
Di pagi hari aktivitas Ane sebagai istri sekaligus ibu dua anak cukup padat. Sebelum mengurus suami lebih dulu ia memastikan anak-anaknya anteng, baru saja ia selesai menyusui Chana lalu memastikan putri sulungnya masih terlelap nyaman. Suara pintu terbuka, Bhanu keluar berpenampilan segar, rintik air turun ketika pria itu menyibakkan rambut basahnya. Ane memberikan sebuah kemeja berwarna biru muda pada suaminya.
“Wait, rambut papa masih basah duduk di kursi dulu mama ambil hairdryer di laci,” perintah Ane dituruti oleh Bhanu.
Ane menyolok kabel hairdryer lalu menekan tombol on kemudian mulai mengeringkan rambut suaminya. Bhanu menarik bibirnya tersenyum manis melihat wajah sang istri dari cermin. Tidak membutuhkan waktu lama, rambut Bhanu sudah kering. Ane meraih handuk yang digunakan suaminya ketika pria itu telah memakai pakaian. lalu menjemur agar tidak lembab. Kaki jenjang Bhanu melangkah menuju ranjang kedua putrinya di kamar sebelah melalui connecting door.
“Papa jangan diganggu dong, pekerjaan mama masih numpuk nih,” peringat Ane ketika menyadari arah langkah kaki suaminya.
Bhanu berhenti menoleh ke belakang, ia memasang cengiran lebar, “gak kok, papa cuma mau cium mereka aja,” elaknya.
Ane mendesis lalu keluar kamar hendak menuju dapur menyiapkan sarapan, walau di dapur sebenarnya sudah ada bi Popon dan Ratna—wanita paruh baya itu memang masih berada di Jakarta sebab ingin membantu anaknya mengurus Nai dan Chana setidaknya sampai Nai sudah terbiasa dengan kehadiran Chana.
“Selamat pagi ibu, bi Popon,” sapa Ane ceria.
“Pagi sayang,”
“Pagi neng,”
“Sini Bu Ane bantu,” Ane ingin mengambil alih kegiatan masak sang ibu tetapi mendapatkan gelengan dan penolakan dari Ratna.
“Gak usah, udah hampir selesai kok ini, kamu urus suami sama anak-anak kamu aja, bagian dapur aman ada ibu sama bi Popon. Udah gih, sana!” usir Ratna mengibaskan tangan.
Ane mendesah pasrah, “yaudah deh, makasih yah udah bantu Ane, kalau gitu Ane ke atas dulu,” ujarnya dibalas acungan jempol dari Ratna dan juga bi Popon.
Tepat ketika wanita itu menginjakkan kaki di dalam kamar suara tangisan, langkahnya menuju sumber suara tersebut dan benar saja kini baby Nai terbangun di gendongan Bhanu.
“Tuhkan mama bilang apa, papa sih,” gerutu Ane.
Bhanu mengelak, “anaknya bangun sendiri kok, papa cuma cium doang eh bangun,”
Ane melemparkan tatapan garang mengambil alih Nai dari gendongan Bhanu, “sama aja!”
“Na...u...pa...pa!” baby Nai memberontak di gendongan Ane pada akhirnya kembali ke gendongan Bhanu. Baby Nai melirik sosok Chana tertidur di ranjang satunya tepat di sebelah ranjang miliknya. Ane dan Bhanu menyadari tatapan Nai, sebuah ide pun muncul di kepala Ane.
“Dedek Chana lagi bobok yah, mbak? Semalam bobo bareng adek yah?” pancing Ane pada baby Nai, ia juga mengedipkan mata pada suaminya memberi kode agar mendekatkan Nai ke Chana.
“Sekarang Nai dipanggil mbak yah? Kan udah punya adek, tuh adek Chana, adeknya mbak Nai, cium dulu dong mbak adeknya,” Bhanu ikut menimpali sambil mendekatkan tubuh Nai ke arah Chana.
Baby Nai sempat terdiam sesaat memandang lekat wajah Chana yang terlelap namun itu hanya berlangsung sebentar karena Baby Nai merengek minta keluar kamar. Ane menarik napas pelan, ia akan mencoba lagi nanti, step by step butuh proses dan ia akan sabar akan hal itu. Ane pun tidak ingin memaksa dan membiarkan mengalir seiring berjalannya waktu, ia yakin suatu saat Nai akan menerima Chana dan menjadi akur serta saling sayang ketika Nai sudah mengerti.
