ke arah sang adik, “tau ah, Mas gak like adek! Kan kita lagi gak bertanding, jadi gak ada yang menang dan kalah!” ujarnya.
“Isokay, Caca nda laik Mas juga!” Caca memonyongkan bibirnya ke arah Satya lalu berlari memasuki rumah Bhanu.
“Samikum om! Caca atang umah om nih!” Caca berteriak mencari sang paman tapi tidak menemukan batang hidung Bhanu.
“Om ooo Om, Caca atang nih!”
“Om Bhanu!”
Caca dan Satya berteriak memanggil Bhanu tapi tidak ada sahutan, Satya melirik mobil milik Bhanu terparkir di garasi itu berarti pemilik rumah seharusnya ada. Satya mengajak sang adik menuju kamar Bhanu, mungkin saja Bhanu sedang mandi.
Pintu kamar Bhanu rupanya tidak terkunci, Satya dan Caca berlari memasuki kamar dan mengagetkan Bhanu sedang mengobrol melalui telepon selulernya.
“Om!”
“Om!”
__ADS_1
Satya dan Caca kompak berteriak memanggil sang paman. Bahkan keduanya bergabung di atas ranjang.
“Bentar Bu, ada Caca sama Satya nih,” Bhanu sedang menelepon sang ibu membicarakan perilah Ane telah menerima lamarannya.
“Ibu mau lihat mereka, video call yah,” pinta Sri sangat rindu pada dua cucunya itu. Bhanu pun mengalihkan panggilan suara ke panggilan video.
“Oma!!!” Caca meraih ponsel Bhanu hingga layar tersebut menampilkan wajahnya secara keseluruhan.
“Eh, cucu cantik Oma! Apakabar anak cantik, Mas Satya mana, Nak? Oma juga mau lihat cucu tampan Oma,” Caca mengarahkan ponsel ke wajah sang kakak yang kini tersenyum manis sembari melambaikan tangan pada sang nenek.
“Oma kangen kalian deh, Mas Bhanu ajak mereka deh kalau kamu ke sini, ibu kangen banget,” Sri memasang raut wajah penuh harap bahkan matanya tak kuasa menahan air mata saking rindunya.
Bhanu mengerti perasaan sang ibu, hampir setahun lebih tidak bertemu sang cucu secara langsung karena lebaran kemarin Lingga pulang ke kampung halaman Randu di Jember serta ada beberapa kegiatan pekerjaan penting sehingga Randu tidak punya kesempatan mengajak istri beserta anak-anaknya liburan ke Yogyakarta bertemu Om, Opa serta Mbah uyut.
“Nanti deh Bhanu coba tanya mbak Lingga sama Mas Randu dibolehin apa gak,”
Bhanu memberikan waktu bagi sang ibu melepas rindu pada Satya dan Caca melalui video call, bahkan dua bocah itu sangat antusias ketika sang nenek mengajaknya ke Yogyakarta. Hampir setengah jam lamanya video call berlangsung.
“Kalian izin sama bunda gak ke rumah om?” tanya Bhanu penuh selidik, ia takut jika sang kakak tidak tahu dan panik mencari keberadaan Satya dan Caca apalagi sekarang lagi marak terjadi kasus penculikan anak.
“Lain kali kalau mau main ke rumah om, tetap izin sama Bunda atau Ayah, oke?”
“Oke!”
“Oke om anteng, om-om telfun ante antik, dong!” Caca menggoyangkan lengan Bhanu melemparkan puppy eyes agar Bhanu mengabulkan permintaannya tentu saja Bhanu mengabulkan itu hal kecil apalagi ia juga sangat ingin melihat wajah cantik calon istrinya.
“Samikum ante antiknya Caca,”
“Assalamualaikum tante kesayangannya Mas Satya,”
Dua bocah itu berhasil membuat Bhanu terkejut apalagi Satya berujar dengan manisnya pada Ane.
