Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 72


__ADS_3

Chapter 71


Bali.


Seorang pria berjas putih menggeram marah, kedua tangannya meremas rambutnya sendiri. Matanya melotot tajam melemparkan ponselnya ke sembarang arah. Baru saja menerima telepon dari orang asing namun memiliki keterkaitan dengan sosok wanita beberapa bulan ini berhasil ia singkirkan jadi tidak menggangu atau mengancamnya lagi tapi sekarang kenapa wanita itu seakan kembali mengusiknya.


Ia tertawa cukup kencang, tangannya mengepal kuat, kuku-kukunya menancap tajam menekan telapak tangannya. Melampiaskan emosi, pria itu memukul meja kerjanya keras.


“Tidak! Wanita itu tidak akan berani mengusikku kembali, tidak yah! Aku yakin dia tidak punya keberanian dan orang yang menelepon ku hanya sekedar membual saja! Hahaha!”


Semua bukti sudah ia manipulasi dan orang yang mengaku sebagai ayah bayi yang dikandung Citra pun sudah ia bayar untuk tutup mulut jadi tidak akan ada yang bisa wanita itu lakukan. Andrew menghempaskan bokongnya di kursi, meremas tangannya, mengatur napas yang memburu serta emosi yang menguasai, ia harus tenang, tidak mudah bagi orang-orang mengusiknya.


****


Suasana rumah Bhanu kian ramai dengan kehadiran Citra seperti menambah personil keluarga mereka. Lingga beserta kedua anaknya datang berkunjung setelah beberapa hari hanya di rumah merawat Caca yang sedang sakit. Kehadiran Citra awalnya mengundang tanda tanya besar di kepala Lingga, tetapi setelah dijelaskan oleh Ane akhirnya Lingga paham namun ada hal yang masih tak bisa ia percaya bagaimana sang adik begitu pintar menyembunyikan hubungan terdahulu bersama Citra bahkan sudah terjalin bertahun-tahun. Mungkin jika sang ibu dan ayah tidak tahu, masih bisa diterima oleh akal sehatnya mengingat mereka berbeda kota, tapi dengan dirinya yang notabenenya berada di kota yang sama sekaligus di kompleks perumahan yang sama pula.


Citra masih canggung jika bersama Lingga sebab wanita itu nampak lebih diam kalau berdekatan dengannya. Dalam pikiran Citra dipenuhi hal yang tidak-tidak lebih kepada sikap penolakan walau tidak terang-terangan namun pikiran itu salah, Lingga hanya masih tidak percaya saja.


Di ruang tengah, semua orang bercengkrama satu sama lainnya begitu pula para anak-anak bermain bersama. Ibu Ane telanjur nyaman dan suka dengan Citra, makanya wanita itu membujuk sang putri mengajak Citra ke rumahnya lagi. Citra sendiri tidak keberatan karena keramahan dan kehangatan yang diberikan oleh keluarga Ane memberinya sebuah keluarga baru.


“Ya udah, kalian duduk di sini, ibu mau ke dapur buat bolu kukus—”


“Yang walnanya walna-walni kayak pelangi yah Uti!” celetuk Caca ketika telinganya berfungsi dengan baik mendengar ucapan Ratna walau ia sedang fokus bermain bersama Nai dan Satya.


Semua orang menggeleng pelan, Ratna mengacungkan jempolnya, “siap cucu Uti, tapi sabar yah nanti Uti buat banyak jadi mbak Caca bisa bawa pulang ke rumah,” balasnya.


Caca mengangguk antusias, “oke, makasih Uti antik!”


“Anak siapa sih kok lucu banget, sini Tante cium dulu lama udah gak cium mbak Caca nih,” sela Ane meraih tubuh montok Caca memberikan kecupan ke wajah cantik Caca berulang kali dan membuat gadis kecil itu terkekeh geli.


Citra tiba-tiba merasakan kebelet buang air kecil, ia mengatakan itu pada Ane dan meminta diberitahukan letak kamar mandi. Niatan Ane ingin mengantar Citra tapi ditolak oleh wanita hamil tersebut mengatakan jika bisa sendiri. Citra pun pamit ke kamar mandi, letak kamar mandi yang ada di lantai bawah dekat dengan dapur, ekor matanya menangkap sosok Ratna sibuk berkutat di dapur. Citra membuang hajat lebih dulu, dalam otaknya terlintas akan membantu Ratna membuat kue.


