
Kota Bandung atau bisa disebut sebagai kota kembang dimana pada zaman dulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu Bandung dahulunya disebut juga dengan Paris van Java karena keindahannya. Di sini lah Bhanu berada, di pagi yang cerah dan udara yang sejuk, pria itu berada di balkon kamar hotel sembari menikmati keindahan kota Bandung. Melipir sejenak dari suasana dan hiruk pikuk ibu Kota sungguh menyenangkan bagi Bhanu setidaknya ia bisa memanfaatkan waktu seminar ini dengan menenangkan diri dan merilekskan kembali pikiran dan hatinya.
Setelah puas, Bhanu masuk dan menutup pintu balkon. Ia duduk di atas ranjang sembari membuka ponselnya sejak penerbangan hingga berada di Bandung belum ia aktifkan sama sekali. Ketika ponsel itu telah aktif, dering notifikasi terdengar tanpa henti. Begitu banyak notifikasi yang muncul salah satunya adalah pesan dari sang istri. Ia membuka room chat bersama Ane, begitu banyak pesan yang dikirimkan oleh sang istri. Terdengar suara helaan napas pelan, Bhanu hanya membaca pesan itu tanpa niat membalas. Bhanu masih ada rasa yang mengganjal di hati dan pikirannya, yang memaksanya untuk benar-benar tidak berkomunikasi dengan sang istri walau ia sadar jika apa yang dilakukan adalah kesalahan juga tapi Bhanu hanya ingin menikmati waktu sendiri sembari menetralkan perasaannya. Pria itu pun berjanji pada dirinya sendiri sepulang dari Bandung akan menyelesaikan masalah yang terjadi tak ingin semakin larut dan berkepanjangan.
Bhanu akan bersiap-siap sebab sebentar lagi akan menghadiri seminar. Pukul 9 pagi, pria itu menunggu supir yang akan mengantarnya selama di Bandung. Dalam mobil, Bhanu mempelajari kembali materi yang akan menjadi pembahasan seminarnya. Tiba di sebuah gedung tempat dilaksanakannya seminar, Bhanu turun dengan gagahnya tak ayal beberapa orang lebih tepatnya wanita berbisik memuji ketampanan Bhanu bahkan ada yang secara terang-terangan tetapi Bhanu menyikapinya santai dan memberikan senyum ramah tanpa ada unsur lain.
Bhanu tentu di sambung hangat orang-orang terlebih para audiens yang lebih dominan para kaum hawa. Seminar berlangsung dengan lancar dan sesuai ekspektasi. Dari pukul 10 pagi hingga 12 siang seminar itu baru saja selesai.
Bhanu mengajak supir makan siang di salah satu restoran khas Sunda. Perutnya sudah memberontak ingin segera diisi dan mendadak pria itu menginginkan makan sayur asem. Bhanu memesan ikan bakar, sayur asem, soto Bandung dan batagor siomay khas Bandung.
Bhanu begitu lahap memakan makanan yang dipesannya hingga tandas tanpa tersisa sedikit pun, perutnya sangat kenyang. Bhanu tanggung untuk kembali ke hotel, pria itu akan berjalan-jalan lebih dulu ke Mall dekat hotel dan menyuruh supir untuk pulang lebih dulu, tak ingin membuat supir itu menunggu lama. Bhanu berkeliling mall mengunjungi beberap store pakaian, ia akan membeli sebuah kemeja sebab ia hanya membawa satu kemeja.
Mata Bhanu terhenti ketika berdiri di depan store yang menjual perlengkapan ibu dan anak. Hati pria itu tergerak untuk memasuki store, matanya berbinar melihat berbagai perlengkapan bayi tak sabar ketika anaknya lahir nanti. Bhanu kini melangkah ke sebuah patung yang memakai baju ibu hamil. Bhanu tertarik untuk membeli itu, ia memilah-milah sekiranya yang cocok digunakan Ane membayangkan perut buncit Ane adalah hal yang sangat menyenangkan. Bhanu mengambil satu dress ibu hamil digunakan ketika di rumah dan satu bisa digunakan ketika keluar rumah.
Bhanu keluar dari store itu, kakinya kembali menyusuri mall dengan totebag di tangan pria itu. Hasrat berbelanja merasuki Bhanu—pria itu kini memasuki toko perhiasan. Bhanu akan memberikan Ane hadiah sebagai tanda terimakasih pada istrinya. Walau hubungannya tidak baik dengan sang istri bukan berarti ia melupakan sosok istrinya, setidaknya ketika balik ke Jakarta ia membawa oleh-oleh untuk sang istri dan kembali meluruskan benang kusut diantara keduanya.
Di lain kota, Ane sedang berada di kamar mandi sedang memuntahkan cairan bening yang keluar dari mulutnya. Satya berdiri di belakang Ane, ikut khawatir karena sedari tadi Ane muntah-muntah. Satya bingung sendiri, namun begitu Satya setia menemani Ane memastikan jika tantenya aman.
“MasyaAllah, terima kasih ya Allah, InsyaAllah Ane akan menikmati masa-masa kehamilan ini,”
Ane berbalik mendapati Satya, ia menyunggingkan senyum meraih wajah sang keponakan terlihat cemas.
“Maaf yah sayang, yuk sarapan,”
“Tante gak kenapa-kenapa, kan?”
“Iya Tante baik-baik saja kok,” Ane menuntun Satya menuju ruang makan untuk sarapan karena sarapan mereka tertunda sebab Ane tiba-tiba mengalami mual-mual.
“Tante sakit?”
“Gak, Tante sehat, mas Satya mau nemenin tante gak?”
