Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 53


__ADS_3

Istri♥️


Mas, kalau pulang langsung aja yah kalau bisa jangan singgah-singgah ada hal yg penting!


Bertepatan dengan jam pulang, sebuah notifikasi muncul di layar ponsel milik Bhanu. Ia mengernyit bingung hal penting apakah yang dimaksud sang istri, namun begitu ia bergegas segera pulang. Membutuhkan waktu setidaknya satu jam lamanya menempuh perjalanan menuju rumah dikala kemacetan melanda. Pukul 5 sore ia baru saja tiba di rumah. Ketika turun dari mobil samar-samar mendengar suara gelak tawa dari dalam rumah yang ia pikir Lingga dan kedua keponakannya sedang bertamu di rumahnya.


Di ruang tengah, mata Bhanu menangkap objek lain, sosok bayi yang berada di pangkuan sang istri tengah tertawa lebar sedang bermain dengan kedua keponakannya. Bhanu berjalan mendekati keluarganya, namun begitu Bhanu tak langsung menyentuh sang istri ataupun Caca dan Satya. Ia berdiri agak jauh, Ane menyadari kehadiran sang suami dan beradu pandang, apalagi tatapan Bhanu menyiratkan rasa penasaran.


“Hm, bersih-bersih dulu, habis itu Ane jelasin,” ujar Ane yang diangguki oleh Bhanu.


Bhanu mandi kilat saking rasa penasaran dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi apalagi sosok bayi asing itu. Bhanu mengambil posisi duduk di samping sang istri masih setia memangku bayi itu tak peduli perut besar wanita itu. Kehadiran Bhanu ternyata di sadar oleh bayi yang dipangku Ane dan hal mengejutkan pun terjadi tatkala bayi itu memberontak di pangkuan Ane mengulurkan tangan pada Bhanu seperti ingin digendong.


Tanpa kata, Bhanu meraih bayi itu berpindah ke pangkuannya tak tega rengekan bayi tersebut selain itu mengkhawatirkan sang istri. Respon bayi itu persis saat bersama Ane, bayi itu terlihat antusias berada di pangkuan Bhanu bahkan kaki-kaki kecilnya dihentakkan beberapa kali dan tersenyum lebar menampilkan dua gigi susunya.


“Ane nemu bayi ini di minimarket depan mas, kasihan banget loh, coba deh baca kertas ini,”


Bhanu meraih kertas yang diulurkan oleh istrinya. Matanya bergerak seiring bacaannya pada kertas tersebut. Gemuruh amarah menyerangnya begitu saja, ia bahkan meremas ujung kertas tersebut dan memberikannya pada Ane. Tangan besar pria itu makin erat melingkar di perut bayi kecil itu.


“Mbak nggak habis pikir jaman sekarang masih ada aja orang bejat seperti itu, melakukan pemerkosaan sungguh keji!” sampai saat ini Lingga masih kesal pada tindak pemerkosaan yang dilakukan pada ibu bayi tersebut, walau ia juga tidak membenarkan apa yang dilakukan ibu bayi tersebut yang memilih melantarkan anaknya begitu saja.


“Mas setuju gak kalau bayi ini kita rawat dan angkat jadi anak kita?” tanya Ane hati-hati dalam hati kecil berharap jika Bhanu setuju.


Bhanu memejamkan matanya sesaat, setelah itu melirik ke arah Ane sambil mengangguk mantap dan sorot mata lelaki itu tak ada keraguan sama sekali. Ane menyunggingkan senyum lebar dan memeluk lengan sang suami senang. Tak ada alasan kuat untuk Bhanu menolak bayi tersebut terlepas dari dari mana asal bayi itu, selama menjadi dokter anak, dunianya tak jauh-jauh seputar anak jadi naluri Bhanu tak tega jika menolak merawat bayi itu. Lagipula bayi itu tidak berdosa. Ia akan merawat dan menjaga bayi lucu itu penuh kasih sayang dan memberikan keluarga utuh.

__ADS_1


“Terima kasih mas!” ujar Ane penuh haru.


Bhanu membalasnya dengan senyum, pria itu menunduk pada bayi di pangkuannya asik berceloteh tak jelas sesekali tertawa lebar ketika Caca dan Satya menunjukkan ekspresi konyol.


“Mulai saat ini papa akan menjaga kamu, ada papa dan mama yang akan sayang sama kamu,” bisik Bhanu di telinga bayi itu walau ia tahu ucapannya tidak akan dimengerti oleh bayi berusia satu tahun tersebut.


“Kalian harus punya surat resmi terkait anak itu. Agar kedepannya ketika keluarga bayi itu muncul dan ingin mengambilnya kalian punya pegangan kuat. Anak itu harus disahkan secara hukum sebagai anak kalian,” saran Lingga.


Ane dan Bhanu kompak mengangguk menyetujui perkataan Lingga. Menjelang magrib, Lingga pamit pulang berserta Caca dan Satya. Kini tinggal lah Ane, Bhanu dan bayi itu. Ane memainkan ponsel mencari nama yang sekiranya cocok bagi bayi itu. Bhanu sibuk menimang bayi kecil dalam gendongannya, bayi itu baru saja menghabiskan satu botol susu.


