
Di pagi hari tepatnya di hari Minggu kediaman Bhanu nampak jauh lebih ramai dari biasanya. Kehadiran baby Nai mampu menyingkirkan suasana sepi di rumah itu termasuk hati pemilik rumah tersebut. Pagi ini, Ane sibuk berada di dapur bersama bi Popon, wanita itu meminta diajarkan membuat makanan untuk baby Nai, walau ada bubur kemasan yang ia beli tapi Ane pikir akan lebih bagus jika membuatnya sendiri. Jika kalian menanyakan dimanakah Bhanu maka jawabannya adalah pria itu juga sibuk memandikan baby Nai. Bahkan tawa riang baby Nai terdengar nyaring hingga ke lantai dasar.
Bhanu berbangga diri setelah berhasil memandikan baby Nai tanpa drama ataupun rengekan dari bayi itu. Bhanu memakaikan dress berwarna coklat muda ke tubuh mungil baby Nai. Rencana Minggu ini Bhanu akan mengajak sang istri mencari keperluan baby Nai, untuk perlengkapan bayi yang ada di kandungan Ane sendiri belum mereka siapkan karena para orang tua menyarankan nanti saja setelah usia kehamilan menginjak 7 bulan. Maka dari itu Bhanu dan Ane sama sekali belum membeli apapun buat bayi mereka.
“Lucu sekali anak papa ini, Nai kesayangan papa nih,” Bhanu mencium seluruh wajah baby Nai wangi bedak dan minyak telon beradu jadi satu menyeruak masuk ke hidung pria itu.
Baby Nai tergelak geli saat Bhanu mencium seluruh wajahnya. Tangan mungilnya meraup wajah Bhanu seperti sedang mengatakan stop pada pria itu. Tawa Bhanu pecah melihat wajah baby Nai bersemu kegelian, ia mengangkat tubuh mungil baby Nai akan turun menghampiri Ane.
“Yuk, kita samperin mama,” ujarnya pada baby Nai kini terlihat sangat antusias berada di gendongannya, kedua kaki mungil itu bergoyang-goyang.
“Aduh, anak Sholehah anak cantiknya mama udah mandi yah? Makasih papa udah mandiin baby Nai,” Ane melemparkan senyum manis saat suami dan anaknya muncul. Wanita itu melangkah mendekati dua kesayangannya. Tak lupa mengecup pipi baby Nai dan juga kecupan singkat di bibir sang suami.
Baby Nai merentangkan tangan hendak digendong oleh Ane saat wanita itu ingin meraih baby Nai dari gendongan Bhanu—pria itu segera menjauhkan baby Nai.
“Nai sama papa aja yah? Mama nanti capek gendong Nai, kan ada dedek di perut mama,” Bhanu menggoyangkan tubuh baby Nai namun nampaknya bayi itu tidak senang, bibirnya mengerucut lucu siap menangis.
Ane menarik paksa baby Nai dari sang suami tanpa sempat protes.
“Cup, cup, anak mama sayang, kita sarapan yuk nak!” Ane berjalan menuju meja makan lalu mendaratkan bokongnya di kursi.
“Neng geulis, mau mam yah?” colek bi Popon di lengan baby Nai.
“Mmm....mam...ma,”
Bibir mungil baby Nai bergerak mengeluarkan suara khas seorang bayi. Ane terkekeh gemas memberikan ciuman bertubi-tubi di pipi baby Nai.
__ADS_1
“Nghh....mam...ma...!” baby Nai memukul tangan Ane.
“Anak kita udah gak sabar buat makan ma, jangan di cium terus dong,” celetuk Bhanu ikut bergabung di meja makan.
Ane tertawa pelan, “maaf yah nak, gemes mama tuh sama kamu!” wanita itu berdiri dari kursi sebelum menyuapi baby Nai, ia lebih dulu akan menyiakan sarapan bagi Bhanu tetapi suaminya itu menolak tegas menyuruh Ane duduk saja, ia bisa melakukannya sendiri toh seluruh makanan telah tersaji di meja.
Ane pasrah saja lalu ia mulai menyuapi baby Nai.
“Eh, sayangku, mama saja nak, baby Nai buka mulutnya lebar-lebar, pesawat datang—aaaaa,”
Baby Nai tadinya ikut memegang sendok yang diarahkan ke mulutnya, Ane menyingkirkan lembut tangan mungil itu agar tidak belepotan walau pada akhirnya tetap terjadi namun tak masalah ia akan membersihkan wajah baby Nai setelah makan. Bhanu makan dalam diam mengamati interaksi Ane dan baby Nai, senyumnya tak luntur walau sedang menguyah, sesekali ia ikut tertawa ketika ada tingkah lucu dari baby Nai.
“Hap, pintar sekali anak mama, yeee habis tepuk tangannya mana, nak?” baby Nai menatap polos wajah Ane lalu wanita itu meraih kedua tangan baby Nai mempraktekkan gerakan tepuk tangan.
“Eits, sayang udah mandi,” Ane menjauhkan baby Nai dari westafel dan kembali ke meja makan. Bhanu nampaknya sudah selesai sarapan, pria itu berdiri mengampiri sang istri meraih baby Nai lalu menyuruh sang istri sarapan serta minum susu hamil. Bhanu mengajak baby Nai keluar rumah menghirup udara pagi.
Baby Nai mengerjapkan matanya beberapa kali saat angin menerpa, pandangan bayi itu mengarah ke langit, burung-burung bertebaran di langit biru. Baby Nai bergerak riang dalam gendongan sang papa, tangannya pun terbuka lebar, kaki mungil itu ikut bergoyang.
“Nai senang, nak? Itu ada burung, tuh!” Bhanu menunjuk tangannya ke udara menatap langit.
Suara klakson terdengar, Bhanu memicingkan mata ada sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya.
“Halo, dedek!”
“Dedek bayi na Caca!”
__ADS_1
Seruan Satya dan Caca beradu jadi satu, baby Nai terlonjak senang mendengar dan melihat dua kakak sepupunya di atas mobil yang jendelanya terbuka lebar.
“Aduh, bapak able banget sih, dek!” seru Lingga di atas mobil.
“Kalian mau ke mana?” tanya Bhanu mengalihkan pembicaraan.
“Mau ke Bogor! Ya udah, titip rumah yah, dek soalnya mbak baliknya Senin besok,”
Bhanu mengangguk saja, ternyata Lingga sekeluarga akan bertandang ke rumah orang tua Randu di Bogor.
“Huuuu....,” suara rengekan baby Nai terdengar nyaring. Pipi bayi itu nampak merah.
“Ih, kan nangis, Caca om nyubit pipi adek!” adu Satya.
Caca menutup mulutnya. Bhanu mengelus bekas cubitan Caca di pipi baby Nai.
“Caca ih, minta maaf sayang sama adek," ujar Randu.
“Maaf yah dedek, sini ebak cium adek,” Caca mendekatkan bibir monyongnya siap mencium baby Nai tetapi bayi itu memalingkan wajah serta menepuk bibir Caca membuat sang empu meringis. “Ih, dedek nakal! Ebak Caca gak like dedek!” Caca mengurungkan niatan meminta maaf dan menjauh dari jendela memalingkan wajah enggan melihat baby Nai.
“Yaudah ah, mbak berangkat sekarang, assalamualaikum,”
“Walaikumsalam,”
Usai mobil Randu meleset jauh, Bhanu berbalik memasuki rumah.
__ADS_1