
Izinnya bi Popon ternyata bikin Ane kewalahan mengurus rumah apalagi di kondisinya yang sedang hamil muda, di mana tubuhnya untuk dibawa gerak ke sana kemari tidak mampu dan cepat merasa capek. Andai Ane tidak mengandung ia bisa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh.
Ane baru saja membersihkan rumah mulai dari dapur, ruang tengah serta halaman depan tetapi kamar belum sempat ia bersihkan bahkan masih ada pekerjaan menantinya yaitu pakaian yang harus dicuci. Ane beristirahat sejenak menghilangkan rasa letih, ia duduk di ranjang sembari mengecek ponsel di aplikasi WhatsApp tidak ada notifikasi, ia berpindah ke aplikasi Instagram, melirik satu persatu story di berandanya. Ane memicingkan mata, menekan jarinya lebih lama pada layar ponsel ketika layar bergulir ke story milik sang suami. Ane manyun, kesal dan sedih karena cemburu apalagi tidak ada kabar sama sekali dari sang suami. Sebegitu kesalnya kah Bhanu atau sesibuk itu hingga Bhanu bahkan tidak ada waktu walau hanya sekedar memberinya kabar?
Ane membuang ponsel, ia menekuk wajahnya menangis sesenggukan. Hati dan fisiknya terasa lelah. Apakah tidak ada kesempatan baginya untuk memperbaiki semua? Ane mulai jengah dan tidak tahu harus berbuat apalagi. Di kepalanya juga dipenuhi pikiran-pikiran negatif takut jika Bhanu berpaling ke wanita lain, apalagi setelah melihat story milik suaminya itu. Apakah di sana Bhanu bersenang-senang dengan seorang wanita? Ia tidak ingin berpikiran negatif tetapi rasanya sulit. Saking asiknya meratapi nasib, Ane bahkan tidak menyadari jika ada Lingga beserta Caca dan Satya.
“Loh, kamu kenapa?” Lingga terpaksa masuk ke kamar karena tidak ada sahutan dari Ane.
Caca dan Satya berlari menaiki ranjang penasaran kenapa Ane menangis.
“Bunda, tante Ane nangis,” ujar Satya lebih dulu duduk di samping Ane.
“Hooh, ante na Caca nanis, cup cup cup,” Caca memeluk Ane sembari menepuk pelan lengan Ane.
Ane masih sesenggukan menghiraukan dan tak peduli Lingga melihatnya menangis. Faktor hormon menyebabkannya sedih berlebihan.
“Hei, cerita sama mbak, kamu kenapa?” Lingga duduk di samping Ane ketika Satya menggeser tubuhnya agar sang ibu bisa duduk.
”Mas Bhanu—” nada lirih serta gagu karena tangisan sehingga Ane tidak bisa berbicara secara jelas.
“Bhanu kenapa?” tanya Lingga penasaran.
“Foto sama cewek di Bandung, huhu, Ane takut mas Bhanu—” tangisan Ane makin keras. Lingga memeluk Ane sambil memberikan elusan di punggung Ane yang bergetar hebat.
Lingga belum mengetahui siapa cewek yang Ane maksud dan dari mana Ane tahu. Lingga memilih untuk diam dulu menunggu Ane tenang.
“Ante jangan nanis lagi dong, Caca ikut sedih,” Caca melihat Ane menangis sedih, ia pun ikut sedih juga bahkan wajahnya kini berubah menjadi sedih.
Ane menjauhkan tubuhnya dari Lingga, menyeka cairan bening keluar dari hidungnya. Tatapan wanita itu turun tertuju pada perut datarnya.
“Dek, jangan gitu dong, papa marah sama mama, kalau kamu minta dengar suara papa juga gak bakal bisa, papa aja gak pernah balas chat mama,”
Ane menyalahkan sang janin padahal janinnya pun masih sangat kecil dan belum berbentuk manusia.
Lingga memejamkan mata dalam hati kesal pada sang adik, ia sudah mengetahui jika Ane sedang mengandung tetapi permasalahan yang terjadi di rumah tangga Ane dan Bhanu belum ia ketahui lebih tepatnya tidak ingin ikut campur. Dari gerak-gerik Ane yang selama ini sering murung dan selalu melamun, ia sudah bisa menebak jika ada permasalahan yang terjadi.