“Nailah Raihana,” gumam Ane berhasil mendapatkan nama yang pas.


“Giandra. Nailah Raihana Giandra,” tambah Bhanu saat mendengar nama itu disebutkan oleh sang istri.


Ane mengangguk setuju, “sayang, nama kamu Nailah Raihana Giandra, ada nama papa loh di belakang nama kamu, senang gak nak?” ujarnya mengusap pipi bayi itu menggeliat dalam gendongan Bhanu mendapatkan elusan.


“Nai, ih, lucu juga, panggilannya baby Nai,” Ane mencuri kecupan di pipi baby Nai membuat bayi itu merengek.


“Sayang, anaknya lagi bobo, jangan usil dong mama!” ujar Bhanu melotot.


Hati Ane senang dan menghangat karena Bhanu bisa menerima baby Nai sepenuh hati, bahkan pria itu kini mendadak berubah menjadi seorang ayah posesif. Sedari tadi tak ingin melepaskan baby Nai bahkan bersikeras ingin menggendong hingga baby Nai tertidur.


Nailah Raihana Giandra yang memiliki arti Karunia Allah SWT yang berjiwa baik, sentosa dan pintar berharap jika baby Nai bisa tumbuh besar seperti apa yang mereka harapkan melalui nama yang diberikan. Baby Nai adalah karunia dari Allah SWT yang sama berharganya dengan kehadiran calon anak mereka, kasih sayang dan cinta akan mereka curahkan pada baby Nai berjanji jika tidak akan membedakan antara baby Nai dan calon anak mereka nantinya.

__ADS_1


\*\*\*\*


Ane mengigit bibirnya bawahnya, kedua mata wanita itu terpejam erat, tangannya mengepal seperti menahan sesuatu. Di sampingnya ada Bhanu sibuk memerhatikan baby Nai. Hasrat tiba-tiba saja menguasai Ane, matanya terbuka menatap sang suami sendu.


“Mas,” lirih Ane masih mengigit bibirnya kuat.


Bhanu seketika panik, ia bangkit kemudian mendekat ke sisi Ane.


“Ada yang sakit?” tanya pria itu penuh cemas.


Ane menggeleng, “Ane gak kuat mas!” bibir itu bergetar seiring hasrat kian membuncah.


Bhanu tak mengerti maksud sang istri terlebih lagi gelengan kepala Ane seakan mengatakan jika ia tidak sakit apa pun. Melihat aksi diam Bhanu, Ane berdiri menegakkan tubuhnya merapat pada sang suami, hasrat itu tidak bisa ia bendung lagi sontak saja Ane menyerang suaminya itu dengan memberikan ciuman lebih dulu ke bibir pria itu. Bhanu baru menyadari apa maksud Ane. Perlahan ia pun membalas ******* itu dan berlanjut ke adegan yang lebih panas lagi.


Terdengar hembusan napas saling beradu di kamar, belaskan karpet bulu sepasang insan manusia baru saja menyelesaikan pergulatan panasnya. Bhanu menempelkan tangan besarnya di atas perut besar sang istri di mana anaknya bersemayam di dalam sana. Ane bersemu merah mengingat apa sebelum terjadinya pergulatan panas mereka, wanita itu tiba-tiba merasakan hasrat seksual yang sulit dibendung, ia mendapatkan sentuhan dari sang suami. Bhanu pun menuruti keinginannya dan selama melakukan itu Bhanu sangat berhati-hati dan bergerak lembut agar tidak menyakiti dirinya dan calon anak mereka.


Bhanu terkekeh geli, mencuri kecupan di bibir terbuka sang istri. Ane merengut sebal memukul punggung lebar Bhanu melemparkan tatapan tajamnya.


“Ih, main cium aja, kan Ane lagi atur nafas nih. Sumpah engap banget mas, capek, satu kali aja yah? Ane udah gak kuat mas, gak apa-apa, kan?”


“It's okay! Ya udah, mas bantu bangun, bersih-bersih dulu, habis itu kita tidur, kasihan baby Nai tidur sendiri di kasur,” ujar Bhanu membantu sang istri bangun dari karpet.


Sebelum pergulatan itu terjadi, Bhanu mengajak Ane ke kamar sebelah tetapi Ane menolak dengan alasan takut jika baby Nai bangun dan memilih untuk melakukan itu di bawah saja dengan beralaskan karpet bulu. Bhanu meraih pakaian mereka dan menuntun Ane masuk ke kamar mandi, ia pun membantu membersihkan bagian bawah sang istri tanpa rasa jijik walau Ane menahan sekuat tenaga rasa malu. Bhanu juga tak lupa membersihkan tubuhnya setelah selesai, keduanya langsung bergabung ke atas ranjang di mana baby Nai berada di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


Ane dan Bhanu kompak memberikan kecupan di pipi bab Nai, tak pilih kasih Bhanu mendekatkan diri dan mengecup perut Ane.


“Sayang-sayangnya papa, sehat-sehat yah, nak!” ujar Bhanu melirik baby Nai sambil mengelus perut Ane.


__ADS_2