
Mobil matic milik Ane memasuki kompleks perumahan menuju rumah orang tua Bhanu, usai dari jasa pengiriman Ane menyempatkan membeli brownies kukus buat Sri. Motornya kini telah berhenti tepat di depan rumah, supir yang biasa mengantar jemput keluarga Bhanu sedang mencuci mobil melihat kedatangan Ane, supir tersebut membuka pagar dan mempersilahkan Ane masuk.
Sri menyadari jika Ane telah tiba, ia segera berjalan menuju ruang depan menyambut Ane.
“Calon mantu ibu, masuk nak!” sambut Sri hangat. Sri merengkuh Ane dalam pelukannya layaknya seorang ibu dan putri setelah sekian lama tak jumpa. Sri sudah menganggap Ane sebagai putrinya sendiri, sejak awal jumpa Ane sudah merebut hatinya.
“Maaf yah Bu, Ane lama soalnya mampir sebentar,” ujar Ane ketika sesi pelukan telah usai.
Sri melirik bungkusan kue di tangan Ane, “kenapa repot-repot sih, Nak! Ibu kan ajak kamu ke sini buat masak-masak bareng,”
Ane tersenyum lembut mengelus lengan Sri yang merangkul pundaknya, “gak repot kok Bu, oh iya ibu nitip salam beliau gak bisa ikut kesini soalnya lagi ada acara sunatan anak tetangga jadi ikut bantu masak-masak juga,” lanjutnya yang dimaklumi oleh Sri.
Ibu dari Bhanu itu sangat antusias akan menghabiskan waktu lebih banyak bersama Ane hari ini, jujur saja Sri merasa kesepian di rumah tidak ada teman ngobrol maka dari itu ia mencoba mengajak Ane untung saja gadis itu memenuhi keinginannya.
“Kamu duduk di sini dulu, ibu buatin minum!” Sri menyuruh Ane duduk di sofa ruang tengah, saat Sri hendak melangkah ke dapur, Ane menceganya mengatakan jika tidak perlua repot menyiapkannya minum. Alhasil, Sri pun mengajak Ane ke dapur bersama-sama.
“Mbah Uti sama Mbah Kakung kok gak kelihatan, Bu?” Ane sedari tadi tidak melihat sosok kakek dan nenek Bhanu makanya ia bertanya di mana kah mereka.
“Ibu sama Bapak lagi nginap di rumah saudara—adiknya bapak,” jawab Sri.
“Pantesan sepi,” gumam Ane pelan.
Sri mengambil bahan-bahan masakan, rencananya hari ini ia akan masak untuk makan siang kebetulan suaminya pulang lebih cepat dari biasanya jadi mereka akan makan siang bertiga di rumah. Ane bergerak membantu Sri.
“Aduh, ibu jadi ngerasa punya anak cewek lagi, senang deh andai Bhanu kerjanya di sini jadi ibu ada teman ngobrol, Mbak Lingga kan tentu gak bisa, seorang stri kan harusnya ikut suami,” Sri merasa kesepian selama ini, ia hanya mempunyai dua orang anak dan menginjak dewasa dan satu diantaranya sudah berkeluarga membuat hari-hari Sri dirundung kesepian hanya ada suami serta kedua mertuanya.
“Yaudah anggap Ane putri ibu juga, Ane juga senang punya ibu lagi apalagi ibu baik banget,” ujar Ane.
“Aduh ibu sayang banget sama kamu, Ne! Semoga kamu benar-benar berjodoh sama Bhanu yah. Kalau pun misalnya tidak, kamu tetap jadi anak ibu juga,”
Ane mengaminkan doa Sri perilah berjodoh dengan Bhanu. Dalam hati ia berdoa semoga segala urusan kedepannya berjalan lancar hingga ia dan Bhanu resmi menyandang status suami-istri. Hari ini mereka akan membuat ayam bakar serta sayur gulai nangka. Ane mengambil alih potongan ayam kemudian mencuci hingga bersih sedangkan Sri menyiapkan bumbu ayam. Keduanya begitu menikmati waktu memasak bersama hingga tak terasa hampir satu jam lamanya masakan pun jadi, selama memasak diselingi obrolan serta canda tawa. Sangat asik dan menyenangkan Sri rasanya ingin setiap hari bersama Ane rasa rindu terhadap Lingga seakan terobati dengan kehadiran Ane.
