Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 52


__ADS_3

Ada hal yang Ane tidak suka, yaitu dalam sehari tidak melakukan apa pun selain tugasnya sebagai istri. Ane ingin melakukan aktivitas lain yang tidak membosankan atau mengurangi rasa sepi acapkali muncul ketika sang suami bekerja. Bosan karena tidak memiliki aktivitas apapun di rumah, rasanya sangat monoton. Berulang kali ia mencari siaran tv yang bagus tetapi tidak ada satupun yang mampu membuatnya fokus pada layar televisi. Ane mematikan tv, ia melamun sejenak melirik jam menempel di dinding. Ia berdiri dari sofa, kedua kakinya menginjak ubin lantai menuju ruang depan. Matahari cukup terik, tiba-tiba saja terlintas ingin menyicipi es krim vanila dengan balutan cokelat serta kacang mete. Ane tidak bisa menahan keinginan itu, ia berlari menuju kamar ingin mengambil jaket dan juga jilbab. Bi Popon yang melihat Ane berlari seperti anak kecil sontak saja kaget dan segera menegur istri majikannya itu, ia takut jika terjadi hal yang tidak diinginkan mengingat perut Ane sudah besar.


“Aduh, neng jangan lari-lari gitu, ah, bibi ngeri lihatnya! Pelan-pelan aja, atuh!” seru bi Popon khawatir.


Ane menyengir lebar, “ups, maaf,” balasnya kemudian melangkah pelan menuju kamar.


Yah, usia kandungan Ane menginjak 6 bulan, kurang beberapa bulan lagi anaknya akan lahir. Menjelang lahiran, sang ibu akan ke Jakarta menemaninya hingga anaknya lahir nanti, Bhanu pun setuju-setuju saja, apalagi menyangkut istri dan anaknya. Ane pamit pada bi Popon untuk ke minimarket depan perumahan ingin membeli es krim, semula bi Popon melarang keras tetapi Ane melakukan hal yang sama jadi bi Popon tak bisa berbuat banyak selain mengingatkan Ane agar berhati-hati.


Suara tangis terdengar nyaring dan melihat satu karyawan minimarket sedang menggendong seorang bayi yang sedang menangis sesenggukan. Ane berpikir jika karyawan itu membawa anak sambil bekerja, hatinya tergerak mendekati karyawan tersebut. Tatapannya mengarah pada bayi itu yang juga menatapnya sendu.


“Anaknya rewel yah mbak? Mungkin lapar, udah dikasih susu?” ujar Ane iba karena wajah bayi itu memerah karena menangis. Namun tanpa diduga, bayi itu merentangkan tangannya ke depan mengarah pada Ane seakan ingin digendong.


“Bayi ini bukan anak saya mbak,” ucap karyawan wanita itu.


Tangisan bayi itu semakin keras, seakan protes kode yang ia berikan pada Ane tidak direspon dengan baik oleh wanita itu.


“Eh, cup, cup, sayang! Tenang yah,”

__ADS_1


“Mmmm....ma....ma....,” bayi itu mengeluarkan suara selain tangisan tangannya melambai pada Ane hendak digendong.


Ane dan karyawan minimarket itu sempat tercengang, namun tak berlangsung lama karena tangisan bayi tersebut semakin tak terbendung, Ane meraih bayi itu dalam gendongannya. Bayi itu hanya menggunakan sebuah kaos singlet kebesaran di tubuh bayi itu.


“Ssstt, diam yah sayang, anak baik diam yah nak,” bisik Ane sambil memberikan elusan lembut di punggung rapuh bayi itu.


Perlahan-lahan tangisan bayi itu kian mereda, bahkan menatap lekat wajah Ane jari-jari mungilnya naik menyentuh wajah Ane menepuk pelan pipi wanita itu.


“Mmm....ma....ma....,”


“Mbak, saya gak nyangka—bayi ini tadi nangis terus tapi sekarang, ya ampun! Bagaimana bisa?” ujar karyawan minimarket itu tak percaya.


“Kalau bukan anak mbak lalu anaknya siapa?” tanya Ane.


