Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 65


__ADS_3

“Setidaknya mas harus cerita sama Ane, jangan sampai ia justru tahu dari orang lain yang kita sendiri pun tidak bisa memastikan kalau apa yang disampaikan sesuai kenyataan atau malah sebaliknya, rumah tangga kalian akan rusak jika tidak ada saling keterbukaan satu sama lain,”


Kalimat itu terus saja berputar di kepala Bhanu, tangannya mencengkram kuat stir mobil, ia harus membicarakan masalah Citra pada Ane walau Bhanu sama sekali tidak bersalah tapi semakin hari Citra nekat. Bhanu menghela napasnya pelan lalu mengembuskan secara perlahan, ia meraih tas kerja serta jas putih kebanggaannya turun dari mobil. Di luar terdengar samar-samar suara gelak tawa yang sumbernya dari dalam rumah.


Tubuhnya berdiri tepat di depan pintu memandangi pemandangan indah di depannya. Caca, Satya bermain bersama Nai yang diawasi oleh Lingga, Ratna dan Ane menimang baby Chana tampak terlelap. Rasa penat seketika memudar melihat gelak tawa serta kehangatan keluarganya.


Ane menyadari kehadiran sang suami pun segera menoleh dan melambaikan tangan pada Bhanu yang dihadiahi sebuah senyuman manis. Bhanu mendekat ke ruang tamu, ia melayangkan satu kecupan di kening sang istri.


“Papa naik ke kamar bersih-bersih dulu, hm, kalau boleh mama nyusul ke atas yah?” bisik Bhanu pelan namun nyatanya jaraknya begitu dekat dengan Lingga dan Ratna hingga mereka pun bisa mendengar bisikan Bhanu.


Lingga memasang senyum mengejek pada Bhanu tak lupa menimpali bisikan Bhanu dengan godaan, “belum boleh loh, dek! Sabar dikit elah, baru juga puasa berapa Minggu, udah gak tahan, emang gitu yah kaum laki-laki, sekali coba gak mau berhenti, mentang-mentang sedap-sedap mantap jadi susah buat nahan,”


Ane meringis malu, tapi berbeda dengan Bhanu tampak terlihat santai sebab ia memang tidak ada niatan mengajak sang istri melakukan itu. Ratna ikut tersenyum tapi enggan menimpali.


“Jangan ngawur kalau ngomong!” sembur Bhanu melemparkan tatapan tajam pada sang kakak yang dibalas santai.


“Wong, faktane ngono kui kok, celup sekali yo nda bisa berhenti,” balas Lingga.


Bhanu menggeleng pelan, kemudian pamit pada Ratna naik ke kamar. Ratna menyenggol lengan putrinya dan menaik turunkan alisnya memberi kode pada Ane agar segera menyusul Bhanu.


“Hm, yaudah kalau gitu Ane pamit naik ke atas juga, sekalian mau tidurin adek Chana di kasur,” pamit Ane mendapatkan anggukan serta acungan jempol dari Ratna dan Lingga.


Ketika Ane telah berada di kamar, suara gemercik air terdengar dari arah kamar mandi. Ane lebih dulu menaruh tubuh Chana ke ranjang habis itu ia akan mengambil baju rumahan untuk sang suami hampir lima belas menit lamanya, Bhanu pun selesai dan keluar menggunakan handuk melilit di pinggang pria itu. Ane menyunggingkan senyum, melangkah mendekati sang suami sambil membawa baju kaos serta celana pendek.


Bhanu menerima dengan senang hati lalu segera memakainya. Pria itu melirik sang istri nampak terdiam saja sembari menatapnya lekat. Bhanu menjemur handuk lebih dulu sebelum mengajak sang istri mengobrol tentang Citra. Ane diam saja ketika Bhanu menyeretnya duduk di atas ranjang.


“Papa mau ngomong sesuatu sama mama,” Bhanu membingkai wajah cantik istrinya, ditatapnya lembut wajah yang mengisi hari-harinya dan memberikan warna pelangi dalam hidupnya.


