
Pagi yang sangat cerah, secerah suasana hati Bhanu dan Ane—wanita itu menyiapkan pakaian santai untuk Bhanu dan segera turun ke bawah menuju dapur menyiapkan sarapan. Rambutnya masih lembab belum kering sempurna maka dari itu dibiarkan tergerai lurus.
Di dapur sudah ada bi Popon dan Ratna mereka terlihat akrab menyiapkan sarapan. Ane ikut bergabung dengan dua wanita paruh baya tersebut.
“Selamat pagi ibu, bi Popon,” sapa Ane.
“Pagi Nak,”
“Pagi neng,”
Ratna memerhatikan dari rambut lembab Ane, ia mengerti situasi tersebut. Diam-diam ia tersenyum dan berdoa semoga segera menimang cucu dari sang putri. Ane sendiri masih ada yang mengganjal di hati wanita itu, namun belum sempat membicarakan hal itu pada Bhanu. Nanti pikirnya ketika ada waktu luang berdua. Ane membantu Ratna serta bi Popon hingga masakan telah siap. Bhanu, Rangga dan Banyu sudah duduk manis di kursi menunggu sarapan.
Ratna mengambilkan nasi goreng kecap dan ayam goreng ke piring Rangga dan Banyu sedangkan Ane melayani sang suami.
“Ohiya Mas Rangga semalam pulang jam berapa?” tanya Ane menuangkan segelas air mineral ke dalam gelas untuk suaminya.
“Sekitar jam sebelas, maaf yah mas ada urusan mendadak,” Rangga enggan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, karena ia masih butuh waktu untuk itu apalagi ini masih awal belum ada jawaban dari Erina perihal niatan mendekati wanita itu.
Ane dan Bhanu saling pandang, dalam pikiran keduanya jika Rangga sedang menutupi tentang Erina. Mereka pun makan dengan tenang dan hanya suara gesekan sendok terdengar.
Habis sarapan, Ratna, Rangga dan Banyu berkunjung ke rumah Lingga. Sedangkan Ane dan Bhanu akan menyusul. Ane ingin membicarakan satu hal penting pada Bhanu lebih dulu.
“Mas?”
“Dalem sayang,”
“Kita kan udah nikah, kira-kira Ane masih bisa kerja gak?” Ane mendongak memandang wajah tampan Bhanu juga menatapnya.
Bhanu mengelus pipi mulus sang istri, menatap dalam manik mata Ane, “iya sayang boleh, lagian Mas kan udah pernah ngomong, kamu bebas melakukan apa pun, mau kerja boleh asal ingat kamu tidak melupakan tugas kamu sebagai istri dan ibu rumah tangga, oke sayang?”
“InsyaAllah Mas, terima kasih sayangnya Ane, suaminya Ane, cintanya Ane,” balas Ane memeluk pinggang Bhanu sembari menempelkan wajahnya di dada bidang Bhanu.
Bhanu terkekeh geli, membalas pelukan Ane tak kalah erat.
“Sayang Mas banyak-banyak,”
“Sayang istri Mas banyak-banyak,”
__ADS_1
Tawa terdengar dari keduanya, bi Popon yang tak sengaja melihat itu ikut tersenyum senang karena akhirnya sang majikan telah menemukan tambatan hati dan sosok istri yang baik. Tentu bi Popon mendoakan kehidupan rumah tangga Bhanu dan Ane senantiasa dilimpahkan keberkahan dan kebaikan dari Allah SWT.
Sesi pelukan pengantin baru harus terusik ketika suara bocah melengking terdengar dari arah luar rumah.
“Samikum Om na Caca ante na Caca!”
Caca menaiki sepeda kecilnya datang ke rumah sang om, sebab pagi-pagi tadi Ratna beserta dua anak lelakinya datang ke rumah Lingga tanpa kehadiran Bhanu dan Ane tentu saja mengundang rasa penasaran dari Caca—gadis kecil itu nekad bersepeda seorang diri tanpa ditemani Satya karena sang kakak telah berangkat ke sekolah. Sesampainya di halaman rumah Bhanu, langsung turun dari sepeda dan berlari memasuki rumah Bhanu untungnya pintu tidak dikunci bahkan terbuka sedikit memudahkan Caca.
Ketika tahu suara melengking itu milik Caca, terlintas ide jahil di kepala Bhanu—pria itu memeluk Ane menahan tubuh istrinya hendak menemui Caca.
“Ih, Caca na nda dijak peluk,” Caca menghentakkan kakinya kesal berlari mendekati sofa. Ia bahkan secara paksa naik ke atas pangkuan Ane dan mengigit tangan Bhanu karena tak ingin melepaskan pelukan.
“Aw, sakit Ca!” ringis Bhanu.
“Eh, Caca kok gitu? Digigit itu sakit loh, minta maaf sama om, janji gak ulangi lagi, oke anak Sholehahnya tante?” Caca mengelus surai rambut Caca masih acak-acakan. Tampaknya Caca belum mandi.
“Maap om,” ujar Caca sembari mengusap bekas gigitannya.
“Kamu sih, jahil kan digigit kamu juga mas yang salah!” Ane ikut menyalahkan Bhanu atas kejahilan sang suami pada Caca.
