
Setelah Rangga resmi tinggal di Jakarta, pria itu menyewa rumah kontrakan untuk ditinggali selama di Jakarta. Bhanu menawarkan Rangga tinggal bersamanya tetapi kakak Ane itu menolak mengatakan ingin kontrak saja enggan merepotkan padahal Bhanu sama sekali tidak merasa seperti itu.
Rangga mendapatkan pesan dari Erina mengatakan jika hari ini ia akan terbang ke Singapura bersama Kinan. Rangga tentu senang dan membeli boneka beruang berukuran sedang untuk Kinan. Erina mengatakan jika Kinan terus mencarinya, posisi Bhanu kini tergantikan oleh kehadiran Rangga sungguh cepat dan Erina sendiri tidak menyangka akan hal itu.
Rangga akan ke rumah sakit menjemput Kinan dan Erina. Semua data rekap pemeriksaan kesehatan Kinan telah dipegang oleh Erina untuk diteruskan ke dokter yang akan menangani anaknya nanti selama pengobatan di Singapura. Kaki jenjang milik Rangga menyusuri lorong rumah sakit menuju bangsal anak tempat Kinan di rawat selama ini. Kinan tersenyum cerah dengan mata berbinar melihat kehadiran Rangga serta boneka beruang yang dibawa pria itu.
Kinan merentangkan tangan berada di kursi roda pertanda jika ingin dipeluk Rangga tentu dengan senang hati kakak Ane itu memeluk tubuh mungil Kinan tak lupa memberi satu kecupan hangat di kening Kinan. Erina melihat itu diam saja dan pikirannya tentu masih bertanya-tanya, mengapa bisa begitu cepat Kinan menempel pada Rangga begitu juga sebaliknya.
“Kinan senang banget ketemu om baik lagi, ini boneka untuk Kinan kan, om?”
“Tentu sayang, gak mungkin om kasih untuk mama kamu kan?”
“Hehe, iya juga, tapi om gak bawa hadiah untuk mama Kinan?”
“Om bawa cinta untuk mama Kinan,”
Erina melototkan mata, Kinan sendiri hanya menatap polos ke arah Rangga karena tidak mengerti maksud pria itu. Rangga terkekeh geli lalu meraih Kinan untuk digendong.
“Yey! Om baik banget mau gendong Kinan, terima kasih! Kinan sayang om!” seru Kinan senang tak lupa memberikan hadiah kecupan manis untuk Rangga.
Suara ketukan terdengar dan betapa kagetnya sosok yang mengetuk pintu tersebut melihat kehadiran kakak dari istrinya berada di ruang inap Kinan apalagi mereka terlihat begitu akrab layaknya seorang ayah dan anak.
Bhanu memberikan tatapan bingung kepada Rangga dan Erina. Rangga menghela napasnya kemudian bersuara, “nanti kita ngobrol Mas,”
“O—ke,” Bhanu melupakan sejenak rasa kaget dan penasaran, ia berjalan mendekati Kinan dan mengelus kepala Kinan sayang. “Kinan harus sembuh yah, pokoknya Kinan harus kabarin dokter kalau sembuh dan dokter akan kasih Kinan hadiah, setuju?”
Kinan mengangguk semangat dan menaikkan sedikit lehernya hendak memberikan kecupan di pipi kiri Bhanu.
“Terima kasih selama ini dokter baik sama Kinan dan juga sayang sama Kinan, kata Mama dokter sudah menikah yah? Menikah itu berarti dokter punya istri yang artinya pasangan kayak mama dan papa. Semoga dokter bahagia dan punya dedek bayi lucu jadi teman Kinan nanti kalau sembuh,”
“Sama-sama sayang. Dokter juga terima kasih atas doa baiknya Kinan, baik-baik yah di sana semangat terus Kinan pasti sembuh karena Kinan anak yang kuat,”
Erina sedari tadi hanya tersenyum getir memandang Bhanu, sosok yang tak mungkin bisa raih lagi tentu Erina harus menerima hal itu tak bisa memaksa kehendaknya. Rangga bisa melihat dan menebak arti tatapan Erina ada sesuatu yang disembunyikan perihal perasaan pada Bhanu. Rangga akan mencoba untuk mendekati Erina pelan-pelan dan merebut hati Erina. Rangga tak pernah setertarik ini pada wanita hasrat memilki kian bertambah besar dalam diri Rangga.