Ane mengedikkan bahunya, kedua alisnya nampak naik membentuk kerutan jelas di jidatnya tatapan matanya menyiratkan seolah apa yang akan disampaikan oleh sang suami. Terdengar hembusan napas pelan dari Bhanu—pria itu, mengusap lembut pipi Ane menggunakan jari jempolnya.


“Tapi sebelum itu, papa mohon mama harus tetap percaya sama papa dan jangan pernah berpikir jika papa mendua—”


Ane berjengit kaget apalagi mendengar kata mendua, ia memegang tangan Bhanu lalu memotong pembicaraan pria itu dengan penuh tanya.


“Sebentar, apa maksud papa? Mendua? Siapa dan apa?”


“Iya, makanya dengerin papa dulu, tolong jangan memotong pembicaraan papa, oke?” anggukan lemah dari Ane dan Bhanu pun langsung melanjutkan sesi pembicaraan. “Citra, mantan papa sebelum menikah sama mama. Wanita itu datang dan menemui papa akhir-akhir ini karena dia hamil dan—” sungguh rasanya sesak, Bhanu mengatur deru napasnya lebih dulu menjeda kalimat matanya memandang lekat manik mata Ane kini berubah menjadi sendu namun bertanya-tanya.


“Dia meminta pertanggungjawaban papa atas janin yang di kandungnya. Dia hamil hasil one night stand. Citra meminta tolong pada papa untuk menikahinya hanya sekedar status agar anaknya mendapatkan status yang sah dan memiliki orang tua lengkap, tapi papa nolak karena anak itu bukan anak papa! Citra terus saja memaksa bahkan gak berhenti buat hubungi dan temui papa,“


“Jadi ini yang menjadi beban pikiran papa sampai sakit kemarin, hm? Kenapa papa gak cerita dari awal? Wait, apakah wanita yang dimaksud mas Banyu adalah mantan papa itu?” Ane menahan diri, ia kecewa karena Bhanu tidak berbicara sejak awal padanya, padahal sudah beberapa hari ini ia terus saja memikirkan hal itu dan menguasai pikirannya.


Bhanu mengangguk pelan lalu kembali bersuara, “maaf bukannya papa berniat menyembunyikan ini hanya saja papa pikir jika Citra berhenti menemui papa tapi dia terus saja menemui papa, dia masih ngotot buat nyuruh papa menikahinya, papa sama sekali tidak pernah berniat untuk poligami dan punya istri selain mama, papa gak mau membagi dan berbagi, cukup mama yang jadi istri papa tidak ada yang lain,”

__ADS_1


Ane memejamkan matanya mencoba menjernihkan pikirannya, ia menjauh dari jangkauan sang suami.


“Tolong percaya sama papa, papa berani bersumpah kalau anak yang dikandung Citra bukan anak papa—”


“Stop! Please, mama percaya, hanya saja—mama mau bertemu sama dia,”


Bhanu menggeleng, menarik pundak Ane, “for what? Udah, gak usah, gak ada gunanya nanti Citra makin berpikir kalau apa yang dia inginkan akan terwujud, jangan memberi celah, sayang!” tolaknya enggan mempertemukan Ane dan Citra.


“Pa! Mama cuma pengen bicara sama dia, mama juga seorang wanita dan mama pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi sama dia sampai bersikeras seperti ini,”


“Enggak usah sayang, Citra—papa udah suruh dia menjauh dan papa yakin dia gak bakal temui papa lagi,”


“Harus, mama harus bicara sama dia!” Ane bersikeras ingin menemui Citra.


Bersamaan dengan hal itu, ponsel Bhanu di atas nakas berdering nyaring, mata Ane tertuju pada ponsel milik suaminya dan ia bisa melihat sebuah nomor terpampang di layar. Bhanu mendesis pelan saat melihat nomor itu yang ternyata adalah nomor Citra.


“Siapa?” tanya Ane curiga.


Bhanu menggigit pipi dalamnya menahan kekesalan pada Citra mengapa wanita itu masih saja menghubunginya.


“Citra,” balas Bhanu pelan.


