Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 41


__ADS_3

Hari Minggu adalah hari yang paling ditunggu semua orang. Hari itu biasanya dipakai untuk bersantai, bersenang-senang bahkan liburan bersama keluarga ataupun pasangan. Bhanu telah merenung dan memikirkan jika ia harus bersikap dewasa dalam hal ini. Ia mengesampingkan ego dan berusaha mengerti perasaan Ane, tidak mudah memang tapi tidak ada pilihan lain. Namun satu hal yang pasti adalah acapkali ketika usai berhubungan Bhanu selalu saja menahan Ane dan menggagalkan rencana Ane mengonsumsi pil tanpa membuat istrinya curiga. Selama Ane menyembunyikan hal tersebut maka Bhanu pun akan terus mencegah Ane. Ia hanya ingin kejujuran dari Ane dan akan setuju jika memang Ane ingin menunda memiliki anak, ia akan memberikan kesempatan bagi sang istri mengejar impian, walau menikah bukan berarti impian Ane harus kandas begitu saja.


Bhanu baru saja menyelesaikan aktivitas olahraga pagi mengelilingi kompleks perumahan, Ane merasa tidak enak badan, dari kemarin tubuhnya sangat lemas gerak sedikit sudah membuat badannya pegal padahal ia tidak melakukan aktivitas yang berat. Ane bahkan tidak membuatkan sarapan pagi untuk sang suami dan Bhanu juga tidak mempermasalahkan justru menyuruh Ane beristirahat saja di kamar.


Sehabis olahraga, Bhanu masuk ke kamar mengecek keadaan Ane—wanita itu sedang baring dengan mata terpejam. Bhanu membersihkan tubuhnya lebih dulu. Ane mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, ia membuka mata dan bangun dari ranjang.


“Mas?”


“Dalem, kenapa?” Bhanu mengecilkan keran air agar bisa mendengar suara sang istri.


“Gak apa-apa, Ane ke bawa yah!”


Tidak ada sahutan lagi, Bhanu melanjutkan mandinya sedangkan Ane turun ke bawah. Ane akan ke dapur, tetapi ternyata bi Popon telah menyiapkan sarapan lengkap di atas meja makan. Ane jadi tidak enak tetapi badannya lagi tidak fit untuk bergerak banyak. Bi Popon tentu memaklumi lagipula sudah tugasnya.


Tak lama Bhanu pun muncul dengan wajah dan tubuh segar bugar. Pria itu menggunakan kaos polos putih dan celana kargo selutut berwarna abu-abu. Penampilan Bhanu seperti anak muda makin membuat aura Bhanu semakin tampan. Ane terpesona dan merasa beruntung mendapatkan Bhanu sebagai suaminya.


“Hm,” Bhanu berdeham sengaja agar lamunan Ane buyar. Ia menyembunyikan senyum gelinya, Ane pasti terpesona.


“Mas kok ganteng banget sih,” celetuk Ane tak segan memuji ketampanan sang suami.


“Kenapa mau mas jadi jelek?” pertanyaan itu sontak saja mendapatkan gelengan kepala dari Ane.


Tidak ada lagi obrolan, Bhanu menunggu Ane mengambilkan sarapan dan matanya setia memerhatikan setiap gerak gerik sang istri. Seketika bayangan pil obat yang ia temukan muncul begitu saja, ia mendesah kasar menepis jauh-jauh bayangan itu dan berusaha untuk tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.


Bhanu menyantap sarapan dengan tenang tanpa suara begitu pula Ane—wanita itu menukik alisnya memerhatikan sang suami dalam diam. Sudah seminggu lebih sikap Bhanu terkesan dingin walau tak sedingin awal-awal Bhanu menunjukkan perubahan sikap. Ane harus memutar otak agar Bhanu kembali seperti sediakala namun yang menjadi penyebab perubahan sang suami belum diketahui olehnya. Ane bahkan belum sadar jika Bhanu telah mengetahui hal yang disembunyikan olehnya.


Usai sesi sarapan, Bhanu bangkit dari duduknya membawa segelas air mineral menuju ruang tengah hendak menonton siaran berita di TV. Ane memanyunkan bibirnya, ia segera membersihkan meja makan tak lupa mencuci piring kotor karena bi Popon sedang membersihkan halaman luar rumah. Ane segera menyusul sang suami seusai mencuci piring, terlihat Bhanu sedang asik menonton siaran berita. Ane duduk tepat di samping Bhanu, satu tangan pria itu yang tadinya menyender di sandaran sofa berpindah ke pundak sang istri lebih tepatnya Ane meraih tangan Bhanu dan meletakkan di pundaknya.

__ADS_1


“Mas sayang,” Ane mendusel area dada Bhanu mencari perhatian sang suami tetapi Bhanu masih diam fokus menonton TV.


Ane belum menyerah, ia kemudian mendongak mencium rahang tegas milik Bhanu berulang kali hingga Bhanu merasa geli sendiri apalagi dengan nakal Ane menggerakan kepala di lehernya. Bhanu mengepalkan tangan menahan hasrat ia tidak boleh kalah, lagi pula ini masih pagi sungguh Bhanu melakukan itu sekarang. Ane kesal, ia secara paksa naik ke atas pangkuan Bhanu dan melingkarkan tangan Bhanu ke pinggangnya sedangkan tangannya merangkul leher sang suami.