Bhanu pamit kembali ke memeriksa pasien yang lain, tinggal lah Rangga beserta Erina dan Kinan. Erina melirik jam, ia harus segera ke Bandara takut terjebak macet. Rangga menggendong Kinan sampai naik ke mobil, Erina mendorong kursi roda Kinan. Barang-barang Erina berada di mobil yang akan dibawa oleh supir, Rangga ingin mengantar Erina dan Kinan sampai bandara menggunakan mobilnya.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju bandara, Kinan tak henti berceloteh riang dan mengatakan tak sabar berkunjung ke Merlion Park. Kinan juga ingin segera sembuh agar bisa bersekolah serta bertemu dengan banyak teman. Letih bercerita Kinan pun akhirnya mengantuk dan memilih tidur sejenak selama perjalanan menuju bandara. Hingga mereka telah sampai, Erina melirik ke arah kursi belakang Kinan tertidur pulas. Rangga memarkirkan mobil lebih dulu. Ia tak bergegas turun ingin mengajak Erina mengobrol sebelum masuk ke dalam bandara.
“Masih ada waktu kan? Saya mau ngobrol sama kamu,”
Erina mengangguk saja. Rangga menggeser tubuhnya hingga bisa melihat Erina secara jelas dan dekat.
“Bagaimana apakah kamu sudah mempertimbangkan niatan saya?”
Erina menoleh, “sejujurnya, saya bingung harus menyikapi ini seperti apa. Semua terasa begitu cepat, aku dan kamu sebelumnya tak mengenal sama sekali, kita asing lalu dipertemukan dan kamu pun begitu mudahnya merebut perhatian Kinan sampai Kinan begitu nyaman sama kamu. Saya bingung, saya tidak tahu langkah apa yang harus saya ambil,” ujarnya penuh keraguan.
Rangga sangat memahami perasaan Erina dan ini lah saatnya Rangga meyakinkan Erina bahwa ia bersungguh-sungguh.
“Bukan kah kamu pikir ini adalah jalan Allah untuk mempertemukan kita? Di pikiran kamu mungkin ini terdengar tidak masuk akal. Tiba-tiba bertemu lalu akrab bahkan saya tertarik dan ingin serius dengan kamu tapi itu lah jalan Allah yang kita sendiri tidak bisa menduga. Saya tidak bisa berjanji apa pun sama kamu tapi saya akan berusaha menjadi yang terbaik buat kamu dan Kinan. Saya mohon beri saya kesempatan, buka hati kamu sebagaimana kamu membuka hati untuk Mas Bhanu, yah saya tahu kamu menyukai suami adik saya. Cara kamu menatap Mas Bhanu sangat jelas kalau kamu punya rasa padanya,”
Erina termangu, bagaimana bisa Rangga tahu. Apakah sangat kentara kalau dia menyukai Bhanu? Erina tidak habis pikir. Erina makin dibuat bingung harus menjawab apa, ia malu seakan ingin menjauh dari Rangga sekarang juga. Malu karena Rangga bisa dengan mudah menebak gerak-geriknya.
“Pikirkan Kinan, dia juga butuh sosok ayah dan saya yakin bisa dan berusaha menjadi ayah yang baik untuk Kinan. Perjalanan Kinan masih panjang, tentu kedepannya Kinan masih membutuhkan figur seorang ayah sama seperti kamu pun begitu, apakah kamu ingin selamanya hidup sendiri?”
“Ada Kinan!”
