Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 58


__ADS_3

Sinar matahari menyilakan mata seorang wanita hamil masih nyaman bergelung dibalik selimut tebal sambil memeluk tubuh mungil di sampingnya. Sebuah sentuhan lembut terasa menyentuh kulit pipinya, mau tak mau ia membuka kedua matanya dan sesekali mengerjap menyesuaikan cahaya. Senyum terbit di bibir wanita itu ketika sosok sang suami duduk di ujung ranjang melemparkan senyuman termanis padanya. Sebuah kecupan sayang diberikan Bhanu pada Ane di kening wanita itu.


“Maaf yah pa, mama bangun telat, badan mama rasanya pegal banget,” sesal Ane merasa tak enak sebab Bhanu lebih dulu bangun dan menyiapkan pakaian seorang diri.


Bhanu tersenyum maklum mengingat aktivitas mereka malam hari cukup menguras tenaga wanita itu apalagi perut Ane kian membesar.


“It's okay, papa ngerti. Kalau mama masih capek tidur lagi aja,”


Ane menggeleng pelan mengulurkan tangannya sudah paham dengan kode yang diberikan Bhanu segera membantu sang istri agar bangun.


“Peluk dulu,” manja Ane menelusupkan wajahnya di dada sang suami sembari mengendus aroma maskulin yang memabukkan dan membuatnya candu ingin terus mencium aroma itu.


“Hmmmm...mama...papa...” suara itu memecahkan suasana hening yang tercipta dikala Ane dan Bhanu saling memeluk.


Pasangan suami-istri itu kompak mengalihkan pandangan ke arah baby Nai telah bangun menatap orang tuanya dengan tatapan polos namun begitu senyum indah terukir di wajah bayi kecil itu. Baby Nai mengubah posisi tubuh hingga duduk dan segera merangkak, Ane tertawa meraih baby Nai dalam pelukan, bayi itu langsung saja menyeruduk tubuh Ane saking senangnya namun siapa sangka jika ada tingkah baby Nai membuat orang tuanya terkejut seketika.


“Ma, cu ni,” tangan mungil baby Nai menepuk bukit kembar Ane.


Bhanu dan Ane saling lirik dan terdiam melihat kedua orang tuanya diam saja, baby Nai menepuk bukit kembar Ane berulang kali dengan bibir monyong sembari sesekali berucap.


“Ma! Cu ni u!”


Ane menelan ludahnya kemudian meraih tangan mungil baby Nai, “mau susu?” tanyanya yang diangguki lucu oleh bayi itu. Ane memperbaiki penampilannya lebih dulu terutama daster yang sedikit melorot di bagian bahunya hingga memperlihatkan area atas salah satu bukit kembarnya yang tidak terlindungi apapun.


“Sama papa aja yuk kita ke bawa, mama mau bersih-bersih dulu, let's go anak papa,” saat Bhanu hendak meraih tubuh baby Nai dengan gerakan lebih cepat Ane mencegat tangan sang suami.


“Baju papa nanti kusut, biar mama aja! Tolong pa bantu mama berdiri,” Bhanu menurut membantu Ane berdiri dari ranjang tetapi pria itu tidak menyetujui ketika Ane akan menggendong baby Nai alih-alih karena perut Ane.


“Biar papa, mama mending bersih-bersih dulu, lagian papa cuma pakai baju casual gini gak pake kemeja,” ucap Bhanu langsung meraih tubuh baby Nai dan bergegas turun namun sebelum itu ia berkata kembali, “tunggu papa jangan turun ke bawah sendiri!”


Ane hanya bisa mendesah pasrah dan bergegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah dan sikat gigi. Selang beberapa menit kemudiaan sosok Bhanu muncul di balik pintu. Ane sedang memakai handuk menutupi tubuhnya hendak mengganti baju, ia membelakangi pintu kamar menghadap ke arah lemari sambil memasang bra namun sedikit kesulitan alhasil ia merasakan sebuah tangan kekar menyentuh pergelangan tangannya dan mengambil alih memasang cup bra menutupi bukit kembarnya.


