
Memastikan jika di ruangan hanya ada dirinya dan Citra, Ane tanpa basa-basi lagi memulai obrolan mengulik motif dibalik kenekatan Citra datang kembali ke kehidupan Bhanu. Mata Ane menatap lurus ke arah Citra yang juga menatapnya, keduanya saling melemparkan tatapan penuh arti.
“Sebelumnya saya minta maaf mungkin mbak bingung dengan situasi sekarang tapi ini memang yang saya inginkan bertemu dan berbincang secara langsung,” pemula yang bagus sebagai awal pembuka obrolan, Ane menjeda kalimatnya ingin tahu respon yang akan ditunjukkan oleh Citra tapi nampaknya Citra lebih memilih diam.
Ane menyilangkan tangannya di atas meja, badannya condong ke depan agar lebih dekat dengan Citra.
“Saya gak suka basa-basi mengenai hal krusial seperti ini. Saya sudah tahu semua mengenai mbak Citra, siapa mbak Citra dan apa tujuan mbak Citra datang kembali menemui suami saya. Semua sudah diceritakan oleh suami saya. Mbak masa lalunya dan hamil meminta pertanggungjawaban atas janin yang bukan milik suami saya. Mabuk berakhir one night stand dan berujung hamil, benar begitu mbak?” Ane bukannya jahat, ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar sebagai pertahanan dirinya sendiri agar terlihat kuat dan tidak goyah sedikit pun.
Citra termangu, telinganya mendengar jelas kata demi kata yang keluar dari bibir Ane—wanita itu mengetahui tentang dirinya. Citra menggigit pipi dalamnya, tangannya di bawah meja saling meremas kuat, meredam sebuah perasaan dalam dirinya. Perasaan yang tidak boleh ia tunjukkan.
“Lalu apa yang ingin kamu ketahui lagi, bukan kah semua sudah jelas?” Citra memasang benteng pertahanan dengan mengeraskan hati serta menunjukkan sikap arogansinya.
Ane menarik satu sudut bibirnya, “saya tahu mbak bukan wanita bodoh, tanpa saya jelaskan maksud dan tujuan saya bertemu, mbak pasti sudah bisa menduga. Saya cuma wanita biasa mbak, sama seperti wanita pada umumnya, tidak suka berbagi dan membagi. Saya akan menjadi wanita egois jika menyangkut apa yang saya punya. Hati saya tidak seluas lautan dan tidak sekuat baja, saya tentu tidak akan menerima jika ada seorang wanita mau menjadikan dirinya sebagai wanita kedua dari suami saya. Terlepas dari apa yang mbak alami, saya tidak akan goyah atau membiarkan mbak masuk ke dalam hubungan saya dan mas Bhanu, kami terutama saya tidak sebaik yang mbak pikir dan kami tidak akan pernah menuruti keinginan mbak. Mohon maaf, tapi inilah yang mbak harus terima, saya dan mas Bhanu sudah menikah dan kami sudah memiliki anak, tentu bukan hal yang mudah untuk mengabulkan apa yang mbak inginkan. Terlalu banyak yang dikorbankan jika itu terjadi, banyak hati yang akan terluka, hati saya, anak-anak saya, ibu dan mertua saya, serta keluarga lainnya.”
Air mata tak bisa dibendung, pertahanan Citra rubuh begitu saja. Ia mengangkat tangannya, jari-jarinya mengusap kasar air mata yang menetes dengan lancangnya.
“Kamu tidak mengerti perasaan saya yang sesungguhnya, berat! Saya sendiri pun, rasanya tidak sanggup menerima semua ini, saya hanya ingin sedikit keadilan bagi saya dan anak saya, saya hanya butuh status tidak lebih, saya pun sudah bilang saya hanya ingin menikah sampai saya lahiran, selebihnya jika memang Bhanu ingin bercerai silahkan saya tidak protes atau menahan, lalu—”
“Tidak akan ada yang bisa menjamin hati mbak, bagaimana jika pada akhirnya mbak berubah pikiran dan memilih mempertahankan posisi mbak sebagai istri kedua? Saya bukannya tidak mengerti dengan apa yang mbak rasakan, saya tahu walau saya tidak mengalami itu, tapi kita sama-sama seorang wanita jadi saya bisa memahami itu, tolong mari kita saling menjaga dan memahami perasaan satu sama lain, tidak ada wanita mana pun, yang mau berbagi suami dengan wanita lain, mungkin ada tapi tidak untuk saya mbak! Jika mbak menginginkan keadilan serta pengakuan bukan dari suaminya saya, mbak salah tempat! Sekarang saya tanya sama mbak, apakah selama ini mbak sudah usaha untuk mendapatkan pertanggungjawaban dari pria itu? Lalu dimana pria itu!”
