
“YaAllah, maafkan hamba. Maafkan karena sempat berpikir untuk menggugurkan titipan—Mu padaku, terimakasih telah menyadarkan hamba dari kesalahan yang hamba perbuatan sehingga hamba tidak melakukan dosa itu. Hamba berjanji akan menerima segala takdir yang engkau berikan pada hamba termasuk merawat titipan-Mu dengan baik dan terima kasih atas nikmat dan rezeki yang engkau berikan pada hamba. Hamba sungguh malu sempat berpikir bodoh dan berbuat dosa. YaAllah, engkau maha pemilik hati gerakkan lah hati mas Bhanu untuk memaafkan segala kesalahan yang hamba perbuat, tolong ridhoi setiap langkah hamba dalam memperbaiki hubungan dengan suami hamba karena tiada tempat selain engkau hamba memohon pertolongan dan mengadu.”
Ane menyeka jejak air mata membasahi wajahnya, Ane menyadari sangat sadar apa yang telah diperbuat. Ia menyadari dosa yang akan didapatkan ketika ia benar-benar melakukan hal bodoh itu, namun untung saja Allah SWT segera menyadarkannya walau harus mendapatkan amarah atau kekecewaan dari sang suami, tidak apa setidaknya Ane tidak benar-benar melakukan hal itu. Ane berjanji pada dirinya sendiri akan menerima segala takdir dan jalan hidup yang telah ditentukan oleh Allah SWT sang pemilik bumi dan langit. Ane juga memutuskan untuk melepas impiannya dan akan fokus pada keluarga kecilnya nanti serta menjadi ibu rumah tangga yang baik. Ia membuka pikirannya, bahwa manusia boleh lah berencana atas apa yang dikerja atau dimimpikan tetapi Allah SWT yang menentukan sebab Allah SWT maha mengetahui apa yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Ane pun sudah mengkonfirmasi pada pihak tempatnya melamar jika ia menolak dan tidak bisa menerima tawaran tersebut dan mengatakan jika saat ini ia tengah mengandung.
****
Sehabis magrib, Lingga beserta kedua anaknya datang ke rumah Bhanu untuk mengecek Ane sebab Bhanu telah mengirimkan pesan pada Lingga jika Ane sendirian di rumah. Bhanu juga menitipkan Ane kepada Lingga untuk beberapa hari ke depan. Yah, awalnya hanya sehari di Bandung tetapi Bhanu memperpanjang waktu di sana dan memutuskan mengambil alih semua acara seminar di kota Bandung yang awalnya sudah dibagi-bagi setiap tempat dan hari terlebih lagi ada rekan sejawatnya tidak bisa menghadiri seminar tersebut.
“Assalamualaikum, Ane!”
“Samikum ante!”
“Assalamualaikum Tante Ane!”
Tak ada sahutan dari penghuni rumah, Lingga melirik sekitar seperti tidak ada orang, ia menggeret kedua anaknya memasuki rumah. Di ruang tengah nampak sepi, mereka masuk ke dalam lagi hingga berakhir ke area dapur. Mata Lingga menangkap sosok Ane sedang duduk di meja makan sendirian sembari menggoyangkan sendok di atas mangkuk tak berselera bahkan Ane terlihat sedang melamun.
Caca melepaskan tangan sang ibu lalu berlari menghampiri Ane hingga wanita itu tersentak kaget.
“Ante!”
Caca memeluk pinggang Ane kini menatap aneh orang-orang di rumahnya tetapi hanya sepersekian detik saja, setelah itu Ane menarik kedua sudut bibirnya lalu tersenyum menutupi kegundahan hati dan beban pikirannya.
“Halo sayang, Tante rindu sama Caca, cium dulu sini!” Ane mengangkat tubuh Caca dan menghujani ciuman di seluruh wajah Caca membuat gadis kecil itu terpekik geli.