“Tante,” Citra menepuk pundak Ratna hingga wanita paruh baya itu terlonjak kaget, Citra meringis pelan karena aksinya dan segera meminta maaf. “Maaf, bikin Tante kaget,”


Ratna mengulum senyum, mengarahkan tangannya menyentuh lengan Citra, “gak apa-apa, kamu dari mana?”


“Kebelet pipis, hm, Citra boleh bantu Tante gak?” ujar Citra penuh harap mengigit kecil bibir bawahnya.


Ratna mengangkat satu alisnya, “serius? Tapi nanti kamu capek loh, kan lagi hamil kasihan dedeknya,”


“Gak kok, nanti kalau Citra ngerasa capek, Citra istirahat, gimana? Sekalian Citra pengen belajar jadi nanti kalau anak Citra lahir, Citra bisa buat kue juga buat anak Citra,” ujar Citra menerawang jauh.


Ratna mengangguk saja dan mempersilahkan Citra membantunya. Ia menyuruh Citra menyiapkan cetakan lalu mengolesinya dengan mentega. Ratna melanjutkan untuk menyelesaikan adonan kue yang telah ia campur.


“Bu—eh maaf maksudnya Tante udah selesai,” Citra meralat katanya hampir saja memanggil Ratna dengan sebutan ibu, jujur itu hanya spontanitas bibirnya berucap demikian.


Ratna menatap dalam manik mata Citra nampak mengecil atas ucapannya, mungkin wanita hamil itu nampak sungkan. Ratna merangkul pundak Citra dengan sayang.


“Tidak masalah kalau kamu panggil dengan sebutan ibu, lagian kuping ibu tuh agak aneh kalau ada yang panggil Tante, ibu emang lebih senang dipanggil ibu, jadi mulai sekarang jangan sungkan panggil ibu dengan sebutan ibu yah? Anggap saja ibu ini emang ibu kamu dan kamu ibu anggap sebagai anak ibu sama seperti Ane dan yang lain,”


Tak ada yang mampu diucapkan oleh Citra—ia memeluk tubuh Ratna erat sangat erat dan tak sadar menitihkan air mata haru karena diterima begitu baik oleh keluarga Ane.


Di samping itu, Banyu mendesah lega baru saja sampai di rumah Bhanu. Ia memilih jalur darat seperti biasa menggunakan mobil pribadi sungguh melelahkan mengemudi selama 9 jam lamanya. Mendapatkan informasi mengenai rencana Ane membantu Citra menggerakkan hatinya ikut membantu. Banyu mengambil beberapa bingkisan mainan yang akan diberikan pada para keponakannya lengkap untuk Satya dan Caca pun sudah disiapkan apalagi mendengar jika Caca baru saja sembuh.


Banyu menenteng, dua kantung plastik berukuran besar berisikan mainan. Langkah kakinya melangkah pasti dan berhasil menapaki lantai ruang depan. Lebih dulu, Banyu melepas sepatu dan menaruhnya di rak.


“Assalamualaikum, om Banyu paling ganteng datang, ibu anak ganteng mu datang nih, adek mas ganteng mu datang nih,” salam Banyu diselingi kata-kata narsis.


“Om!”


“Om danteng tapi lebih danteng om Langga!”


Satya dan Caca berlari menyambut Banyu apalagi melihat ada sesuatu yang dibawa oleh pria itu. Caca dengan tak sabar ingin menarik tangan Banyu ikut ke ruang tengah sedangkan Satya tak mengalihkan pandangannya ke arah kantung plastik yang di bawa Banyu.


“Eits, tunggu dulu, om cuci tangan dulu, kalian duduk manis di sana dulu, nanti om bagi mainan, sana!” Caca dan Satya saling pandang kemudian berlari mengikuti perintah Banyu—pria itu menggeleng sambil tertawa kecil melihat kegesitan kakak beradik itu.