Bhanu membawa Nai keluar kamar namun sebelum itu Ane akan mengganti popok Nai—putri sulung pasangan Ane dan Bhanu itu memang masih menggunakan popok, Ane akan mencoba melatih Nai tidak menggunakan popok ketika genap usia 2 tahun yaitu beberapa bulan lagi. Baby Nai awalnya merengek enggan disentuh tetapi ketika matanya celingukan tidak menemukan apa yang ia cari akhirnya mau dan anteng.
“Sekalian mandi aja deh, papa tunggu di bawah saja mama mau mandiin mbak Nai dulu,” ujar Ane sambil mengibaskan tangan mengusir Bhanu.
__ADS_1
Ketika tubuhnya berada di bathtub kecil khusus anak-anak, Nai bertepuk tangan dan sesekali menempuh air hingga muncrat membasahi Ane.
“Mama basah sayang, udah yah, diam dulu,” tegur Ane lembut menyabuni seluruh tubuh Nai, air yang digunakan pun adalah air hangat tentunya.
“Ma...ma...ni!” bibir mungil Nai berceloteh riang memanggil Ane dengan gerakan tangan menepuk air.
“Iya sayang, udah yah mama basah nanti kalau mbak Nai tepuk air kayak gitu. Tutup matanya sayang, bismillah,” Ane menyiram air di kepala Nai menghilangkan busa sampo.
Baby Nai berjengit, kedua tangannya terangkat serta mata yang merem-melek. Ane tertawa kecil melihat ekspresi lucu Nai. Usai sesi mandi, Ane segera mengangkat Nai lalu membungkus tubuh mungil itu menggunakan jubah mandi.
Ane mendudukkan Nai di tengah ranjang, “diam di sini mama mau ambil baju buat mbak Nai dulu, oke?”
“Te!”
“Anak pintar,” balas Ane mencium kening Nai sebelum beranjak mengambil baju serta minyak, lotion dan bedak.
Baby Nai nyatanya mengikuti perintah sang mama, buktinya ia tetap tenang di posisinya meski tubuhnya mulai oleng karena sedari tadi memainkan kedua kakinya.
“Eits, hap!” Ane sigap menahan tubuh Nai—bayi itu terlihat kaget namun hanya beberapa saat saja digantikan dengan gelak tawa karena Ane mencium seluruh wajahnya.
“Ma...ma!” protes Nai mulai jengah menepuk pipi Ane.
“Hehe, maaf mama gemas sama mbak Nai sih! Ya udah sekarang ayo siap-siap terus sarapan sama papa di bawah,”
“Na...u...ma...ma...pa...pa!” rengek Nai.
“Eh, iya sabar sayang, kita lihat adek Chana dulu, adeknya masih bobo, yaudah kita ke bawah susul papa, adeknya cium dulu dong ayo nak!” Ane mencondongkan tubuh Nai hingga berhasil wajah Nai menyentuh Chana walau singkat karena Nai memalingkan wajah secepat kilat.
“Na...u!” jerit Nai.
“Oke, kita turun. mbak Nai harus sabar, yah nak, kan mama udah bilang tunggu, anak sabar di sayang Allah dan juga papa mama, oke anak pintar anak Sholehah?” Ane mengusap wajah Nai dalam gendongannya. Tidak ada respon dari Nai, namun Ane tidak menyerah, wanita itu mengulangi kalimat terakhir yang ia sebutkan tadi.
“Oke anak pintar, anak Sholehahnya mama papa? Jawab oke mama, gitu dulu dong nak!”
“Te...ma!” jawab Nai lirih tidak bersemangat seperti tadi.
“MasyaAllah pintarnya mbak Nai, mbaknya dedek Chana! Dedek Chana bangga punya mbak Nai, mama dan papa sayang mbak Nai sama dedek Chana, sayang pake banget. Sayangnya gimana nak?”
“Eh? Yang?” Nai mendongak menatap wajah cantik Ane.
“Iya sayangnya gimana?”
“Yang!” Nai menempelkan bibirnya di bibir Ane.
__ADS_1
“Makasih sayang, sini mama cium balik,” Ane membalas mengecup kening, pipi dan bibir Nai.