Caca mengangguk malu dan menenggelamkan wajahnya di dada empuk Ane. Bahkan jari-jari mungil itu memilih rambut lurus Ane.
“Lambut ante bagus, Caca suka kayak belbi Caca,” puji Caca.
Ponsel Bhanu berdering, nama Lingga tertera di layar. Bhanu memutar bola matanya, ia sudah bisa menduga jika Caca pergi tanpa sepengetahuan Lingga.
“Assalamualaikum, Caca di situ gak, dek?”
“Hm, ganggu tau mbak! Orang lagi mesra-mesraan malah diganggu bocil!”
“Hahaha, kasian. Lagian masih pagi udah ngadon gak capek apa! Udah ah, mbak tutup Caca aman!”
Bhanu mendengus kesal, saking kesalnya ia ingin melahap Caca. Ane ingin membawa Caca pulang untuk mandi tetapi Bhanu mengatakan jika baju Caca ada di lemari, karena ketika Caca dititipkan pada Bhanu baju-baju milik Caca disimpan di lemari antisipasi jika Caca bermain kotor ketika di rumahnya. Ane mengajak Caca mandi dan Bhanu menyiapkan pakaian milik Caca.
Mereka terlihat seperti bukan pengantin baru lagi, Caca benar-benar memberi gambaran pada Ane dan Bhanu ketika memiliki anak nantinya.
\*\*\*\*
__ADS_1
Hari ini, orang tua Bhanu beserta Ratna dan Banyu balik ke Yogyakarta, sedangkan Rangga sendiri sudah menetap di Jakarta untuk memegang cabang cafenya dan sebentar lagi grand launching cafenya beberapa Minggu kedepan. Cafe di Yogyakarta dipegang oleh Banyu sekaligus menemani sang ibu. Setiap Sabtu-Minggu Rangga akan pulang ke Yogyakarta.
Dari semalaman Ane galau memikirkan akan tinggal terpisah dengan Ratna bahkan Ane tidur bareng Ratna, sebagai suami tentu Bhanu sangat memahami perasaan Ane apalagi istrinya adalah anak bungsu tak pernah berpisah lama dengan Ratna. Ketika Ane telah menikah maka mau tak mau Ane harus ikhlas berpisah jarak dengan Ratna, bagaimana pun ia harus ikut bersama suaminya.
Di bandara, Bhanu, Ane beserta Lingga dan kedua anaknya turut mengantar. Ane memeluk tubuh Ratna, menangis dipelukan sang ibu.
“Ane pasti bakal kangen banget sama ibu,” lirih Ane. Ratna mengelus punggung bergetar Ane, ia mengurai pelukan menyeka air mata mengalir membasahi pipi sang putri.
“Kan bisa telfon atau video call, jangan cengen dong, udah jadi istri jadi gak boleh cengeng kasian nak Bhanu ngadepin istrinya kayak anak kecil,” perkataan Ratna mengundang gelak tawa.
Bhanu mendekat dan merangkul pundak istrinya mesra, “nanti kita bakal sempetin waktu sebulan sekali ke Jogja, udah jangan nangis lagi ah,” bujuknya.
Ane menyeka air mata dan mengelap cairan bening keluar dari hidungnya. Ane juga memeluk ibu mertua—Sri tersenyum hangat membalas pelukan menantunya.
“Sehat-sehat yah Nak, doa ibu selalu menyertai rumah tangga kalian, ibu titip anak ibu yah, kalau Bhanu nakal jewer telinganya atau telfon ibu nanti ibu yang marahin,”
Ane terkekeh, mengangguk kecil dan mencium punggung tangan Sri, Ratna dan juga Hanung. Banyu membawa tubuh mungil adiknya ke dalam pelukan.
“Adek Mas baik-baik di sini, jadi istri Sholehah, patuh sama suami. Sering-seringlah telfon Mas dan ibu yah,”
“Iya dong, Mas juga baik-baik, jaga ibu, kalau pulang kerja langsung pulang kasian ibu nanti sendiri di rumah, atau Mas cepat-cepat nikah aja deh biar ada yang temenin ibu di rumah,”
“Iya deh yang udah nikah, makanya doain mas supaya dapat jodohnya cepat,” Ane memberikan jempolnya pada Banyu. Kini giliran Lingga beserta anak-anaknya pamit pada orang tuanya begitu pula Rangga memeluk ibu beserta adik lelakinya.
“Jagain ibu, insyallah mas setiap sabtu dan minggu balik, jangan sering keluar kasian ibu di rumah,” pesan Rangga pada Banyu.
“Sip lah pokoknya,” balas Banyu.
Ane memeluk Bhanu menangis lagi ketika Sri, Hanung, Ratna dan Banyu masuk ke dalam bandara karena waktu check in telah di buka.
“Ante jangan nanis dong, sini Caca peluk,” Caca sedari tadi diam memerhatikan Ane menangis akhirnya mendekati Ane bahkan memeluk kaki Ane begitu pun Satya ikut memeluk Ane.
Ane mengangkat tubuh Caca dan satu tangannya merangkul pundak Satya.
“Makasih anak Sholeh dan Sholehahnya tante, sini cium dulu,” Ane memberi kecup di pipi Caca dan Satya.
Bhanu mengajak istri beserta kakak dan dua keponakannya makan di restoran lebih dulu sebelum pulang ke rumah.
__ADS_1