Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 7


__ADS_3

—Pertemuan pembuka rejeki—


Sejak seminggu lalu, hari-hari berat bagi Ane—gadis itu memutuskan untuk rehat sejenak dari dunia pekerjaan. Ia ingin menenangkan hati dan pikirannya. Selama itu pula, Ane menyibukkan diri dengan kegiatan rumah seperti membantu sang ibu memasak bahkan merawat dan menyiram tanaman dan terkadang ikut ke cafe bersama sang kakak sekedar melepas sepi dan jenuh.


Saat ini, Ane sedang berkutat di dapur, rasanya sudah sangat lama ia tak mengacak dapur ibunya karena terlalu sibuk mencari lowongan kerja. Ane hendak membuat sebuah brownies keju, gadis itu telaten mengikuti resep yang ia dapatkan melalui Google. Ane bertopang dagu menunggu kukusan brownies selesai. Beberapa menit berlalu, kue buatannya pun telah jadi. Ia mencolek sedikit permukaan brownies tersebut lalu menyicipnya, matanya terbuka lebar seiring senyum tercipta di bibirnya yang sedang mengunyah ringan.


“Enak,” pujinya lalu mengolesi krim butter setelah itu menaburkan parutan keju di atasnya. Ia mengiris brownies tersebut menjadi beberapa bagian dan menaruhnya di piring, dengan senang ia membawa hasil buatannya pada sang ibu untuk dicicipi.


Ane menghampiri sang ibu yang berada di ruang tamu sedang menonton TV. Sesampainya, Ane mengambil posisi duduk di samping sang ibu.


“Taraaaa, udah jadi brownies buatan Ane,”ujar Ane senang.


Ratna ikut tersenyum tak lupa menyicipi satu potong brownies buatan Ane. Seiring kunyahannya, Ratna tersenyum dan mengancungkan jempolnya lalu sembari berkata, “enak! Ih, anak ibu pintar banget buat cakenya!”


“Ibu bisa aja, ah!” Ane ikut tersenyum lalu ikut mengambil potongan brownies kemudian melahapnya dengan tenang sembari ikut menonton TV bersama sang ibu, layar televisi menampilkan beberapa berita yang sedang terjadi. Suara notifikasi memaksa Ane mengalihkan perhatiannya. Ia menggapai ponselnya sembari mengecek pesan yang masuk.


Ane! Gue ada di Jogja! Fix kita harus ketemuan, udah lama bgt kan kita gak ketemu!


Dengan senyum sumringah, Ane membalas pesan temannya di bangku SMA. Menyadari putrinya tersenyum lebar, Ratna menjadi penasaran dan bertanya pada Ane ada apa.


“Dek, kenapa, kok senyum-senyum?”


Ane menoleh lalu menjawab pernyataan sang ibu, “ini loh, Bu, si Qilla ngajakin ketemuan katanya lagi di Jogja,”


“Qilla, teman SMA kamu itu kan, yang dulunya tinggal sama eyangnya?” Ane mengangguk sebagai jawaban. Ratna kembali bertanya, “loh, emang Qilla liburan apa gimana? Bukannya rumah eyangnya udah dijual yah?”

__ADS_1


“Kalau itu sih enggak tahu, Bu! Palingan sih liburan,” jawab Ane. Sekedar informasi, Saqilla Anggraini, atau biasa dipanggil Qilla oleh Ane. Qilla dulunya tinggal bersama sang nenek dari ibunya yang berasal dari Jogja sewaktu SMA dan ketika kuliah Qilla memutuskan untuk kembali ke Jakarta tinggal bersama kedua orang tuanya apalagi sejak sang eyang sudah tiada rumah yang Qilla tinggali bersama eyangnya pun di jual. Saat ini Qilla menjalani koas di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta.


\*\*\*\*


Seorang pria tampan yang berusia 32 tahun, memakai sweater navy dan celana jeans pendek baru saja tiba di kota kelahiran sang Ayah. Ia menggeret koper kecilnya sembari berjalan ringan, sudah hampir dua tahun ia tak pulang ke kampung halaman sang ayah menengok Kakek dan neneknya.


Pria itu dihampiri sosok supir pribadi yang telah lama bertugas mengantar kemana pun Kakek dan neneknya pergi.


“Den, Bhanu, selamat datang kembali,” sapa pria setengah baya tersebut yang diangguki ramah oleh sosok pria yang bernama Bhanu.


“Terima kasih udah mau jemput Bhanu, Pak!” Bhanu merangkul pundak supir neneknya dan berjalan beriringan.