__ADS_1
“Bodoh! Jika saya mendapat apa yang saya mau dari pria itu, tentu saya tidak akan ada di sini, semua cara sudah saya lakukan tapi apa, justru saya yang dipojokkan seakan-akan saya lah pelaku dan orang paling bersalah dalam masalah itu, tidak mudah. Sulit, berat dan menyakitkan,” Citra menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya menahan isak tangis yang mengiris hati.
Flashback On.
Letih menangisi apa yang sudah terjadi. Citra memutar otak mencari cara lain agar sang bayi mendapatkan pengakuan dari Andrew, Citra tak menyerah begitu saja, walau ia telah bersumpah tapi memikirkan nasib anaknya ke depan mengharuskan dirinya untuk berjuang setidaknya sampai dirinya benar-benar tidak memiliki cara lagi membuat Andrew berubah pikiran.
Dengan langkah gontai, ia meraih tas di meja melangkah keluar dari ruangannya. Tujuannya saat ini adalah kantor polisi, yah dia akan melaporkan Andrew walau ia sendiri tidak yakin akan menemukan jalan keluar. Hujan mengguyur bumi, membahasi seluruh penghuni bumi, air yang turun begitu deras diselingi oleh angin bertiup kencang. Citra melindungi dirinya dari payung kecil berharap jika air tidak membahasi tubuhnya setidaknya tidak sampai basah kuyup. Menahan dingin seperti menusuk masuk hingga ke tulang, Citra menyampirkan payung di bagian sudut kantor polisi. Ia merapihkan rambutnya menjadi lepek karena basah walau tidak menyeluruh tetapi tetap membuat rambut terlihat sedang kehujanan.
Citra kemudian disambut oleh salah satu pria berseragam dan menanyakan maksud dan tujuannya datang ke kantor polisi. Setelah dialihkan ke bagian pelaporan, Citra pun menceritakan apa yang tengah dialaminya, hati kecilnya berharap pihak kepolisian dapat membantunya walau ia sendiri tidak yakin mengingat duduk perkara dan tidak ada satu bukti yang apapun sebagai bukti jika Andrew melakukan sebuah kesalahan.
“Saya mengerti maksud anda, hanya saja kami sulit memproses kasus ini apalagi tidak ada bukti sama sekali, tentu anda sangat paham maksud saya, saran saya adalah coba lah membicarakan atau menyelesaikan ini secara kekeluargaan lagi,”
“Pak, saya sudah meminta secara baik-baik pada pria itu, tapi dia malah menyuruh saya menggugurkan janin ini, tolong pak, tolong saya,” Citra memohon agar dibantu dalam kasus ini namun ternyata sama saja, Citra tidak memiliki bukti kuat.
Citra mengangguk mengiyakan, semoga ini cara yang benar dan bisa membantunya. Selang beberapa hari, Citra akhirnya mendapat kabar dari pihak kepolisian bahwa Andrew bersedia datang untuk mediasi. Citra tidak membuang kesempatan, ia bahkan sudah menyiapkan mental dan fisiknya sewaktu-waktu jika nantinya hasil dari mediasi tidak memuaskan.
Di sebuah ruangan, Citra dan Andrew di pertemukan dengan ditemani oleh seorang polisi. Citra dan Andrew saling beradu argumentasi dan menceritakan kronologis dari malam itu berdasarkan versinya masing-masing.
“Tapi maaf pak, saya bisa pastikan anak yang dikandung wanita itu bukan anak saya. Pada malam itu, saya memang ada di club, saya mabuk saya akui, tapi bukan saya yang meniduri dia. Saya bisa menjamin hal itu, dengan bukti ini bapak bisa menilai sendiri,” Andrew sudah menyiapkan segala sesuatunya hingga berbalik keadaan, ia memanipulasi agar ia tidak bersalah dan bukan dia yang meniduri Citra. Berkat kekuasaan yang dimiliki, sangat mudah melakukan hal itu segala cara ia bisa lakukan demi membersihkan dan menjaga nama baiknya.