Lingga merogoh saku celana mengambil ponsel hendak menghubungi Bhanu. Menurutnya sang adik keterlaluan, Bhanu seharusnya tidak seperti ini terlepas dari apa yang mereka alami Bhanu tidak boleh melepaskan Ane begitu saja tanpa ada kabar mengingat Ane tengah mengandung, usianya pun masih muda dan rentan akan keguguran. Bagaimana jika Ane stress? Tentu saja akan berpengaruh terhadap janin yang dikandung Ane.
“Assalamualaikum! Kamu ini gimana sih, dek, chat, telepon istri gak pernah diangkat, pikir Ane hamil! Ngotak dikit, gak pikir kalau istri kamu stres, mau anak kalian kenapa-kenapa, hah?” seluruh kekesalan Lingga meledak begitu saja bahkan nada suaranya terdengar jelas menggambarkan perasaan wanit itu.
Terdengar hembusan napas dan ekspresi wajah Bhanu tersirat penyesalan. Lingga mengalihkan kamera ke arah Ane kini sedang menunduk sesenggukan.
Lingga mengajak kedua anaknya keluar sebentar dari kamar, memberikan waktu bagi Ane dan Bhanu untuk berbicara, terutama Ane menyalurkan rasa rindu pada Bhanu. Sebelum keluar dari kamar, Lingga mengancam Bhanu agar tidak mematikan sambungan video call. Ane tidak berani mendongakkan wajah, walau kini ia memegang ponsel Lingga.
“Assalamualaikum,”
Ane tersentak tapi enggan menatap wajah Bhanu lebih tepatnya takut.
“Walaikumsalam,” jawab Ane lirih.
“Kalau lagi ngobrol sama orang itu wajahnya dilihat, gak sopan kalau nunduk gitu!” tegur Bhanu.
__ADS_1
Mau tak mau Ane mengangkat wajah menatap sang suami. Wajah Ane terlihat menyedihkan, mata merah, hidung merah bahkan ada cairan bening muncul di hidung wanita itu. Ane menyeka ingus yang menetes menggunakan lengan bajunya.
“Kenapa?”
Ane menggeleng.
“Terus kenapa nangis?” Bhanu berlagak bodoh tak tahu menahu kesedihan Ane.
“Gak apa-apa!”
“Yaudah teleponnya di—”
“Jangan! Mas Ane kangen sama mas! Pulang cepat sini! Ane minta maaf jangan marah lagi, Ane juga gak jadi gugurin anak kita. Maaf, tolong maafin Ane, mas! Jangan gini terus Ane gak bisa, Ane tersiksa, hati Ane sakit, sesak! Adek juga rindu papa katanya, pengen dipeluk dicium, sini papa balik cepat!” racau Ane kembali menangis tersedu-sedu.
Bhanu tidak tega melihat wajah menyedihkan sang istri.
“Hm, sudah diam, jangan nangis terus! Besok mas balik, udah diam kayak anak kecil! Itu ingus kamu dilap dulu!”
Ane menyeka kasar ingusnya dan juga air mata, “janji mas pulang besok yah?”
“Iya!”
“Janji mas peluk Ane?”
“Iya!”
“Janji cium juga?”
“Iya!”
“I—tergantung! Nanti kita selesaikan. Sudah berhenti menangis, mas masih ada urusan,”
Ane menganggukkan kepala layaknya anak kecil menuruti ucapan orang tuanya.
“Ya udah, mas tutup teleponnya, Assalamualaikum jangan mikir aneh-aneh,”
“Walaikumsalam, mas dedeknya juga pengen di sapa, dari tadi mas belum sapa dedek di perut Ane loh mas,” seru Ane mencibikkan bibirnya.
Ane menaruh ponsel ke perutnya agar Bhanu bisa melihat perutnya walau masih datar.
“Assalamualaikum anak papa, sehat-sehat yah di perut mama, besok papa balik tunggu papa yah nak!”