Bi Popon baru saja usai membersihkan halaman rumah terlonjak kaget melihat sepasang suami-istri sedang berpangkuan.


“Astagfirullah,” pekik bi Popon tak sadar apalagi Ane terlihat sangat agresif mencium seluruh wajah Bhanu.


Mendengar pekikan bi Popon tentu saja Ane ikut kaget tidak seperti Bhanu merasa biasa saja toh bukan dia yang berkerja tadi. Ane menenggelamkan wajahnya di cekuk leher Bhanu saking malunya.


“Maaf bibi ganggu yah, aduh punten pisan atuh, sok lanjutkeun,” wanita paru baya itu segera memasuki rumah dan melanjutkan aktivitas rumah yang belum selesai.


“Ih malu tahu! Mas kok gak ngomong kalau ada bi Popon,” rengek Ane menggoyangkan tubuhnya di atas pangkuan Bhanu.


Bhanu menaikkan alisnya menatap Ane tanpa suara. Ane memukul dada Bhanu kesal dan menarik bibir tebal sang suami.


“Ngomong gak? Ane tarik lagi nih bibir!” ancam Ane tak lupa melotot kan mata agar Bhanu takut.


Ane makin melotot kan mata, “ngatain Ane genit? Ih jahat!” kesalnya memberi pukulan di dada Bhanu. “Lagian mas juga sekarang jarang ajak Ane ngomong, kenapa? Ane ada salah? Ngomong dong, Mas! Ane bukan cenayang yang bisa nebak! Puasa ngomong tapi gak puasa itu yah pak! Malah lancar sentosa tiap malam tancap gas terus!” semua uneg-uneg dikeluarkan Ane tanpa sadar sebenarnya ia yang melakukan kesalahan.


“Yang ngerayu duluan siapa? Hm?” Bhanu menyipitkan mata sembari menaik-turunkan alisnya.


Ane menggaruk tengkuknya walau tak gatal, ia malu selama ini Ane sangat berusaha agar Bhanu tidak lagi diam-diam, makanya tiap malam Ane akan berubah menjadi genit merayu Bhanu hingga berakhir dengan pergulatan panas.


“Gak usah diperjas juga bisa gak sih?” runtuk Ane kesal sekali malu.


Bhanu mengedikkan bahunya cuek, ia hendak mengangkat tubuh sang istri agar beranjak dari pangkuannya tetapi Ane segera memeluk leher Bhanu kuat-kuat.

__ADS_1


“Gak mau! Mas ngomong dulu kenapa jadi diam-diam gini!” seru Ane tak terima.


Bhanu tidak jadi memindahkan Ane dan membiarkan wanita berstatus istrinya itu duduk di pahanya.


“Sekarang mas yang tanya kamu ada melakukan kesalahan atau gak?”


Ane menelan ludahnya susah payah, otak kecil miliknya seketika berpikir yang tidak-tidak dan kemungkinan jika Bhanu mengetahui apa yang disembunyikan akhir-akhir ini. Tidak boleh, Bhanu tidak boleh sampai tahu. Ia memberikan gelengan pelan, masih menutupi apa yang ia lakukan.


Bhanu mendesah kecewa, mengapa sangat sulit Ane jujur? Bhanu harus sabar, yah, sebab tidak ada batas untuk kesabaran bukan?


“Yaudah berarti gak ada masalah,” jawab Bhanu tenang.


“Bohong, tapi kenapa mas berubah? Atau mas punya masalah kerjaan?”


“Ya. Udah kamu turun gih, paha mas keram!” Bhanu tidak bohong ia mulai merasakan keram di paha apalagi bobot tubuh Ane sepertinya naik karena ia merasa berat ketika Ane duduk dipangkuannya.


Ane mencibir kesal tak ayal turun dari paha Bhanu—pria itu walau kesal dan kecewa tapi sekuat tenaga menutupi hal tersebut dan bersikap biasa saja.


“Ganti baju kita jalan-jalan ke mall!” perintah Bhanu bangkit dari sofa dan berbalik menuju kamar.


Ane terpekik senang dan menyusul sang suami bahkan saking senangnya ia menubruk punggung tegap Bhanu dan menempel seperti tokek.


“Sayang Mas banyak-banyak, gendong,”


Bhanu melirik wajah Ane seperti bocah, tadi menempel seperti tokek dipunggung sekarang bergelantungan seperti monyet. Bhanu mendesah pelan dan meraih tubuh Ane menggendong seperti anak koala. Ane mencium seluruh wajah Bhanu sebagai bentuk hadiah.


Sungguh terbuat dari apa hati Bhanu dan beruntunglah Ane mendapatkan suami seperti Bhanu.

__ADS_1


“Gak jadi kamu kan sakit istirahat di rumah aja,”


“Gak mau! Ane udah sembuh nih, udah semangat pokoknya jalan-jalan!”


__ADS_2