Banyu meletakkan hadiah-hadiah buat keponakannya di samping sofa, ia melangkah ke arah kamar mandi namun matanya menangkap pemandangan tak biasa di dapur. Dua orang wanita cantik walau berbeda usia sedang memasak bersama diselingi tawa, matanya mengecil menelisik sosok wanita yang membelakangi sedang berdiri di samping wanita berhijab tentu saja ia sudah bisa menebak siapa wanita berhijab itu. Tak sadar kaki Banyu melangkah mendekati tetapi langkahnya terhenti ketika satu sosok dari kedua wanita itu berbalik badan.


Sepersekian detik keduanya saling pandang, namun tatapan keduanya bukan tatapan biasa sorot mata itu menyiratkan suatu yang sulit dijelaskan. Ratna menyaksikan bagaimana tatapan dari anaknya, ada yang berbeda. Ratna sangat mengenal karakter ketiga anaknya dan ia yakin jika ada suatu hal yang Banyu rasakan pada Citra. Ratna berdeham cukup keras agar keduanya sadar dan memutuskan pandangan.


Banyu segera mengubah ekspresi, menarik ujung bajunya, memasang senyum pada sang ibu.


“Ibu ku cantik, Banyu cuci tangan sama kaki dulu yah,” pamit Banyu berjalan cepat menuju kamar mandi sambil mengusir bayang-bayang wajah Citra yang terekam jelas di kepalanya.


Kaki Ratna melangkah ke depan agar tubuhnya berdampingan dengan Citra, mata tuanya melirik Citra terdiam di tempatnya menatap lurus ke arah kamar mandi.


“Nak,” Citra merasakan tepukan pelan di pundaknya, ia tersentak dan segera menoleh ke arah belakang di mana Ratna tengah menatapnya.


“Eh, ibu, maaf Citra melamun,” ujarnya tak bohong sebab sedari tadi ia memang melamun hal tak jelas tiba-tiba saja melintas di kepalanya mengenai Banyu.


Ratna menyuruh Citra bergabung ke ruang tengah, sudah lama Citra berdiri takut bila Citra lelah dan pegal, kebetulan memang itu sudah dirasakan oleh Citra—wanita hamil itu mengikuti perintah Ratna dan bergerak menuju ruang tengah. Mata Citra tak menemukan sosok Lingga di sana, namun kedua anak Lingga masih ada dan bermain bersama Nai. Citra duduk di samping Ane tengah menyusui Chana tak lupa menggunakan penutup khusus busui ketika sedang menyusui.


Citra mengelus kaki mungil Chana, kulit halus dan lembut. Ia pun tak sabar anaknya lahir, hari-harinya pasti akan jauh lebih berwarna karena ada sosok baru yang akan menemaninya.


“Oke, ponakan om yang cantik dan ganteng, sini merapat sama om Banyu, karena pembagian sembako akan segera di mulai haha,” seru Banyu jenaka. Caca dan Satya bergerak lincah mendekati Banyu memangku dua kantung besar, melihat kedua kakak sepupunya mendekati sang paman, Nai tak mau kalah ia ikut mendekati Banyu. Setelah semuanya duduk manis di depannya Banyu memberikan satu persatu hadiah pada ponakannya.


Satya mendapatkan mobil remote control berwarna merah, Caca mendapatkan satu set mainan masak-memasak beserta satu boneka berbie terbaru, untuk Nai ada sebuah mainan boneka lucu yang bisa mengeluarkan musik sedangkan buat Chana berbeda sendiri mengingat ponakannya yang satu itu masih bayi jadi ia membelikan piyama lucu berwarna pink peach dan sepatu berwarna putih dengan khiasan bunga-bunga kecil berwarna pink.


“Thank you so much uncle Banyu!” Satya lebih dulu mengucapkan terima kasih sambil mencium pipi Banyu.


Caca mengikuti sang kakak, “makasih om dantengna Caca, sini Caca cium,”

__ADS_1


Banyu terkekeh pelan dan mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga Caca bisa mencium pipinya.


Nai mengerjapkan matanya lucu, memerhatikan setiap gerak-gerik sepupunya. Nai akhirnya ikut-ikutan, dengan gerakan lincah ia merangkak naik ke pangkuan sang paman.


“Yang ini mau apa nih? Mau makasih juga?” Banyu mencubit pipi gembul Nai.