...****...
“Dok, ada yang ingin bertemu,” Tya menghampiri Bhanu baru saja selesai menangani pasien.
Dahi Bhanu mengernyit bingung lantas bertanya siapa yang dimaksud oleh Tya, namun begitu Tya sendiri juga tidak tahu betul sosok tersebut. Bhanu mengucapkan terimakasih kasih sekaligus pamit menuju ruangannya.
Langkah kaki Bhanu perlahan terhenti saat terlihat sosok wanita cantik duduk di kursi tunggu tepat di depan ruangannya. Wanita itu tertunduk memainkan ponsel, walau wanita itu menunduk Bhanu bisa mengenalinya. Guratan terlihat jelas di kening pria beranak dua itu, bingung dan terkejut kedatangan wanita itu. Namun hal yang paling mengejutkan adalah perut wanita itu nampak menonjol.
Ketika wanita itu mengangkat wajahnya kemudian melihat sosok Bhanu berdiri tak jauh dari dirinya, Bhanu menelan ludahnya entah mengapa melihat kehadiran wanita itu di hadapannya kini ia ada perasaan aneh menyusup ke relung hatinya. Tidak bukan perasaan cinta tapi ada sesuatu yang Bhanu sendiri belum bisa memahami itu.
“By—ah, maaf Bhanu, hi, apa kabar?” kini wanita itu mendekat hingga keduanya saling pandang dan bisa melihat secara jelas wajah satu sama lain.
Bhanu mengunci mulutnya, matanya memandang lekat penampilan wanita di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dan berhenti pada satu objek yang menarik perhatiannya sedari tadi.
“Are you pregnant?” tembak Bhanu tanpa basa-basi menanyakan apa yang ada di kepalanya.
Wanita itu tertegun sesaat ketika Bhanu menyadari perut menonjolnya, ia menelan ludahnya susah payah, ia menarik napasnya pelan kemudian menggerakkan kepala naik dan turun sebagai jawaban.
“Are you married?”
Gelengan kepala diberikan pada Bhanu dari wanita itu tentu saja hal tersebut mengundang sejuta pertanyaan dari pria itu. Bhanu mengajak wanita itu masuk ke dalam ruangannya.
“Siapa? Dan kenapa kamu datang kembali?”
Suasana mendadak tegang, ketika perubahan mimik wajah Bhanu yang tak biasa, bahkan terkesan dingin serta tatapan wajahnya tajam sukses membuat wanita itu tertunduk takut.
“Tolong by, nikahi aku,” wanita itu menengadah mengangkat wajah memberanikan diri menatap wajah pria di depannya.
Bhanu mendesis tajam, “are you crazy, Citra? Keluar sekarang dan jangan pernah temui aku lagi, hubungan kita selesai dan aku tidak akan bertanggung jawab yang bukan kesalahan aku! Dan ingat, aku sudah menikah dan mempunyai anak jadi tolong jangan datang ke kehidupan aku lagi. Silahkan keluar!”
“By, tolong—i need help! By—” wanita yang bernama Citra itu meraih tangan Bhanu tetapi pria itu segera menepisnya.
“Don't touch! Aku sudah punya istri Citra! Jangan gila, sampai kapan pun aku tidak akan menolong mu, aku hanya memiliki satu istri dan selamanya! Satu lagi, jangan sebut aku dengan panggilan itu lagi, ingat kita sudah selesai! Jangan sampai aku berbuat kasar, tolong keluar!”
Penolakan ia dapat dari Bhanu, tentu saja hal ini sudah ada dipikirannya hanya saja Citra mencoba melakukan itu demi anak yang dikandungnya. Tidak ada pilihan lain, namun ketika ia benar-benar mendapatkan penolakan dari Bhanu, Citra tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Bhanu mengerang frustrasi, memijat keningnya seketika kepalanya menjadi pusing. Bhanu tidak akan melakukan itu, sungguh tidak akan pernah. Ia telah bersumpah pada dirinya sendiri tidak akan berbagi dan membagi. Tidak akan pernah.
...Assalamualaikum, terimakasih sudah vote+like+comment tanpa henti. Tenang, harus ingat kembali kalau cerita ini gak ada pelakor! jadi gak usah panik yagesya haha. Vote+like+comment terus yah makasih;)...
...Big Love ♥️...
__ADS_1