“Saya dan teman saya sewaktu buka toko ini eh taunya ada bayi itu mana gak pakai alas apapun lagi mbak apalagi bajunya udah robek-robek lusuh, benar-benar kayak gak terawat kasian banget mbak, terus dari tadi nangis terus saya udah kasih susu gak mau diam, terus pas saya mau mandiin dia saya menemukan selembar kertas di kantung celananya—bentar saya ambil dulu mbak!” karyawan itu masuk mengambil kertas yang dimaksud.


Tanpa menunggu lama karyawan itu kembali dan memberikan selembar kertas tersebut pada Ane—wanita itu berkaca-kaca dan ada gejolak amarah dalam dirinya ketika membaca surat itu.

__ADS_1


Siapa pun yang menemukan bayi ini tolong rawat dan jaga ia sepenuh hati. Saya meminta maaf karena melemparkan tanggung jawab saya sebagai ibu ke orang lain, saya terpaksa saya tidak punya pilihan lain. Bayi itu hasil pemerkosaan, saya tidak bisa merawat dia karena saya tidak punya apa-apa, selama ini saya bertahan hanya belas kasih orang-orang dan bermodalkan sisa makanan yang saya temui di jalan, saya hanya orang miskin dan saya takut tidak bisa merawat anak itu dengan baik karena keterbatasan saya, saya juga tidak ingin orang-orang mencacinya sebagai anak haram jika saya merawatnya. Tolong, rawat lah dia, saya berjanji tidak akan mengganggu kehidupannya kelak dan mengaku sebagai ibu kandungnya. Bayi itu berumur satu tahun dua bulan dan baru saja berulang tahun tanggal 2 Januari dan satu lagi, tolong berikan ia nama yang indah dan penuh doa karena saya belum memberikan ia nama. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih dan maaf.


“Saya akan merawat anak ini, mbak!” ucap tegas Ane tanpa ada keraguan.


“Mbak serius? Tadi rencana saya mau lapor ke polisi soal anak ini, cuma saya belum bisa izin untuk keluar,”


“Saya serius mbak, jadi anak ini benar-benar tidak memiliki barang apapun?” tidak ada keraguan di mata Ane, ia bertekad akan merawat bayi di gendongannya dengan kasih sayang tulus dan penuh cinta.


“Tidak mbak, baju yang bayi itu pake pun sudah saya buang soalnya udah robek-robek mbak, jadi saya ambil kaus kutang di dalam soalnya gak ada yang buat bayi,” cicit karyawan toko itu.


Ane mengangguk mengerti, ia masuk ke dalam minimarket membeli susu, popok dan bubur bayi tak lupa membayar apa yang sudah karyawan itu berikan pada bayi tersebut, ada sekotak susu, dot dan baju yang dipakai oleh bayi itu walau karyawan minimarket menolak tetapi Ane bersikeras membayarnya. Bayi dalam gendongan Ane kini terlihat anteng bahkan matanya terlihat mengantuk mungkin lelah menangis.


Betapa terkejutnya bi Popon ketika Ane pulang membawa bayi. Penasaran ia pun bertanya dan Ane pun menceritakan tentang bayi tersebut.


“Astagfirullah, tapi bagaimana pun tetap salah neng, melantarkan anak bukan pilihan yang tepat juga, kasihan atuh, kenapa gak sekalian titipin di panti saja? Untung yang dapat bayi ini orang baik kalau orang jahat pasti udah dimanfaatkan entah itu dijual atau dijadiin pengemis jalanan kan marak itu kasus seperti itu, kasihan banget,”


“Hm, bi, saya boleh minta tolong sebentar gak? Tolong jaga bayi ini dulu saya mau ke rumah mbak Lingga minta beberapa potong pakaian Caca waktu kecil,”

__ADS_1


Bi Popon tidak menyetujui, wanita paruh baya itu menawarkan diri untuk ke rumah Lingga, ia khawatir jika Ane capek berjalan terus apalagi sempat menggendong bayi itu.


__ADS_2