Satya sudah duduk di kursi, mendongak menatap wajah sang Tante, “mau, kemana Tante?”
__ADS_1
“Ke klinik periksa dedek bayi habis itu singgah ke supermarket,”
“Dedek bayi siapa? Kan gak ada dedek di sini, Tante! Caca juga bukan bayi lagi, udah gede jadinya anak kecil, kan?” Satya heran ketika Ane mengatakan dedek bayi karena setahunya dilingkungan mereka tidak ada anak bayi.
Ane terkekeh pelan dan mengulurkan tangan membersihkan selai coklat di sudut bibir Satya.
“Ada dedek bayi di perut Tante,” ujar Ane sembari mengulum senyum menunggu reaksi Satya.
“Wah, Tante hamil?” Ane mengangguk sebagai jawaban. Satya terpekik senang dan mendekatkan wajahnya ke perut Ane. “Assalamualaikum adik bayi, ini mas Satya, salam kenal, baik-baik di dalam perut Tante yah,” Satya mengecup perut Ane yang tertutupi baju wanita itu.
Ane merasa terharu tak menyangka dengan sikap manis dari Satya. Matanya berkaca-kaca tak lupa memberikan kecupan singkat di kening Satya.
“Samikum ante,”
Caca datang begitu saja mengagetkan Ane dan Satya. Penampilan bocah itu sangat menggemaskan, rambut Caca dikepang dua memakai bandana serta kaca berbentuk hati dan dress karakter princess dipakainya.
“Walaikumsalam. Eh, Caca kamu ke sini sama siapa sayang?”
Caca bersusah payah akhirnya duduk sempurna di atas kursi, mata bulatnya bersinar ketika melihat ada susu serta roti selai cokelat.
“Wah ada loti colkat, Caca mau nte,”
“Coklat bukan colkat, Ca!” tegur Satya.
“Iya colkat benel, kan?”
Satya berdecak gemas, “ikuti Abang, cok—”
“Cok—”
“Lat—”
“Lat—”
__ADS_1
“Coklat,”
“Colkat!”
“Coklat!”
“Colkat! Colkat! Colkat! Jangan suluh-suluh Caca ulang telus-telus, pokokna colkat!”
Ane terkekeh gemas memberikan satu kecupan di pipi chubby Caca.
“Silahkan tuan putri ini roti selai cokelat spesial untuk Caca anak Sholehah dan cantiknya Tante Ane,” Ane menyodorkan piring berisikan roti yang telah diolesi selai cokelat.
“Maacih ante antik,”
“Tuh, Tante aja bilangnya coklat bukan colkat,” celetuk Satya menyindir sang adik sedang asik mengigit roti yang kini sudah belepotan cokelat.
Caca melirik sang kakak memberikan tatapan bengisnya, seakan Satya mengganggu ketenangan makannya, “jangan belisik, nda boleh nomong-nomong kalau lagi maem,” balas Caca sok bijak.
Ane tertawa, melihat ekspresi wajah Caca dan tingkah laku gadis kecil itu. Astaga, dia beruntung sekali mempunyai keponakan lucu dan gemas seperti Caca, bahkan disaat menghabiskan waktu bersama Caca, Ane merasa sangat bahagia dan selalu tersenyum atas tingkah lucu Caca.
“Mas Satya gak suka Caca! Mas ada adek baru, Caca bukan adek kesayangan Mas lagi, wlee,” ejek Satya.
Caca mengedikkan bahunya cuek tetapi menanggapi Satya, “nda ada dedek, mas suka boong kalau nomong,” balasnya santai.
Satya mendelik lalu turun dari kursi kemudian berdiri mendekati kursi Ane, ia menaruh tangan kecilnya di atas perut Ane sembari berkata, “ini adeknya Mas, di perut Tante Ane ada dedek bayi calon adeknya Mas. Wleee!”
Caca menggeser tubuhnya menghadap Satya dan menatap sang kakak serius, “mas kalau nomong itu halus benal, tidak boleh boong, masa di pelut ante ada dedek bayi, kan isinya maem semua sama kayak pelut Caca nih,” bocah kecil itu menunjukkan perut buncitnya.
“Lagipula dedek bayi nda muat di pelut ante, telus calanya dedek bayi masuk ke pelut gimana?” lanjut Caca.
“Terserah kalau Caca gak percaya,” Ujar Satya enggan meladeni Caca lebih panjang karena takutnya Caca Ujung-ujungnya akan menangis atau ngambek terus dia juga tidak tahu harus menjelaskan apa atas pertanyaan Caca yang ia sendiri juga tidak tahu.
Ane diam-diam membayangkan situasi ini saat telah memiliki beberapa anak nanti, ada rasa hangat mengajalar ke relung hatinya, ketika bayangan wajah Bhanu tersenyum padanya apalagi jika nanti Bhanu berubah kembali seperti dulu pasti ia akan dimanjakan oleh sang suami terlebih calon anak mereka. Membayangkan Bhanu tiap hari menyapa anak mereka, mengajak berbicara anaknya sungguh sangat menyenangkan. Senyum luntur di wajah Ane ketika mengingat jika sampai sekarang belum ada chat yang masuk dari sang suami. Ia rindu sangat rindu sama Bhanu, segala sesuatu tentang sang suami dirindukan olehnya, ia akan memeluk Bhanu sepanjang hari ketika suaminya telah balik dari Bandung nanti tak peduli jika sang suami akan menolak atau cuek yang penting rasa rindu yang membelenggu bisa tersalurkan pada sang suami. Ia yakin jika Bhanu tidak akan menolak keinginannya apalagi urusan anak.
__ADS_1