
Di sebuah rumah sakit swasta, mempunyai gedung yang begitu luas dan besar. Ane turun dari mobil namun sebelum itu tak lupa mencium punggung tangan Rangga lalu pamit. Ane meraih ponsel di tasnya lebih dulu menghubungi Bhanu jika ia telah sampai. Ane menenteng paperbag berisikan nasi dan sup iga, lava cake, red Velvet cake, serta minuman segar dan air mineral. Ane menunggu di lobi rumah sakit hingga tak lama sosok Bhanu muncul dengan senyum sumringah terpatri di wajah dokter tampan itu.
Ane ikut tersenyum, Bhanu meraih totebag di tangan gadis itu sembari mengajak Ane ke ruangannya. Keduanya menjadi sorotan dari orang-orang khususnya pegawai, perawat dan dokter yang mengenal Bhanu. Ini kali pertama ada sosok perempuan datang mengunjungi Bhanu apalagi melihat respon Bhanu seakan begitu senang melihat kedatangan Ane. Bisik-bisik pun mulai terdengar, tetapi Bhanu hanya menyikapinya dengan cuek.
Di lorong rumah sakit ketika langkah keduanya hampir memasuki bangsal anak, sosok Qilla bersama teman-temannya terlihat sepertinya mereka akan ke kantin untuk mencari makan siang. Melihat Qilla yang asik mengobrol, niatan untuk menyapa diurungkan Ane takut mengganggu. Namun begitu, ternyata Qilla tak sengaja mengedarkan pandangan, menangkap sosok Ane berjalan bersama Bhanu sontak membuat Qilla berjengit kaget dan memanggil Ane.
”Ne!”
Pemilik nama tersebut menoleh ke arah Qilla, dimana gadis itu tersenyum sembari melambaikan tangan. Qilla menghampiri Ane.
“Cie, makin mesra aja nih, bahkan bawain makan siang calon suami,” goda Qilla melihat paperbag di tangan Bhanu diyakininya isinya ada makanan.
Ane tersipu malu, “apa sih, Qilla! Kamu mau ke mana?”
“Ke kantin, lapar nih, kan gak ada yang ingetin makan apalagi bawain makan siang jadi harus mandiri cari sendiri,” tersirat nada godaan kembali dilayangkan oleh Qilla pada Ane.
“Maaf, aku lupa kabarin kamu, takut ganggu coba tadi sekalian yah bawain kamu,”
“Santai, gak papa lagian tadi emang aku lagi gak ada waktu buat megang hp, yaudah deh lanjut aja sama pak dok,” Qilla mengedipkan matanya lalu berbalik menyusul teman-temannya.
Bhanu beserta Ane melanjutkan langkahnya hingga berhasil berada diruangan Bhanu. Ane mengeluarkan makanan yang dibelinya, Bhanu jadi tidak sabar, walau bukan masakan Ane tetapi ia senang akan makan bersama Ane lagi. Aroma sedap menguar hingga memasuki hidungnya, sup iga yang sangat menggiurkan. Belum sempat keduanya menikmati makanan, terdengar ketukan pintu.
“Maaf, dok ini saya, Tya!”
Bhanu bersuara menyuruh Tya masuk, lalu Tya masuk dengan raut wajah cemas sambil berkata, “itu Kinan menangis histeris, saya kewalahan dok, ibunya juga lagi kerja,”
“Sayang tunggu bentar yah, Mas lihat Kinan dulu, gak apa-apa kan?” Bhanu ikut cemas dengan Kinan, Ane hanya bisa mengangguk lagi pula ia memaklumi kondisi Kinan dan sudah tugas Bhanu.
__ADS_1
Tya menyadari ucapan dan sosok Ane di ruangan Bhanu, otak kecilnya seketika berpikir siapa kah sosok Ane, tapi panggilan sayang sepertinya sudah memperjelas semuanya ada hubungan special di antara Bhanu dan Ane. Tya melirik ke arah Ane yang juga memandangi wajahnya, Tya mengangguk sembari tersenyum kemudian berbalik menuju ruang inap Kinan yang disusul oleh Bhanu.
“Kinan gak mau jadi botak! Kinan benci!”
Dari luar ruang pun sudah terdengar teriakan Kinan, Bhanu membuka pintu melihat Kinan memukul kasur dan sesekali memegang kepalanya. Bhanu mendekati Kinan tak lupa memeluk tubuh kecil gadis itu yang bergetar hebat karena tangisan.
“Sstt, jangan nangis,”
Tangan kecil Kinan memukul dada Bhanu, “Kinan gak mau botak papa dokter! Rambut Kinan rontok semua! Kinan gak punya rambut, Kinan gak mau! Kinan jelek! Kenapa harus Kinan? Kenapa? Kinan gak mau seperti ini!”
Bhanu mengelus punggung Kinan lembut, ia membisikkan kata-kata penenang bagi Kinan.
