Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 11


__ADS_3

Ane melipat kembali sejadah beserta mukena sebahabis melaksanakan sholat isya. Gadis itu kemudian beranjak mengambil ikat rambut miliknya lalu menguncir rambutnya, gadis itu menggunakan daster rumahan, yang memiliki bahan super lembut dan adem. Ia melewati kamar ibunya, tangannya memutar kenop pintu dan terlihat lah sang ibu masih beribadah. Ane memutuskan untuk ke dapur, terlihat makanan pun lengkap tersaji di atas meja, sehabis sholat magrib ia bersama ibunya memasak untuk makan malam. Ane mengambil piring beserta sendok, tak lama sosok ibunya pun datang dari arah kamar.


“Makan yuk, Bu!” ajak Ane yang disetujui oleh sang ibu.


Ane mengambilkan lauk pauk, lalu menaruhnya di atas piring ibunya kemudian ia mengambil untuk dirinya sendiri. Keduanya makan tanpa ada bersuara, hanya suara piring yang terdengar. Beberapa menit setelahnya, usai maka Ane memungut piring yang kotor lalu mencucinya. Sang ibu pamit lebih dulu ke ruang TV. Habis cuci piring, Ane ikut bergabung bersama sang ibu sembari membawa setoples kerupuk udang.


Ane mendaratkan bokongnya di sofa empuk, tepat di samping Ratna—wanita paruh baya itu entah mengapa teringat pada sosok pemuda tampan yang tak lain putra dari Sri yang ditemuinya kemarin. Ratna memalingkan wajahnya ke arah sang putri asik mengunyah kerupuk sembari bermain ponsel.


“Dek,” panggilnya, Ane hanya menoleh singkat menaikkan satu alisnya seakan bertanya ada apa.


Ratna menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, tangan gemuk yang mulai keriput, meraih pundak sang putri.


“Dek, jika kelak kamu suka atau mulai tertarik sama lawan jenis, ibu mohon jangan pernah menyukai seseorang yang sudah memiliki pasangan, ibu tidak ingin kamu dianggap buruk dan menjadi duri dalam hubungan orang,”


Ane tersedak atas omongan sang ibu yang begitu absurd menurutnya. Ane tidak menyangka jika ibunya membahas hal itu, yang sangat tidak pernah ada di dalam pikiran Ane.


“Makannya pelan-pelan, Nak!” seru sang ibu sembari menepuk punggung putrinya perlahan-lahan.


Ane menggerutu, “ih, ibu! Ane tersedak karena dengar ibu ngomong aneh gitu, yah, mana mungkin Ane suka sama pacar atau suami orang, Ane masih punya akal lah, Bu! Ih, yakali Ane jadi pelakor,”


Ratna meringis, ia hanya takut, manusia tidak terlepas dari kekhilafan, makanya ia memberi nasihat pada sang anak agar bisa lebih berhati-hati. Ane memicingkan matanya menatap ibunya lalu kembali berkata.


“Lagian kok ibu bisa ngomong gitu, emang mikirin apa?”


Ratna memandang wajah putrinya seksama lalu menceritakan apa yang menjadi pengamatannya ketika bertemu Bhanu kemarin.

__ADS_1


“Ih, lagian ibu mikirnya kejauhan, yah, enggak mungkin lah, Ane masih waras kali, Bu!” sergah Ane setelah habis mendengarkan cerita Ratna.


Namun begitu, Ane merubah ekspresi wajahnya menjadi riang dan senyum sumringah mengingat wajah tampan Bhanu sembari menggoda sang ibu, “lagian MasyaAllah banget yah Bu, si mbak itu punya pasangan kayak anaknya Bu Sri, ganteng banget, aduh, andai Ane jadi pasangannnya udah pasti anaknya Ane bakal lucu-lucu itu,”


Ratna memukul pelan pundak sang anak berniat menyadarkan khayalan koyol sang putri, “eh, jangan gitu, ah, Dek! Astagfirullah, udah punya pasangan, Nak! Masih banyak pria lajang di luar sana, jangan buat ibu resah, ah!”


Ane tertawa melihat raut wajah sang ibu kembali meledek Ratna, “tapi sebenarnya gak masalah loh Bu, kan belum tentu mereka udah nikah, mungkin saja masih pacaran, kan jodoh gak ada yang tau loh, Bu! Siapa tau emang Ane jodohnya, lumayan loh, ibu dapat anak mantu seganteng mas itu,” Ane memang tidak ingat nama Bhanu jadi ia hanya memanggil 'Mas' saja.