Lingga menyeret kursi lalu duduk diikuti oleh Satya—atensi pria kecil itu ada pada potongan buah apel dan melon di sebuah piring.
“Tante, mas Satya minta apelnya yah, boleh gak?” izin Satya.
“Boleh sayang,” jawab Ane mempersilahkan Satya mengambil potongan apel.
“Thank you, tante melonnya juga boleh gak?”
“Iya mas makan aja,” Ane gemas sendiri dengan pria kecil di depannya sementara di pangkuannya ada Caca kini mengambil alih sup jagung milik Ane.
“Ante Caca mam ini yah, boleh?”
“Iya boleh cantik!” Ane mengecup kening Caca sayang ia mendekap erat tubuh Caca saking rindunya.
__ADS_1
“Tencu, ante antik,”
“Sama-sama sayang,”
Lingga memang mengajarkan anak-anaknya ketika hendak meminta sesuatu pada orang harus izin lebih dulu jangan sampai tidak meminta izin dari pemiliknya karena itu sama saja mencuri dan Lingga tidak mau anak-anaknya berperilaku seperti itu. Tak lupa mengatakan kata tolong dan terimakasih walau terdengar sepele tapi sudah seharusnya setiap orang harus mengatakan hal itu.
Lingga sedari tadi diam saja lebih memerhatikan wajah Ane terlihat tidak baik-baik saja, seperti sedang ada masalah.
“Are you okay, Ne?”
Ane menengadah menatap ke depan di mana Lingga kini menatapnya penuh tanya. Ia mengerti maksud ucapan Lingga mengingat kini wajahnya seolah mencerminkan jika dia sedang tidak baik. Ane memaksa senyuman di wajahnya dan mengangguk pelan.
“Baik kok mbak,” jawabnya dusta.
Lingga bukan Caca yang bisa dibodohi, namun begitu Lingga tidak ingin bertanya lagi mungkin saja Ane tidak ingin bercerita dan Lingga pun menghargai privasi Ane.
“Okay, kalau kamu butuh teman curhat mbak siap kok. Oh iya, Bhanu sore tadi telepon mbak katanya dia ada seminar di Bandung tiga hari, jadi kamu dititipin ke mbak. Nginap di rumah mbak aja yuk?”
Ane mencerna kata-kata Lingga dengan baik, jadi itu lah alasan Bhanu pergi bahkan suaminya itu tidak memberitahukan apa pun padanya lalu ia justru tahu dari orang lain. Ane menyadari jika Bhanu masih marah dan sulit untuk menerima semua yang telah diperbuat olehnya. Ane menunduk menahan air mata agar tak luruh begitu saja mengingat ada Lingga di sini. Ia malu jika Lingga tahu apa yang terjadi padanya dan Bhanu.
“Ne,” panggil Lingga lembut.
“Ane di sini aja mbak, gak apa-apa kok,” tolak Ane bukannya ia enggan hanya saja Ane takut jika Lingga curiga ketika ia tiba-tiba melamun atau bahkan menangis.
“Serius? Tiga hari loh, ini kamu sendiri.”
“Gak apa-apa mbak. Lagian rumah kita juga dekat kalau ada apa-apa Ane pasti langsung ke rumah mbak,”
“Mbak pengen nemenin kamu cuma mbak kan kalau pagi harus siapin kebutuhan mas Randu sama Satya, aduh gimana yah mbak cuma khawatir kamu tuh tidur sendirian kalau malam,”
“Gak apa-apa mbak, serius deh! Lagian kan sebelum nikah pun Ane tidurnya sendiri,”
“Iyakan tapi kamu di rumah gak sendiri,”
Satya sedari tadi hanya menyimak kini bersuara, “mas Satya aja yang temenin tante Ane, Bun,”
Linda menaikkan alisnya menatap heran pada putranya, “kamu kan sekolah mas, andai hari libur gak masalah!”