“Terima kasih papa!” Ane berbalik badan sudah menduga jika pemilik tangan tersebut adalah sang suami. Ane menghadiahkan sebuah kecupan mesra di bibir Bhanu yang tersenyum.


Ane melanjutkan memakai daster baru yang ia ambil di lemari dan lebih panjang hingga menyentuh mata kaki berbeda dengan daster yang ia gunakan ketika malam hari jauh lebih pendek hanya sebatas lutut saja. Ane menggandeng tangan Bhanu keluar dari kamar, pria itu membantu sang istri menuruni anak tangga satu persatu. Baby Nai terlihat anteng di kursi bayi sambil mengunyah wortel rebus yang diberikan oleh Ratna. Sehabis minum susu, bayi itu merengek dan Ratna pun inisiatif memberikan wortel rebus yang membuat baby Nai anteng tak lagi merengek.


“Eh, udah mam aja anak mama nih,” Ane menyeret satu kursi lalu mendaratkan bokongnya hingga kini duduk di samping kursi baby Nai.


Baby Nai tersenyum lebar, wortel bekas gigitannya diulurkan di depan Ane seperti sedang menyuruh Ane ikut memakan wortel itu.


“Mama mam!”


Ane mengarahkan tangan baby Nai yang memegang wortel ke mulut bayi itu, “baby Nai aja yang mam, Nak! Enak yah wortelnya?”


“Tel, ni?” lagi-lagi baby Nai mengangkat wortel di genggamannya.

__ADS_1


“Iya, sayang itu yang baby Nai makan namanya wortel. Yang kasih baby wortel siapa?”


Baby Nai mengedarkan pandangannya ke arah belakang mencari sosok ibu Ratna yang terlihat masih sibuk menyiapkan masakan di bantu oleh bi Popon.


“Mbah Uti atau nenek Popon?” tanya Ane—wanita itu memang sengaja mengajak baby Nai berbicara agar bayi itu bisa mengucapkan lebih banyak kosa kata lagi dan bisa melatih baby Nai berbicara. Baby Nai sempat terlihat bingung menatap Ratna dan bi Popon secara bergantian.


Ratna memasang senyum di wajah tuanya sambil membawa satu mangkuk sup ayam ke atas meja. Mata bulat baby Nai mengikut pergerakan Ratna hingga wanita paruh baya itu ikut bergabung di meja makan.


“Hayo, siapa? Mbah Uti yah?” Ane mengulang pertanyaan itu dan kini mendapatkan jawaban riang dari baby Nai.


“Ti, mam!”


“Oalah, Mbah Uti toh, udah bilang makasih belum sama Uti? Coba anak baik, bilang terima kasih Uti,” Ane mengelus rambut halus baby Nai mulai terlihat lebat dan panjang. “Ayo nak, te-ri-ma, ka-sih U-ti!” Ane mengeja kata agar baby Nai lebih gampang memahami kata perkata yang diucapkan.


“Cih!” hanya itu yang keluar dari bibir mungil baby Nai, Ane mendesah pasrah tetap bersyukur karena anaknya bisa merespon dengan baik walau belum bisa mengucapkan seluruh kalimat yang ia suruh, itu lah gunanya Ane sering mengajak baby Nai mengobrol agar terlatih untuk berbicara.


“Anak pintar, ayo dihabisin wortelnya,” puji Ane sambil mencium kening baby Nai gemas.


“Sama-sama cah ayu,” seru Ratna ikut senang karena baby Nai nampak senang memakan wortel tersebut tak lupa memberikan nasi agak lembek dengan kuah sup yang ia buat khusus buat baby Nai.


Sementara memakan sarapannya, Ane juga menyuapi makanan untuk baby Nai.