“Udah tugas bapak,” Bhanu hanya tersenyum. Pria berparas tampan itu, menikmati kota Jogjakarta sembari flashback dimasa kecilnya ketika berlibur di kampung halaman sang ayah. Saking asiknya berkelana di masa lampau, tak sadar ia telah sampai di rumah sang Kakek.


“Cucu kesayangan Mbah uti, udah datang, pak, cucu kita,” seorang wanita paruh baya yang sudah memasuki usia senja, berjalan ke depan halaman rumah sembari bergandengan dengan sang suami dan disusul oleh anak dan menantunya.


“Mbak uti, Mbah Kakung,” Bhanu tersenyum lembut berjalan menuju Kakek-neneknya yang telah menyambutnya hangat.


Bhanu memeluk neneknya terlebih dulu karena merentangkan tangan.


“Mbah uti, kangen Karo Kowe mas, sui tenanan rak bali dene,” ucap sang nenek pada cucunya.


“Maaf, Bhanu baru bisa cuti sekarang, Mbah,” ucap Bhanu dengan rasa sesal telah membuat Kakek dan neneknya menahan rindu padanya. Orang tua Bhanu pun turut menyambut anaknya dengan suka cita. Sang nenek seakan tak ingin jauh dari cucunya, menahan cucu tampannya duduk disampingnya tepatnya berada ditengah-tengah Kakek-neneknya.


“Mas kamu harus cobain gudeg masakan Mbah uti, spesial buat cucu kesayangan, tolong nduk,” nenek Bhanu menyuruh menantunya—ibu Bhanu untuk menyiapkan masakan yang telah dimasak.

__ADS_1


Sebelum mereka makan bersama, Bhanu meminta waktu untuk membersihkan diri.


“Nduk, ibu rencananya mau kenalin Mas Bhanu sama cucu anak teman ibu dan udah atur waktu buat ketemuan, besok lusa dia akan ke rumah, lagian udah waktunya nikah udah kepala tiga, ibu juga mau rasain gendong cicit,” ujar nenek Bhanu.


“Boleh saja Bu, tapi kalau Mas Bhanu nya gak mau tolong jangan dipaksa takutnya justru hubungannya malah gak awet kalau didasari unsur keterpaksaan,” balas Ibu Bhanu yang diangguki oleh sang mertua.


Disisi lain, Ane baru saja tiba di tempat janjiannya bersama sang sahabat.


“Jangan lupa telfon Mas kalau kamu udah selesai yah, ntar Mas jemput,” Ane mengangguk sembari mencium punggung tangan sang kakak tertua.


Ane melirik sekitar yang begitu ramai dikunjungi wisatawan asing maupun lokal. Malioboro adalah tempat Ane dan temannya akan bertemu. Ia melirik jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 5 sore. Ane membuka ponselnya hendak mengecek apakah Qilla sudah sampai atau belum dan rupanya Qilla masih dalam perjalanan, sembari menunggu Ane memutuskan pergi ke cafe yang ada di Mall Malioboro.


Lima belas menit menunggu, Ane mendapatkan telepon dari Qilla bahwa gadis itu telah sampai. Ane pun menyuruh Qilla menyusulnya. Hingga beberapa saat kemudian, sosok gadis bertubuh mungil yang memakai gamis panjang berwarna maroon terlihat sembari tersenyum lebar.


“Ane!” seru Qilla berlari kecil menghampiri Ane.


Ane terkekeh geli saat tubuh Qilla memeluknya tak sungkan ia pun ikut membalas pelukan tersebut.


“Makin cantik aja nih,” ujar Qilla ketika melihat wajah Ane.


“Alhamdulillah MasyaAllah, kamu juga tahu, apalagi sekarang udah syar'i banget,” balas Ane.


“Oh iya, kamu liburan atau ada acara keluarga? Terus nginap di mana, soalnya kan rumah eyang kamu udah dijual,” tanya Ane kembali bersuara.


Qilla menghentikan aksi menyedot ice coffe miliknya, “enggak liburan sih, kebetulan aku ke sini di suruh sama nyokap ada keperluan gitu, dan nginap di hotel lagian aku cuma dua hari disini besok sore udah harus balik Jakarta, ohiya, kamu bisa gak besok nemenin aku, soalnya malas banget jalan sendiri, mau yah?” Ane hanya mengangguk saja sebagai jawaban. Mereka pun melanjutkan dengan berbincang berbagai topik mulai dari kegiatan sehari-hari keduanya sampai masa-masa ketika mereka SMA.

__ADS_1


__ADS_2