“See? Dia terus saja menghubungi papa! Kalau papa masih bersikeras seperti ini tidak mau mempertemukan mama sama dia berarti papa memang tidak keberatan jika dia menghubungi papa!” Ane berdiri dari ranjang dan berjalan keluar kamar, ia butuh mendinginkan hati dan kepalanya. Semuanya bercampur jadi satu, hingga Ane sulit untuk mengontrol diri tidak berpikiran negatif mengenai hubungan Bhanu dan Citra.


Suara rengekan dua bayi beradu jadi satu dalam kamar. Ane sedang menimang-nimang Chana terbangun dari tidur lalu Bhanu menggendong Nai sedang rewel dan tidak mau tidur ingin terus bermain padahal jam tidur bayi yang umurnya sebentar lagi genap 2 tahun itu sudah lewat. Ane menyusui Chana yang mulai tenang menyesap sumber makanannya.


Mata bulat berair milik Nai menatap sang ibu beserta adiknya. Tangan kekar sang ayah setia mengusap punggungnya dengan gerakan lembut.


“U...ma...ma...tu...pa!” gumaman Nai tak dimengerti oleh Bhanu. Ia mengerutkan dahinya menatap tanya sang anak. Nai menunjuk ke arah Ane sedang menyusui Chana.


“Mau sama mama?” tanya Bhanu yang diangguki oleh Nai. Terpaksa Bhanu membawa Nai ikut bergabung di atas ranjang bersama istri dan anak keduanya. Nai langsung merangkak hendak menaiki tubuh sebelah kiri Ane, tangannya menarik kaki mungil Chana.


“U...mama!”


Bhanu menjauhkan tubuh Nai dari Ane, “bentar yah anak cantik, adek Chana lagi *****, mbak Nai sama papa dulu, nanti kalau adeknya udah bobo baru sama mama, yah?” ujarnya lembut pada Nai tetapi anaknya itu seolah enggan mendengar ucapannya dan terus saja memberontak ingin lepas dari Kungkungan sang papa.


“Udah, gak masalah, sini nak sama mama!” seru Ane mengizinkan Nai naik ke atas paha kirinya lagi pula ini salah satu cara mendekatkan Nai dan Chana, pelan-pelan Ane menggeser sedikit tubuh kecil Chana agar memberi ruang bagi Nai.


“Ma...ma..ni...u!” bibir mungil Nai bergerak menunjuk satu dada Ane yang masih terbungkus.


Ane mengerti maksud Nai, rupanya bayi itu ingin menyusu juga.


“Sayang, mbak Nai kan punya susu sendiri, mbak Nai udah gede jadi minumnya di botol, mbak Nai mau susu?”

__ADS_1


Mendengar kata susu, Bhanu sigap membuatkan susu untuk Nai di dapur.


“U...ni!” jerit Nai memukul dada Ane.


“Eh, anak pintarnya mama, mbak Nai kan udah gede, tuh papa lagi ambil susu mbak, sabar yah anak Sholehah,” tangan Ane menyusup di perut Nai agar bayi itu tidak jatuh karena banyak gerak.


Nai menangis kencang memukul dada Ane secara brutal hingga membuat Chana kaget melepas sumber makanannya itu. Ane dibuat bingung sekarang, dua anaknya kompak menangis.


“Eh, anak-anak mama diam sayang, mbak diam yah sabar itu papa bentar lagi bawa susu, adek maafin mbak yah kagetin adek, nih ***** lagi nak,”


Pintu terbuka dan menampilkan sosok Bhanu datang membawa botol susu milik Nai. Pria itu naik ke atas ranjang meraih tubuh Nai lalu memberikan botol itu pada Nai tetapi anaknya itu menolak dan meraung-raung.


“Hei, ini susunya mbak Nai loh, sini sambil papa gendong yuk, papa puk-puk,” Bhanu menggendong Nai menimbang-nimbang putri sulungnya sambil membujuk anaknya meminum susu.