Bhanu sedari tadi lebih memilih diam menikmati pemandangan indah di depannya, interaksi istri dan anaknya sangat membuat suasana hatinya semakin baik dan senang serta semangat untuk bekerja mencari nafkah demi keluarga kecilnya.


“Papa kerja dulu yah sayang, baik-baik di rumah sama mama dan mbah Uti,”


“Hati-hati di jalan papa, semangat kerjanya,” Ane mewakili baby Nai menirukan suara anak kecil.


“Papa kerja dulu ma, awas loh jangan capek-capek, kalau semua keperluan dedek udah lengkap langsung balik ke rumah,” Bhanu mencium kening, mata, pipi dan berakhir di bibir Ane.


“Iya papa, semangat yah! Mama, Nai sama dedek sayang papa banyak-banyak,”


“Haha, iya, papa sayang kalian banyak-banyak! Dah, Assalamualaikum,”


“Walaikumsalam,” Ane melambaikan tangan pada sang suami kini sudah berada di atas mobil sebelum mobil pria itu melesat jauh.


****


Pada sore ini adalah jadwal Ane untuk melakukan cek ke dokter dan tentunya sang suami setia menemani sementara baby Nai dititipkan pada Ratna. Bhanu sudah membuat janji pada dokter Triska selaku dokter yang menangani selama kehamilan dan sampai Ane melahirkan. Salah satu rekan Reza, jika ada yang bertanya mengapa bukan Reza menangani Ane jawabannya adalah Ane kurang nyaman jika dokter berjenis kelamin laki-laki yang memeriksanya, maka dari itu ia meminta agar dicarikan dokter wanita jadi pilihan itupun jatuh pada dokter Triska.


Memasuki ruangan, tangan Bhanu tak pernah lepas dari pinggang sang istri yang merangkul mesra, bahkan sampai mereka duduk di kursi tepat di depan dokter cantik yang berusia lebih tua beberapa tahun dari Bhanu. Pemandangan romantisme sepasang suami-istri itu bukan lah hal baru bagi Triska tentu saja hampir setiap pasiennya melakukan hal yang sama ketika datang bersama suami mereka. Dokter Triska memberi kode pada sepasang suami-istri itu untuk beranjak menuju ranjang untuk melakukan pemeriksaan.


“Bagaimana kabar mbak Ane, sehat? Atau ada keluhan?”


“Alhamdullilah baik dok, cuma saya akhir-akhir sering sakit di bagian perut bawah, makin engap sih dok, terus makin suka buang air kecil dok,”

__ADS_1


“Saya rasa itu hal yang wajar dan sering terjadi pada ibu hamil pada umumnya apalagi usia kandungan ibu sudah memasuki penghujung bulan,”


“Kira-kira HPL nya kapan, dok?”


“Awal bulan depan tapi bisa saja meleset, kadang lebih cepat atau lambat dari perkiraan. Yang terpenting mbak harus tetap tenang dan enjoy jangan pernah berpikir hal aneh dan buat mbak jadi stress karena menjelang persalinan dibutuhkan ketenangan, agar kondisi ibu dan bayi tetap sehat dan terjaga hingga proses lahiran. Proses lahiran masih tetap sama mau normal?”


“Iya dok, kalau bisa tapi jika situasinya berbeda Caesar juga tidak masalah, yang menurut dokter terbaik buat kami itu yang paling penting,”


“Baiklah, semoga ibu dan bayi selalu sehat yah sampai persalinan dan bayinya bisa lahir dengan sehat selamat tanpa kekurangan apapun begitupun dengan ibunya semoga sehat,”


Setelah memeriksa kandungan, keduanya akan kembali pulang namun begitu Ane ingin makan martabak manis dan martabak telur tentu saja dikabulkan oleh Bhanu. Kebetulan langganan martabaknya sudah buka. Ane menunggu di dalam mobil, sementara Bhanu turun memesan sesuai keinginan sang istri. Hampir setengah jam menunggu dan itu cukup lama serta rasa jenuh bosan beradu jadi satu menghampiri Ane yang sedari tadi menyibukkan diri bermain ponsel. Pandangannya menoleh ketika pintu mobil terbuka lalu nampaklah sang suami membawa dua kantung plastik namun di dalamnya masing-masing berisi dua dus makanan.