Decitan mobil pun terdengar, sosok ayah Bhanu muncul tak lupa mengucapkan salam. Sri menyambut suaminya hangat, sedangkan Ane menata makanan di meja.
__ADS_1
“Eh, ada calonnya Bhanu di rumah,” Hanung—ayah Bhanu menerbitkan senyum di wajah ketika Ane berada di rumahnya lebih tepatnya sedang menyiapkan makan siang.
“Ane yang bantuin ibu masak, senang banget bisa bareng anak manis ini rasanya pengen setiap hari,” kata Sri.
“Ibu sabar sampai Bhanu nikahin Ane,” Hanung merangkul pundak istrinya mesra. Diam-diam Ane memuji dan berdoa jika kelak sudah berumah tangga, kehidupannya akan se-harmonis Sri dan Hanung.
Sebelum makan siang, Hanung bergerak menuju westafel lebih dulu hendak mencuci tangan, Sri menyuruh Ane duduk bersamanya. Sri mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk suaminya, bahkan Sri juga meladeni Ane seperti suaminya.
“Terima kasih ibu,”
“Sama-sama anak manis,”
Hanung pun datang, acara makan siang berjalan dengan khidmat masing-masing dari mereka makan dengan lahap dan tak ada satupun yang bersuara. Setelah makan siang, Ane menawarkan diri membersihkan piring kotor lebih tepatnya memaksa hingga Sri tidak bisa protes. Habis cuci piring Ane bergabung ke ruang tengah, di sana ada Hanung beserta Sri. Hanung terlihat fokus pada ponselnya, sedangkan Sri memangku album foto. Melihat kehadiran Ane, Sri melambaikan tangan menyuruh Ane mendekat ke arahnya. Ane menduduki sofa tepat di samping Sri.
“Ibu mau kasih lihat kamu album foto waktu Bhanu masih kecil,” Sri sangat antusias memperlihatkan foto masa kecil Bhanu pada Ane.
Ane ikut penasaran semasa kecil calon suaminya itu, InsyaAllah jika Allah mempermudh jalan menuju pelaminan. Lembaran pertama di album foto tersebut ada foto Sri semasa muda sambil menggendong Bhanu yang masih bayi, tak lupa Sri juga menjelaskan jika waktu itu Bhanu baru berumur satu bulan. Ane memerhatikan lekat wajah imut Bhanu sewaktu bayi, sejak bayi ternyata Bhanu sudah tampan tak heran bila sekarang pun Bhanu memiliki paras rupawan.
Sri kemudian membalikkan lembaran selanjutnya, Bhanu berusia satu tahun sedang berdiri berpegangan pada kursi kayu menoleh ke arah kamera dengan ekspresi wajah bengong tapi masih terlihat lucu. Lalu berikutnya, Ane tak kuasa menahan tawa melihat Bhanu kecil duduk hanya memakai popok namun seluruh badan dipenuhi bedak seperti ayam yang dilumuri tepung.
“Soalnya Ayah tuh gemas sama Bhanu waktu kecil ada aja kelakuan dia, mana jahil banget mbaknya jadi bahan jahilan dia tiap hari selalu aja buat mbaknya nangis, umpetin jipitan rambut, boneka bahkan suka narik rambut kalau ditanya jawabannya pasti gini adek suka rambut mbak ayah adek juga mau rambut panjang,” Cerita Hanung bahkan sampai memperagakan cara ucapan Bhanu ketika waktu masih kecil menjahili kakaknya. Cerita ketiganya pun mengalir begitu saja, Sri dan Hanung bernostalgia di masa anak-anaknya masih kecil.