“Adek Nai, harus bilang makasih sama om karena udah kasih mainan, ayo dek bilang makasih om,” ujar Satya pada Nai.


Nai menoleh singkat ke arah Satya kemudian beralih pada Banyu.


“Cih!” bibir mungil Nai bergerak mengucap kata itu lalu tangannya direntangkan memeluk Banyu.


Banyu membalas pelukan Nai hangat tak lupa mengelus punggung ponakan kecilnya.


“Oh iya dek, jadi mulai kapan mas bergerak?” tanya Banyu memulai obrolan mengenai rencana mereka.


Ane melirik Citra, sebuah anggukan kepala diberikan padanya, “secepatnya sih, soalnya jangan mengulur waktu terlalu lama, jika bisa diselesaikan secepatnya yah kenapa tidak. Btw, cafe nanti gimana mas?”


“Yah, itu bagus, mas juga maunya cepat sih mumpung mas belum sibuk ngurus cabang baru, kalau urusan cafe mas bisa serahin ke Reynand sementara waktu, besok atau lusa juga mas udah bisa sih langsung ke Bali,”


“Gimana menurut mbak?” Citra menengadah melirik Ane dan Banyu secara bergantian.


“Mbak sih terserah, kalau memang m—mas Banyu punya waktu yah gak masalah, lebih cepat lebih baik, bukan?” Ane mengangguk setuju.


“Maaf mbak, gak usah manggil mas deh soalnya mbak lebih tua dari saya,” sanggah Banyu saat Citra memanggilnya mas.


Citra melebarkan matanya lucu, lalu dengan polosnya berkata, “terus manggilnya apa dong?”


“Sayang?” Banyu menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi menggoda Citra secara gamblang.


Mata dan mulut Ane membulat tak percaya, bagaimana sang kakak begitu gampang menggombal. Citra terpengarah sesaat.


Banyu tertawa geli melihat ekspresi yang ditunjukkan dua wanita di depannya, “bercanda, yaAllah, serius banget!” serunya.


“Tapi gak lucu tahu mas, liat tuh mbak Citra sampai bengong gitu,” timpal Ane, Citra mengubah ekspresi wajahnya dan memasang senyum maklum. “ya udah, Ane pamit ke atas dulu mau tidurin Chana, mbak Nai nanti habis tidurin adek, mbak juga bobo, oke?”


“Te!”


“Mas Satya sama mbak Caca juga bobo, nanti sore bunda jemput kalian, habis balik arisan,”


“Siap Tante!” jawab Satya dan Caca kompak.


“Hm, ya udah aku juga balik aja deh, soalnya sore mau check up kandungan,” celetuk Citra hendak pamit pulang.


“Mbak sama siapa? Sendiri?” tanya Ane.


“Iya, kan biasanya emang sendiri,”


“Gak usah, kasihan kamu kan jaga anak-anak, mbak bisa kok, yah terbiasa sih lebih tepatnya,” balas Citra diselingi tawa kecil.


Ratna datang dari arah dapur membawa nampan berisi, piring di atasnya telah diisi beberapa kue yang dibuatnya.


“Sama ibu aja, nanti ibu temani, gak ada penolakan, ibu kan mau lihat cucu ibu juga,”


“Ibu, gak usah, Citra bisa sendiri kok, kasihan ibu kan habis masak terus buat kue juga pasti capek,”


Ane dan Banyu saling lirik, ada yang mereka lewatkan rupanya. Kedekatan antara Citra dan Ratna nampaknya tidak biasa. Namun begitu, keduanya senang dan tidak keberatan sama sekali apalagi Ane yang tahu bagaimana kisah hidup Citra dari penuturan sang suami, yah apa yang keluarganya berikan mengobati rasa rindu yang dirasakan Citra selama ini.


“Gak apa-apa, lagian masih ada beberapa jam buat istirahat kan? Terus sore nemenin kamu deh, mas nanti anterin kita yah?” Ratna melemparkan senyuman penuh arti pada sang anak.


Banyu mendelik, menerka maksud senyuman aneh sang ibu namun begitu ia menyetujui perkataan Ratna. Citra tidak punya pilihan lain, sambil melahap kue buatan Ratna setelah dipaksa makan oleh wanita paruh baya itu.