“Kinan anak special, Kinan cantik dengan kondisi apa pun, Kinan hebat, Kinan kuat,”
Kinan berhenti memukul dada Bhanu, air matanya tak berhenti keluar, wajahnya merah padam, bulir air mata membasahi pipinya.
Ane terus memerhatikan Bhanu menghadapi Kinan dengan telaten, bahkan merapihkan penampilan Kinan dibantu Tya, walau begitu Kinan terlihat masih menangis hanya saja tak se-histeris tadi. Kinan seolah tak ingin jauh dari Bhanu, gadis kecil itu memeluk Bhanu erat enggan berpisah. Ane akan kembali ke ruangan Bhanu, memberikan waktu bagi Bhanu menenangkan Kinan lebih dulu. Ia sangat mengerti dengan keadaan saat ini, Kinan jauh lebih membutuhkan Bhanu untuk sekarang.
Saat tubuh Ane hendak berbalik, tubuhnya hampir saja menabrak sosok wanita cantik dan elegan, matanya melebar menyadari sosok itu, wanita yang pagi tadi ia temui di hotel. Apalagi penampilan wanita masih sama tak berubah, hal yang sama dilakukan oleh wanita tersebut. Ia heran melihat Ane ada di rumah sakit ini apalagi berdiri di depan ruang inap anaknya.
“Kamu siapa? Kenapa ada di depan ruangan anak saya?” tanya Erina.
“Saya—itu, kebetulan sedang berkunjung bertemu teman terus gak sengaja dengar suara tangisan jadi—”
Erina menaikkan satu alisnya, jawaban Ane memancing keraguan baginya.
Di dalam ruangan, melihat penampakan sosok wanita di luar, serta suara obrolan-obrolan yang salah satu suara tersebut dikenali oleh Bhanu—pria itu melepaskan tangan Kinan serta membujuk gadis kecil itu melepasnya, Bhanu juga melirik ke arah Tya memberi kode untuk menamani Kinan. Untung saja Kinan tidak memberontak, hingga Bhanu bisa mengecek keadaan di luar dan benar saja suara itu adalah milik Ane. Bhanu pun melihat Erina di sana.
__ADS_1
“Sayang, kok kamu di sini? Kan aku bilang tunggu di ruang Mas aja,” ujar Bhanu sengaja menekankan kata sayang agar Erina paham siapa Ane.
“Maaf, Ane cuma—” belum sempat Ane berkata, Bhanu lebih dulu memotongnya.
“Gak apa-apa. Bu Erina, tadi Kinan sempat histeris, tapi alhamdulilah sudah tenang, kalau begitu saya pamit di dalam ada Tya,”
Erina menggerakkan kepalanya naik turun, matanya masih memerhatikan Ane, ia ingat sekarang wajah Ane pernah ia lihat di layar ponsel Bhanu ketika pria itu sedang video call bersama Ane. Erina mendadak merasakan kekecewaan, wanita itu kemudian tanpa kata memasuki ruang anaknya. Bhanu bisa melihat gelagat Erina, tapi tak ingin diambil pusing olehnya. Bhanu mengajak Ane kembali ke ruangannya.
“Eh, itu mama Kinan udah datang,” Tya menunjuk sosok Erina sudah berada di ruangan, Kinan langsung merengek meminta Erina memeluknya. Erina memasang senyum di depan sang anak, walau hatinya sedih dan kecewa.
Erina memeluk tubuh sang anak erat, tak lupa mengelus punggung Kinan—gadis kecil itu melirik ke arah pintu, ia tak menemukan sosok Bhanu. Ia mendongakkan kepalanya memandang wajah sang ibu.
“Papa dokter, mana? Kok hilang,” cemberut Kinan.
“Sayang, mulai sekarang Kinan gak boleh panggil papa lagi yah ke dokter?”
“Kenapa, Ma? Papa dokter kan gak marah,”
Erina menatap serius wajah sang anak, tangannya membingkai wajah Kinan yang pucat.
“Iya, tapi tidak seharusnya sayang, dokter bukan papa Kinan, jadi mulai sekarang Kinan berhenti panggil papa ke dokter yah? Kinan sayang mama kan? Kinan nurut yah, apa kata mama!” dengan anggukan lemah Kinan berikan. Ia tidak ingin Mama nya marah, karena ia hanya memiliki Erina.
Tya melihat itu ikut sedih tapi apa yang dilakukan Erina juga benar, apalagi Bhanu sudah memiliki pasangan yang harus dijaga perasaannya, mungkin saja Bhanu bisa memaklumi tapi belum tentu pasangan pria itu.
Lidah Tya terasa gatal hingga ia tak bisa menahan diri untuk bersuara, “merelakan memang pilihan yang tepat, apalagi ketika kita tahu orang yang kita suka sudah ada yang punya,”
Erina sontak saja mengalihkan pandangannya ke arah Tya—gadis itu memasang senyum tanpa dosa dan segera pamit pada Erina.
__ADS_1