Mata Ane langsung berbinar bahagia apalagi aroma wangi khas martabak memenuhi mobil. Dengan senang hati Ane menerima kantong plastik berisikan makanan kesukaannya itu. Saking senangnya, Ane membuka satu persatu isi dus tersebut, Bhanu membeli 2 martabak sekaligus tetapi berbeda varian rasa, 1 martabak manis original dengan toping keju melimpah ruah dan satu martabak manis varian red Velvet dengan toping mix tiga rasa Oreo+Ovomaltine+keju, ia mengingat jika Ane adalah maniak keju jadi semua martabak harus ada kejunya. Bungkusan satunya pria itu juga membeli 2 martabak asin dengan varian berbeda pula, satu pakai daging ayam dan satunya lagi daging sapi.


Ane menyicipi martabak original keju lebih dulu, melihat keju yang berlimpah sangat menggoda imannya. Satu potong berhasil masuk ke dalam mulut kecil Ane—wanita itu menggigit hingga setengah potong, di dalam mulut sensasi dari keju begitu terasa, matanya terpejam sesaat saat mengunyah menikmati kelezatan dari martabak tersebut. Diam-diam Bhanu memotret momen tersebut dan mengunggahnya ke akun media sosial yaitu Instagram, jarang-jarang memang ia melakukan itu hanya sesekali atau ketika pria itu ingin.


@BhanuKumaraG


Bumil dengan segala makanannya❤️


POV dedek dalam perut mama “ma, jangan banyak-banyak nanti dedek makin endut👶🤭”


@Rezaa01 : sehat-sehat bumil dan pakmil! Otw launching dedek bayi nih!


@Banyudewa : dek makan ojo banter² mesake bojo mu kui kepengen 😜


@Hannaaaaaaja : Gemes penyutnya!!! @ArianneEdithC 🤰🤰🤰


@Anantyaani : Kiyowo!!! Cantiknya bumil gak kebayang dedeknya cantik/gantengnya kayak apa.


Lihat komentar lainnya.


Begitu lah kira-kira respon orang-orang terdekatnya ketika mengunggah foto Ane.


“YaAllah maaf pa sampai lupa, buka mulutnya mama suap, aaaa!” Ane jadi tidak enak karena sedari tadi mengabaikan sang suami asik bergelung kenikmatan dari lezatnya martabak.


Bhanu menurut membuka mulutnya, “enak!” puji pria itu.


“Banget!” Ane merasakan sedikit getaran dari ponsel, ia meraih tissue lebih dulu mengelap sisa-sisa makanan di tangannya. Terlihat kerutan di kening Ane ketika ada notifikasi dari Instagram Hanna mengetag akunnya di sebuah postingan. Ane melebarkan mata tatkala melihat postingan Bhanu, ia melirik sang suami fokus menyetir.


“Papa ih! Tuh pipi mama kayak mau tumpah saking semangatnya makan! Malu tahu, chubby gitu pipinya ih!” rengek Ane.


Bhanu terkekeh mengulurkan satu tangannya meraih tangan sang istri lalu dikecupnya lama.


“Kamu selalu cantik dalam kondisi apa pun sayang! Istrinya papa tuh cantiknya gak tertandingi deh, luar dan dalam!” ujar Bhanu mengedipkan satu matanya menggoda Ane kini tersipu malu.

__ADS_1


“Gombal banget papa dek!” sembur Ane sambil mengelus perut buncitnya dan mendapatkan respon tendangan dari sang jabang bayi. “Tuh, dedek aja setuju papa gombal!”


Bhanu tertawa gemas rasanya ingin cepat sampai di rumah lalu memeluk dan mencium seluruh wajah Ane saking gemasnya.


__ADS_2