__ADS_1
Andrew memberikan bukti dan cukup membungkam Citra. Rekaman CCTV pada malam itu yang menampilkan Citra sedang berdansa dengan seorang pria lain dan bukan Andrew di rekaman itu pula menampilkan sosok Andrew sedang bersama para temannya dan nampak tidak ada komunikasi sama sekali antara Andrew dan Citra. Tak hanya itu, Andrew juga memperlihatkan video pengakuan dari pria asing yang bersama Citra di club dan menyatakan jika janin yang dikandung oleh Citra adalah anak pria itu bukan Andrew.
“Saya bisa menuntut kamu atas pencemaran nama baik, saat bapak memberikan saya surat panggilan, saya mencoba mencari tahu kebenaran yang terjadi karena memang saya tidak salah, saya melakukan ini sebagai bukti untung saja pihak club mengizinkan saya mendapatkan rekaman CCTV itu bahkan saya bisa menemukan pria yang menghamili dia—” ujar Andrew menunjuk wajah Citra kini berubah menjadi pias dan pucat.
“Tidak! Dia bohong pak, saya jelas-jelas tidur sama dia! Pria yang di CCTV itu, kami hanya berdansa bersama tidak lebih lagi pula saya masih sadar pada saat itu jadi tidak mungkin saya membiarkan orang menyentuh tubuh saya. Saya murni mabuk dan tidur bersama Andrew bukan pria asing itu, saat pagi menjelang saya dan Andrew bahkan saling berdebat dan dia bahkan mengancam saya untuk tutup mulut. Habis dansa baru lah saya minum hingga mabuk tapi saya pun masih ingat jika Andrew datang ke saya lalu setelah itu terjadi lah hal yang tidak diinginkan dan selebihnya saya tidak ingat apapun lagi dan bangun-bangun saya dan Andrew berada di ranjang yang sama!”
“Berhenti membual! Kamu bahkan tidak memiliki bukti apapun, bagaimana bisa kamu membuat cerita bohong seperti itu apalagi tanpa bukti sama sekali!” elak Andrew cepat. Perdebatan itu berakhir dengan kekalahan Citra tanpa bukti apapun tentu saja sangat mudah bagi Andrew menekan Citra.
Citra tidak punya cara lagi, Andrew berhasil menekan dan membuat semakin tersudut. Andrew menarik Citra secara kasar ketika wanita itu telah berjalan kaki cukup jauh dari kantor polisi, Andrew belum puas menekan Citra agar tidak memaksanya lagi ia akan membungkam mulut Citra agar rahasianya tidak diketahui orang-orang.
“Jangan mencoba melakukan ini lagi karena saya tidak akan tinggal diam. Jika kamu masih ingin hidup tenang maka lupakan segala kejadian itu, karena sampai kapan pun saya tidak akan mengakui janin yang kamu kandung!”
Tidak sampai situ saja, Andrew menyebarkan berita bohong mengatakan jika Citra menuduhnya menghamili wanita itu dan menggodanya. Seluruh pekerja bahkan suster dan dokter mengecam dan mencibir Citra sebagai wanita tidak baik, Citra juga dipecat secara tidak hormat atas berita itu semua Andrew lakukan agar Citra tidak mengusiknya lagi berharap jika wanita itu takut dan tidak berani membongkar rahasia mereka. Citra benar-benar hancur, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi semua usaha ia coba lakukan nyatanya berujung sia-sia dan malah dia yang dihujat dan disalah banyak pihak.
Flashback off.
Derai air mata tak henti menetes, wajah cantik milik Citra tak lagi menampilkan ekspresi dingin dan arogan malah sebaliknya terlihat rapuh dan menyedihkan. Citra dengan napas yang tersendat-sendat menceritakan kejadian pahit yang menimpanya, ia terpaksa mengingat itu kembali. Ane sebagai wanita bisa memahami kesedihan dan kesakitan yang dirasakan Citra. Ane meraih tangan Citra, matanya menyiratkan sebuah kekuatan agar bisa tersalurkan pada Citra.
“Saya akan membantu mbak!”
__ADS_1
......Assalamualaikum, terimakasih sudah mendukung cerita ini tanpa bosan menunggu setiap babnya. jangan lupa untuk terus vote+like+comment dan rekomendasikan ke teman-teman kalian supaya ikutan baca cerita ini dan menikmati bersama kisah Bhanu dan Ane;) semoga feel-nya sampai ke kalian yah, gregetnya harus dapat nih wkwkw ......
...Big Love ♥️...