“Cium dedek mas!”
Bhanu menaikkan alis bingung, “caranya gimana?”
“Yah, di cium gitu! Muach gitu loh mas!” Ane mempraktekkan bagaimana cara Bhanu mencium perutnya yakni menempelkan bibir di layar ponsel.
“Muach!”
“Bilang sayang juga mas!”
__ADS_1
“Papa sayang adek,”
“Sayang mama juga, gak?”
“Iya,”
“Iya apa?” rengek Ane.
“Sayang mama!”
“Siapa?”
Bhanu harus sabar, mungkin keanehan ini dari Ane akan ia dapatkan kedepannya, bahkan ia harus menyiapkan kebesaran lebih besar lagi untuk menghadapi Ane.
“Papa sayang mama!”
Ane tersenyum cerah bahkan seketika melupakan kecemburuan pada wanita asing itu.
“Mama juga sayang papa!” balas Ane senang. Wanita itu bergerak cepat keluar kamar hendak menghampiri Lingga tak lupa ingin mengucapkan terima kasih sehingga ia bisa mendengar suara Bhanu dan mengurangi rasa rindunya.
Lingga tersentak ketika Ane menubruk dan memeluknya erat secara tiba-tiba. Lingga melototi Ane karena atas aksi yang dilakukan bukan karena tidak senang dipeluk Ane hanya saja ia khawatir cara Ane takut kenapa-kenapa pada kandungan wanita itu.
“Ne, astaga! Lain kali gak boleh gini ah, ingat kamu hamil! Ya ampun mbak ngeri sendiri apalagi kalau kamu lari-lari turun tangga, kepleset sedikit bisa—aduh amit-amit, Ne! Hati-hati kamu tuh mulai sekarang gak boleh grasak-grusuk!” omel Lingga.
Ane menyengir tanpa dosa, “maaf! Ane cuma senang, terimakasih mbak udah bantu Ane!” ujarnya.
“Iya lain kali kalau ada apa-apa cerita sama mbak, siapa tahu mbak bisa bantu,”
“Ante udah nda nanis lagi?” tanya Caca mengalihkan pandangan yang sedari tadi fokus pada layar ponsel menonton kartun melalui YouTube bersama Satya.
Ane menggeleng lucu dan meraih tubuh Caca untuk digendong bahkan memberikan beribu kecupan di wajah gadis kecil itu.
“Hahaha, geli udah ante! Geli!”
“Tante gemes sama kamu,” ujar Ane memberikan satu kecupan lagi di kedua pipi gembul Caca.
Lingga kembali melototkan matanya pada Ane, “turunin Caca! Astaga kamu ini bobot Caca itu gak ringan, turunin!” kakak ipar yang mulai protektif pada Ane.
Ane meringis pelan, lalu menurunkan Caca. Ia kemudian meraih kedua tangan Caca agar menyentuh perutnya.
“Mbak Caca belum sapa dedek loh hari ini!”
Caca melebarkan mata dan menepuk jidat, “oh, iya, ebak Caca lupa nih! Halo dedek, ini ebak Caca. Jangan nakal yah, ebak Caca sayang dedek, muach!” ujarnya sembari memberikan kecupan.
Ane terkikik senang kemudian beralih pada Satya, “mas Satya juga belum loh,” matanya memicing dan menaik turunkan alisnya secara bergantian.
Satya menyengir lebar dan meletakkan benda pintar yang sedari tadi ada digenggamannya. Satya bangkit dari sofa berdiri tepat di depan Ane.
“Assalamualaikum adeknya mas! Ini mas Satya ganteng, hehe baik-baik yah di dalam perut, mas sayang dedek, muach!”
Ane terpekik senang berloncat seperti anak kecil diberi es krim.
__ADS_1
“ANE!” tegur Lingga.
“Ups, maaf!” Ane menurut mulutnya dan memasang raut wajah sesal. Moodnya berubah senang hanya mendengar suara Bhanu mampu meluruhkan segala perasaan sedih dan beban di pikirannya. Sungguh dahsyat pengaruh Bhanu.