Chapter 72


Beberapa hari kemudian, tibalah Banyu di Bali. Di bandara Ngurah Rai Bali, Banyu di jemput oleh seseorang kenalan Citra, salah seorang tetangga kontrakan Citra, di mana selama di Bali, hubungan mereka cukup akrab selayaknya sebagai tetangga walau tidak tiap hari atau sering mereka mengobrol namun ketika berpapasan atau ada waktu senggang mereka tak segan untuk saling bertukar cerita mengenai pekerjaan dan yang lain. Kehamilan Citra tentu membuat kaget, gadis yang bernama Devi—tetangganya, Devi pun baru tahu setelah Citra menelepon membantunya selama Banyu di Bali. Dulu ketika Citra hendak ke Jakarta, ia tidak mengatakan apapun soal masalahnya karena memang kepribadian Citra yang tertutup jika masalah pribadi, ia hanya beralasan jika sedang mempunyai urusan penting serta menitipkan kontrakannya pada Devi selama di Jakarta dan Devi pun tidak bertanya lebih pada Citra mengenai urusan itu.


Namun ketika mengetahui fakta sebenarnya tentu Citra ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada tetangganya itu. Devi berjanji akan membantu Banyu mengusut tuntas permasalahan yang tengah dihadapi Citra.


Pertama-tama, Devi mengajak Banyu ke kontrakan Citra lebih dulu guna menyimpan barang milik Banyu dan mungkin saja pria itu ingin beristirahat. Kontrakan yang jauh dari kata mewah, rumah yang dikontrak Citra sungguh sederhana tapi tetap terasa nyaman untuk dihuni. Banyu mendorong koper kecilnya memasuki rumah di temani oleh Devi mengekor di belakang.


“Mas kalau mau istirahat bisa langsung ke kamarnya kak Citra aja, kebetulan sudah saya bersihkan waktu kak Citra telepon kalau mas akan ke sini,” ujar Devi.


“Ah, iya makasih yah, saya memang butuh istirahat dulu, mungkin malam nanti saya akan keluar,” balas Banyu sambil memerhatikan setiap sudut rumah.


Devi mengangguk sekilas, “oke kalau begitu, nanti mas langsung ke kontrakan saya aja kalau mau keluar kontrakan saya di sebelah kok, soalnya kak Citra udah kasih saya amanat selama mas di sini saya akan menemani,”


“Jadi tour guide?” sela Banyu diselingi tawa kecil.


Devi tersenyum canggung, menggaruk pipinya asal, “yah bisa dibilang seperti itu, ya sudah mas istirahat saja, saya pamit balik ke rumah dulu,”


Devi membalikkan badan keluar rumah kontrakan Citra. Devi adalah seorang mahasiswi tingkat akhir, ia memang merantau dari Jakarta ke Bali untuk menempuh pendidikan sarjana. Jika di tanya mengapa Devi tidak menyewa kost saja alasannya adalah Devi hanya ingin memiliki space yang lebih luas dan bebas mengajak temannya menginap tanpa harus izin atau membayar sewa lagi ketika ada yang ingin menginap tidak hanya itu saja, keluarganya di Jakarta pun cukup sering berkunjung ke Bali menemuinya jadi supaya tidak ribet dan bersempit ria di kamar kost makanya ia memilih kontrak rumah saja.


Selepas Devi pergi, Banyu menuju satu kamar yang diyakini adalah milik Citra. Banyu memutar kenop pintu hingga terbuka, pemandangan yang pertama kali pria itu lihat adalah ada beberapa foto menghiasi dinding kamar, ia mendekati figuran foto tersebut memandang lekat wajah cantik Citra. Foto wisuda, selfie dan memakai jas putih ramai-ramai. Senyum terukir di bibir tipis Banyu, ingatannya mengawang memutar memori beberapa hari yang lalu saat menemani Citra check up kandungan.


Flashback On.


“Kamu berdiri di sebelah ibu aja, gak boleh terlalu dekat sama Citra,” Ratna menyeret lengan putranya agar menjauh dari Citra, perkataan wanita paruh baya itu sempat mengundang pikiran aneh dari Citra.