“Na...u!” jerit Nai menepis tangan Bhanu yang mencoba mengarahkan botol susu ke mulutnya. Nai terus merengek, tangan terbuka lebar menatap sang ibu seakan ingin digendong oleh Ane.


Ane tidak tega melihat Nai seperti itu, hingga akhirnya ia memanggil Nai ingin menyusui Nai. Bhanu awalnya enggan dan berkata bahwa Nai akan diam dengan sendirinya, pria itu juga terus berusaha menenangkan Nai tapi tak kunjung diam malah semakin menjerit keras. Ane kembali berseru agar Bhanu membawa Nai padanya dan terpaksa Bhanu mengikuti perintah Ane.


Ane membuka satu *********** agar Nai bisa ikut menyusu. Nai langsung terdiam dan tenang ketika mulut kecilnya menyesap penuh semangat sumber makanan milik sang adik. Ane meringis tatkala merasakan Nai menyesap kuat miliknya.


“Pelan-pelan sayang,” tegurnya lembut, matanya melirik ke arah Chana nampak mulai terlelap. Ane memberi kode pada sang suami agar mengambil alih Chana untung saja Bhanu cepat menangkap kode dari istrinya itu.


Ane mengusap wajah Nai pelan, menyeka bulir keringat di area kening dan pipi. Mata Nai terpejam erat sepertinya sebentar lagi akan tertidur pulas. Benar saja hampir sepuluh menit lamanya Nai menyusu, bayi itu kini tak lagi menyesap puncak dadanya dan terlelap. Ane sangat hati-hati menjauhkan wajah Nai dari dadanya agar bisa memasukkan ke dalam bra-nya. Langkah pelan dan penuh kehati-hatian, Ane berjalan menuju kamar sang anak dan membaringkan tubuh Nai ke ranjang bayi itu.


Bhanu merapihkan tempat tidur serta posisi bantal agar Ane bisa tidur nyenyak. Bhanu mempersilahkan istrinya naik ke atas ranjang untuk beristirahat, ia paham pasti Ane pegal karena menggendong Nai dan Chana sambil menyusui tadi. Ane melepaskan ikatan rambut lalu menyisir rambutnya sebelum bergabung bersama Bhanu di atas ranjang.


Bhanu meraih pinggang Ane merapat ke tubuhnya. Kepalanya menempel di bahu Ane, hembusan napasnya begitu terasa dan membuat Ane geli.


“Besok kita akan bertemu Citra,” bisik Bhanu di telinga Ane bernada pelan.


Ane mendongak menatap wajah sang suami, “serius? Jam berapa?”


Bhanu menurunkan pandangan agar bisa melihat wajah cantik istrinya, “makan siang, nanti papa jemput mama di rumah habis itu kita ke cafe tempat janjian dengan Citra,”


“Hm, gimana kalau mama aja yang ke rumah sakit nyusul papa sebelum makan siang? Jadi papa gak perlu bolak-balik,” tangan Ane naik menyentuh rahang tegas milik Bhanu.


Bhanu memejamkan mata menikmati sentuhan Ane, “ya sudah, papa tunggu di rumah sakit kalau begitu,” jawabnya.


Ane menarik dua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, ia mengangkat sedikit wajahnya agar bisa menggapai wajah Bhanu, sebuah kecupan lembut ia berikan, Bhanu seketika membuka mata dan sorot matanya penuh damba. Bhanu membalas aksi sang istri memberikan ******* demi *******.


Napas Ane terengah-engah, ia menekan dada sang suami agar berhenti. Matanya berubah menjadi sendu mengarah pada sang suami yang juga mengisyaratkan suatu hasrat tapi mereka belum bisa melakukannya.


“Sabar, belum bisa, sabar yah papa!” tangan Ane menyusup di balik punggung kekar Bhanu dan mengusapnya pelan, ia bisa merasakan tubuh sang suami bergetar pelan dan perubahan suhu tubuh menjadi lebih hangat dari sebelumnya sebab menahan gejolak hasrat. Ia memeluk erat sang suami. Hingga beberapa menit Bhanu kembali normal dan membalas pelukan hangat dari Ane.

__ADS_1


__ADS_2