Sebuah pukulan pelan kembali diberikan pada sang anak, “sama aja, Nak! Tetap enggak boleh, pokoknya ibu enggak suka kalau kamu deket-deket sama yang udah punya,“


“Hahah, ampun! Iya-iya, tapi beneran loh, Bu, kalau aku jodohnya, yah ibu tetap gak bisa nolak,” sembari mengatakan itu, Ane langsung berjalan cepat pergi dari ruang TV dengan sisa-sisa tawa.


“Astagfirullah, anak itu, YaAllah,” Ratna mengusap dadanya pelan.


...****...


Sang ibu yang terlihat begitu antusias membahasa permasalahan jodoh sang putra, di usia senja sang ibu, ingin sang cucu segera menikah dan bisa melihat cicitnya kelak lahir di dunia. Cucu kesayangan dari pasangan Ajeng Purwanti dan Wibisono adalah sosok dokter tampan yang kini menginjak usia 32 tahun, kedua kakek dan neneknya begitu berharap bisa menyaksikan cucunya menikah, maka dari itu, sang nenek sangat getol mengenalkan para gadis cantik pada sang cucu, namun sepertinya tidak disukai oleh cucunya.


“Gimana Mas, kencan sama Rita kemarin? Kamu cerita sama, Mbah,” tuntut sang nenek.


“Gak, gimana-gimana Mbah. Aku sama Rita juga cuma jalan-jalan biasa,”


“Mas Bhanu, mbah itu berharap kamu jodoh sama Rita, lagian Mbah udah kenal sama keluarganya jadi—”


“Mbah, maaf kalau aku kurang sopan potong ucapan Mbah, tapi aku enggak suka dijodohkan seperti itu, Bhanu masih bisa cari pasangan sendiri, kalau pun perlu dicarikan, pasti Bhanu akan ngomong sendiri ke Mbah ataupun ibu, tapi sejauh ini Bhanu masih mau cari sendiri dan soal Rita, maaf Bhanu gak bisa, Mbah!”

__ADS_1


“Tapi kan, Mas, belum dicoba lagian kalian baru ketemu sekali masa langsung nolak gitu,” ujar sang nenek masih berusaha membujuk Bhanu.


“Udah lah, Bu, lagian dari awal kan, ibu udah janji enggak bakal maksa, kalau Bhanu menolak,” kini Wibisono alias kakek Bhanu ikut mengutarakan pendapat.


“Gak usah khawatir, Bhanu secepatnya bakal nikah kok, doa'in Bhanu aja semoga kali ini lancar,” ujar Bhanu sedikit ambigu.


Sang ibu mengernyitkan dahi lalu bertanya maksud ucapan anaknya.


“Maksudnya gimana? Semoga lancar apa? Kamu lagi dekat sama cewek?” tebak Sri.


“Belum, tapi Bhanu baru mau coba buat mengenal lebih jauh sosok itu,” jawab Bhanu yang masih membuat sang ibu penasaran apalagi neneknya.


“Siapa, Mas? Mbah penasaran, siapa sih yang akhirnya berhasil curi hati kamu,” tanya sang nenek penasaran.


Bibir Bhanu mengukir sebuah senyum tatkala mengingat wajah cantik Ane, serta suara lembut yang kini masih terngiang dalam pikiran dan hatinya.


“Bu, Bhanu sepertinya suka sama anak teman ibu itu,“ celetuk Bhanu yang dihadiahi sebuah ekspresi kaget dari sang ibu.


“Siapa?” Sri masih belum bisa menebak orang yang dimaksud anaknya.


“An—”


“Sweet girl, Ane!” tebak Sri yang tiba-tiba Ane muncul di kepalanya.


Bhanu tertawa sambil mengangguk. Sri memeluk tubuh kekar anaknya sembari mengelus lengan putranya.

__ADS_1


“Pilihan yang tepat, Mas, ibu saja pertama kali kenal Ane, langsung suka, jadi kepengen punya anak gadis semanis Ane,“ ungkap Sri lalu menceritakan awal pertemuannya bersama Ane dan Ratna.


__ADS_2