“Walaikumsalam, eh ada anak Sholeh dan Sholehahnya tante Ane,” Ane cukup kaget ketika mengangkat panggilan video dari Bhanu justru wajah yang pertama kali muncul di layar adalah wajah imut Satya dan Caca.
“Hm,” Bhanu seakan merasa diasingkan, ia sengaja berdeham cukup keras agar Ane peka kehadirannya juga.
__ADS_1
“Eh, ada Mas Bhanu, assalamualaikum mas,”
“Walaikumsalam, sini hp om dong, Ca! Om juga mau lihat cantiknya Om!” Bhanu merebut ponsel di tangan Caca namun secapat kilat Caca menyembunyikan benda itu ke sela ketiaknya.
“Ih, Caca kan Lindu ante, om nanti aja nomongna,” Caca menatap Bhanu tak terima.
“Iya tapi om juga rindu, Ca! Ngertiin om dong,” Bhanu tak mau kalah hingga tubuh kecil Caca diraihnya dan memeluk erat Caca sembari mengambil ponsel miliknya. “Gini aja, Caca duduk diam, biar om yang pegang, jangan protes kalau gak om bawa kamu pulang,” ancam Bhanu pada gadis kecil itu dan pasrah duduk dipangkuan sang paman.
“Mas apaan sih sama anak kecil juga,” tegur Ane atas pertengkaran kecil di antara Bhanu dan Caca.
“Lagian kan Mas juga rindu tahu,” rengek Bhanu seperti anak kecil.
“Tante, Tante! Tante Ane kapan ke sini lagi?” Bhanu mengarahkan ponselnya ke Satya mengajak Ane berbicara.
“Kapan yah? Hm—”
“Kalau om sama tante udah nikah, tante Ane bakal serumah sama om jadi Mas Satya sama Caca bisa main bareng deh setiap hari, iya kan sayang?”
“Yey!” sorak Satya gembira Caca ikut bersorak walau ia sebenarnya tidak mengerti apa itu nikah. Ane tersipu malu, ketika Bhanu kembali memanggilnya sayang walau bukan kali pertama tapi masih bisa membuat Ane malu.
“Mas berasa jadi suami yang lagi ditinggal istri keluar kota deh, terus anak-anak pada rindu,” Bhanu tersenyum sendiri membayangkan perkataannya. Begitu pula dengan Ane, hingga suara terdengar membuat Bhanu salah tingkah.
“Halalin dulu anak ibu,”
Rupanya Ratna sedari tadi mendengar interaksi Bhanu dan Ane lewat Video call dan hanya diam saja, namun ia juga ikut tersenyum sendiri ketika Bhanu mulai menunjukkan jika pria itu sangat tidak sabar menikahi putrinya.
“InsyaAllah Bu secepatnya, doakan semoga berjalan lancar, benar begitu calon istrinya mas?”
“Mas malu tahu, ada ibu!”
Ratna tertawa kecil lalu beranjak dari tempat duduknya hendak menuju dapur memberikan waktu bagi Ane dan Bhanu berbincang.
......Assalamualaikum, terima sudah setia menunggu cerita ini dari bab ke bab! mungkin udh ada yg bosan kenapa sih masih gini2 aja alurnya eits tenang ada kejutan nanti 😁 buat yg penasaran dan bertanya-tanya konflik cerita ini ada atau tidak, jawabannya pasti tentu ada dong disetiap kehidupan tentu tidak jauh dari problem kan? aku kasih bocoran sedikit yah, saya tidak akan memberi konflik tentang ‘pelakor’ atau ‘wanita perusak rumah tangga’ Krn saya pun tidak menyukai hal itu, jadi konfliknya akan lebih mengacu ke area internalnya si pasangan ini. so, buat yg penasaran kelanjutannya jangan lupa utk selalu vote+like+comment kalau bisa share juga ke teman kalian jadi bisa ikutan baca serta menikmati kisah Ane & Bhanu, kalau readersnya makin ramai tentu aku akan semangat terus untuk nulis hehe thankyou;)......
...Big Love ♥️...
__ADS_1