Erina melihat kesungguhan dari sorot mata Rangga, ia berpikir sejenak dan tidak ada salahnya membuat hati buat Rangga apalagi Kinan terlihat nyaman sama Rangga begitu pun Rangga yang menyayangi Kinan.
Anggukan kecil dari Erina membuat Rangga tersenyum lega.
“Apa kamu tidak masalah hubungan kita akan terhalang jarak?”
“Tidak masalah, InsyaAllah aku akan sesekali menjenguk kalian di Singapura.”
“Terimakasih atas segalanya,”
Erina untuk pertama kali memberikan senyum manis dan tulus pada Rangga tak ada paksaan justru rasa terimakasih karena Rangga menerima dirinya apa adanya beserta Kinan.
\*\*\*\*
Malam harinya, Ane telah siap untuk tidur, bahkan sudah setengah berbaring di atas ranjang dengan kepala bersandar di sandaran ranjang. Sedangkan Bhanu baru saja buang hajat sekaligus cuci muka dan sikat gigi.
__ADS_1
Ane memainkan ponsel menjelajahi sosial media. Tak lupa mencari lowongan pekerjaan terbaru, gesekan pintu terdengar, ia mendongak menatap Bhanu keluar dari kamar mandi. Pria itu menghampiri sang istri naik ke atas ranjang. Bhanu mengecek ponselnya lebih dulu serasa tidak ada hal yang penting pria itu menaruh kembali ke atas meja nakas. Bhanu membaringkan tubuhnya menghadap sang istri. Ane masih sibuk bermain hp.
“Sayang,”
“Hm,”
Bhanu berdecak sebal, meraih ponsel Ane.
“Udah ah main hpnya, sekarang waktuny tidur ayo!” Bhanu menarik lengan Ane agar berbaring bersama.
Ane menghela napas ringan dan menatap wajah tampan sang suami posisi tidur mereka saling berhadapan. Tangan Ane terulur menyentuh wajah sang suami tak lupa mengelus rahang Bhanu secara lembut bahkan Bhanu sangat menikmati gerakan tangan Ane mengelus rahangnya.
“Mas kok tampan sih? Ane makin cinta deh, nanti anak Ane kalau cowok bakal setampan mas kalau cewek secantik Ane tentunya, hahhaa,”
Bhanu membuka mata yang tadinya terpejam saking menikmati elusan tangan Ane.
“Jadi kamu cinta sama Mas karena tampan? Hm?”
“Iya soalnya Mas tampannya gak tanggung-tanggung sih, hatinya apalagi makin buat Ane klepek-klepek tahu,”
Bhanu tertawa ringan dan mengarahkan tangannya mengelus perut datar sang istri tentu Ane kaget.
“Anak papa udah ada belum di perut mama?”
Ane terdiam dan terbengong, yah ini lah yang jadi pertanyaan dalam otak Ane. Apakah dia sudah hamil? Kalau iya, berarti pupus sudah harapannya bekerja. Melihat reaksi sang istri, tangan Bhanu berpindah mengelus pipi Ane hingga membuat wanita itu tersentak kaget dan buru-buru mengubah ekspresinya menutupi segala kegelisahan yang melandai Ane.
“Mas aku ngantuk nih, tidur aja yuk,” Ane memilih mengalihkan pembicaraan, bahkan kini tubuhnya membelakangi sang suami tetapi Bhanu segera menarik tubuh Ane dan menyuruh wanita itu berbalik badan.
“Gak baik munggungi suami, sini peluk mas kangen meluk kamu,” Bhanu meraih Ane ke dalam pelukan tak lupa memberikan satu kecupan di kening Ane sembari mengucapkan selamat malam.
...Assalamualaikum, terima kasih atas dukungan kalian selama ini jangan pernah bosan nunggu kelanjutannya. Jangan lupa juga untuk selalu Vote+like+comment. terimakasih;)...
...Big Love ♥️...
...Vite...
__ADS_1