“Kenapa sih Bu, kan gak dekat-dekat banget kok, jaraknya lumayan jauh loh,” protes Banyu sebab menurutnya masih batas wajar tidak menempel pada Citra hanya bersampingan saja.


Ratna memutar bola matanya, “iya ibu tahu, tapi lebih baik mencegah daripada mengobati, belum muhrim,” balasnya.

__ADS_1


Banyu melongo tak percaya mengapa ada pikiran seperti itu, lagi pula ini ditempat umum mana berani Banyu melakukan aneh dan dipikirannya pun tidak pernah terbersit hal tersebut namun yang menjadi pertanyaan adalah kata 'belum muhrim' maksudnya apa?


“Belum? Maksud ibu?” selidik Banyu.


Ratna mengedikkan bahunya cuek, “yah emang kenyataannya kan? Emang kalian udah halal?”


Lagi dan lagi Ratna berbicara ambigu, Banyu mendesah pelan, “iya, tapi kata belum itu loh Bu, seakan-akan kami punya hubungan,”


Citra memilih diam saja, enggan berkomentar karena ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa dan sudah diwakilkan oleh Banyu menegaskan bahwa tidak ada ikatan apapun diantara keduanya.


“Jodoh gak ada yang tahu! Yuk ah, ambil nomor antrian,” Ratna menyeret pelan Citra menuju meja administrasi.


Citra mendapatkan nomor antrian pertama, itu karena mereka datang lebih awal dari jam praktek dan lebih beruntungnya lagi tidak memakan waktu lama menunggu, sebab dokter pun datang lebih awal serta mempersilakannya masuk ke dalam ruangan.


Dokter berjenis kelamin laki-laki dengan senyum menawan menyambut Citra masuk ditemani oleh Ratna dan Banyu. Dokter itu melebarkan mata kala melihat sosok pria ikut menemani Citra dan mengira jika dia adalah suami Citra.


“Wah, akhirnya saya bisa lihat suami ibu Citra,”


Semua yang mendengar tertegun, melebarkan mata. Namun Ratna langsung mengulum senyum penuh arti dan membalas ucapan dokter itu.


“Iya, dok kebetulan ada di Jakarta dan kerjaannya pun aman jadi bisa nemenin check up,”


Citra spontan melirik Ratna begitu juga dengan Banyu.


“Bu!” bisik Banyu pelan hendak menegur tapi Ratna tidak memperdulikan.


“Baik lah, mari kita periksa baby nya yah, karena ayahnya ikut gimana kalau sekalian saya kasih tahu jenis kelaminnya?”


Citra tidak enak bila berkata jujur saat ini, ia tidak mau mempermalukan Ratna. Citra terpaksa mengikuti skenario Ratna.


“Iya boleh dok,” ujar Citra.


Tubuh Citra di baringkan di atas brankar. Sebelum baju Citra disingkap, Ratna meminta kain penutup perut Citra agar tidak terekspos bukan tanpa sebab Banyu tidak boleh melihatnya. Dokter sempat bertanya karena biasanya Citra tidak pernah menutupi perutnya ketika sedang diperiksa namun Ratna memberikan alasan cukup masuk akal jadi tidak ada pertanyaan lagi. Detak jantung janin Citra terdengar jelas, ada perasaan haru menyusup ke relung hati Ratna dan Banyu.


“Wah, rupanya bakal tampan seperti ayahnya nanti,”


Refleks, Ratna mengusap bahu Banyu seakan-akan Banyu memang ayah dari janin yang dikandung Citra—wanita itu—mengarahkan pandangan ke arah ibu dan anak itu, raut wajah senang dan haru terlihat jelas, tak sadar ada seutas senyum diperlihatkan Citra. Pandangannya bertemu ketika Banyu menatapnya.


Ada makna lain yang tersirat dari sorot mata Banyu tetapi Citra tidak bisa menerkanya. Cukup lama mereka saling pandang bila bukan karena Ratna menegur mungkin saja aksi saling tatap itu berlangsung lama.


Flashback off.