__ADS_1
“Yah, kan besok mas libur bunda, jadi malam ini biar mas aja yang nemenin tante bobo,”
“Lah, kata siapa kamu libur? Bohong yah? Besok bukan tanggal merah loh, Mas!” Lingga memberikan tatapan curiga pada sang putra, mengira jika Satya mengada-ngada.
“Serius bunda! Besok ada rapat seluruh guru jadi semua siswa diliburkan, kalau gak percaya tanya aja sama bu Neni,” jawab Satya. Bu Neni adalah wali kelas Satya.
“Ya udah, deh!”
“Caca juga mau bobo sini, Nda!”
Lingga menggeleng keras menolak keinginan Caca bukan tanpa sebab, soalnya Caca masih dalam masa training tidak memakai popok takut jika Caca merepotkan Ane atau mengotori seprai Ane bisa saja Caca ngompol.
Caca mengerucutkan bibirnya kesal menekuk wajah dan bersedekap tangan, “bunda pelit! Caca gak like!” gadis kecil itu membuang wajahnya enggan menatap wajah sang ibu.
Lingga memutar bola matanya malas melihat aksi drama sang putri.
“Bukannya pelit, kamu tuh masih suka ngompol nanti kalau seprei tante kotor gimana, kamu mau cuci emangnya? Bisa?”
“Bisa, nanti tigal Caca tasih masuk ke mesin cuci,”
“Eleh, gayamu Nduk! Koyo ngerti wae, rasah kowe nang omah wae,” Lingga mengeluarkan bahasa jawanya yang tidak dimengerti oleh sang putri dan Ane hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum.
****
Ane berbaring di atas ranjang dan di sampingnya ada Satya sudah terlelap sembari memeluknya. Ane tersenyum mengelus wajah tampan perpaduan antara Lingga dan Randu. Ane melirik ponselnya tergeletak di atas meja nakas. Ia merentangkan tangan meraih benda pintar itu, wanita itu membuka WhatsApp tak ada satu pun pesan masuk dari Bhanu bahkan pesan yang ia kirim sedari tadi tidak mendapatkan balasan. Ane mendesah frustrasi, tapi ia tidak boleh pantang menyerah demi keutuhan rumah tangga dan keharmonisan hubungannya bersama Bhanu. Ane ingin memperbaiki semua yang telah terjadi termasuk kesalahan bodoh yang tak akan ia ulangi.
Ane mencoba menelepon nomor Bhanu, di layar tertulis 'memanggil' pertanda bahwa pria itu tidak aktif atau bisa saja sinyal hpnya sedang tidak bagus. Ane memilih mengirimkan pesan singkat saja, jadi sewaktu-waktu Bhanu membuka WhatsApp otomatis pria itu dapat melihat pesannya.
Istri ♥️
Assalamualaikum, mas sekali lagi Ane minta maaf, Ane mengerti mas butuh waktu, Ane siap menunggu kok Ane yakin jika suatu saat kita bisa kembali seperti semula 😊 safe flight yah mas, semoga sampai Bandung dengan selamat, jangan lupa langsung istirahat dan makan malam. Ily♥️
Usai pesannya terkirim, Ane meletakkan ponsel miliknya kembali ke atas meja. Ane merubah posisi tidurnya menjadi miring, memeluk tubuh Satya erat namun sebelum itu ia menyempatkan menyapa sang janin bersemayam di rahimnya.
“Assalamualaikum, anak mama, selamat malam, mama sayang adek, papa juga katanya cium dan peluk jauh dari papa yang lagi di Bandung,”
Tangan wanita itu mengelus perutnya sembari berbisik pada calon anaknya walau ia tahu jika perkataannya tidak akan di dengar kecuali Allah SWT.
__ADS_1
“Selamat malam juga anak Tante yang ganteng, Tante sayang sama mas Satya juga,” bisik Ane di telinga Satya walau bocah itu mungkin saja tidak mendengar karena telah tertidur pulas nyaman di pelukannya.