\*\*\*\*
“Paket! Permisi!”
Suara teriakan dari arah luar rumah terdengar cukup nyaring ditambah suara bel rumah, bi Popon berlari kecil dari arah dapur keluar hingga wanita paruh baya itu berhasil mencapai pagar rumah lalu membukakan pagar tersebut kepada kurir.
“Bhanu Kumara Giandra?”
“Iya, majikan saya,” kurir tersebut memberikan paket tersebut yang diterima oleh bi Popon. Setelah paket tersebut berpindah tangan, kurir itu pamit pergi. Bi Popon meneliti paket di tangannya.
“Mungkin ini berkas penting milik den Bhanu yah?” gumam bi Popon menebak map cokelat di tangannya. Bibirnya membaca keterang pengirim paket tersebut yang ternyata dari Yogyakarta. Bi Popon segera memasuki rumah hendak menghubungi Bhanu.
__ADS_1
Melalui ponsel genggam, bi Popon menelepon Bhanu dan Alhamdulillah langsung diangkat.
“Assalamualaikum, den, ini ada paket tapi ini kayaknya berkas penting buat den Bhanu,”
“Walaikumsalam, paket? Berkas apa bi?”
“Gak tahu den, saya gak berani buka takutnya emang penting, tapi pengirimannya dari Yogyakarta atas nama Ariane Edith Callista,”
Di rumah sakit, Bhanu terlonjak kaget mendengar nama Ane disebutkan, bahkan ia meminta bi Popon mengulang nama pengirim tersebut dan sekali lagi ia mendengar nama Ane, berarti dia tidak salah dengar.
“Ya sudah, minta tolong simpan di meja nakas kamar Bhanu yah bi, nanti pulang kerja Bhanu cek,” pinta Bhanu.
Kemudian sambungan telepon pun berakhir, sesuai instruksi bi Popon menaruh paket tersebut di kamar Bhanu. Sementara itu, Bhanu jadi tak sabar apa yang dikirimkan oleh Ane, berkas? Tapi berkas apa otak Bhanu nampak bekerja lambat kali ini ia tidak bisa menebaknya. Bhanu mencoba menghubungi Ane tetapi nomor gadis itu sedang tidak aktif membuat Bhanu mengerang frustasi karena penasaran, bahkan jam baru menunjukkan pukul 10 pagi masih cukup lama jam kerjanya usai.
Waktu terus bergulir cepat, segala rasa penasaran dibenak Bhanu akan terjawab. Mobilnya baru saja tiba di halaman rumahnya, tak sabaran ia melangkah keluar memasuki rumah dan berjalan menuju kamarnya. Ketika ia telah menginjakkan kaki di kamar, tangannya segera meraih map cokelat berada di atas meja nakasnya. Jantung Bhanu berdetak kencang, pergerakan tangannya sedikit tergesa-gesa membuka map tersebut matanya melebar melihat isinya.
Yth, Bapak
Bhanu Kumara Giandra.
Dengan hormat,
Sehubung adanya infomasi jika Bapak Bhanu Kumara Giandra sedang membutuhkan calon istri, dengan ini saya berniat untuk mengajukan diri menempati posisi sebagai istri dan pendamping hidup Bapak Bhanu Kumara Giandra. Dengan kriteria yang tercantum di persyaratan lamaran, InsyaAllah saya memenuhi syarat tersebut.
Sebagai bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan persyaratan administrasi pernikahan.
Demikian surat lamaran ini, besar harapan saya mendapat perhatian dan diterima oleh Bapak Bhanu Kumara Giandra, sekian dan terima kasih.
***Hormat saya***,
***Ttd***
***Ariane Edith Callista***
__ADS_1
...Assalamualaikum, gimana jengjengjeng? makin gemes gak? doakan aku supaya mood terus buat menulis yah hehe jangan lupa di like+vote+commentnya yah! ...
...Big Love ♥️...