****


Banyu ditemani Devi kini berada di club. Suasana club nampak ramai pengunjung, bau khas alkohol dan rokok seakan beradu jadi satu. Banyu mengedarkan pandangan menyapu seluruh sudut club. Musik DJ bergema menjadi irama syahdu bagi para pengunjung asik bergoyang mengikuti irama musik. Matanya menyipit ketika menangkap satu sosok tengah asik duduk yang letaknya paling sudut. Pria itu adalah Andrew, sebelum ke Bali, Citra memperlihatkan wajah Andrew pada Banyu sehingga bisa mengenali sosok pria yang kini tengah asik bercumbu dengan seorang wanita.


Banyu mengetatkan rahang serta tangan terkepal kuat. Badannya terasa mendidih akibat amarah muncul begitu saja. Tetapi Banyu harus menahan diri agar tidak menonjok wajah Andrew, ia harus berhati-hati dan cerdik dalam menyusun rencananya kali ini. Ia mengajak Devi duduk tak jauh dari tempat Andrew berada. Banyu diam-diam merekam aksi menjijikkan Andrew.


“Kok mas video untuk apa?” tanya Devi bingung, gadis itu memang belum tahu siapa sosok Andrew.


“Dia yang hamilin mbak Citra,” jawab Banyu pelan.


“Serius? Sumpah enak banget senang-senang sama cewek di sini, gila emang gak waras tuh cowok, iyuh!” Devi ikut kesal dan jijik melihat bagaimana ganasnya Andrew mencumbu wanita seksi di pangkuan pria itu.


Banyu hanya merekam singkat, ia meletakkan kembali ponselnya. Banyu memerhatikan sekeliling, ia harus mencari bukti CCTV di club ini. Banyu pamit sebentar pada Devi, pria itu berjalan menuju bar, rencana ia akan mencari tahu lewat orang-orang yang bekerja di club ini. Seorang pria menggunakan seragam serba hitam tengah asik melayani pengunjung memesan berbagai jenis minuman beralkohol.


“Misi, air mineral ada gak?” tanya Banyu mengundang delikan dari pegawai club tersebut.


“Air mineral?” mulut pria yang diketahui bernama Tristan karena terdapat sebuah name tag di bagian saku bajunya.


“Iya, gak ada yah?”


Tristan mengerjap beberapa kali sebelum mengangguk mengambil pesanan Banyu. Segelas air mineral ia berikan pada pria yang menurutnya berbeda dari yang lain.


“Anda sepertinya baru mengunjungi club, soalnya mukanya agak asing atau jangan-jangan sedang berlibur di Bali?”


Banyu memasang ekspresi takjub sebab Tristan dengan mudah menebaknya jika bukan asli Bali.


“Kok kamu tahu? Apakah begitu ketara?”


“Banget dan saya bisa menebak kalau sebenarnya anda ini tidak hanya ingin berkunjung saja di club tapi ada maksud lain,”


Mata Banyu tak lepas dari Tristan, ia dibuat takjub sekaligus waspada jangan sampai ada yang mencurigai apalagi Andrew bisa gagal rencananya. Namun begitu, Banyu menilai ini suatu kesempatan baginya mungkin Tristan bisa membantunya.


“Ya, sepertinya kamu menghapal tiap pengunjung club,”


“Tentu saja, dalam seminggu saya berada di sini dalam kurun waktu cukup lama bahkan hingga menjelang pagi jadi beberapa pengunjung yang sering datang saya sudah hapal dan ada juga yang sudah mengenal saya,” jawab Tristan sembari melayani pengunjung lain.


Banyu menaikkan satu alisnya, mengalihkan sejenak pandangan ke arah Andrew yang terlihat sedang asik minum bersama wanita seksi yang menjadi lawan bercumbu pria berdarah blasteran itu.


“Kalau yang itu kamu kenal?” tunjuk Banyu pada Andrew.


Tristan menajamkan pandangannya mengikuti arah jari telunjuk Banyu.


“Andrew Alexander,” bibir Tristan berucap menyebutkan nama panjang Andrew.


Banyu menarik satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringai, ini adalah kesempatan emas. Sepertinya memang Tristan bisa membantunya.


...Assalamualaikum, aku gabung sama bab 71 karena gak tau kenapa aku udah update nih, cuma babnya tuh gak muncul, gimana sih ngerti gak? haha udah lah pusing juga aku. pokoknya jangan lupa buat vote+like+comment! ;)...


...Big Love ♥️...

__ADS_1


__ADS_2